Apresiasi Puisi “Museum, Lagu Hampir Pagi” Karya Tjak Lan

Apresiasi karya sastra bagi saya sangat menarik. Saya melihat karya sastra sebagai representasi endapan pengalaman selektif yang menyajikan realitas serba-mungkin hasil kreativitas penulisnya yang mendayagunakan perangkat kebahasaan dan imajinasi intellektual. Akibatnya, suatu karya sastra yang membagikan pengalaman berharga bisa berfungsi menghibur dan sekaligus mendidik (it simultaneously functions to entertain and educate its readers.) meminjam istilah Horace ─ Dulce et utile. Apa sebab sebuah karya sastra bisa memberikan hiburan sehingga menarik untuk disimak? Anda mungkin bertanya demikian. Baiklah, karya sastra sanggup menyajikan makanan jiwa berupa hidangan lezat keindahan artistik dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Ambil sebagai contoh ketika kita membaca suatu sajak yang digubah dengan keindahan bahasa pilihannya, kita merasa terhibur sebab masuk ke dalam suasana yang memikat hati, mengalami perasaan tertentu akibat sugesti imaji dan kisah yang diilustrasikan. Bahkan merasa seperti terhipnotis bila sajak indah yang menghibur tersebut juga dimusikalisasikan sebagai lirik sebuah lagu. Di lain sisi, ternyata sebuah karya sastra juga mendidik dengan tujuan mencerahkan pembaca melalui pemberian suatu pengalaman dan wawasan baru. Misalnya, kita merasa tergugah setelah mendapat pengetahuan baru dan pemahaman tentang perlunya upaya maksimal agar dapat berpendidikan dan menjadi intellektual dengan segala keterbatasan sebagaimana yang dideskripsikan dalam tetralogi Laskar Pelangi buah karya Andrea Hirata. Dengan kata lain, seni sastra dengan hasil kegiatan berkeseniannya yakni karya sastra yang terbagi dalam jenre-jenrenya yang tersendiri sangat memikat hati untuk dinikmati dan disimak dengan seksama.

Berpijak pada deskripsi di atas, saya telah tertarik untuk mengapresiasi sebuah sajak karya Tjak Lan, yang menurut saya pribadi sajaknya ini cukup menghibur dan mencerahkan pembacanya. Bagaimana bisa? Tentu Anda akan bertanya demikian. Saya akan coba menjawabnya. Sajak Tjak Lan yang berjudul ”Museum, Lagu Hampir pagi” tampak menarik untuk ditelaah karena saya melihat ada keberhasilan mengolah endapan pengalaman hidup dalam bentuk kenangan tak terlupa menjadi sajak yang padat makna dan kental suasananya. Tjak Lan sebagai penyair berhasil menggubah dengan kemampuan artistik dan imajinasi intellektual yang dimiliki. Baiklah tak perlu berpanjang lebar lagi, mari kita sama-sama mencermati sajaknya:



Museum, Lagu Hampir Pagi

Oleh : Tjak Lan

____

rindu menyauh
lagu yang datang melampaui malam
dari laki-laki berbibir kabut
di tikungan yang putih
seperti bayangan musafir datang dari jauh

suaranya menggantung
di lembab malam depan museum

sewaktu jalanan usai
dua ekor anjing coklat
dan patroli terakhir yang sia-sia
mengais mangsa
sia-sia mengais lagu itu

hingga syair terakhir
hampir pagi
rinduku berlebih di sini
dan laki-laki berbibir kabut itu
kutinggalkan

ada hujan yang mengikutiku di ujung gang

sampai rumah
hujan membunuh lagu itu


Agar mempermudah kita memahami sajak ini, perkenankan saya untuk mem-parafrasakannya terlebih dahulu. Kegiatan mem-parafrasakan sebuah sajak sebenarnya bertujuan untuk menjelaskan dengan bentuk prosa tanpa mengubah kandungan makna yang terdapat di dalamnya. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Nesfield, 1926 : 200 dalam bukunya Matriculation of English Course, (lihat lagi tulisan saya sebelumnya tentang parafrasa sebagai metode menjelaskan sebuah sajak).

“This definition assumes that the changes to be made relate to the diction only, and the sense must remain unchanged.”

──► Definisi ini mengasumsikan bahwa perubahan-perubahan (yang sengaja) dibuat berhubungan dengan diksi semata, dan makna (yang terkandung di dalamnya) harus tetap tak berubah.

Oleh karena itu, parafrasa sajak Tjak Lan ini juga bertujuan hanya pada perubahan kata-kata yakni mengubahnya sebagai paragraf-paragraf prosa semata, sebagaimana yang saya sertakan di bawah ini:

1. Parafrasa Bait I:

Rasa rindu yang ‘menyauh’ adalah gejolak terpendam, lagu yang datang melampaui bentangan pekat malam dari laki-laki yang berbibir pucat bak kabut putih. Masih dirasakannya sejak ia berdiri tersamar di tikungan putih seperti lintasan bayangan musafir datang dari jauh.

2. Parafrasa Bait II:

Suaranya lamat terdengar selayaknya desah yang menggantung di kelembaban dingin udara malam di depan museum.

3. Parafrasa Bait III:

Sewaktu sepi mulai terasa menerpa jalanan dan segala keriuhan pun telah usai, dua ekor anjing berbulu coklat liar melintas. Patroli terakhir yang sia-sia ─ dua mahluk yang gagal mengais-ngais di tumpukkan berlapis-lapis kepekatan lembab malam, dengan kesia-siaan berupaya menemukan kembali lagu kerinduan itu agar dapat dijadikannya sebagai mangsa.

4. Parafrasa Bait IV:

Nada-nada senandung kalbu kerinduannya tetap mengendap dan bergema di kelam lembab. Ketika syair terakhirnya mengalun, waktu bergerak hampir pagi. Aku yang menyaksikannya kini mendapatkan kerinduan itu berlebih di sini dan telah menjadi kerinduanku; laki-laki berbibir pucat bak kabut putih itu telah memberikannya padaku. Lalu, ia pun kutinggalkan.

5. Parafrasa Bait V:

Di tengah perjalanan kembali pulang, ada hujan yang mengikutiku hingga ujung gang.

6. Parafrasa Bait VI:

Sampai di rumahku, hujan semakin deras. Senandung lagu kerinduan dari laki-laki berbibir laksana kabut yang kubawa pulang akhirnya lesap masuk ke dalam keriuhan tumpahan derai gemuruh suara alam yang membunuh nada-nada sayupnya di kelembaban dingin udara.



 Bagian II

Setelah sama-sama menyimak sajak karya Tjak Lan dan parafrasa bait demi baitnya setidaknya kita sudah memperoleh suatu gambaran keistimewaan sajak ”Museum, Lagu Hampir Pagi”, sekarang saya akan mengajak Anda sekalian untuk memulai kegiatan mengapresiasi dengan melakukan analisa secara cermat. Sekedar menyegarkan ingatan kita bersama, saya akan sedikit memberikan pandangan tentang perbedaan antara kegiatan analisa karya sastra yang bersifat kritik dan apresiatif. Dalam konteks ini, Budi Darma (1983 : 57 ) menjelaskan:

”Kritik sastra mempunyai objek yang sama dengan apresiasi sastra, yaitu karya sastra. Kritik sastra berbeda dengan apresiasi sastra, karena kritik sastra berusaha untuk melihat kelemahan-kelemahan karya sastra, sedangkan apresiasi sastra berusaha untuk menerima karya sastra sebagai sesuatu yang layak diterima.”

Dari judul artikel saya ini tentu Anda sekalian bisa memahami dimana posisi saya yang ingin menerima sajak Tjak Lan sebagai karya sastra yang baik dan layak diterima. Maka dari itu, saya menganalisa sajaknya dengan motivasi dasar sebagai seorang apresiator yang berupaya membuktikan dan menggali nilai-nilai keistimewaan buah karyanya. Sebelumnya saya mengatakan bahwa sajak ”Museum, Lagu Hampir Pagi” memberikan suatu pengalaman literary enjoyment ─ kenikmatan sastrawi yang bisa dirasakan oleh jiwa pembacanya. Dalam pada itu, saya tentu harus membuktikan ucapan saya ini dalam bentuk tanggung jawab saya sebagai apresiator sebagaimana diuraikan melalui diskusi ini.

Baiklah saya memulainya dari analisa judul sajak terlebih dahulu.


1. Judul Sajak

Dalam seni sastra jenre puisi, judul dari sebuah sajak sangat berperan fungsional. Judul mengindikasikan apa yang sedang diungkapkan sebuah sajak, apakah mengungkapkan sosok yang dikenalkan, peristiwa, suatu masa atau pun tempat tertentu secara simbolik atau pun bahkan terang-terangan. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Edward H. dan Jones, Jr ( 1968 : 90 ):

”Usually the title of a poem gives us an idea what the poem is about. What does the title tell us? How does the title help in our understanding of the poem?”

──► Biasanya judul sebuah sajak memberikan kita gagasan mengenai apa yang sedang sebuah sajak kemukakan. Judul (sebuah sajak) memberitahukan kita tentang apa? Bagaimana judul membantu pemahaman kita (untuk menyingkap apa yang ada) di dalam sajak tersebut?

Sajak Tjak Lan ini mengambil judul yang terkesan simbolik sekali : “Museum, Lagu Hampir Pagi”. Bila makna denotatif kata ‘Museum’ merujuk pada sebuah tempat yang menyimpan berbagai barang berharga yang antik sehubungan dengan peristiwa-peristiwa penting yang melingkupinya, maka makna konotatifnya bila dihubungkan dengan keseluruhan isi sajaknya akan mengarah pada tempat bersemayamnya ‘kesyahduan jiwa penyair akan perasaan rindunya yang menggebu dan menggelegak’ sebagai suatu kenangan yang tetap disimpannya dalam kalbu (lihat lagi frasa kata simbolik padanannya: ‘Lagu Hampir Pagi’, yang merujuk pada makna kiasan perasaan rindu syahdu penuh nostalgia yang menjadi senandung bergema sepanjang malam sampai menjelang pagi.) Dalam kalimat lengkap judul tersebut setelah kita padukan dengan frasa simbolik ‘Lagu Hampir Pagi’, ini bisa diparafrasakan menjadi:

“Museum sebenarnya jiwaku yang menyimpan lagu syahdu kerinduan, senantiasa melintas dan bergema sepanjang malam sampai hampir pagi.”

Urusan judul sudah tersingkap sugesti yang terkandung di dalamnya. Saatnya melangkah masuk pada analisis diksi dalam sajak.



2. Diksi

Diksi mudahnya adalah pilihan kata yang digunakan penyair dalam karyanya. Kata-kata tertentu yang ia berdayakan secara maksimal untuk membangun keseluruhan rasa, pengertian dan suasana yang ada dalam sebuah sajak. Berbicara kata-kata pilihan yang dipakai penyair, ini menyangkut pembicaraan seberapa kuat kata-kata tertentu yang dipilihnya untuk mewakili secara sugestif segenap perasaan dan pikirannya dalam sajak yang digunakan secara kontekstual (referring contextually to the poem’s suggestive tendency). Kembali Edward H. dan Jones, Jr ( 1968 : 90 ) menerangkan:

“The poet, more than any other writer, is concerned with getting the most he can from the words he uses. He is concerned with both what a word means what a word suggests.”

──► "Penyair, melebihi (kebiasaan) penulis lainnya berkenaan dengan (upaya untuk) mendapatkan yang paling banyak ia dapat dari kata-kata yang dia gunakan. Ia berkenaan dengan (upaya untuk meraih) keduanya, yakni apa (yang dapat) arti sebuah kata (berikan) dan apa yang sebuah kata (bisa) sarankan."

Kita tahu sebuah kata baik yang berdiri sendiri maupun ada dalam frasa atau kalimat memiliki arti denotatif dan konotatif. Makna denotatif merujuk pada makna harfiah, sedangkan makna konotatif mengarahkan kita pada makna tambahan atau kiasan yang disarankan (its added and suggested meanings of a word).

Dalam upaya mengapresiasi sajak Tjak Lan ini, saya menganalisa baris demi baris, frasa demi frasa dan kata per kata untuk menyingkap keistimewaan yang terkandung di dalam sajak secara lebih lengkap lagi:


2.1. Kata – Kata dan Frasa Beserta Makna Sugestifnya yang Diambil dari Judul


- Museum : Nomina ini secara kontekstual mensugestikan imaji yang merujuk tempat penyimpanan hal-hal berhubungan dengan nostalgia. ’Museum’ memang berdenotasi pada ruang tempat menyimpan barang-barang kuno bersejarah. Namun, secara kiasan dalam sajaknya ini Tjak Lan ingin mengarahkan benak pembaca pada dirinya sebagai penyair, yang menyimpan kenangan yang berbentuk kerinduan syahdu dalam ruang jiwanya. ’Museum’ berkonotasi sebagai ke-notalgia-an perasaan syahdu merindu.

- Lagu Hampir Pagi : Frasa kata ini mensugestikan pencitraan auditoris dan visual. ’Lagu’ berkonotasi pada makna ’senandung suara hati yang merindu’, yang kemudian dipadankan dengan frasa kata keterangan waktu ‘Hampir Pagi’ untuk menjelaskan waktu terjadinya gema senandung suara hati merindu.



2.2. Kata dan Frasa Kata Beserta Makna Sugestifnya yang Diambil dari Bait I

- rindu menyauh : Frasa kata ini berasal dari leksim ’rindu’ dan ’sauh’. Nomina abstrak ’rindu’, yang penyair juga mengambil makna denotatifnya, berarti ’suatu keadaan yang berkeinginan kuat untuk bertemu’. Verba ’menyauh’, terbentuk dari nomina ’sauh’ yang mendapat awalan me-, setelah dipadukan menjadi frasa ’rindu menyauh’ ini mensugestikan makna konotatif keadaan diri penyair terpaku saat ia merasakan kerinduan syahdu menerpanya seketika.

- lagu, yang datang melampaui malam : Nomina ’lagu’ tetap berkonotasi pada makna ’senandung suara hati yang merindu’. Hanya saja ketika berpadanan dengan frasa ’yang datang melampaui malam’ makna kiasnya sedikit agak mengalami perubahan kepada pengertian: ’senandung suara hati merindu yang menerpa melebihi bentangan malam, atau juga mengarah pada pengertian: ’senandung suara hati yang merindu melintasi malam.’ Hal ini disebabkan makna denotatif verba aktif ’melampaui’ adalah ’melintasi suatu jalur tempuh’.

- dari, laki-laki, berbibir, kabut :  Penggunaan preposisi ’dari’ yang dipakai berkonotasi untuk mencitrakan ’asal mula senandung suara hati yang merindu’ dengan nomina ’laki-laki’ sebagai subjek yang menyuarakannya, dan ini berkorelasi dengan makna kias dari frasa ’berbibir kabur’ yang menyatakan keadaan diri dirundung kesenduan yang menyamarkan keberadaannya.

- di tikungan yang putih : Frasa keterangan tempat yang didahului dengan preposisi ’di-’ mengindikasikan keberadaan diri aku lirik. Tapi, lebih terasa sekali konotasinya mengarah pada suasana  tipikal yang melingkupi tempat tersebut, yaitu kesan visual yang hening dan bernuansa misterius setelah dijelaskan melalui padanan frasa ’tikungan yang putih’.

- seperti bayangan musafir datang dari jauh : Sebuah frasa bila didahului dengan kata ’seperti’ biasanya mengarah pada maksud membandingkan. Secara tersendiri nanti kita bahas dalam sub pokok bahasan gaya bahasa yaitu majas simile. Pada analisis ini, kita hanya fokus pada makna konotasinya dulu. Frasa ’seperti bayangan musafir datang dari jauh’ menyajikan penjelasan yang menyimpulkan keseluruhan isi bait pertama. Tentu saja frasa ini menegaskan sifat datangnya ’senandung suara hati yang merindu’menerpa yang pengertiannya terkandung dalam baris pertama; yakni menghampiri sekilas melesat, mengembara serupa ’musafir’ (pengembara yang selalu singgah sementara waktu saja setelah menempuh perjalanan jauh), dan hadir dalam ruang pekat malam, merubung diri yang merasakannya walaupun senandung rindu syahdu tersebut munculnya seketika tanpa terduga ’datang dari jauh’.


2.3. Kata dan Frasa Kata Beserta Makna Sugestifnya yang Diambil dari Bait II

- suaranya, menggantung : Nomina ’suara’ dengan anteseden ’nya’ jelas mengarah pada sosok laki-laki yang menyenandungkan resah lamat-lamat kerinduan syahdu yang diilustrasikan pada bait pertama. Secara konotatif, ketika dipadankan dengan verba ’menggantung’ pengertiannya merujuk pada suasana lengang malam hari dimana tetap mampu memperdengarkan desah kerinduan yang tipikal memberikan gambaran perasaan sendu yang mengambangkan jiwa.

- di, lembab malam, depan museum : Lagi Tjak Lan memberdayakan pemakaian fungsional preposisi ’di’. Konotasi penggunaannya yang dipadankan dengan frasa kata keterangan tempat tersendiri mensugestikan himpitan sesak perasaan syahdu merindu dalam keheningan bening yang senantiasa hadir dalam wujud nostalgia melankolis (ini kesan yang diterima dari frasa ’depan museum’ ketika ’museum’ berkonotasi pada makna ). Saya melihat ada karaktersasi dari penggunaan frasa ’lembab malam’ yang berkonotasi suasana sepi yang dingin menusuk sebagai representasi dari keadaan jiwa menahan sesak yang syahdu merindu sekaligus nelangsa akibat nostalgia yang tak tercapai.

2.4. Kata dan Frasa Kata Beserta Makna Sugestifnya yang Diambil dari Bait III


- sewaktu, jalanan, usai :  Sebelum saya menganalisa baris pertama yang diambil dari bait ketiga ini, ada baiknya kita menyimak dulu bagaimana pendapat Bung Tjak Lan sebagai penyair menerangkan hal tersebut.



Jelas sekali bukan? Satu kata kunci pada baris pertama dalam bait ketiga ini ’usai’ berkonotasi pada makna akumulasi perasaan sepi yang sendu dan terkesan antiklimaks. Secara gramatika penggunaan kata ’sewaktu’ menerangkan urutan kronologis dua peristiwa yang terjadi bersamaan, yaitu jalanan sebagai ruang makin sepi dengan segala kesibukannya yang usai, kini lengang bertambah intensitasnya dengan kehadiran dua mahluk malam liar yang melintas (ada di baris kedua dan ketiga bait III ini.). Jadi, pada baris pertama bait ketiga ini ’sewaktu jalanan usai’ berkonotasi pada pengertian suasana yang sangat sepi melingkupi keberadaan sosok ’aku lirik’ yang tengah mengalami kerinduan syahdu. Adakah perasaan nelangsa yang tersirat di dalam baris pertama bait ketiga ini? Saya lebih cenderung untuk melihat hal tersebut sebagai nuansa melankolis yang haru di tengah kesepian yang kian naik kadarnya.

- dua ekor anjing coklat : Frasa ini berkorelasi dengan baris pertama untuk mengilustrasikan dan menguatkan kesan nuansa sepi yang mana ditandai dengan kehadiran ’dua ekor anjing coklat’ tak bertuan bebas berkeliaran. Di samping itu, ada indikasi mengarah pada sindiran sosial yang halus dan tajam bilamana dikaitkan dengan baris ketiga sesudahnya ( ’dan patroli terakhir yang sia-sia’ ). Sindiran ini menyiratkan kebiasaan dari oknum tertentu yang meronda sepertinya bukan untuk mengamankan lingkungan, tetapi mencari ’mangsa’ dalam pengertian mencari objek yang bisa memberikan keuntungan pribadi malangnya mereka gagal. Berikut ini pendapat Tjak Lan sendiri yang menjelaskannya secara tersirat:  



Saya melihat konotasi pada baris kedua ini mensugestikan sindiran sosial tajam dengan ironi dramatisnya yang kental sekali terasa.

- dan patroli terakhir yang sia-sia : Penghubung ’dan’ lazimnya untuk menghubungkan dua gagasan yang saling mendukung. Dalam sajak ini, ’dan’ juga merujuk pada fungsinya yang sama, yaitu menjembatani pengertian pada baris kedua. ’patroli’ denotasinya adalah kegiatan meronda yang dilakukan orang-orang tertentu, kita semua tahu itu. Namun, kata ini berkonotasi sugestif pada peristiwa yang mengandung ironi dramatis dalam kasus sajak Tjak Lan. Mengapa? Karena menyiratkan kiasan dari pekerjaan iseng oknum tertentu yang keluyuran di malam dingin yang sepi guna mencari ’objek’ (mangsa) yang dapat memberikan keuntungan pribadi tetapi bertangan hampa sebagaimana dijelaskan oleh frasa ’yang sia-sia’. Mungkin keluyuran iseng patroli ini telah didahului patroli yang lain sebagaimana yang diterangkan secara tersirat oleh kata ’terakhir’.

- mengais mangsa : ’mengais’ verba aktif yang terbentuk dari kata dasar kais dan awalan me-berdenotasi menggaruk-garuk di tempat tertentu untuk mencari sisa-sisa makanan. Ketika dipadankan dengan nomina ’mangsa’(mengais mangsa), terus terang saya pun agak kaget melihat pengertian konotasinya : kasak-kusuk mencari objek yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi karena objek tersebut lemah setelah ditaklukkan sebelumnya, atau keadaan sepi yang memberikan keleluasaan untuk kasak-kusuk mencari objek yang bisa dimangsa. Apa maksud penyairnya menggunakan frasa tak lazim ini? Ia tak lain ingin mengungkapkan fakta yang ditemukannya langsung dan menurut pandangan pribadinya sangat ironis hingga berkeinginan untuk memprotes ketidaklaziman yang ada.

- sia-sia mengais lagu itu :  ’sia-sia’ adalah kata ulangan yang menyatakan kegagalan suatu usaha, dan frasa ’mengais lagu itu’ mengarah pada pengertian menemukan ’senandung suara hati syahdu merindu’ yang berasal dari sosok lelaki yang dimaksudkan aku lirik. Keempat kata ’sia-sia mengais lagu itu’ dalam baris penutup ini juga menyimpulkan keseluruan maksud perungkapan bait III, yaitu kesendirian hening yang tak dipedulikan keadaan sekitar bahkan oleh ’dua ekor anjing coklat melintas sebagai patroli terakhir yang sia-sia mengais mangsanya.’


2.5. Kata - Kata dan Frasa Kata Beserta Makna Sugestifnya yang Diambil dari Bait III

- hingga syair terakhir :  Mari kita simak dulu pendapat penyair Tjak Lan sehubungan pengertian yang terkandung dalam bait ke IV sajaknya. 

”.....ketika segala sesuatu (yang kita rindui/sukai) tahu-tahu sudah berakhir, merasa kehilangan dan keberatan bahwa kenangan itu harus segera kita tinggalkan menuju bentuk ingatan yang lain (yang nyatanya makin sendu belaka, saat sair itu sampai di rumah)...”

Setelah menyimak pendapatnya ini, saya mencoba menganalisa baris pertama ’hingga syair terakhir’ dengan menyesuaikan dengan makna tambahannya. Baris pembuka pada bait keempat ini adalah frasa yang terdiri tiga kata: ’hingga, syair, terakhir’. Kata ’hingga’ merujuk pada pengertian ’sampai pada batasnya’. Nomina ’syair’ bermakna tambahan yaitu ’senandung suara hati merindu’, sedangkan ’terakhir’ adalah ’bagian penghabisan’. Ketika ketiga kata ini ingin kita dapati sebagai frasa yang bermakna konotasinya yang khusus, maka bisa menjadi: ’senandung suara hati yang merindu terdengar sampai pada bagian penghabisannya,’ atau bisa menyajikan makna tambahan sebagai: ’saat segala sesuatu yang masih aku lirik rindukan tanpa disadari bertemu ujung waktunya.’

- hampir pagi : Kata ’hampir’ bersinonim dengan kata ’nyaris’ yaitu ’suatu keadaan yang sedikit lagi sampai pada waktunya.’ Pengertian ini tentu saja khusus dalam kasus sajak ini, sebab mengarah pada satu citra visual saat malam bergerak menuju fajar. Kata ’pagi’ sendiri adalah waktu pertemuan antara ujung malam dan fajar. Akan tetapi, kata ’pagi’ juga berkonotasi pada momentum ekspresi terakhir senandung kerinduan syahdu aku lirik. Maka dari itu, frasa ’hampir pagi’ bermakna kiasan yaitu aku lirik sajak tiba pada saat-saat terakhir untuk menyuarakan desah kerinduannya dikarenakan bila ia teruskan hanya akan berakibat makin kentalnya kesenduan yang ia rasakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Tjak Lan sendiri sebagai penyairnya sebagaimana yang saya kutip di atas.


- rinduku berlebih di sini : Baris ketiga dalam bait keempat ini terdiri dari kata ’rinduku, berlebih, di sini.’ Kata ’rinduku’ denotasinya merujuk pada pengertian: berpengharapan sedemikian kuat untuk bertemu. Konotasinya mengarah pada makna ’sesuatu hal yang pernah dialami kini begitu kuat untuk dirasakan kembali. Ada nostalgia yang tak tercapai dan merengkuh aku lirik dengan kata ’rinduku’ dalam baris ketiga ini. Kata ’berlebih’ sendiri yang lazimnya untuk mengungkapkan sesuatu diluar kapasitas daya tampung; mendapat awalan ’ber-’ untuk menyatakan konotasi ’masih belum lagi selesai, tak terpuaskan ungkapan senandung kerinduan’ aku lirik. Frasa keterangan tempat ’di sini’ mengacu pada makna keberadaan ’aku lirik’ pada saat mengekspresikan suara sendu kerinduannya yang meruah. Ketiga kata dalam baris ketiga ini berpadu menjadi sebuah frasa yang menghubungkan makna di baris-baris sebelumnya. Hingga kita bisa memaknainya sebagai: ’senandung suara hati merindu syahduku masih ingin bergema di ruang malam ini, meskipun waktu memaksaku untuk berlalu.’

- dan laki-laki berbibir kabut itu : Baris keempat diintrodusir oleh penghubung ’dan’, juga frasa ’laki-laki berbibir kabut itu’. Makna sekilas yang bisa kita tangkap adalah aku lirik sedang berupaya untuk beralih pada keadaannya semula, yaitu tertekan perasaan rindu syahdunya. Mengapa bisa demikian? Sebab, rujukan makna frasa ’laki-laki berbibir kabut itu’ sebenarnya teknik Tjak Lan sebagai penyair untuk menyajikan gambaran kembalinya kesadaran individual yang sempat lesap ke dalam nostalgia melankolis akibat merasakan perasaan kerinduan syadu yang berasal dari kenangan peristiwa selektif masa lalu (lihat lagi baris-baris sebelumnya). Maka bila kita ingin mendeskripsikan makna dari baris keempat ini, tentu harus melihat kronologi peralihan suasana yang tercipta dalam sajak sejak awal pembukaan bait keempat.

- kutinggalkan : Baris terakhir dari bait keempat ini terbentuk dari kata ganti ’Aku’ dan verba aktif ’meninggalkan’ yang dipadatkan menjadi ’kutinggalkan’. Baris ini berdenotasi pada makna ’aku pergi menjauhi’ dan berkonotasi pada makna yang menerangkan aku lirik ingin ’mengakhiri keterlenaan dirinya oleh perasaan rindu syahdu’. Sebagai baris yang menyimpulkan isi bait keempat, ’kutinggalkan’ bermakna tambahan penegas suatu keadaan diri yang sadar kembali dari melankolia kesenduan perasaan merindu yang dirasakan.


2.5. Kata - Kata dan Frasa Kata Beserta Makna Sugestifnya yang Diambil dari Bait V

- ada hujan yang mengikutiku, di ujung gang : Sebelum kita menganalisa baris dalam bait kelima ini, ada baiknya kita simak penjelasan Tjak Lan sebagai penyairnya:

“…. ujung pada ‘ada hujan yang mengikutiku di ujung gang’ memang ada hujan yang mulai menderas; sepi itu menuju muaranya pada hujan, saat kita membuka pintu dan menutupnya kembali sesampai di rumah; sepi pada puncaknya.”

Saya melihat bait kelima ini, bila meminjam istilah ‘plot’ sebuah prosa, adalah alur cerita untuk menuju pada kesimpulan isi sajak. Tetapi, memang harus kita cari juga pengertian makna yang mensugestikan gambaran pengertian dan imaji tertentu bila mengingat bahwa sebuah sajak lebih padat dan mampu lebih banyak mengungkapkan ’sesuatu hal’ dibanding jenre sastra yang lainnya. Tjak Lan sendiri sebagai penyair cenderung untuk memaksudkan serangkaian kata dalam bait kelima ini secara simbolik. Dari pendapatnya yang saya kutip, baris kelima ini mengilustrasikan suasana dramatik. ‘ada hujan yang mengikutiku di ujung gang’ berkonotasi pada keadaan aku lirik yang berupaya untuk melepaskan diri dari ‘terpaan deras kerinduan syahdu yang masih mengikutinya ketika kesadaran dirinya.’ Bila penyair mensimbolisasikan kata ‘hujan’ sebagai muara/tempat segala kesepian yang dirasakan, maka tentunya kesepian itu sendiri adalah keadaan yang membangkitkan nostalgia yang tak tercapai dan menekan jiwa akibat kerinduan syahdunya yang makin sendu. Kata ‘hujan’ di dalam bait kelima ini makin berperan penting ketika berpadanan dengan verba aktif  ‘mengikuti’, yang mengarah pada konotasi adanya aliran kuat perasaan sendu dari nostalgia masa lampau yang merubung diri aku lirik sajak.


2.5. Kata - Kata dan Frasa Kata Beserta Makna Sugestifnya yang Diambil dari Bait IV

- sampai rumah : Kembali kita mesti menyimak dulu penjelasan Tjak Lan berikut ini.

“…. ketika segala sesuatu (yang kita rindui/sukai) tahu-tahu sudah berakhir, merasa kehilangan dan keberatan bahwa kenangan itu harus segera kita tinggalkan menuju bentuk ingatan yang lain (yang nyatanya makin sendu belaka, saat syair itu sampai di rumah).”

Baris pertama bait keenam ini terdiri dari dua kata: ’sampai’ dan ‘rumah’. Kata ’sampai’ berkonotasi pada pengertian: telah tiba pada suatu tempat setelah menempuh suatu perjalanan. Kata ‘rumah’ memiliki makna konotatifnya yaitu kesadaran diri yang berupaya meredam segala resah, gundah dan gelisah akibat kerinduan syahdu yang dirasakan aku lirik. Demikian maknanya bila kita menyimak kembali pendapat Tjak Lan yang ada dalam kutipan. Maka, frasa ’sampai rumah’ merujuk pada pengertian: kesediaan diri dengan segenap perasaan sendu untuk lepas dari kenangan masa lampaunya yang syahdu.

- hujan membunuh lagu itu : Baris terakhir bait keenam ini merupakan kesimpulan isi sajak. Dengan rendah hati, penyair Tjak Lan kembali memberi saya penjelasannya.

“…. @ Bung Icshan :
‘hujan’ di puisi ini mengarah ke makna ‘kesenduan’? (aku berfikir tentang hujan yang sama; melulu mendatangkan kesenduan, setidaknya dalam kasus puisi sederhana ini).”


Menyimak penjelasannya di atas, saya mencoba menganalisa apa jenis kesimpulan kisah yang bertema kerinduan syahdu yang diungkapkan sajak ini melalui baris terakhir bait keenam. Kata ‘hujan’ berdenotasi dan berkonotasi derai tumpahan suasana kesenduan yang memilukan ketika aku lirik berusaha untuk bangkit dari hisapan nostalgianya yang tak tercapai. Verba aktif ‘membunuh’ berdenotasi dan berkonotasi sebagai pilihan sikap yang diambil aku lirik ketika dengan berat hati mengambil suatu keputusan untuk melupakan kenangan masa lampaunya walau pun mungkin saja nostalgianya masih terus datang ( ‘lagu itu’ yang berarti senandung suara hatinya yang merindu syahdu ) bilamana aku lirik berada pada suatu tempat dan suasana tertentu ─ lihat lagi pendapat Tjak Lan mengenai kesuksesan cemerlang sang hujan yang melulu mendatangkan kesenduan.

Demikian kiranya apresiasi puisi “Museum, Lagu Hampir Pagi” karya Tjak Lan ini. Saya, sebagai seorang yang masih belajar menjadi apresiator karya sastra, mengakui terdapat kekurangan dan kedangkalan analisa dalam upaya saya menggali kekayaan dan keistimewaan sajak ini. Oleh karena itu, saya mohon dimaklumi dan dengan rendah hati bersedia untuk mendapat bimbingan dari para senior dan ‘Suhu Wong Fei Hung’ yang mahir dalam bidang apresiasi sastra. Semoga sedikit pengetahuan yang saya miliki dan dengan ikhlas saya bagikan ini bisa memberikan manfaat, saya hanyalah pribadi yang berusaha mengingat kata-kata dari Pemimpin Umat sepanjang masa yang bersabda: “Jika engkau mengamalkan perkara (ilmu) yang diketahui, maka akan dikaruniakan Alloh, perkara (ilmu) yang tidak engkau ketahui.”

** Referensi:

1. http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/11/25/museum-lagu-hampir-pagi/

2. Matriculation of English Course, J. C. Nesfield, M. A, Macmillan and Co., Ltd., St. Martin’s Street, London, 1926.

3. Solilokui ─ Kumpulan Esei Sastra, Budi Darma, PT Gramedia Jakarta, Jakarta, 1984.

4. Outlines of Literature ─ Short Stories, Novels, and Poems, Edward H. & Jones, Jr., The Macmillan Company, New York, 1968.