Kamis, 16 September 2021

 

Antara Fiksi dan Fakta

 

 
 
 Tyutcev, seorang penyair Rusia berkata, "Pikiran yang diucapkan adalah suatu kebohongan."
 
Mengapa demikian? Setiap kali kita ingin menceritakan 'hal yang hidup' dalam diri kita; pengalaman berkesan yang mau kita bagikan ke siapa saja, kita memang dihadapkan dengan pilihan. Tentunya ini mengandung arti bahwa kita menyisihkan sejumlah pengalaman, pikiran, dan perasaan yang ingin diungkapkan. Ada kebenaran yang teredusir sehingga kebenaran yang baru dalam sebuah pengungkapan mengandung fiksi. 

Kebenaran dalam fiksi dapat dilukiskan sedemikian rupa. Mencermatinya, seseorang akan berkata: inilah kebenarannya, seratus persen, tidak kurang sedikit pun. Seolah-olah apa yang dideskripsikan mirip sekali dengan kenyataan yang sesungguhnya. Fiksi mampu memadukan unsur-unsur yang diambil dari kenyataan dengan mendramatisasikannya sebagai kenyataan yang baru sama sekali (fiksional).

Misalnya teks-teks sastra yang disajikan, dan disusun sedemikian rupa dimana pembaca dihadapkan dengan fakta-fakta yang dengan sengaja telah disesuaikan dengan tujuan tersembunyi, yakni maksud pengarang. Sehingga, membaca sebuah karya sastra menimbulkan perasaan seolah-olah ada di suatu kenyataan yang mungkin terjadi. Kita seperti mengintip sesuatu melalui lubang kunci. Di dalamnya kita melihat ada ' peristiwa-sungguh-terjadi-tapi-dusta-belaka.' 

Namun, kita tak bisa segera menghentikan keinginan terus membacanya seketika. Ada sesuatu yang mengikat antara pembaca dengan teks yang dibacanya. Rasa penasaran yang tiba-tiba muncul dan selanjutnya membuat pembaca bersedia 'dibohongi' unsur fiksional teks. Pembaca menerima unsur fiksional dalam teks - yang telah dibaurkan melalui penceritaan hal-hal fiksi dan non fiksi secara halus. 
 
Pembaca diberikan kenikmatan pengalaman membaca, sehingga enggan melepaskan sebelum habis sama sekali. Membaca karya fiksi seperti menjilati es krim. Semakin kita membacanya, semakin terhanyut kita dibuat oleh gambaran-gambaran fiksional yang disuguhkan.

Berbicara fiksi tentunya berkaitan erat dengan fakta. Dalam pengertian semantik, fiksi selalu menunjuk pada status 'denotatum', yaitu dunia rekaan. Denotatum sendiri memiliki pengertian sebagai objek baik berwujud konkret atau pun abstrak. Denotatum berkaitan dengan sesuatu yang ada, pernah ada, mungkin ada. Pada sebuah peristiwa faktual, denotatum merupakan realitas objektif yang dialami. Memiliki nilai kebenaran yang tidak manipulatif. 

Supaya lebih jelas pemahaman kita mengenai fiksi dan fakta, mari cermati perbedaannya berikut ini:

1. Fakta

Apa itu fakta?

a.    Fakta adalah hal yang kita lihat dan alami.
    
b.    Fakta adalah yang kita percayai sebagai kenyataan (baik dari hal yang disampaikan, maupun yang dipahami).

c.    Fakta adalah kenyataan yang tak dapat disangkal, sesuatu yang ada atau pun pernah ada.

d.    Fakta adalah kenyataan yang dialami secara keras tanpa kita kehendaki.

e.    Fakta adalah kenyataan yang dikenal, dapat dikenal, atau tak dikenal. Berkaitan dengan pengalaman langsung setiap pribadi.

f.    Fakta merupakan sesuatu yang kita mengerti sebagai kenyataan, sehingga kita mempertanyakannya untuk membuktikan bahwa 'sesuatu/hal' itu benar-benar nyata/terjadi.

g.    Fakta merupakan kenyataan yang tak terpisahkan dengan diri kita, sebagai sesuatu yang ada dalam diri kita dan yang berada di luar diri kita.

h.    Kita mengalami fakta sebagai kenyataan yang dapat diketahui melalui panca indra – pengetahuan perseptual.

i.    Fakta ialah dunia kita: sebagaimana ia diketahui dan alami dengan sendirinya.

j.    Fakta merupakan pondasi bagi bangunan fiksi (dunia rekaan).  


2. Fiksi

Bagaimana dengan fiksi? Sebagai dunia rekaan, fiksi dapat kita pahami sebagai berikut:

a.    Fiksi adalah segala sesuatu yang dibayangkan, sehingga ia dapat dilihat sebagai produk impian, angan-angan, lamunan atau pun khayalan.

b.    Fiksi bisa diperoleh melalui pengalaman batin (eg. erotisme, ekstase, trance) atau didapat secara non indrawi. Fiksi dalam jenis ini selalu dicetuskan melalui ekspresi : 'aku bermimpi... andaikan saja...'

c.    Fiksi juga dipandang sebagai segala sesuatu yang dibayangkan, yang diimpikan sehingga merupakan sebuah praduga dari peristiwa-peristiwa yang belum terjadi.

d.    Fiksi adalah dunia pilihan; yang memungkinkan kita bermimpi bahwa ada sebuah dunia yang lebih baik selain dunia kita sehari-hari.

e.    Dunia fiksi memiliki aturan-aturannya sendiri, hukum-hukum yang lain, berbeda dengan yang berlaku dalam dunia kita sehari-hari.

f.    Fiksi adalah sebuah dunia yang memiliki kemiripan, atau bahkan bertolak belakang dengan dunia kita.

g.    Di dalam dunia fiksi ditemukan 'tanda denotatum' yang merujuk pada dunia mungkin yang bersifat fiksional. Misalnya ada dalam kalimat: "Mereka sedang mencari seekor domba berkaki lima." Tanda denotatum 'domba berkaki lima' mencirikan sebuah dunia rekaan.

Setelah mengetahui perbedaan ada antara fakta dan fiksi, semoga kita mendapat pemahaman bahwa apa pun yang diungkapkan terlalu jauh dari kenyataan yang sebenarnya terjadi tentulah sebuah dunia baru alias fiksi. [M.I]

Share:

0 komentar:

Posting Komentar