Senin, 07 November 2011

 

Panggung


PANGGUNG


suka..

duka..

permainan..

seperti siang atau malam berjalan

iring-mengiringi bergantian..

terkadang nampak bengkak seolah sedang mengembung

kepenuhan sehingga melimpah ruah

begitu semarak,

namun tak jarang terlihat menyusut

kecut serasa asam jeruk nipis

dicecap lidah jiwa terluka, mengiris-iris.

Lalu kita diminta berperan agar panggung hidup

dan para penonton menuntut pertunjukan yang menarik!

“Ayo kita berperan dengan baik!”

aktor lain pun tak mau ketinggalan,

“Ya, aku menangkap kesadaranku di panggung!”

panggung sandiwara tak pernah monoton

para aktor butuh ditonton

mereka ingin jadi sesuatu

lepas dari hidup yang itu-itu saja

bikin mual dengan penerimaan yang bersahaja!

huhh!!

jangan mengeluh ketika skenario membosankan

jangan berpaling ketika alur cerita lamban

ini panggung menjanjikan beragam petualangan!

hah? mengapa kalian terpana?

biasa saja! manusia sehari-hari tak bersuka berlama-lama!

orang harus cepat menangkap keberadaan:

sebelum ada menjadi tiada ketika tiba-tiba menyusut dalam hampa

ditinggalkan seperti kenangan tak penting yang ingin dilupa

ini panggung! menuntut aktor menampilkan gerakan!

gerakan itu menjanjikan sesuatu yang lain daripada biasa

unik dan semua yang bisu bersuara, atraksi teatrikal harus bersuara

bahkan tubuh materi sekarang menjadi vibrasi yang merambat di udara

demi pengagungan sebuah peran

dan tahukah engkau? dari semua kemuliaan yang tidak menipu

oh, tentu saja itu kemuliaan yang dihayati!

satu prinsipnya : penghayatan peran sepenuh hati!

biarlah, tak masalah! bila waktunya terbatas

itu jalan cerita segera tuntas

seketika pertunjukan berakhir

tidakkah panggung telah menawarkan pengembaraan?

petualangan para aktor menghapus diri

demi menyusuri jalan untuk menjadi tubuh baru.

inilah panggung mari resapi!

nikmati saja hidup tak pernah sampai pada tepi.


PUISI | 07 November 2011 | 00:27

Share: