Selasa, 20 Desember 2011

 

Menghibur Diri Ala Nasrudin Hoja

Salah satu tokoh cerita yang paling eksentrik dari khasanah sastra Timur Tengah adalah Nasrudin Hoja. Dalam tiap kisah anekdot yang dipaparkan, tokoh cerita ini selalu bertingkah laku konyol namun mengajak siapa pun untuk merenungi kekonyolannya. Prilaku kocak yang bersifat kontemplatif dan apa adanya. Demikian yang senantiasa disajikan dalam berbagai cerita humor bertokoh utama Nasrudin Hoja. Berikut ini satu di antara anekdotnya.


RESEPNYA ADA PADAKU

Suatu hari, Nasrudin membeli lidah kambing di pasar. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seorang temannya.

“Akan kamu masak apa lidah itu?” tanyanya.

“Seperti biasa,” jawab Nasrudin.

“Kalau kamu mau aku bisa mengajarimu cara memasaknya yang enak.”

“Baiklah, tapi tulis saja di kertas cara-cara memasak yang akan kamu akan ajarkan itu. Aku akan membacanya dan mempraktekkannya di rumah nanti,” kata Nasrudin.

Setelah menerima resep makanan, Nasrudin melanjutkan perjalanan pulang dengan hati gembira. Ia kini akan memasak makanan yang lebih lezat dari biasanya. Namun, tiba-tiba seekor elang turun dan menyambar bungkusan lidah kambing dari tangannya, kemudian terbang tinggi lagi.

Sejenak Nasrudin kaget. Tetapi dia tak terlihat sedih. Dia ambil resep dari saku bajunya lalu diacungkannya kepada elang seraya berteriak:

“Percuma, kamu tidak bisa memakannya! Resepnya ada padaku!”

(*Disadur dari Buku: Humor Sufi 4, Halaman 32-33, Pustaka Hidayah, Januari 2004)


Setelah menyimak anekdot ini, saya kira ada beberapa hal yang bisa ambil sebagai pelajaran, sebagaimana yang diuraikan di bawah ini:


Cara Penulisan Anekdot

Kita mengetahui bahwa sebuah anekdot bertujuan menyajikan nuansa segar humor. Selain itu, anekdot sering berupaya mengajak pembaca untuk merenungi apa hikmah yang terkandung di dalam sebuah peritiwa lucu yang terjadi secara tak sengaja. Ada peran fungsional sastra sebagai media pengajaran dan hiburan yang tampak dalam anekdot. Dalam konteks ini, anekdot ditulis dengan metode tersendiri yaitu:


1. Pengantar cerita sengaja ditulis pendek dan bersifat parafrasa yang menyimpulkan keseluruhan isi cerita.

“Suatu hari, Nasrudin membeli lidah kambing di pasar. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seorang temannya.”

Pengantar cerita sebuah anekdot hampir mirip dengan berita karena menjawab pertanyaan apa yang terjadi, siapa yang terlibat dalam peristiwa itu, kapan kejadiannya, dimana tempat kejadiannya.


2. Alur Cerita / Plot terkesan langsung ke pokok persoalan yang ingin disampaikan.

Ini tampak jelas dengan penyajian dialog yang membuka konflik cerita dan berlanjut menuju klimaks cerita, terus menuju resolusi / pemecahan masalah yang dipaparkan yang menutup keseluruhan kisah. Berkaitan dengan ini, resolusi langsung memberikan pesan tersirat atau pelajaran moral kepada pembaca.

Namun, tiba-tiba seekor elang turun dan menyambar bungkusan lidah kambing dari tangannya, kemudian terbang tinggi lagi.

Sejenak Nasrudin kaget. Tetapi dia tak terlihat sedih. Dia ambil resep dari saku bajunya lalu diacungkannya kepada elang seraya berteriak:

“Percuma, kamu tidak bisa memakannya! Resepnya ada padaku!”


3. Karakterisasi / Penggambaran Tokoh Cerita

Karakterisasi yang digunakan dalam sebuah anekdot terkesan unik. Mengapa? Karena jelas sekali terlihat tokoh cerita diilustrasikan memiliki prilaku tersendiri. Tokoh cerita dilukiskan sebagai pribadi yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang ganjil dan kurang lazim dalam masyarakatnya. Hal ini tampak dalam dialog langsung yang disajikan dalam cerita.

“Kalau kamu mau aku bisa mengajarimu cara memasaknya yang enak.”

“Baiklah, tapi tulis saja di kertas cara-cara memasak yang akan kamu akan ajarkan itu. Aku akan membacanya dan mempraktekkannya di rumah nanti,” kata Nasrudin.

Hebat sekali bukan tingkah laku Nasrudin? Ketika orang lain mau mengajarinya, malah orang tersebut yang dia arahkan untuk menuruti kemauannya karena dia tak punya cukup waktu untuk mendengar nasehat-nasehat yang bertele-tele. Nasrudin mau belajar dari pengalaman pribadi yang langsung dilakukannya melalui praktek, bukan melalui instruksi yang teoritis sebagaimana terkandung dalam sebuah nasehat. Inilah konsepsi terbaru versi Nasrudin Hoja mengenai pengertian ‘belajar yang efektif’.


4. Model Komunikasi Dialogis

Anekdot memanfaatkan dialog-dialog singkat dan langsung, tetapi tak melupakan syarat dialog yang menarik yaitu sifat mimesis (peniruan kembali kenyataan). Dalam dialog-dialog anekdot di atas, kita bisa melihat realitas sosial budaya masyarakat Timur-Tengah yang saling berbagi pengetahuan. Ini berhubungan dengan kecenderungan mengikuti ajaran agama yang mayoritas dianut penduduknya saat itu adalah Islam: “Ajarkanlah walaupun hanya satu ayat.”

“Kalau kamu mau aku bisa mengajarimu cara memasaknya yang enak.”


5. Nasehat Pengajaran yang Tersirat dalam Sebuah Anekdot

Selalu ada nasehat yang ingin disampaikan dalam sebuah anekdot. Dari cerita humor Nasrudin ini, pesan yang dapat ditangkap adalah keikhlasan diri ketika mengalami pengalaman pahit: kehilangan harta. Saat suatu peristiwa membuat kita terpaksa kehilangan harta benda yang mungkin sangat kita banggakan, kesedihan yang berlarut-larut tak akan mengantarkan kembali ‘sesuatu yang sangat berharga itu’ kepada kita. Sikap yang paling bijaksana adalah tetap semangat dan berupaya menghibur diri sendiri; walaupun, memang hal ini sangat naif. Tetapi, tidakkah lebih baik berlapang dada dan tetap gembira daripada syahdu dalam kesedihan yang tak berguna?

“Sejenak Nasrudin kaget. Tetapi dia tak terlihat sedih.”

Demikian yang bisa saya paparkan mengenai anekdot kocak Nasrudin Hoja ini. Semoga bermanfaat.


Share: