Cerpen Haruki Murakami : Manusia Es

Sastra, Karya Cerpen, Cerpen Haruki Murakami, Cerpen Manusia Es
illustration by Sarah Lacey
Manusia Es

Oleh HARUKI MURAKAMI


Aku menikahi Manusia Es.

Pertama bertemu dengannya di sebuah hotel di ski resort, tempat paling sempurna untuk menemukan Manusia Es, memang. Lobi hotel begitu riuh dengan anak muda, tapi Manusia Es duduk sendiri di kursi sudut yang letaknya paling jauh dari perapian, diam membaca buku sendirian. Meski sudah hampir malam, tapi cahaya dingin pagi awal winter terlihat berpendar mengitarinya.

“Lihat! Itu si Manusia Es,” bisik temanku.

Waktu itu, aku sungguh tak tahu makhluk apa itu Manusia Es. Temanku juga. “Dia pasti terbuat dari es. Itu sebabnya orang-orang menyebutnya Manusia Es.” Temanku mengatakan hal tersebut dalam nada serius seolah dia sedang membicarakan hantu atau seseorang dengan penyakit menular.

Manusia Es tinggi, tampak muda, tegap, sedikit bagian rambutnya tampak putih seperti segenggam salju yang tak meleleh. Tulang pipinya tajam meninggi seperti batu yang beku, dan jarinya embun beku putih yang seolah abadi. Namun begitu, Manusia Es terlihat seperti manusia normal. Dia tidak seperti lelaki yang bisa kau sebut tampan memang, tapi dia terlihat begitu menarik—tergantung dari bagaimana kau melihatnya. Dalam suatu kesempatan, sesuatu tentang dia menusukku sampai ke hati. Aku merasakan hal tersebut terutama saat memandang matanya. Tatapannya senyap dan transparan seperti serpih cahaya dalam untaian tetes salju di pagi musim dingin. Seperti kilatan kehidupan dalam tubuh makhluk buatan.

Aku berdiri beberapa saat memperhatikan si Manusia Es dalam jarak dekat. Dia tak menoleh. Dia hanya duduk diam, tak bergerak. Membaca bukunya seakan tiada seorang pun yang ada di sana selain dirinya….

Keesokan paginya, Manusia Es masih berada di tempat yang sama, membaca buku dengan cara yang persis sama. Ketika aku melangkah ke ruang makan untuk makan siang, dan ketika aku kembali dari bermain ski dengan teman-teman pada malam tersebut, dia masih ada di sana, mengarahkan tatapan yang sama pada halaman-halaman buku yang sama. Hal serupa terjadi sehari setelah itu. Bahkan ketika matahari tenggelam rendah, dan jam terlambat tumbuh, ia duduk di kursinya, setenang adegan musim dingin di luar jendela.

Pada sore di hari keempat, aku me-reka berbagai alasan supaya bisa tidak turut keluar menelusur lereng. Aku tinggal di hotel sendiri dan mondar-mandir di lobi yang sekosong kota hantu. Udara di lobi terasa hangat dan lembab, dan ruangan itu memiliki bau aneh yang sedih mematahkan hati—bau salju yang terlacak di dalam sol sepatu yang sekarang tengah mencair di depan perapian.

Aku menatap keluar jendela, berdesir saat melihat halaman-halaman surat kabar, dan sekonyong mendekat ke Manusia Es, mengumpulkan keberaniann untuk berbicara.

Aku cenderung pemalu dengan orang asing, kecuali memiliki alasan yang sangat bagus, aku biasanya tak mudah berbicara dengan orang yang tak kukenal. Tapi dengan Manusia Es aku merasa memiliki dorongan untuk berbincang, tak peduli tentang apa pun itu. Ini malam terakhirku di hotel tersebut, dan jika kubiarkan kesempatan ini pergi, aku takut aku takkan punya kesempatan lagi untuk bisa berbicara dengan dia: pria es, si Manusia Es itu….

“Tidak main ski?” tanyaku padanya, sesantai mungkin.

Dia memalingkan wajah perlahan seolah mendengar suara di kejauhan. Dia menatapku, lalu dengan tenang menggeleng. “Aku tidak bermain ski,” ucapnya. “Hanya ingin duduk di sini, membaca dan melihat salju.”

Kata-katanya membentuk awan putih di atas kepala, seperti balon-balon kata keterangan di komik strip. Aku benar-benar bisa melihat kata-kata itu mengambang di udara, sampai ia menggosok mereka pergi dengan jarinya yang beku. Aku tak tahu lagi apa yang harus dikatakan selanjutnya. Aku hanya tersipu dan berdiri di sana.

Manusia Es menatap mataku dan tampak sedikit tersenyum. “Mau duduk?” tanyanya. “Kau tertarik padaku, kan? Ingin tahu apa itu Manusia Es?” Ia tertawa. “Tenang, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak akan pilek kok kalau cuma bicara denganku….”

Kami duduk berdampingan di sofa di sudut lobi dan menyaksikan butiran-butiran salju menari di luar jendela. Aku memesan cokelat panas dan meminumnya, sedang Manusia Es tidak memimun apa-apa. Rupanya dia tidak lebih jago dalam bercakap-cakap dari aku. Dan bukan hanya itu, kami juga tak memiliki kesamaan apa pun untuk dijadikan bahan obrolan. Awalnya, kami berbincang tentang cuaca. Lalu kami ngobrol tentang hotel.

“Anda di sini sendirian?” tanyaku pada si Manusia Es.

“Ya,” jawabnya.

Dia bertanya, apakah aku suka main ski? “Tidak terlalu,” kataku. “Aku hanya datang karena teman-temanku ngotot mengajakku. Sesungguhnya aku benar-benar jarang main ski….”

Ada banyak hal yang sebenarnya sangat ingin aku tahu dari Manusia Es. Benarkan tubuhnya sungguh-sungguh terbuat dari es? Apa yang dia makan? Di mana dia tinggal di musim panas? Apakah dia punya keluarga? Ya, hal-hal semacam itulah. Tetapi Manusia Es tidak bicara tentang dirinya, dan itu membuatku menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan pribadi. Sebaliknya, Manusia Es malah berbicara tentang aku. Rasanya sulit dipercaya, tetapi entah bagaimana ia tahu semuanya. Dia tahu anggota keluargaku, dia tahu umurku, tahu apa yang kusuka dan yang tidak, tahu keadaan kesehatanku, tahu sekolah yang kumasuki dan tahu juga teman-teman yang biasa kukunjungi. Dia bahkan tahu hal-hal yang telah terjadi begitu jauh di masa lalu yang aku sendiri telah lupa.

“Saya tak mengerti,” kataku, bingung. Aku merasa seakan-akan aku telanjang di depan orang asing. “Bagaimana kamu bisa tahu begitu banyak tentang saya? Bisa baca pikiran orang ya…?”

“Tidak, saya tak bisa baca pikiran atau apa pun yang semacam itu. Cuma tahu saja,” ucap si Manusia Es. “Saya tahu begitu saja. Seakan-akan saya jauh melihat ke dalam es, dan, ketika saya melihat Anda seperti ini, hal-hal tentang Anda menjadi terlihat begitu jelas bagi saya.”

Lalu aku bertanya, “Bisakah kamu melihat masa depan?”

“Saya tak bisa melihat masa depan,” kata Manusia Es perlahan. “Saya sama sekali tidak mampu mengambil keuntungan dari masa depan. Lebih tepatnya…, saya tidak punya konsep masa depan karena es tak memiliki masa depan. Semuanya hanya masa lalu yang terlampir di dalamnya. Dengan cara yang sangat bersih dan jelas, es bisa mengawetkan banyak hal dan membuatnya seolah-olah masih hidup, meskipun itu masa lalu. Itulah esensi es,” terangnya.

“Itu bagus,” ucapku sambil tersenyum. “Benar-benar lega mendengarnya. Setelah ini… aku pun sungguh-sungguh tak ingin tahu bagaimana masa depanku.”

***

Kami bertemu lagi beberapa kali setelah aku kembali ke kota. Akhirnya, kami mulai berkencan. Kami tidak pergi ke bioskop, atau ke café. Kami bahkan tidak pergi ke restoran. Manusia Es jarang makan. Kita paling sering duduk-duduk di bangku taman dan berbincang tentang banyak hal selain tentang Manusia Es sendiri.

“Kenapa begitu?” Sekali aku pernah bertanya. “Mengapa kamu tidak mau bicara tentang dirimu? Aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu. Di manakah kamu dilahirkan? Seperti apa rupa orang tuamu? Bagaimana ceritanya hingga kamu menjadi Manusia Es?”

Manusia Es menatapku sekejap lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” katanya pelan dan jelas, mengembuskan embusan gelembung kata putih ke udara. “Aku tahu banyak tentang masa lalu hal-hal lain, tapi aku sendiri tidak punya masa lalu. Aku tidak tahu di mana aku lahir, atau seperti apa orang tuaku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku memiliki orang tua. Aku juga tidak tahu berapa umurku, dan bahkan aku tidak tahu apakah aku memiliki umur.” Manusia Es ternyata sesepi gunung es di malam muram….

***

Aku serius jatuh cinta pada Manusia Es. Manusia Es pun mencintaiku apa adanya—di masa kini, tanpa masa depan. Pada gilirannya aku pun mencintai Manusia Es apa adanya—di masa sekarang, tanpa masa lalu. Kami bahkan mulai berbicara tentang pernikahan.

Aku baru berusia dua puluh, dan Manusia Es adalah lelaki pertama yang benar-benar kucintai. Saat itu, aku tidak bisa membayangkan apa artinya mencintai seorang Manusia Es. Tapi bahkan jika aku jatuh cinta pada pria normal sekalipun, aku ragu akankah aku bisa memiliki ide yang jelas tentang cinta?

Ibu dan kakak perempuanku tentu saja menentang ide menikahi Manusia Es.

“Kamu terlalu muda untuk menikah,” kata mereka. “Selain itu, kamu juga tidak tahu apa-apa tentang latar belakangnya. Kamu bahkan tidak tahu di mana Manusia Es dilahirkan dan kapan ia lahir. Bagaimana mungkin kita bisa bilang ke saudara dan kerabat kita kalau kamu menikahi orang semacam itu? Lagi pula, yang kita bicarakan ini Manusia Es! Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba ia mencair, hah? Kamu nggak paham kalau pernikahan itu memerlukan komitmen yang ‘riil’?!”

Biar bagaimanapun, kekhawatiran mereka tidak beralasan. Karena pada akhirnya, Manusia Es tidak pernah benar-benar terbuat dari es….

***

Dia tidak akan meleleh, tak peduli betapa hangat kondisi sekitar di mana ia berada. Dia disebut Manusia Es karena tubuhnya sedingin es, tapi apa yang membuatnya begitu, jelas bukan es. Itu bukan jenis dingin yang bisa menghapus panas orang lain. Jadi… kami menikah.

Tidak ada yang memberkati pernikahan itu. Tidak ada teman atau kerabat yang berbahagia untuk kami. Kami tidak mengadakan upacara, dan, ketika datang waktunya bagiku untuk memiliki nama keluarga yang terdaftar, Manusia Es tak memilikinya. Kami hanya memutuskan bahwa kami berdua menikah. Kami membeli kue kecil dan makan bersama, dan itulah pernikahan kami yang sederhana.

Kami menyewa subuah apartemen kecil, dan Manusia Es mencari nafkah dengan bekerja di sebuah fasilitas penyimpanan daging dingin. Dia bisa mengambil sejumlah rasa dingin dari sana, dan tak pernah merasa lelah tak peduli seberapa keras ia bekerja. Majikan suamiku sangat menyukainya, dan membayar gaji Manusia Es lebih tinggi dari karyawan lain.

Kami berdua hidup bahagia tanpa mengganggu atau diganggu siapa pun. Ketika kami bercinta dan Manusia Es menggumuliku, aku melihat dalam pikiranku, sepotong es yang kuyakin ada di suatu tempat di kesendirian yang tenang.

Kupikir Manusia Es mungkin tahu di mana es tersebut berada. Es yang dingin, beku, dan keras, sebegitu kerasnya hingga kupikir tidak ada yang bisa melebihi kekerasannya. Itulah lempengan es terbesar di dunia. Terletak di suatu tempat yang sangat jauh, dan rupanya manusia Es tengah membagikan kenangan tersebut padaku dan pada dunia.

Awalnya, aku kerap bingung bila Manusia Es mengajak bercinta. Tapi, setelah beberapa waktu, aku menjadi terbiasa. Aku bahkan mulai menyukai bercinta dengan Manusia Es.

Pada malam hari, diam-diam kami berbagi potongan es terbesar di dunia, di mana ratusan juta tahun masa lalu dunia, tersimpan di dalamnya.

***

Dalam kehidupan pernikahan kami, tidak ada masalah untuk “berbicara”. Kami saling mencintai begitu dalam, dan tak ada yang lebih penting dari itu.

Kami ingin punya anak, tapi itu tampaknya tak mungkin. Ini lebih karena, mungkin… gen manusia dan gen Manusia Es tidak bisa digabungkan dengan mudah. Dalam kasus semacam ini, karena kami tidak memiliki anak, aku memiliki lebih banyak waktu.

Aku menyelesaikan semua pekerjaan rumah di pagi hari, dan kemudian tidak ada lagi yang bisa kukerjakan. Aku tidak punya teman untuk bicara atau pergi bersama, dan aku tak memiliki banyak hal yang bisa dilakukan dengan para tetangga. Ibu dan kakak perempuanku masih marah dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bertemu denganku lagi. Dan meskipun bulan-bulan berlalu, dan orang-orang di sekitar kami mulai berbicara dengan Manusia Es, jauh di dalam hati, mereka masih belum bisa menerima keberadaan Manusia Es atau aku—yang telah menikahinya. Kami berbeda dari mereka, dan tak ada jumlah waktu yang dapat menjembatani kesenjangan itu. Jadi, sementara suamiku Manusia Es bekerja, aku tinggal sendiri di rumah, membaca buku dan mendengarkan musik.

Biar bagaimanapun aku cnderung lebih suka tinggal di rumah dan aku tak keberatan sendirian. Hanya saja aku masih muda, dan melakukan hal yang sama hari demi hari akhirnya mulai terasa mengganggu. Bukan kebosanan yang menyakitkan, tapi pengulangan. Itu sebabnya suatu hari aku berkata pada suamiku, “Bagaimana kalau kita pergi berdua? Sebuah perjalanan. Untuk ganti suasana saja….”

“Sebuah perjalanan?” tukas Manusia Es. Dia menyipitkan mata dan menatapku. “Untuk apa kita melakukan perjalanan? Tidakkah kau bahagia di sini bersamaku?”

“Bukan itu,” kataku. “Tentu saja aku senang bersamamu, tapi aku bosan. Aku merasa ingin pergi ke suatu tempat yang jauh dan melihat hal-hal yang belum pernah kulihat. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menghirup udara baru. Kamu mengerti kan maksudku? Lagi pula… kita belum berbulan madu. Kita punya tabungan dan kamu punya hari libur yang harus kamu isi. Bukankah ini cuma masalah waktu saja? Kita akan pergi ke suatu tempat, dan segalanya akan mudah serta menyenangkan.”

Manusia Es menghela napas bekunya dalam-dalam. Napas beku yang mengkristal di udara diiringi sedikit suara gemerincing. Dia menyusurkan jejarinya yang panjang bersama-sama di lutut. “Baiklah, jika kamu benar-benar ingin melakukan perjalanan, aku tak keberatan. Aku akan turut pergi ke mana pun kamu pergi andai itu membuatmu bahagia. Tapi, kamu tahu ke mana kamu mau pergi?”

“Bagaimana kalau kita mengunjungi Kutub Selatan?” kataku. Kupilih Kutub Selatan karena aku yakin bahwa Manusia Es akan tertarik pergi ke suatu tempat yang dingin. Dan, jujur saja, aku memang selalu ingin melakukan perjalanan ke sana. Aku ingin mengenakan mantel bulu yang bertopi indah, aku ingin melihat aurora australis dan juga kawanan penguin yang sibuk bermain. Namun, saat kukatakan hal tersebut, suamiku menatapku lekat, tanpa berkedip, dan aku merasa seolah-olah sebongkoah es menusukku, menembus bagian belakang kepalaku.

Manusia Es diam sejenak, dan akhirnya berkata dengan suara yang seperti salju berdentingan, “Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Mari kita pergi ke Kutub Selatan…. Kau sungguh-sungguh yakin ini yang kau inginkan?”

Entah kenapa aku tak bisa segera menjawab. Suamiku, Manusia Es, menatapku begitu lama, sedang di dalam kepalaku, aku seperti mati rasa. Lalu aku mengangguk.

***

Seiring waktu berlalu, aku mulai menyesali gagasan pergi ke Kutub Selatan. Aku tak tahu persisnya kenapa, tapi begitu aku mengucapkan kata “Kutub Selatan”, sesuatu berubah dalam diri suamiku. Matanya menjadi lebih tajam, napas yang keluar jadi lebih putih, dan jejarinya terlihat semakin beku. Setelah itu dia tak berbicara padaku lagi dan ia juga berhenti makan sepenuhnya. Semua itu tentu saja membuatku merasa sangat tidak nyaman.

Lima hari sebelum waktu berangkat, kubangun keberanian dan kukatakan pada suamiku, “Mari kita lupakan Kutub Selatan. Ketika kupikir hal itu sekarang, aku sadar kalau saat ini akan menjadi sangat dingin di sana, dan itu tidak bagus untuk kesehatanku. Jadi aku mulai berpikir mungkin lebih baik kalau kita pergi ke suatu tempat yang lebih biasa. Bagaimana kalau Eropa? Mari kita liburan di Spanyol. Kita bisa minum anggur, makan paella, dan melihat adu banteng atau sesuatu yang….”

Tapi suamiku tak menaruh perhatian, ia menatap angkasa beberapa lama lalu berkata, “Tidak, aku tidak terlalu ingin pergi ke Spanyol. Spanyol terlalu panas bagiku dan kotanya terlalu berdebu. Makanannya terlalu pedas. Selain itu, kita sudah membeli tiket ke Kutub Selatan. Dan kita punya mantel bulu, dan sepatu boot berbulumu sudah berbaris. Tak mungkin kita membuangnya ke tempat sampah. Sekarang kita sudah sejauh ini, kita tidak bisa tidak pergi….”

Alasan sesungguhnya aku mengajukan ide Eropa adalah bahwa sebenarnya aku takut. Aku memiliki firasat bahwa jika kami pergi ke Kutub Selatan sesuatu akan terjadi, dan sesuatu itu tak akan mungkin bisa di-undo. Tidak bisa diulang-kembalikan lagi.

Belakangan aku mengalami mimpi buruk, dan itu terjadi berulang-ulang. Selalu mimpi yang sama. Aku keluar berjalan-jalan sendiri lalu terjatuh begitu saja ke jurang yang dalam. Jurang terbuka di dasar tanah. Tak seorang pun menemukanku. Aku membeku di bawah sana. Diam dalam es, menatap nyalang ke langit di atas permukaan. Aku sadar, tapi aku tidak bisa bergerak, bahkan untuk menggerakkan jari pun aku tak mampu. Dari waktu ke waktu aku sadar aku telah menjadi masa lalu. Aku seolah ada dalam adegan yang bergerak mundur, menjauh dari mereka; orang-orang tersebut. Lalu sekonyong aku terbangun, dan saat terbangun, aku menemukan Manusia Es terbaring tidur di sampingku.

Suamiku, Manusia Es yang selalu tidur tanpa bernapas, Manusia Es yang seperti manusia mati….

***

Kini aku merindukan Manusia Es yang dulu pernah kutemui di ski resort. Di sini tak mungkin lagi keberadaannya menjadi perhatian siapa pun. Semua orang di Kutub Selatan menyukai Manusia Es, dan anehnya, orang-orang itu tak mengerti sepenggal pun kata yang kuucapkan. Sambil menguapkan napas putih mereka, mereka akan saling menceritakan lelucon dan berdebat serta menyanyikan lagu dalam bahasa mereka yang tak kumengerti, sementara aku duduk sendirian di kamar kami, memandang langit abu-abu yang sepertinya tak mungkin akan menjadi cerah dalam beberapa bulan mendatang. Pesawat terbang yang membawa kami ke sana sudah lama hilang, dan landasan pesawat kini tertutup lapisan es keras, sekeras hatiku.

“Musim dingin telah datang,” ujar suamiku. “Ini akan menjadi musim dingin yang sangat panjang. Takkan lagi ada pesawat atau kapal. Semuanya telah membeku. Kelihatannya kita harus tinggal di sini sampai musim semi berikutnya,” begitu ucapnya.

Sekitar tiga bulan setelah kami tiba di Kutub Selatan, aku baru sadar kalau aku hamil. Anak yang akan kulahirkan pastilah Manusia Es kecil, si junior—aku tahu itu! Rahimku sudah beku dan cairan ketubanku adalah lumpur es. Aku bisa merasakan dingin dalam diriku. Anakku akan menjadi seperti ayahnya, memiliki mata seperti tetesan air beku dan jejari yang juga kaku beku. Keluarga baru kami tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di luar Kutub Selatan.

O, aku baru tersadar. Masa lalu abadi, teramat berat dan melampaui semua pemahaman, mencengkeram begitu erat. Kita tak akan mampu mengguncangnya.

Sekarang… hampir tak ada hati tertinggal padaku. Kehangatanku telah pergi teramat jauh, dan terkadang aku bahkan lupa kalau kehangatan itu pernah ada. Di tempat ini, aku lebih kesepian dari siapa pun di dunia. Dan ketika aku menangis, suamiku sang Manusia Es akan mendekat dan mencium pipiku. Mengubah air mataku menjadi es. Dan dengan lembut dia akan mengambil air mata yang membeku di tangannya itu dan meletakkannya di ujung lidah, “Lihat betapa aku mencintaimu,” katanya.

Dia mengatakan hal yang sesungguhnya, tapi angin menyapunya ke ketiadaan, meniupkan kata-kata putihnya kembali dan kembali ke masa lalu…. (*)

(Hadiah ultah ke-25 untuk seseorang….)




Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Richard L. Peterson. Lalu, diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Ucu Agustin.

Sumber : Jawa Pos, 26 Desember 2010

ilustrasi cerpen oleh Sarah Lacey

Cerpen Ken Hanggara : Pak Kodir

Pak Kodir

Oleh KEN HANGGARA


Karya Cerpen, Cerpen Ken Hanggara, Cerpen Pak Kodir
ilustrasi oleh Rendra Purnama


Orang-orang berkumpul di masjid pagi itu, menonton seorang ahli ibadah sedang berada dalam posisi sujud selama lebih dari satu jam. Tentu saja beliau sudah mangkat… Orang memanggilnya Pak Kodir. Sehari-hari jualan soto di pertigaan dan semua orang kenal soto ayamnya yang lezat. Jadi, ketika kabar ini merebak, orang-orang pun berpikir, “Siapa yang jual soto seenak itu lagi, ya?”

Meninggalnya Pak Kodir segera jadi kabar yang melesat ke segala arah. Tidak ada yang bicara keburukan; semua kenal beliau baik dan suka memberi makan gelandangan, pengemis, atau sesekali orang gila. Siapa pun mampir ke warungnya, tetapi tidak bawa uang, tidak perlu khawatir, karena Pak Kodir bakal memberi seporsi gratis buat Anda (kalau mau lebih juga boleh). Meski begitu, sotonya laris manis dan beliau tidak pernah rugi.

“Memberi makan orang sebanyak itu, kalau saya, wah…, ya rugi!” kata Pak Mudakir, penjual gulai kambing yang warungnya berdiri persis di seberang warung Pak Kodir.

Tapi, memang dasarnya Pak Kodir baik, tindakan ini bukan masalah. Beliau senang karena bisa menghangatkan perut orang.

“Perut hangat adalah bagian dari kehidupan, meski kita tidak disuruh untuk hidup dengan mengenyangkan diri. Maksudnya, makan secukupnya, asal perut kita ini hangat. Dengan demikian, kehidupan berjalan lancar,” begitu kata beliau semasa hidup.

Pak Kodir meyakini, hidup bukan untuk makan, tetapi makanlah untuk hidup. Jadi, beliau senang melihat sesama makhluk hidup bisa bertahan hidup dan tidak kelaparan. Dengan begitu, mereka yang tidak kelaparan itu memiliki tenaga untuk beribadah. Pak Kodir kadang-kadang membagikan beberapa mangkuk sotonya gratis. Pernah juga satu hari hanya laku beberapa mangkuk, sisanya tandas oleh mereka yang tak berduit, dan beliau pulang dengan senyum mengembang.

***

Orang tidak heran Pak Kodir bisa berbuat sebaik ini, tanpa ada yang protes. Istri sudah meninggal beberapa tahun lalu. Anak-anak? Beliau tidak pernah punya anak. Satu kali menikah, satu kali perpisahan karena kematian; itulah kisah asmara Pak Kodir yang tidak mencintai dunia secara berlebih. Ia hanya bahagia hidup di dunia ini karena di sini ia bisa berbagi.

Begitu hafalnya watak orang akan tabiat nyaris malaikat dari Pak Kodir maka tak jarang orang memanfaatkannya. Pelanggan soto kadang sengaja datang tidak membawa dompet. Begitu selesai makan, beralasan, “Waduh, Pak, dompet ketinggalan, nih!”

Dan, Pak Kodir pun melambaikan tangan, “Santai. Berarti itu rezekimu.”

Kadang-kadang ada juga yang malah secara langsung, tanpa sungkan, menadahkan tangan meminta dua piring nasi soto karena sangat kelaparan. Pak Kodir pun melayani orang semacam ini sebagaimana ia melayani mereka yang membayar. Beliau memang tidak pernah pandang bulu.

Banyak penjual seperti Mudakir yang heran dan tidak habis pikir; bagaimana bisa ada penjual seperti Pak Kodir ini? Berjualan adalah cara mereka menyambung hidup, tetapi berjualan cara Pak Kodir seperti tidak masuk akal. Lagi pula, satu-satunya rezeki beliau cuma dari jualan soto.

“Beda kalau Pak Kodir jualan apa gitu di rumahnya, selain soto di warung dekat pertigaan itu,” kata seseorang.

“Dan, beda lagi kalau punya bisnis jualan baju gaul via online,” kata yang lain.

Begitu banyak asumsi bahwa Pak Kodir mungkin punya pesugihan di rumahnya sehingga uangnya selalu saja ada dan rezekinya seperti mengalir tiada henti. Mungkin beliau membagi soto secara serampangan agar semua orang menganggapnya orang baik, padahal aslinya bejat dan senang pergi ke dukun.

Dugaan ini, sayang sekali, tidak pernah terbukti. Setiap hari Pak Kodir selalu ke masjid. Tidak ada yang pergi ke masjid sesering beliau. Beliau berjualan soto dari jam delapan pagi hingga jam dua siang. Dan sisa waktu itu, lebih banyak beliau habiskan di masjid. Beliau berada lebih lama di rumah apabila sedang tidur atau memasak soto pada dini hari sebelum azan Subuh. Masjid seperti rumah kedua. Ia juga selalu mengaji dan kadang-kadang menjadi imam salat. Tidak ada ciri orang suka pergi ke dukun pada diri Pak Kodir.

“Orang seharusnya tahu, rezeki ini datang dari Allah. Diturunkan dari langit, dan keluar dari perut bumi. Semua yang kita kerjakan, semua yang kita doakan, selalu ada balasan yang setimpal,” kata Pak Kodir, jika ada yang bercerita bagaimana orang-orang curiga ia memiliki pesugihan. Pak Kodir tertawa dan istighfar beberapa kali.

***

Tentu saja, penjual soto ini tidak pakai cara salah. Ia berjualan soto seperti biasa;
hanya saja orang tidak tahu ketika setiap kali semangkuk soto yang beliau bagikan pada siapa pun selalu kembali 10 kali lipat dari nilai laba semangkuknya.

Misal, suatu pagi seorang ibu-ibu turun dari mobil dan memesan sebungkus soto ayam untuk menyambut calon menantu. Katakanlah ibu tersebut melakukan ini darurat. Ibu ini membayar dengan uang lebih besar dan pergi setelah mengatakan terima kasih berkai-kali karena soto Pak Kodir menolongnya keluar dari situasi malu.

Atau, pernah juga begini: Pak Kodir memberi makan bocah pengamen, lalu anak itu bercerita ke semua orang hingga sampailah cerita kebaikan penjual soto pada seorang pemilik rental mobil. Orang itu lalu membeli soto beliau dan merasakan sotonya sangat enak. Ia katakan pada teman-temannya, “Soto ayam di dekat pertigaan itu enak banget. Cobain saja.”

Lalu, berbondong-bondonglah beberapa hari kemudian, orang-orang yang diketahui sebagai teman pemilik rental mobil. Karena sotonya enak, mereka memaksa Pak Kodir menerima bayaran lebih besar.

“Soto ini mengingatkan masa muda saya,” kata salah seorang.

“Soto ini memberi saya ide bagaimana jadi pengusaha baik yang dekat dengan Tuhannya,” kata orang kedua.

Begitulah cara “aneh” yang Tuhan tunjukkan demi membalas kebaikan seorang Pak Kodir.

Pak Kodir sendiri tidak pernah berharap balasan mendadak semacam ini dan beliau memberi makan orang cuma untuk membahagiakan sesama. Uang itu akan beliau olah lagi menjadi soto dan sebagian ditabungnya untuk sebuah rencana besar: membangun satu masjid di dekat tempat tinggalnya sebab masjid yang biasa ia tempati untuk shalat dan mengaji sudah begitu tua dan nyaris roboh. Tidak ada yang inisiatif merenovasi atau apalah.

Niat ini tidak pernah terucapkan, kecuali ditulis di sehelai kertas di dalam dompet Pak Kodir. Ketika beliau meninggal dan di sakunya ditemukan dompet tersebut, orang memeriksa isinya dan ketahuanlah niat membangun masjid dari tabungan yang dipunyai selama ini.

***

Pagi itu menjadi pagi paling mengharukan; kematian Pak Kodir membuat banyak orang kehilangan dan di kepala mereka terbayang masjid baru yang pernah dimimpikan seorang penjual soto. Sebuah masjid dengan kubah putih berkilau, yang di dalamnya selalu penuh orang-orang beribadah dan berdoa.

Aku sendiri ikut mengurus jenazah Pak Kodir yang bertubuh lumayan gendut, tapi beliau tidak terasa berat. Ringan seakan menggotong beberapa keping kayu bakar yang kering. Mudakir juga mengakui itu dan sadar fenomena macam ini berhubungan dengan perbuatan baik manusia semasa hidup. Ia menangis sesenggukan karena dulu berburuk sangka pada Pak Kodir.

“Kukira punya pesugihan. Malah pernah juga kukira dia bandar togel atau apalah yang tidak halal,” kata Mudakir pada suatu hari. Aku dengar ia berkata itu dengan wajah merah padam.

Sekarang, begitu menangis, Mudakir tidak bisa berucap lain selain istighfar.

Tidak butuh waktu lama, setelah ditemukan mangkat dalam posisi sujud, jasad itu telah diuruk tanah dan batu nisan telah tertancap dengan tulisan: Pak Kodir bin Jaelani. Di bawah ada tanggal lahir dan tanggal beliau wafat. Ditulis secara sederhana, dengan torehan huruf agak berantakan karena yang menulis itu tidak kuat menahan tangisnya. Padahal, ia dianggap paling tegar karena semua yang di sana tidak bisa menulis lebih baik. Orang-orang gemetar begitu hebatnya, hingga ada yang tak kuat berdiri.

“Siapa yang jual soto seenak itu lagi, ya?”

Pertanyaan itu kembali terngiang selama tujuh hari berturut-turut setelah kematian Pak Kodir. Aku pelanggan soto ayamnya. Tetapi, tidak pernah berbohong dengan bilang dompetku ketinggalan atau dijambret orang. Aku bawa uang dan membayar soto seperti sewajarnya. Aku tidak protes mengapa Pak Kodir sering memberi orang yang tidak dikenal makanan. Bahkan, anak jalanan yang berkelompok kadang membawa teman mereka untuk turut makan.

Aku hanya berkata, “Bagaimana menata niat itu, Pak?”

Selalu, Pak Kodir menjawabnya dengan santai, “Kita punya rahasia dengan Allah. Dia Mahatahu dan kita tidak tahu apa-apa, kan? Dia sudah tahu apa yang kita niatkan dan lakukan apa yang menurut Nak Toni baik. Niat tidak perlu diumbar, yang penting menghasilkan kebaikan buat orang sekitar. Saya kira, itulah cara menata niat. Saya tidak tahu cara menjelaskannya lebih detail. Maklum, bukan orang pinter.” Ah,begitulah engkau, Pak…. (*)

Gempol, 13 April 2016



Tentang Penulis : Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media lokal dan nasional.

Sumber : Republika, Minggu 17 April 2016