Hedonis Hippies

Hedonis Hippies

hedonis


(1)

Minggat dari rumah mama-papa,
tiga bulan lebih luntang-lantung:
malam nginap di taman kota,
siang bawa gitar di jalanan melata-lata.
Yorris sedang galau. Jalan pulang ia lupa.

Mama sibuk. Arisan, ada meeting di private club.
Yah, sampai di rumah buru-buru lagi. Upppsss!

“Yorris.. Mama cabut, ya, sayang.
Ke fitness.”

Biar tetap montok, katanya.
Usia paruh baya masih semangat tebar pesona.
Siapa tahu, ya?
Berondong manis bergaya,
aihh, kepincut mau duduk di jok depan Avanza.
Yorris nelangsa.

“Masa bodoh amat!” body semok sang bunda ngeledeknya.

Si mama gatal suka dolanan.
Tembang ’Cinta Satu Malam’ menghasut jiwanya.
Gairah desah cinta brownis dipungut-pungut di jalan.
Bagaimana bisa ada cinta buat Yorris yang tersisa?
Sebaliknya ia nikmati tikaman tajam pisau:
risau menembus daging kalbu terdalam. Hatinya merawan.
Ia pun lari sekencang mungkin. Memanggul buntelan.
Astaga! Isinya bertumpuk lagu hati galau.

(2)

Pernah suatu sore ia papasan sama papanya.
Tak pernah ia sangka. Seperti disetrum ia merasa.
Ya, ampun! Sang papa keluar dari panti pijat.
ABG berdada padat, ber-jins ketat melekat di pantat.
Wow! Wangi betina sirep papanya dalam syahwat.
Gawat! Batang rudal ’hot’ 1.000 watt.

Bagaimana bisa ia dituntun hikmad?
Sang papa lebih suka melenggang di jalan sesat.
Jangan salahkan Yorris sudah bulat bertekad:
menjadi bangsat ─ pilihan yang tepat.
Ah, Yorris, ambillah dari yang tersirat!

Malam pun tiba di haribaan. Pekatnya terlampau padat.
Bagaimana bisa si gadis muda minggat dari rumah terang melihat?
Persis di dekat bak sampah,
Seusai doggy-style dengan sang pacar sesama gundah,
Yorris buang segala resah:
tentang keperawanannya yang melayang,
tentang hari depannya yang mengabur hilang,
tentang papanya dalam buai ABG menggelinjang,
tentang mamanya yang ingin awet muda,
digesek-gesek brondong manis mendebarkan dada,
bersenjata sebesar burung belibis,
”Wow, keren!” seru si mama sambil meringis.

”Hai, Yorris..” ramah sekali sapaan iblis, ”Nih, pake buruan deh!”
Setengah jam setelah ’nyipek putaw’, ia stokun. Terbang lupa pulang.
Mulutnya berbusa-busa tapi galaunya belum hilang.
Malaikat kesal melihatnya ketika ia sampai di langit langsung kena tendang.
Tendangan pisang: gol. Masuk ke neraka memanggang.

”Hore, hore.. Ada kawan baru!” girangnya hati vokalis The Sex Pistols menyambut.
”Kenalan dong? Saya Kurt Cobain. Ini teman saya Jim Morrison.”

Yorris mandi keringat dingin.
Sudut matanya menangkap tulisan di papan melintang:

”Selamat datang di Neraka Jahanam, gadis manis.
Hedonis Hippies, wow keren! Gila Abis! PEACE!”

Catatan :
1. Ditulis pada 31 Maret 2012, pukul 03:11.WIB