Sastra dan Sains

Misalnya ada sebuah teori ilmiah mengatakan begini:

"Semua angsa berwarna putih karena disimpulkan dari pengambilan sample sebanyak 4.278.192 benda di sekitar. Lalu, dari sebanyak sample itu ternyata mahluk hidup berwarna putih adalah angsa. Maka, tiba pada generalisasi bahwa 'semua angsa berwarna putih'. Ini menjadi teori ilmiah yang melandasi kesimpulan umum tadi. Akan tetapi, bila di antara banyak benda yang dijadikan sample itu, ada 1 saja mahluk hidup berwarna hitam mirip sekali dengan angsa, maka generalisasi 'semua yang berwarna putih adalah angsa' menjadi gugur dan tak berlaku lagi. Dan, harus diadakan observasi ilmiah ulang karena telah mengeliminir kesimpulan umum sebelumnya.

Contoh lainnya:

"Semua benda bila dipanaskan akan memuai. Besi dan bermacam-macam logam, kayu (pori-pori kulit batang melebar), tanah (merekah) akan memuai bila dipanaskan. Namun, ada satu benda yang tidak dapat memuai bila dipanaskan maka disebut 'anomali' atau kekecualian. Ternyata semakin banyak anomali, maka sebuah teori ilmiah gugur dan hilang kewibawaannya untuk menjadi landasan teoritis."

Dari ilustrasi ini, sains rupanya sibuk berkutat dengan kegiatan ilmiahnya untuk mencapai universalitas (kesemestaan yang berlaku umum sepanjang masa.)

Bagaimana dengan sastra?

Ternyata sastra sangat berbeda sekali. Sastra berbicara dan fokus terhadap hal-hal yang khusus. Contohnya bagaimana?

Misalnya, ada sebuah sajak yang sedang berbicara cinta dan kemanusiaan. Sajak itu mengutarakan 'hal khusus tentang cinta dan kemanusiaan' yang mengambil landasan pijakan pemaparan pokok persoalannya menurut 'pemahaman subjektif dan pengalaman personal' sang penyair. Maka, jadilah suatu deskripsi tentang 'cinta dan kemanusiaan yang terkesan istimewa dan lebih kaya cita rasa', lain daripada yang sebelumnya yang biasa diketahui umum (pemahaman klise). Inilah yang membuat sastra dapat secara ilmiah dikatakan sebagai cabang ilmu kemanusiaan (humaniora) yang sangat spesifik mencoba menyentuh akar persoalan yang sedang dipaparkannya. Mari kita buktikan.

Salah satu definisi cinta menurut Sarabunis Mubarok:

/Bukankah tak ada dongeng yang lebih dari cinta,// /bukankah tak ada tembang yang lebih merdu dari igauan dari rindu.//

(baris ke 2 dari bait ke II sajak Sarabunis Mubarok ─ Di Lintasan Duka)

Salah satu definisi cinta menurut Joko Pinurbo:

/Tanpa cium berangkatlah ia memburu mimpi.//
/Tertatih, terjungkal, ia panjati tebing terjal//
/dan terus mendaki ke puncak tinggi.//
/Di bawah sana pacarnya galau menanti://
/akankah ia kembali atau terperosok ke jurang sepi?//

(bait ke III sajak Joko Pinurbo ─ Penyair Muda)

Sarabunis Mubarok mengungkapkan pendapatnya tentang cinta sebagai sebuah dunia yang sarat impian, fantasi indah yang mematikan logika berpikir orang yang sedang dimabuk cinta. Cinta yang bercita rasa sekali waktu manis bukan kepalang, di kesempatan lain mungkin pahit getir terasa di lidah jiwa dimeriahkan oleh senandung rayuan syahdu kerinduan yang membuat jiwa si pecinta 'ketar-ketir'.

Lain hal dengan Joko Pinurbo. Penyair ini mencoba mengilustrasikan cinta sebagai upaya pembuktian kasih sayang. Sang kekasih yang mencintai wanita / lelaki tumpuan hatinya mesti berupaya keras merealisir kecenderungan hatinya untuk menyayangi dengan memberikan 'sesuatu yang bisa menyenangkan hati' pasangannya. Walau pun upaya pembuktiannya tidak mendapat restu pada mulanya, dan mungkin saja berakhir dengan tragis. Jokpin mendefinisikan cinta sebagai rasa kasih sayang yang menjadi tindakan nyata menyayangi, bukan menyayangi yang khayali.

Sekarang jelas sekali bukan? Sastra lebih meluaskan pengertian yang terkandung dalam suatu pokok persoalan yang sedang dikemukakannya melalui karya sastra, yakni dengan cara mengkhususkannya. Lain hal dengan sains, sains hanya mampu membuat kesimpulan umum terhadap fenomena fisikal yang sedang dikemukakannya dengan "batasan ilmiah" definitif untuk mencapai universalitas (walaupun rentan sifat universalnya bila definisi yang diberikan ternyata tak bisa merangkul unsur-unsur tertentu yang bersifat anomali.)