Monolog Kembang Ilalang

: O, kehendak masih seru menggemuruh
  tak bersisa ruang di dalam benak
  untuk sekedar menimbang sejenak
  dan mata enggan menatap
  biar hari menebar segala seri
  berlalu tak perlu ditanggapi
 
: O, suram rupa lembah
  hadir hanya untuk mewartakan
  kepekatan malam yang kian memadat
 
: Aku kembang ilalang
  terpana geliat melumat sang bayu
  riuh menggemuruh kalbu
  seketika kusambut desir menyihir
  hingga mahkotaku lepas terampas
  hasrat purbanya yang mengganas
  hanya demi tarian beriring senandung
  syahdu mengalun tembang kematian

: Maka kubiarkan diri melebur
  dengan mataku yang buta
  kini kuraba-raba rentang waktu
  mencari takdir yang hilang disebar sang bayu
  dan setelah bertebaran di atas tanah
  tunas-tunas baruku bertumbuh
  menuntunku bangkit berdiri
  dengan semangat cahaya perak matahari