Jumat, 23 Desember 2011

 

Adil dan Sama Rata

Lingkungan sosial memberikan pengaruh besar pada kecenderungan watak kepribadian seseorang. Mengapa? Sebab lingkungan sosial adalah tempat seorang individu mengaktualisasikan dirinya. Seseorang membentuk siapa dirinya, bagaimana ia biasanya berinteraksi satu sama lain dalam lingkungan sosial yang memberikan kesempatan dan dukungan. Demikianlah yang terjadi pada Yanto. Ia memposisikan dirinya sebagai seorang yang jeli melihat peluang menguntungkan dikarenakan lingkungannya yang kondusif.

“Heh.. Kalian kenapa bertengkar?! Yanto muncul dari balik semak belukar dekat kebun Pak Marto.

“Lha, kamu sendiri darimana, To?” tanya ketiga temannya hampir berbarengan.

“Ah, kalian pasti tahu.. Aku keluar dari sana,” tunjuk Yanto kemudian, “Habis mengerjakan hal yang besar!”

“Mengerjakan hal yang besar?!?” pada heran teman-teman sepermainannya, “Ha..ha..ha..ha.., kami tahu lah.. Kamu pasti habis buang air besar di kebun Pak Marto, iya kan?!”

Cengengesan ia cengar-cengir, “Iya, he..he..he.. Tapi kan tetap sesuatu yang bermanfaat besar?!”

“Alaaaah.. Bermanfaat besar dari Hongkong, kali?!” ledek seorang dari mereka, “Malah itu membuat malapetaka besar kalau kotoranmu sempat terinjak orang lain.”

Spontan mereka semua terbahak, “Huahahahahahaha…”

“Sudah…sudah.. Kalian tadi belum menjawab pertanyaanku!” serunya menghentikan tawa keras teman-temannya.

“Kenapa kalian tadi bertengkar?”

“Begini, To..” Didin bocah sembilan tahun itu mulai menerangkan, “Tadi kita baru selesai bantu Mbah Warno menggiring entoknya pulang ke kandang..”

“Terus…?”

“Kami bertiga diberi delapan mangga golek ini,” tunjuk Didin pada benda yang ada di dalam kresek hitam di kakinya.

“Ya, sudah… Kan tinggal kalian bagi rata,” anjur Yanto pada mereka.

“Nah, itulah pangkal sebabnya!” sahut mereka hampir berteriak.

“Jangan berteriak ngomongnya!” spontan Yanto kaget.

“Mangganya ada delapan buah. Sedangkan kami bertiga. Kalau dibagi rata masih tersisa dua buah,” jelas Beni temannya yang berdiri menunggu keputusan. Sebenarnya ia sendiri berharap bisa mendapat jatah tiga buah. Hanya saja ia kurang cerdik. Ia tak bisa menemukan cara untuk meluluskan niatnya itu.

“Santai… Begini saja,” Yanto mengajak teman-temannya berembuk, “Tiap orang mendapat dua buah mangga. Untuk Didin dua buah mangga. Beni dapat dua, dan kamu Rusdi juga dikasih dua buah.”

“Lalu… Yang sisa dua buah lagi buat siapa?” mereka tampak bingung.

“O, kalau yang dua buah sisanya itu… Pastinya untukku. Upah telah membagi adil dan rata mangga-mangga kalian tadi.”

Yanto memungut jatahnya. Dua buah mangga yang paling ranum sengaja ia sisihkan. Lagi-lagi ia memperoleh keuntungan karena lingkungannya yang memberi kesempatan.
Share: