Kata-kata Bijak dari Pramoedya Ananta Toer (Tetralogi Kedua – Anak Semua Bangsa)

novel karya Pramoedya Ananta Toer,Anak Semua Bangsa


Pramoedya Ananta Toer tak hanya seorang sastrawan besar Indonesia. Beliau juga seorang humanis . Dalam roman kedua Tetralogi Pulau Buru – Anak Semua Bangsa ini jelas terlihat keberpihakannya pada kemanusian. Begitu gamblang digambarkannya suatu periode dimana arus bawah Pribumi yang tak berdaya tengah berjuang mendapatkan kebebasannya dari cengkeraman tangan kekuasaan Kolonial.

Pramoedya melalui tokoh utama roman ini sepertinya hendak mengutarakan pendapatnya: tak ada yang lebih penting dalam kehidupan ini selain daripada cinta terhadap sesama manusia tanpa memandang asal-usul dimana ia bermula. Maka, demi membenihkan cinta yang humanis itu agar tetap dapat berkembang mestilah setiap orang berjuang untuk meraihnya, dengan segala daya-upaya sekalipun harus menentang arus zamannya yang telah terkorupsi oleh tangan-tangan kekuasaan yang zalim.

Berikut ini sejumlah kutipan dari roman Anak Semua Bangsa, semoga dapat menginspirasi dan memberikan pencerahan untuk kita. Mari disimak bersama. 


1.”Jangan kau kira bisa membela sesuatu, apalagi keadilan, kalau tak acuh pada azas, biar sekecil-kecilnya pun...”

2.”Barangsiapa tidak tahu bersetia pada azas dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati.”

3.”Rupa-rupanya demam mencari hal-hal baru, alat-alat baru, tak membiarkan orang puas dengan keadaannya. Orang keranjingan dengan segala apa yang baru, kesopanan baru, tingkah baru.”

4.”Barangsiapa muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakatnya – masyarakat yang menaikkannya, atau yang membiarkannya naik.”

5.”Untuk apa hidup sesungguhnya? Bukan untuk menampung semua yang tidak diperlukan.”

6.”Sepandai-pandai ahli yang berada dalam kekuasaan yang bodoh ikut juga menjadi bodoh.”

7.”Penghinaan yang bodoh hanya akan memukul diri sendiri.”

8.”Belajar berdiri sendiri! Jangan hanya jual tenaga pada siapapun! Ubah kedudukan kuli menjadi pengusaha, biar kecil seperti apapun; tak ada modal? Berserikat, bentuk modal! Belajar kerjasama! Bertekun dalam pekerjaan!”

9.“Karena kau menulis. Suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

10.”Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dalam dirinya kemungkinan tanpa batas.”

11.”Kesulitan terbesar hanyalah kehabisan teman.”

12.”Sahabat dalam kesulitan adalah sahabat segala-galanya. Jangan sepelekan persahabatab. Kehebatannya lebih besar daripada panasnya permusuhan.”

13.”Semua yang dilahirkan memulai hidup dengan tidak mempunyai sesuatu kecuali tubuhnya dan nyawanya sendiri.”

14.”Tak mungkin bisa mendekati orang tanpa terlebih dahulu menghampiri hatinya.”

15.”Tidak seharusnya orang mesti melihat keceriaan dan derita sebagai satu keseimbangan. Kan kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapapun tentang kenyataan?”

16.”Kritik harus ditangkis, tapi harus didengarkan dulu, direnungkan, kalau perlu tidak ditangkis dan diterima sebagai saran. Orang tak perlu marah mendapatkan kritik.”

17.”Siapa pun bebas menerima atau menolak pengaruh.”

18.”Kebebasan, persaudaraan dan persamaan bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk setiap orang, setiap dan semua bangsa manusia di bumi ini.”

19.”Kemanusiaan tanpa pengetahuan tentang duduk soal kehidupannya sendiri bisa tersasar.”

20.”Ketidaktahuan adalah aib. Membiarkan orang yang ingin tahu tetap dalam ketidaktahuan adalah khianat.”

21.”Menulis tentang kenyataan harus diperlengkapi dengan bahan yang cukup. Ada metoda untuk itu.”

22.”Semua kejadian besar sebaiknya disaksikan sendiri. Bukan hanya untuk bisa menulis dengan baik, paling tidak membikin hidup kita jadi sarat.”

23.”Orang bisa percaya pada segala yang tidak benar. Sejarah adalah sejarah pembebasan dari kepercayaan tidak benar, perjuangan melawan kebodohan, ketidaktahuan.”

24.”Konsepsi yang salah bisa menganak-biakkan banyak kesalahan.”

25.”Kau masih lebih banyak mencoba menimbang-nimbang baik-buruk orang lain. Bagaimana tentang dirimu? Sudah pernah kau pertimbangkan secara adil?”

26.”Semua pribadi dan bangsa memulai dengan meniru sebelum dapat berdiri sendiri. Orang sepatutnya belajar menyesuaikan diri dengen kenyataan-kenyataan yang baru.”

27.”Kau belum cukup belajar dan berlatih adil, sampai adil itu menjadi watakmu.”

28.”Pengalaman juga yang justru memudahkan diri memahami sesuatu.”  

29.”Semua yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan setiap orang yang berpikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang yang memang berjiwa kriminil, biar pun dia sarjana.”

30.”Sekalipun hanya dalam pikiran semata. Keajaiban pengetahuan: tanpa mata yang melihat dia membikin orang mengetahui luasnya dunia, dan kayanya, dan kedalamannya, dan ketinggiannya, dan kandungannya, dan juga sampar-samparnya.”