Sanggupkah Saya Menjadi Penulis? Profesi Unik yang Menjual Muntah

"Penulis tentu saja sebuah profesi yang gemar sekali menuangkan apa yang terasa dan dipikirkannya ke dalam rangkaian kata."



cara menuangkan ide ke dalam tulisan, cara memulai menulis, penulis, muntah, Blog Dofollow


Apa sih tujuannya? Apa dia mau semua orang tahu bahwa dia sedang mengalami kegelisahan tertentu, butuh orang atau mungkin tempat sampah untuk membuang uneg-unegnya?

Menjadi seorang penulis adalah satu pilihan yang dilematis ketika segala sesuatu mesti bernilai ekonomis. Sang penulis secara sadar paham akan hal ini. Dia pun berupaya agar bagaimana caranya buah pikirnya dapat berubah menjadi produk siap jual. Dia sesungguhnya juga "menjual diri" demi keberlangsungan eksistensinya di tengah tuntutan kebutuhan.

Sekarang timbul pertanyaan: "Apakah dirinya sudah menjadi produktif dan konsisten menciptakan barang bernilai jual? Sementara dia hanya muntah perasaan dan racau pikiran khayali semata?"

Saya sama sekali tak berani membayangkan betapa rumit jalan yang mesti ditempuh dengan keputusan menjadi penulis "tukang muntah" seperti saat ini. Saya mesti mati-matian mengolah lelehan lendir-lendir ide dan uap busuk perasaan pribadi, mengkemasnya menjadi barang siap jual kepada "pelanggan muntahan saya."


Saya sadar betul bahwa saya mesti berani menanggung resiko akibat "dagangan muntah saya" mungkin menyebabkan orang sakit mendadak. Bahkan, bisa jadi nantinya mereka membenci saya dengan berbagai alasan. Mungkin saja olahan muntah saya kurang cita rasa, hambar, dan masih harus dikemas dengan bungkus yang menarik perhatian. Tapi, saya tahu bukankah seindah-indahnya kemasan yang dapat mengalihkan perhatian konsumen muntah saya itu tetap saja isi di dalamnya lelehan lendir yang beraroma khas. Saya tidak tahu apakah mereka menggemarinya atau tidak. Walau bagaimanapun juga,  saya tahu ini adalah sebuah tantangan tersendiri dan membutuhkan kiat-kiat pemasaran khusus agar dagangan muntah saya bisa laris manis kelak.

Saya bukan seorang yang naif, terlalu tinggi melayang di labirin khayalan sendiri dan lupa darimana saya berasal, saya memahami jenis spesies saya yang butuh makanan apa supaya tetap hidup. Dalam upaya kembali ke asal muasal kedirian inilah saya juga ingin mengada dengan berprofesi sebagai "pedagang muntah".

Jujur saja saya terkadang cemas sendiri ketika saya lihat muntahan saya gagal dinikmati dengan perasaan hikmad dalam kebijaksanaan dan perwakilan imajinasi. Entah kenapa kecemasan ini datang melanda seperti semburan lava panas gunung meletus yang melibas semua kehidupan dalam radius jangkauannya. Dan, kini telah menjadi satu jenis ketakutan yang perlahan menggeroti kedirian saya.

Namun, satu yang pasti biarpun saya sangat mengkhawatirkan kesuksesan muntah saya untuk dapat dinikmati secara pantas; ternyata saya telah berani muntah dengan gaya seksi. Ini berarti saya sudah mengenal cara pantas memuntahkan perasaan dan pikiran, mudah-mudahan ini menimbulkan sensasi tersendiri bagi orang lain. Dan, tentunya semoga kelak saya juga dianugerahi kemampuan membuat kemasan indah muntah-muntah saya yang tak kunjung henti. Biarlah saya menjadi penulis yang ingin muntah dengan gaya sendiri. Biarlah soal rezeki hanya Tuhan saja yang berhak mengaturnya.

Saya ingin menjadi penulis yang menjual muntah dengan gaya seksi. Mudahkanlah, wahai Tuhanku,  jalan saya ini.. Sebab, saya suka segala sesuatunya tampil begitu seksi. Lagi pula saya masih ingat sekali, wahai Tuhanku.. Salah seorang hamba-Mu yang memilih jalan syahid demi mencapai keridhoan-Mu pernah berkata:

"Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tapi satu tulisan mampu menembus jutaan kepala." (Syaid Quthb)