Puisi Kematian Rabindranath Tagore

Puisi Kematian Rabindranath Tagore

OLEH RAKA SANTERI 

Rabindranath Tagore, Puisi-puisi Rabindranath Tagore, Esai, Sastra, Esai Sastra, Blog Dofollow

Paradoks tidak hanya terjadi dalam dunia riil, tetapi juga dalam dunia seberang yang disebut kematian. Jiwa, misalnya, bagi Rabindranath Tagore, orang Asia pertama yang meraih Nobel pada 1913, bukanlah sesuatu yang abstrak, tetapi sangat riil bagaikan wujud seorang ibu. Dan kematian adalah pelukannya untuk memberikan kelahiran baru. Maka berbisiklah dia dalam puisi kematian yang diberi judul “A Kiss”:

The night kissed the fading day
With a whisper.
“I’m a death, your mother,
From me you will get new birth”

Lalu kemudian, ketika Tagore melanjutkan dengan:

“Death, my death/
Whisper to me!/
For you alone have I kept watch day after day”,

Ada orang menilai luapan kegemrbiraan romantis (romantic ectasy) telah muncul dalam setiap kata-katanya. Bagi Tagore, di samping sang jiwa telah menjadi sangat riil, juga dia selalu merindukannya dalam tembang yang penuh kegairahan.

Betapapun juga, kematian memang mengundang berbagai perasaan, reaksi, sekaligus makna. Tidak setiap orang mampu manyambut kematian bagaikan menyongsong kedatangan seorang ibu yang akan memberikan pelukan kasih sayang dan kehidupan yang baru. Sebaliknya banyak yang merasa cemas, takut, dan sedih menghadapi ambang perpisahan dengan semua yang sangat dikasihi.

Dalam pandangan ini, seolah-olah tubuh dijadikan satu-satunya kenyataan. Padahal, dalam dunia sastra (dan juga agama), tubuh dan roh telah lama dipersatukan dalam dunia imajinasi. Di sini yang satu tidak bisa lagi menafikkan keberadaan yang lainnya karena imajinasi telah lama mempersatukan keduanya.

“Words cling to the death like dust/ Silence washes their souls” , ujar Tagore dalam puisinya yang diberi judul “Silence”.

Deepak Chopra dalam bukunya On the Shore of Eternity, kumpulan puisi karya Tagore, menyebutkan, jiwa jauh lebih riil dari obyek-obyek apapun yang dialaminya. Oleh karena itu, Tagore menyanyikan puisi-puisi kematian yang ditulisnya sebagai perjalanan pulang (home) menuju keabadian yang dipenuhi rasa bahagia. Dari sinilah kemudian jiwa akan “melompat” menuju tempat kehidupan yang baru lagi.

Lewat syair-syairnya yang memesona, Tagore membuat pembacanya semakin akrab dengan kematian. Dan sambil mengamati kedatangan “sang ibu” yang kian mendekat, kita disarankan untuk tetap memapu menikmati hidup yang sekarang dengan penuh pengertian. Apakah yang perlu dikhawatirkan lagi? Dengarlah nasihatnya ini: “Jika kamu menangis karena matahari telah tenggelam, air mata mungkin akan membutakan dirimu untuk melihat bintang-bintang di langit”.

Meskipun demikian, Tagore juga menganggap wajar jika seseorang meneteskan air mata karena terharu. ”Janganlah malu dengan air matamu. Karena air mata bumilah yang menyebabkan bunga-bunga terus tumbuh dan berkembang” (Don’t be ashamed of tears. The earth’s tears keep her flowers blooming).

Menarik karena dalam puisi-puisinya, Tagore tidak pernah bicara tentang surga. Seperti dapat kita saksikan sendiri, Deepak Chopra benar ketika mengatakan bahwa kata home dalam puisi-puisi Tagore selalu dikaitkan dengan kesadaran yang meluas, kembali pada kesadaran Tuhan yang dapat dicapai lewat pencerahan. Dalam sebuah pernyataannya yang indah, Tagore mengatakan, “Proses kematian menghabiskan tenaga, tetapi akhirnya adalah kesempurnaan” (Dying is exhaustion, but ending is perfection).

Dapatkah sekarang kita menyebutkan bahwa kesadaran yang meluas tentang kematian, seperti tercermin dalam puisi-puisi Tagore, mencerminkan pula kesadaran yang luas tentang kehidupan? Lihatlah bagaimana Tagore, misalnya, berbicara tentang penyangkalan diri atau ketidakterikatan dalam puisinya “Renunciation” : “I live in the world afraid to lose everything/ Take me to your world where I can lose everything.” Atau dalam puisinya yang diberi judul “Kiss” : “God shows His love by kissing th finite/ Man shows his love by kissing the infinite”.

Akhirnya, kematian memang tak terhindarkan. Tetapi, jalan menuju kematian sangatlah beragam. Dengan pemahaman lewat jalan pencerahan, diharapkan kita mampu menerimanya dengan besar hati. Karena sesungguhnya hidup tidak pernah mengalami kematian. Yang hilang hanyalah raga, untuk memberikan tempat baru bagi raga yang lainnya.


Tentang Penulis : Raka Santeri adalah wartawan yang tinggal di Denpasar. 
 
Sumber :
CATATAN BUDAYA, Rubrik Seni, Kompas, Minggu,  14 Juni 2015, Hal: 28 

Baca dan unduh artikel ini dalam format