Petisi Kelabu

:


kami telanjang!
kami binatang!

insting dorong diri
bunuh nurani
hingga terdengar
hanya gusar
menebar
dan desah
melirih
tertatih
melangkah
dalam kekosongan menatap,
pandang dan timbang lenyap
laku pun muntab
kalap!

hasrat purba
gejolak agung menggelegak
jiwa meraba-raba
dalam tenggelam
pekat kelam
menjebak
menyeret langkah
merayap susah
melukis tanah
garis jejak berona merah.

ah, masihkah hidup bermakna?
ketika nafsu durjana
menyiksa jiwa dalam akhir duka lara merana
bayaran termahal untuk kenikmatan fana

── pupus diri sebagai manusia
hidup menguap sia-sia!

** puisi lama (24 Juni 2004) dengan perubahan
gambar dari sini