Cerpen Kate Chopin : Badai

cerpen karya kate chopin, cerpen badai, karya sastra cerpen, cerpen, cerita pendek


BADAI

Oleh KATE CHOPIN


I

Daun-daun bergantung tanpa gerak, sampai-sampai Bibi pun mengira hari akan hujan. Bobinôt yang biasa berbincang dengan anak lelakinya seakan ia teman sebaya, menunjuk pada sejumlah awan hitam dari arah barat yang meramalkan hari buruk, dibarengi oleh bunyi gemuruh yang menyeramkan. Mereka berada di toko Friedheimer dan memutuskan untuk menunggu di situ sampai badai reda. Mereka duduk di ambang pintu di atas dua tong kosong kecil. Bibi berumur tiga tahun dan kelihatannya cerdas.

"Mama jadi takut ya," demikian perkiraannya dengan mata berkedip-kedip.

"Dia mengunci semua pintu. Barangkali Sylvie malam ini datang membantu-bantu," jawab Bobinôt menenangkan.

"Tidak, Sylvie tidak ada. Sylvie datang kemarin," kata Bibi lirih.

Bobinôt bangkit, lalu berjalan ke meja penjualan dan membeli sekaleng udang. Calixta suka sekali udang. Ia kembali ke tempatnya di atas tong lalu duduk tercenung sambil memegang kaleng. Sementara itu badai menerpa. Bangunan kayu itu sampai bergoyang di tempatnya, dan di kejauhan nampak seakan-akan garis-garis lebar melintasi lapangan. Bibi menaruh tangannya yang kecil di lutut ayahnya dan dia tidak takut.


II

Di rumah, Calixta tidak mencemaskan mereka. Di dekat jendela samping ia sibuk menjahit pada mesinnya. Begitu asyiknya sampai-sampai ia tidak sadar akan datangnya angin ribut. Udara memang terasa gerah; berkali-kali ia berhenti untuk menyeka keringat di mukanya. Ia membuka kancing di leher gaunnya yang putih dan longgar. Hari mulai gelap; tiba-tiba ia menyadari apa yang terjadi dan ia menutup jendela dan pintu. Di luar di serambi muka, ia tadi mengangin-anginkan pakaian pesta Bobinôt; cepat-cepat ia mengangkatnya sebelum hujan tiba.

Ketika ia keluar Alcée Laballière memasuki pintu pagar. Sejak ia menikah mereka tidak sering bertemu dan tak pemah mereka berdua sendiri. Ia berdiri sambil memegang jas Bobinôt, sementara hujan mulai turun dengan tetesan yang berat. Alcée membawa kudanya ke tritisan di samping rumah tempat ayam berlindung. Di  pojok terletak bajak dan garu.

"Boleh saya menunggu di serambi rumahmu sampai terang, Calixta?" tanyanya.

"Masuk saja M'sieu Alcée."

Seperti bangun dari mimpi, begitu terkejut ia mendengar suara Alcée dan suaranya sendiri. Tangannya memegang erat baju Bobinôt. Sambil naik ke serambi Alcée menyambar celana dan sempat menyelamatkan baju Bibi yang hampir saja diterbangkan angin.

Ia berkata bahwa ia sebenarnya mau menunggu di teras, tetapi ternyata di situ sama seperti di luar keadaannya: hujan tertuang deras di atas lantai kayu. Ia lalu masuk dan menutup pintu di belakangnya. Celah di bawah pintu bahkan harus disumpal agar air tidak masuk.

”Astaga! Hujannya bukan main! Sudah dua tahun tidak hujan begini,” seru Calixta sambil memegang sepotong kain, Alcée membantu menyumbat celah itu.

Calixta lebih montok ketimbang lima tahun yang lalu sebelum ia kawin; tetapi kelincahannya tidak berkurang. Matanya yang biru tetap menyimpan rahasia dan rambutnya yang pirang tampak kacau-balau oleh hujan dan angin. Mengikal liar di sekitar telinga dan pelipisnya.

Hujan menghantam atap kayu yang rendah; suaranya gemuruh seperti mau memaksa masuk ruangan dengan kekerasan untuk membenamkan mereka berdua. Mereka berdiri di kamar makan, ruangan yang sekaligus merupakan ruang keluarga dan ruang tamu. Di sebelahnya ada kamar tidur; di samping tempat tidurnya, ada ranjang Bibi yang kecil. Pintunya terbuka dan kamar dengan tempat tidur putih yang luas dan krapyak yang tertutup, kelihatan taram-temaram menyimpan rahasia.

Alcée menjatuhkan diri di kursi goyang dan Calixta memungut perca kain yang jatuh waktu ia menjahit. Hatinya berdebar-debar.

"Kalau terus hujan begini, hancurlah dermaga!" ucapnya.

"Apa pedulimu dengan dermaga?"

"Aku sudah begini sibuk! Ditambah lagi Bobinôt dan Bibi keluar dengan badai seperti ini—mudah-mudahan belum meninggalkan Friedheimer!"

"Kita berharap saja Calixta, bahwa Bobinôt pulangnya kalau badai sudah lewat."

Calixta menuju ke jendela dan berdiri di situ dengan kerisauan terlukis di mukanya. Disekanya jendela yang tertutup uap. Udara gerah serasa mencekik. Alcée bangkit dan berdiri di belakangnya, melihat keluar dari balik pundaknya. Hujan turun dipacu angin sehingga rumah-rumah di sekeliling tidak nampak lagi, sedangkan hutan diselimuti kabut kelabu. Petir sabung-menyabung. Pohon ceri tinggi di pinggir ladang disambarnya. Sedetik udara terang benderang diikuti oleh dentuman yang menggetarkan lantai kayu tempat mereka berpijak.

Calixta menutupkan tangannya ke mukanya seraya mundur selangkah dengan menjerit. Alcée memeluknya dan sekejap mendekapnya erat.

"Bonte!" seru Calixta sambil melepaskan diri dan menjauh dari jendela.

"Sebentar lagi rumah ini yang hancur. Kalau saja aku tahu di mana Bibi!" Ia semakin bingung, dan tidak mau duduk pula. Alcée memegang pundaknya dan menatap matanya. Sentuhan tubuhnya yang hangat dan tegang, ketika tadi didekapnya tanpa sengaja—telah membangkitkan lagi semua rasa cinta dan nafsu yang dulu.

"Calixta," katanya, "Jangan khawatir. Tak mungkin terjadi apa-apa. Rumah ini terlalu rendah untuk disambar petir, lagi pula dikelilingi pohon tinggi-tinggi. Nah, agak tenang sekarang? Coba bilang?"

Disapunya rambutnya dari mukanya yang panas berkeringat. Bibirnya merah seperti rekahan delima. Lehernya yang putih dan kilasan buah dadanya yang penuh padat membuatnya lupa daratan. Ketika bertemu mata, ketakutan di matanya yang biru gelap telah berubah menjadi cahaya lamat-lamat yang tanpa disengaja menyiratkan nafsu yang dalam. Pandangan mereka tidak terlepas dan Alcée tidak kuasa berbuat lain kecuali mencium bibir itu. Ia teringat waktu di Assumption.

"Kau ingat di Assumption Calixta?" ia bertanya dengan suara yang parau karena rindu. Tentu saja Calixta ingat... Alcée waktu itu menciumnya berkali-kali sampai ia takut tak dapat menguasai diri dan ia lari demi kesucian Calixta, penuh rasa putus asa. Dan  meskipun selama itu Calixta tidak sesuci salju, kehormatannya utuh terjaga; ia gadis bebas penuh nafsu, justru ketidakberdayaannya merupakan pelindungnya terhadap perbuatan yang ditolak oleh Alcée sebagai sesuatu yang tercela. Tetapi, sekarang, seakan-akan ia sepenuhnya berkuasa atas bibirnya. Juga berkuasa atas lehernya yang putih bulat, dan payudaranya yang lebih putih lagi.

Mereka tidak mengacuhkan hujan deras yang mengguyur, dan di dalam pelukannya Calixta meremehkan kemarahan alam. Dalam kamar yang remang penuh rahasia ia mirip permunculan dalam mimpi, putihnya seputih ranjang tempat ia berbaring. Tubuhnya yang kenyal lentur kini menuntut haknya, ia seperti bunga leli putih bersih yang mulai menyebarkan keharuman begitu mendapat belaian matahari. Limpahan nafsunya yang rela, polos tanpa pura-pura membakar menembus diri Alcée, membangkitkan kerinduan yang belum pernah ia rasakan.

Dengan sentuhannya buah dadanya bergetar tegak, memohon kecupan bibirnya. Mulutnya melukiskan kebahagiaannya, dan saat ia menguasainya penuh, seakan-akan rnereka hilang kesadaran di daerah perbatasan tempat asal-mula rahasia hidup. Sejenak ia berbaring di atas tubuh Calixta, putus napas, terbius, habis tenaga, dengan jantung yang berdetak memalu dadanya. Dengan tangan satu Calixta meraih kepalanya sambil mencium keningnya. Tangan yang lain membelai pundaknya yang perkasa dengan gerak lembut berirama.

Bunyi guruh terdengar menjauh, badai sudah reda. Hujan lirih memukul atap, seperti membuai tidur. Tetapi mereka tak berani.

Hujan berhenti dan matahari mengubah alam yang hijau berkilau menjadi istana permata.

Dari teras Calixta melihat Alcée berangkat. Ia menoleh dengan senyum bahagia; Calixta mendongakkan mukanya yang manis sambil tertawa.


III

Setelah perjalanan yang bersusah payah Bobinôt dan Bibi berhenti sebentar di dekat tong di bawah talang untuk merapikan diri sedikit.

"Wah Bibi, aku sudah dengar suara ibumu: tidak malu kamu? Tadi jangan pakai celanamu yang bagus. Coba lihat! Lumpur di lehermu. Bagaimana lumpur itu sampai di lehermu? Aduh anak ini!"

Bibi sudah pasrah. Dengan penuh ketelatenan Bobinôt berusaha menghilangkan bekas-bekas yang paling parah akibat perjalanan mereka melalui jalan yang hampir-hampir tidak terlewati serta ladang-ladang yang berlumpur. Dengan sepotong kayu dikoreknya lumpur di kaki Bibi dan sepatunya sendiri dibersihkannya. Setelah itu mereka masuk dari pintu belakang, siap menghadapi seorang ibu rumah tangga yang menyukai kebersihan dan kerapian. Calixta sedang menyiapkan makan malam. Meja sudah ditatanya dan ia sedang membuat kopi di dekat perapian. Waktu mereka masuk ma melompat bangkit.

"O, Bobinôt. Akhirnya kalian datang! Ya Allah, saya begitu cemas. Di mama kalian ketika hujan? Dan Bibi bagaimana? Tidak kehujanan. Tidak apa-apa dengan dia?"

Bibi dipeluknya dan diciumnya bertubi-tubi. Semua dalih dan alasan yang dikarang Bobinôt sambil berjalan pulang tidak terucap ketika Calixta merabanya untuk melihat apa dia basah; rupanya ia lega bahwa mereka sudah selamat sampai di rumah.

"Aku bawa udang buatmu Calixta," kata Bobinôt sambil merogoh kaleng dari saku dan meletakkannya di meja.

"Udang! O! Bobinôt! Kau benar-benar luar biasa!" Calixta mencium pipinya penuh semangat.

"Apa kataku, kita makan besar malam ini!" Bobinôt dan Bibi bernapas lega, dan waktu menghadapi meja, ketiganya penuh gelak tawa, begitu keras sehingga terdengar oleh semua orang, mungkin bahkan oleh Laballière.


IV

Malam itu Alcée Laballière menulis surat kepada isterinya Clarissa. Nada surat mengungkapkan kasih sayang yang mesra. Ia menulis Clarissa tak perlu buru-buru pulang; boleh saja ia tinggal sebulan lagi kalau dia dan anak-anak suka di Biloxi. Jangan memikirkan dirinya, meskipun ia merasa sepi, ia menyadari bahwa kesehatan dan hiburan untuk mereka perlu, dan hal itu meringankan perpisahan yang agak lama.


V

Dan Clarissa amat gembira dengan surat suaminya. Dia dan anak-anak senang. Lingkungannya menyenangkan; banyak teman-teman lama ada di teluk itu. Untuk pertama kali sejak ia menikah ia bebas bergerak dan sesekali ia merasa lagi kegembiraan dan kebebasan seperti di masa gadisnya.

Ia seorang isteri yang berbakti pada suami, dan merasa senang bahwa untuk sementara waktu ia dibebaskan dari keintiman perkawinan.

Jadi, badai sudah reda dan semua senang.


Tentang Pengarang :

Kate Chopin adalah nama pena dari Katherine O’ Flaherty. Ia adalah seorang pengarang Amerika ( 1851 – 1904). Cerita berjudul BADAI ini dimasukkan dalam kumpulan cerita berbahasa Belanda, De beste buitenlandse verhalen van de Bezige Bij ( Cerita Asing terbaik terbitan ”De Bezige Bij”).



Cerpen Kate Chopin : Badai (PDF)