Tentang Kaum Dandy

pesohor,pemberontakan kaum Dandy


Kaum Dandy adalah para pemberontak dengan senjata estetika. Mereka mengawali gerakan pemberontakannya dengan semboyan:

"Hidup dan mati di depan cermin."

Karenanya, kaum Dandy mau tak mau harus memberi perhatian yang banyak pada pakaian, dan selalu digelisahkan dengan penampilan personalnya. Ini karena mereka sesungguhnya sedang berkabung dan ingin memamerkan rasa kedukaannya yang mendalam ke hadapan publik. 

Mereka bersedih karena alam tak begitu peduli dengan keberadaannya. Atau, malah memang mereka berkehendak menyingkirkan dominasi estetik alam itu sendiri, yang bagaimanapun juga telah memberikan rasa sakit terus-menerus, sejenis penderitaan tak tertanggungkan karena dikalahkan. Mereka lalu berupaya mencuri perhatian dengan memindahkan keindahan alam menjadi properti estetiknya (barangkali akibat  telah ditaklukkan, dan pengambil-alihan dipandang sebagai pilihan yang terbaik.).

Kaum Dandy, makanya bisa disebut para pemberontak romantik. Berawal dari rasa sakit tak terobati akibat di sekitarnya yang tidak peduli, mereka menunjukkan keberadaan dengan penyangkalan terhadap semua hal yang wajar, apapun yang alami indah, lalu mulai mengkonstruksikan nilai-nilai baru tentang estetika berdasarkan penampakannya yang ekstrim. Sesungguhnya kaum Dandy adalah pecinta kesepian, menjadi rival-rival keras kepala terhadap alam (berikut penghuni di dalamnya) yang mereka hukum. Itu ditunjukkan pada perasaannya yang mendalam yang berujung ke arah pengagungan penampilan personal yang indah, atau bahkan mencengangkan (sebuah pelenyapan eksistensi yang lain).

Dalam kehidupannya, kaum Dandy sangat bergantung pada apresiasi dan ekspresi wajah orang lain. Melalui itu mereka membangun eksistensinya dengan berkata:

"Orang lain adalah cerminnya."

Sebuah cermin yang cepat buram. Selama perhatian yang diberikan orang lain pada dirinya terbatas. Menanggapi ini, kaum Dandy mengambil sikap oposisi dalam interaksinya. Mereka menginginkan penghargaan akan keindahan yang susah payah disajikan ke hadapan publik ; namun secara bersamaan menolak nilai-nilai keindahan wajar yang dianut orang lain.

Itulah sebabnya ketika kaum Dandy mempertontonkan penampilan dirinya yang terbaru, pada saat itulah seakan-akan mereka ingin mengatakan orang lain (dengan segala gayanya) disingkirkan bahkan layak dikecam. Ia membangun pentasnya yang tersendiri karena ingin menyatakan:

"Tirulah aku karena aku adalah keindahan tertinggi. Dan kalian semua sungguh tak layak berdampingan dengan kemegahanku terkini."

Dalam pada itu, ketika waktu telah menjadi seperti gelombang laut yang secara teratur mengikis pantai, kaum Dandy menemukan kenyataan akan keberadaan dirinya yang berubah mengerikan. Mereka mulai merasakan kegetiran terhadap tubuhnya sendiri yang mulai redup cahaya pesonanya. Mereka terhenyak dengan dirinya sendiri yang perlahan melapuk. Tetapi, penyangkalan yang merupakan spirit utamanya tetap saja mengajukan penolakan terhadap keberadaannya yang terbaru.

Kaum Dandy protes dengan dorongan semangat romantisisme. Dalam bentuk mengubur diri ke liang kesepian, mereka mulai mengecap pemberontakan romantiknya terasa tragis.

Kaum Dandy dalam awal pemberontakannya mungkin telah melupakan bahwa tubuh hanyalah sebuah rumah mewah, yang begitu mahal disewa namun amat sebentar untuk didiami. Seperti materi apapun di kehidupan ini yang akan melalui perubahan menuju kemusnahan dengan meninggalkan kesan teramat mendalam.