Melewati Masa Berduka

“No one knows what will happen in the future.”

Hidup seseorang sungguh tak bisa ditebak. Seolah menjadi sebuah misteri abadi; betapa manusia hanya mampu berencana, namun kepastian terwujudnya dari tiap mimpi dan harapan dalam perencanaannya itu senantiasa berada di luar kuasanya.

Suhartini (33), bukan nama sebenarnya, sama sekali tak menyangka indahnya kebersamaan hidup berumah-tangga yang baru tiga bulan dirasakan tiba-tiba berakhir tragis. Kecelakaan maut yang dialami almarhum sang suami, Marwoto (35) juga nama samaran, merenggut kebahagiaannya seketika.

Saat ditemui di rumah yang juga menjadi kantornya, ia bercerita sambil berusaha untuk tidak meneteskan air mata.

”Mas Toto orangnya sangat baik. Dia menerima saya dan kedua anak saya apa adanya. Dia juga lemah-lembut, penyayang sama keluarga. Barangkali karena kita pernah sama-sama gagal dengan masing-masing pasangan sebelumnya,” kenangnya dengan nada sendu. “Saya sempat berpikir.. Mudah-mudahan perkawinan kedua saya ini yang paling terakhir kalinya. Sampai maut memisahkan kami. Ealah, ternyata benar..”

Ia diam sejenak, berupaya menguatkan diri. ”Masih terngiang di telinga saya telepon dari rumah sakit sore itu. Saya dikabari Mas Toto kritis. Suami saya mengalami kecelakaan tunggal, mobilnya menabrak pohon. Begitu mendapat kabar, saya segera ke sana. Ketika saya tiba, tubuh suami saya sudah ditutupi. Saya lemas dan hilang kesadaran.”

Kehilangan orang terkasih yang tak disangka-sangka masih menerbitkan perasaan tak percaya yang menyesakkan.  

“Saya gak habis pikir. Beneran gak nyangka.. Mas Toto kurang kerjaan banget? Pohon gak ngapa-ngapain, lha kok ditabrak.. Mestinya dia sadar.. Itu kan bahaya.. Akibatnya saya janda lagi sekarang. Duh, bakalan repot saya cari suami baru.. Biar pun saya butuh, dengan kesibukan saya sekarang.. Mana punya waktu!” tutur Suhartini dalam nada sesal menggumpal.


Tegar dan Terus Melangkah

Kematian pasti dialami setiap orang. Tetapi, kenyataan itu tak mudah diterima. Suhartini menuturkan ia pernah mengalami masa menyangkal kematian suaminya yang tiba-tiba. Seusai pemakaman, ia berharap suaminya hidup lagi, besoknya tetap mengisi pagi di saat sarapan bersama seperti biasa.

”Hari pertama tanpa Mas Toto, saya tetap menyediakan  sarapan dan segelas teh untuknya. Anak-anak sampai bengong melihat saya. Yang saya bayangkan saat itu Mas Toto keluar dari kamar, menghampiri kami, duduk untuk sarapan bersama. Sambil bercanda dengan anak-anak.”

Di malam hari, Suhartini kerap terjaga. Mimpi berjumpa sosok almarhum suami sering menganggu kenyamanan tidurnya. Ia juga mengalami masa-masa menyalahkan diri sendiri dan orang lain.

”Kalau saja saya bisa bersikeras melarangnya pergi untuk menemui klien kami di luar kota saat itu, ini semua tak akan terjadi..”

Ia bahkan pernah marah sampai menyalahkan takdir. Mengapa setelah perkawinan pertamanya gagal, manisnya kebersamaan dengan suami kedua hanya berlangsung dalam waktu yang teramat singkat? Namun, seiring berjalannya waktu, ia sadar bahwa hidup manusia sudah ditentukan oleh Tuhan. Itu merupakan rahasia tak tertembus kekuatan nalar.

Susah-payah Suhartini bangkit dari keterpurukan akibat perasaan berdukanya yang dalam. Ia beruntung. Putri sulungnya selalu menghibur sehingga ia bisa tegar. Di dinding ruang kerjanya masih tertempel kertas berisi pesan pendek tulisan anaknya.

”Mamaku yang cantik.. Jangan bersedih. Masih ada kami yang sayang  sama mama.”

Dukungan orang-orang terdekat memang sangat dibutuhkan bagi Suhartini. Berkat dukungan dari merekalah, ia bisa beraktivitas lagi seperti biasa.

”Kehilangan Mas Toto membuat saya seperti menelan kepedihan yang getir. Tapi saya tahu, saya harus bangkit. Anak-anak butuh saya sebagai ibu yang kuat,” katanya tegar.


 Lima Tahap Setelah Berduka   

psikologi-melewati-masa-berduka

Mengapa kehilangan pasangan hidup terasa amat berat? Menurut Mak Erot, yang kini beralih profesi sebagai psikolog keluarga, berdasarkan social readjusment rating, tekanan jiwa akibat kehilangan pasangan hidup mengalahkan skor untuk stress akibat ejakulasi dini.

”Ejakulasi dini memang bisa membuat orang stress. Tapi, belum seberapa.. Itu hil yang mustahal untuk bisa bikin bengong mirip ayam kampung kena tetelo seperti yang dialami orang kehilangan pasangan hidup. Kenapa? Ya, karena masa depan berikut impian dan harapan di dalamnya, kita bangun bersama pasangan hidup kita. Ketika pasangan hidup kita meninggal mendadak, semua mimpi dan harapan dalam bangunan masa depan itu seolah runtuh tak bersisa.”

“Makanya, stress kehilangan pasangan hidup mencapai skor maksimal,” semburnya berapi-api dalam sorot mata mengkilat, ”yakni 100. Ini angka paling tinggi, lho? Dari skala 0-100,” terang Mak Erot kian bersemangat. Punggung telapak tangan kiri menyeka keringat di dahinya bak dinding bukit cadas itu – garis-garis simetris lintang-pukang menghiasi, akibat usia tak muda lagi. Ruangan kerjanya terasa sejuk dan bersih. Botol-botol ramuan obat kuat menghilang. Juga toples-toples kaca berisi rendaman tangkur buaya yang sebelumnya terpajang di sana-sini, kini raib tak tentu rimbanya. Penanda komitmen terhadap profesi baru.

Orang-orang yang kehilangan suami atau istrinya yang meninggal mendadak, jelasnya lagi, umumnya mengalami lima tahap pasca berduka. Itu disebut grief circle, seperti diperkenalkan Elizabeth Kubler Ross.

Pertama, ia akan menyangkal (denial). Lalu yang kedua, kemarahan bisa mewarnai jiwanya. Ketiganya adalah tawar-menawar (bargaining). Pada tahap ketiga ini, biasanya ia akan menyesali kepergian pasangan hidupnya, dan membayangkan seandainya itu bisa digantikan ”hal yang lain” saja atau bahkan dirinya sendiri. Keempat adalah depresi. Pikirannya kalut. Jiwanya gamang. Tahap terakhir yaitu penerimaan. Ia mulai bisa menerima kehilangan pasangan hidupnya karena hal itu di luar kendalinya.

Cukup mengherankan.. Mak Erot yang dulunya terkenal ”bertangan dingin” mengobati masalah keperkasaan pria, kini tampil begitu brilliant menyajikan solusi permasalahan psikologi keluarga. Disentil dengan pertanyaan perubahan dirinya yang amat dramatis; cekikikannya lepas berderai-derai seketika. Gema memuncrat. Liar terpantul-pantul di tiap sudut. Ruangan mendadak terasa begitu dingin. Sungguh! Barangsiapa yang mendengar gelak mistisnya ini, niscaya bulu kuduknya meruap. Bergidik. Ngeri bukan buatan!

Biar pun begitu, psikolog keluarga ini tak lupa menyarankan beberapa hal penting.

”Setiap orang yang berduka butuh dukungan keluarga. Tapi, keluarga juga harus tahu kondisinya dan kelima tahap ini. Ya, supaya dukungan yang diberikan tepat. Jangan pula saat orang yang berduka masih dalam tahap penyangkalan dan marah, keluarga dan orang terdekat menasehatinya. Itu salah! Saat itu, kan dia lagi butuh pendengar, bukan dinasehati,” papar Mak Erot gamblang. Tangan kanannya menjuntai. Jemarinya meraih kaleng kecil di bawah meja. Gumpalan mungil tembakau menyembul menuju sudut bibirnya. Dibantu ujung lidah, sukses keluar dari sela-sela gusi. Amat cekatan ia mencomot benda basah lengket memerah itu. Lalu melunsurkannya ke dalam kaleng. ”Walaupun sudah ganti profesi, saya belum bisa menghilangkan kebiasaan nyugi,” ujar psikolog eksentrik ini melukis senyum, meminta maklum. [M.I]