Cerpen Miranda Seftiana : Geheugen Gallery

Geheugen Gallery

Oleh MIRANDA SEFTIANA


Karya Cerpen Koran Kompas, Cerpen Miranda Seftiana, Cerpen Geheugen Gallery
ilustrasi Dea Aprilia

Rijksmuseum Volkenkunde
di musim bunga tulip bermekaran. Aku melangkah gontai menuju pintu masuk museum nasional Belanda yang terletak di bagian timur laut Museumplein, Amsterdam, Belanda ini. Sebuah tempat yang dirancang oleh Pierre Cuypers sebagai dedikasi bagi seni, sejarah, dan kenangan. Membawa hati yang baru saja dilepaskan demi sebuah tanggung jawab.

Melewati taman, kulihat sebagian orang sedang sibuk mengabadikan momen di depan bangunan yang indah. Terasa wajar kiranya jika Rijksmuseum dinobatkan sebagai museum paling terkenal di negeri kincir angin ini dengan jumlah pengunjung mencapai dua juta lebih per tahun. Meski di luar terlihat ramai, ternyata pada bagian dalam cukup sepi. Membuat atmosfer masa lalu semakin kental membalut bangunan yang pertama kali dibuka sejak tahun 1885 ini.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” suara lembut namun berat itu sedikit mengusikku yang sedang melihat beberapa koleksi tahun 1100 di lantai pertama.

Keningku sedikit berkerut saat menatap lelaki di depanku ini. Tubuhnya tegap dalam balutan kemeja berwarna hitam yang membuat kulit putih itu semakin jelas. Matanya biru laut dan teduh. Rasanya dia lebih mirip wisatawan daripada penjaga museum.

Dia tersenyum. “Apakah Anda ingin melihat-lihat koleksi kenangan di sini?”

Tawaran yang menggiurkan. Terlebih aku adalah penyuka sejarah, kolektor kenangan. Itu pula yang turut menjadi alasanku memilih studi ilmu sejarah. Mungkin jika ada studi tentang kenangan aku akan memilihnya juga. Tetapi bukankah kenangan dan sejarah sebuah kesatuan?

Aku mengangguk. “Tentu saja, Tuan.”

Kami berjalan menuju lantai ketiga, sebuah galeri tempat menyimpan barang peninggalan abad ke-18 Masehi. Dia bilang di sanalah benda-benda yang memiliki kenangan bagi pemiliknya tersimpan.

Mataku seketika memicing saat bertumbuk pada sebuah benda yang terkesan tak lazim disimpan dalam sebuah museum. Terlebih sekelas Rijksmuseum yang terdiri dari 4 lantai ini. Ia seakan mengerti dengan jalan pikiranku.

“Itu namanya sekaca Cempaka. Ia adalah lambang keabadian cinta.”

***

“Apa tidak bisa jika kamu tinggal di sini saja?” Seorang perempuan bicara dengan isak tertahan di antara suara elang yang beterbangan pada langit terbias tembaga.

Lelaki di depannya menggeleng pelan. Terlihat seragam bercorak khas seorang anggota angkatan bersenjata itu kumal dan kotor. Bahkan sepertinya ada noda darah di sana.

“Niet doen …” ucapnya lemah. Dialek Belanda terdengar kental dalam nada bicaranya.

“Kau tahu sendiri, aku bisa dianggap pengkhianat negara jika tetap bertahan di sini.”

“Tetapi kamu lebih dulu membuatku menjadi pengkhianat, Dageraad!” sergah perempuan itu cepat. Ia merasa tidak diterima dengan perkataan lelaki bernama Dageraad itu.

Bagaimanapun, bagi orang Banjar, mencintai Walanda adalah sebuah kenistaan terbesar. Terlebih bagi perempuan.

Dageraad terdiam. Betapa ternyata menembakkan satu peluru ke dada musuh lebih mudah daripada jatuh cinta. Karena setelah itu kau tak perlu turut terluka seperti ini.

“Apa suatu saat kamu akan kembali, Dage?”

Lelaki itu menarik napas dalam. Coba mengalirkan udara lebih banyak untuk mengurangi sesak pada rongga dadanya.

“Andai kamu tahu, Galuh, jika saja membawamu pergi dari sini tak lebih membahayakan, tentu aku telah melakukannya sebelum ini.” Batin Dageraad berujar lirih.

“Dage….”

“Aku belum bisa menjanjikan itu padamu, Diamant. Tetapi satu hal yang harus kamu tahu, hanya ada dua warna Cempaka di dunia ini.”

“Putih disimpan lelaki, sebagai tanda perasaan itu murni. Dan kuning disimpan perempuan, sebagai perlambang ia sakral.” Galuh menyambung kalimat Dageraad.

“Dan keduanya akan selalu abadi selama tidak ada yang memecahkan salah satu darinya. Itu bermakna, selama tak ada hati yang terluka, perasaan itu akan tetap terjaga.”

Sepasang manusia berbeda bangsa itu tersenyum tipis. Tangan mereka mengusap cempaka yang tersimpan dalam botol kaca dari minuman bergrafir bahasa Belanda dengan 1829 turut tercetak di sana. Galuh sendiri yang merangkai sekaca cempaka itu untuk dibawa Dageraad ke negerinya sebagai kenangan. Menurut legenda, jika berjodoh, kelak sepasang cempaka kuning dan putih yang disimpan dalam botol kaca dengan air itu akan ada di tempat yang sama. Tetapi jika tidak, ia akan tetap membuat pemiliknya saling terikat meski terpisah asalkan tidak dipecahkan.

“Ik hou van jou, Diamant.”

“Ik hou ook van jou, Dage.”

Ya. Dageraad memang selalu memanggil Galuh dengan sebutan Diamant yang berarti intan. Karena dalam budaya pendulang di tanah Banjar, intan disebut dengan Galuh sebagai sapaan penghormatan sekaligus lambang kasih sayang seperti seorang ayah pada putrinya atau kekasih terhadap orang yang dicintainya.

Sepuluh tahun menginjak tanah Banjar nyatanya cukup mempengaruhi banyak sisi kehidupan dalam diri seorang Dageraad Van Dallen, marinir angkatan darat Walanda itu. Termasuk tentang hatinya.

“Maukah kamu berjanji menjaga hatimu untukku?” Mata biru laut nan teduh itu menatap dalam. Ada sebuah pengharapan yang tecermin di sana.

Galuh mengangguk halus. Tentu, Dage. Tentu saja aku akan menjaga hatiku meski tanpa kamu memintanya. Sebab, hakikat hati seperti cempaka. Ia akan hanya terdiri dari dua warna, kuning dan putih. Dan cempaka hanya akan tumbuh pada tanah yang tepat. Laksana cinta, tidak akan bersemi bila bukan pada hati yang tepat.

***

“Itu sebabnya ruangan ini dinamakan galeri kenangan.” Dia mengakhiri kisahnya.

“Apa Dage.” Aku baru saja hendak menanyakan tentang Dageraad ketika menyadari sosok lelaki yang sedari tadi menemani tak lagi berada di sisiku.

Mataku melirik ke segala penjuru ruangan yang didominasi warna coklat kayu lembut ini. Tetapi tak ada seorang pun di sini. Bahkan tak ada benda koleksi apa pun yang terpajang di galeri ini. Berbeda sekali dengan sebelumnya. Hingga sebuah papan pengumuman itu seketika membuat tubuhku bergetar.

Geheugen Gallery didedikasikan untuk mengenang pahlawan kita, Dageraad Van Dallen. Resmi dibuka….

Foto lelaki di banner itu, dia mirip sekali dengan yang tadi menemaniku. Mataku membelalak dengan sempurna. Tanggal pembukaan yang tertera di sana, baru akan dibuka bulan depan. Jadi, dia… seketika aku merasa sedang mengalami de javu.

Bergegas kulangkahkan kaki menuju anak tangga. Ada sesuatu yang terasa menelisik. Mengapa perpisahan Dageraad dan Galuh seakan kini sedang bereinkarnasi padaku? Hanya bedanya, dia yang berdarah Indonesia dan harus kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdi.

“Cempaka bukan tulip. Ia akan selalu sepasang, putih dan kuning. Takkan bisa tumbuh jika bukan pada tanah yang tepat….”

Kalimat itu kembali terngiang di telingaku. Ucapan Fajar tadi saat aku mengantarnya ke bandara.

Tapi apa bisa sepasang cempaka itu tersimpan di tempat yang sama atau hanya akan tersimpan dalam galeri kenangan di hati kita, Fajar? Saat kamu memilih jalan sendiri. Kembali ke tanah di mana cempaka terlahir dan bertumbuh, tanpa aku bisa mendampingi. Perempuan Walanda yang menunggumu di sudut Geheugen Gallery dengan kenangan yang abadi. Seperti milik Diamant dan Dageraad. (*)



Tentang Penulis : Miranda Seftiana, seorang penulis yang lahir di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Kesehariannya diisi dengan menulis di beberapa media, baik cetak maupun “online”. Beberapa karyanya telah dibukukan, antara lain dalam “Senandung Cinta untuk Bunda” yang diterbitkan oleh Leutika Prio pada 2011. Selain sebagai penulis, ia juga bekerja di salah satu penerbit buku di Yogyakarta

Sumber : Kompas, Minggu 27 Maret 2016

Cerpen Fyodor Dostoyevsky : Seorang Petani

Seorang Petani

Oleh FYODOR DOSTOYEVSKY


Karya Cerpen, Cerpen Fyodor Dostoyevsky, Cerpen Seorang Petani


Ini adalah Senin Paskah. Udara terasa hangat dan langit tampak biru, tetapi aku terjebak dalam kemuraman. Aku berkeliling menjelajahi sudut-sudut halaman penjara, menghitung jeruji di dalam pagar besi yang kokoh. Sebetulnya aku tidak sungguh-sungguh ingin menghitung jeruji. Aku melakukannya lebih karena kebiasaan saja.

Hari itu adalah hari “liburan” keduaku di penjara. Inilah hari-hari saat seorang narapidana tidak perlu bekerja. Kebanyakan di an tara para narapidana itu memilih mabuk-mabukan dan berkelahi. Yang lainnya bernyanyi keras-keras, lagu-lagu yang menjijikkan. Semua ini berakibat buruk kepadaku. Aku bahkan merasa sakit. Aku tidak pernah tahan dengan pesta-pesta yang dilakukan orang-orang jelata ini. Di dalam penjara, pesta-pesta itu bahkan lebih mengerikan lagi daripada yang terjadi di luar sana.

Pada masa liburan, para sipir tidak merasa perlu berepot-repot memeriksa para narapidana. Mereka sepertinya berpikir bahwa para narapidana harus diberi kesempatan untuk menikmati saat bersenang-senang sekali dalam setahun. Kalau tidak, keadaan di sini akan menjadi lebih buruk lagi sepanjang waktu.

Aku berjalan melewati seorang narapidana Polandia, Miretski. Seperti juga aku, ia dipenjara karena alasan politis. Ia memandangiku dengan tatapan muram, dengan kilatan di matanya dan bibir bergetar. “Aku membenci para pelanggar hukum ini!” desisnya kepadaku dengan suara rendah. Lalu ia berlalu melewatiku. Aku kembali ke selku meskipun aku baru meninggalkannya 15 menit yang lalu.

Saat aku melewati salah satu lorong penjara, enam narapidana kekar memukuli seorang lelaki bernama Gazin. Mereka memukulinya dengan begitu keras sehingga seekor unta pun bisa mati dengan sebuah pukulan seperti itu. Kemudian, saat aku kembali melewati lorong itu, kulihat Gazin tengah berada di luar, kedinginan. Seorang lelaki tinggi besar terbaring di sebuah bangku di salah satu sudut bangsal. Ia terbalut sehelai selimut dan setiap orang yang melewatinya berjalan perlahan. Mereka semua tahu, Gazin bisa tewas karena penganiayaan seperti itu.

Aku membaringkan diriku di bangkuku sendiri, memejamkan mata dan meletakkan tangan di bawah kepalaku. Aku menyukai istirahat dengan cara seperti itu. Tak seorang pun akan mengganggu orang yang sedang tidur dan itu memberiku kesempatan untuk melamun dan berpikir. Tetapi hari ini aku merasa sulit melamun. Jantungku berdegup amat kencang tanpa henti. Dan kata-kata Miretski masih terus menggema di telingaku, “Aku membenci para pelanggar hukum ini!”

Setelah beberapa lama aku mampu melupakan keadaan di sekitarku. Aku segera terhanyut dalam kenangan-kenanganku. Selama empat tahun masa hukumanku di penjara, aku selalu memikirkan masa laluku. Dalam kenanganku, aku seakan ingin kembali menjalani kehidupanku yang dahulu.

Hari ini, untuk alasan tertentu, aku tiba-tiba saja teringat sepenggal waktu di awal masa kanak-kanakku. Pada suatu hari di bulan Agustus itu, aku baru berumur sembilan tahun. Matahari bersinar cerah di atas kampung kami meski desir angin masih terasa dingin. Musim panas hampir berlalu. Tak lama lagi kami harus hijrah ke Moskow. Di sana kami harus menghabiskan musim dingin dengan mengikuti pelajaran-pelajaran berbahasa Prancis yang membosankan. Aku merasa menyesal bahwa kami harus meninggalkan kampung.

Aku pergi ke luar untuk menghabiskan sepanjang siang itu dengan menikmati suasana pinggiran kampung. Tak lama kemudian aku berjalan di tepi semak belukar yang rimbun memanjang hingga ke hutan terdekat. Dari situ aku bisa mendengar seorang petani sedang membajak ladang di lereng sebuah bukit. Ia pasti tak sampai 30 meter jauhnya dariku. Kudanya mungkin merasa ladang itu kering sehingga sulit baginya untuk menarik bajak. Aku bisa mendengar petani itu berteriak, “Ayo cepat! Ayo cepat!”

Aku mengenal hampir semua petani di kampung kami, tetapi aku tidak tahu siapakah petani yang sedang membajak itu. Tentu saja, sebetulnya tidak masalah siapa pun yang sedang membajak. Aku pun sedang sibuk dengan kegiatanku sendiri. Di semak-semak itu aku menemukan sebatang kecil dahan pohon hazel. Aku menggunakannya untuk menemukan kumbang dan serangga-serangga lainnya. Sebetulnya aku sedang mengumpulkannya.

Beberapa jenis kehidupan liar di sana sangat indah. Aku menyukai kadal kecil yang lincah, tubuhnya berwarna merah dan kuning dengan bintil-bintil hitam. Aku takut pada ular. Tetapi di sana jumlah ular lebih sedikit daripada kadal yang bersembunyi di semak belukar. Dan di sana juga tak banyak dijumpai jamur. Untuk mendapatkan jamur, kita harus berani memasuki hutan—dan ke sanalah aku menuju.

Tak ada apa pun di dunia ini yang lebih kucintai daripada hutan. Hutan mengandung jamur-jamur dan tumbuhan beri liar, kumbang dan burung, landak dan tupai. Aku teringat hangatnya dan aroma lembap dedaunan busuk. Bahkan saat kutulis kisah ini, aku masih bisa mencium wewangian hutan itu. Kenangan seperti ini akan menetap sepanjang hidup.

Tiba-tiba saja, dalam keheningan yang mematikan, aku mendengar sebuah seruan keras. Seseorang baru saja berteriak, “Serigala! Serigala!” Aku langsung ikut berteriak sekuat-kuatnya. Lalu aku bergegas ke luar dari hutan itu. Aku mendapati diriku berlari lurus ke arah si petani yang sedang membajak ladang.

Ia petani dari kampung kami. Namanya Marey. Usianya sekitar 50 tahun. Agak gempal dan lebih tinggi dari lelaki kebanyakan. Ia memiliki jenggot tebal berwarna cokelat gelap. Aku mengenalnya, tetapi hingga hari itu aku biasanya tak banyak bercakap-cakap dengannya. Ketika ia mendengar teriakanku, ia menghentikan kudanya. Aku meraih bajak kayunya dengan sebelah tangan dan kerah bajunya dengan tanganku yang lain. Ia bisa melihat betapa ketakutannya aku.

“Ada serigala di dalam sana!” jeritku, terengah-engah dan kehabisan napas. Ia melihat berkeliling untuk beberapa saat, hampir tak percaya kepadaku. “Di mana serigalanya?” tanyanya. “Seseorang berteriak, ‘Serigala! Serigala!’ tadi,” ucapku tergagap.

“Tidakkah Anda mendengarnya?”

“Di sana! Tak ada serigala di sekitar sini,” ujarnya. Ia berusaha menenangkanku. “Kau baru saja berkhayal, Nak. Siapakah yang pernah mendengar tentang serigala di sekitar sini?”

Namun, sekujur tubuhku gemetar. Menurutku aku pasti sangat pucat saat itu. Ia menatapku dengan senyuman cemas.

“Betapa ketakutannya diri mu,” katanya seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan takut. Oh, betapa malangnya, kau! Nah, sudahlah.”

Akhirnya kusadari juga bahwa memang tak ada serigala di tempat itu dan aku hanya melamunkan teriakan itu saja. Sekali dua kali sebelumnya aku juga pernah melamunkan teriakan seperti itu—dan tidak hanya tentang serigala. Saat beranjak dewasa, aku tidak lagi melamunkan teriakan-teriakan semacam itu lagi.

“Baik lah, saya akan pergi sekarang,” ujarku, memandanginya dengan tersipu.

“Larilah, Nak. Aku akan mengawasimu,” sahutnya.

Lalu ia menambahkan, “Janganlah mencemaskan apa pun. Semuanya akan baik-baik saja.”

Aku pergi dan berlalu, berbalik melihat ke arahnya setiap beberapa meter. Sambil berjalan pulang, Marey berdiri tegak di dekat kudanya dan mengawasiku. Ia mengangguk kepadaku setiap kali aku berbalik memandangnya. Aku merasa sedikit malu pada diriku sendiri, tetapi aku masih agak ketakutan sampai aku tiba di rumah. Di sana, kengerian yang sebelumnya kurasakan sepenuhnya hilang saat kulihat anjingku berlari ke arahku.

Dengan anjingku di sisiku, aku tidak lagi merasa ketakutan. Sekarang, aku berpaling ke belakang untuk melihat Marey terakhir kali. Aku tidak bisa lagi melihat wajahnya dengan jelas. Namun, entah bagaimana aku yakin bahwa ia masih mengangguk dan tersenyum lembut kepadaku. Aku melambai ke arahnya dan ia membalas lambaian tanganku.

Kejadian itu sudah lama berlalu, tetapi tiba-tiba saja semua itu kembali kuingat seluruhnya. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku bisa mengingat setiap detailnya. Untuk beberapa menit berikutnya, pikiranku kembali ke saat-saat di masa kanak-kanakku itu.

Ketika aku pulang ke rumah hari itu, aku tidak menceritakan apa pun tentang “petualanganku”. Lagi pula, kejadian itu tidak benar-benar bisa disebut petualangan dan dengan cepat aku sudah melupakan semua hal tentang Marey. Kapan pun aku kebetulan bertemu dengannya, aku bahkan tidak bercakap-cakap dengannya. Kami tidak lagi membicarakan tentang serigala atau hal-hal lain.

Sekarang, dua puluh tahun kemudian, aku berada di dalam penjara Siberia. Betapa anehnya bahwa aku tiba-tiba saja teringat kejadian hari itu dengan sangat jelas! Tidak satu detail pun yang terlupakan. Tentu saja ini berarti kenangan tentang hal itu selama ini tersembunyi di dalam benakku tanpa kusadari. Kenangan itu kembali kuingat karena aku memang ingin mengingatnya kembali. Sekarang aku yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakan kelembutan dan senyum petani itu, juga caranya menganggukkan kepalanya kepadaku.

Tentu saja, setiap orang akan melakukan kebaikan serupa untuk menenangkan seorang anak kecil. Tetapi ada sesuatu yang berbeda yang terjadi dalam pertemuan itu. Jika aku adalah anaknya sendiri saat itu, ia mungkin tak akan memandangiku dengan pandangan penuh kasih yang begitu hangat. Dan apakah yang membuatnya seperti itu?

Marey adalah salah seorang buruh tani kami. Sebagai seorang buruh tani, ia adalah harta benda keluargaku. Aku adalah anak majikannya. Tak seorang pun tahu betapa ia pernah bersikap teramat baik kepadaku. Tak ada seorang pun yang akan memberinya hadiah atas apa yang telah dilakukannya kepadaku. Apakah ia memang begitu mencintai anak-anak?

Ternyata memang ada orang-orang seperti itu. Tak diragukan lagi. Pertemuan kami saat itu bertempat di sebuah ladang yang sepi. Tak ada orang lain yang menyaksikan perasaan-perasaan manusiawi yang halus dari seorang petani Rusia yang kasar.

Saat aku bangkit dari bangkuku dan melihat ke sekitar, perasaanku tentang para nara pidana lainnya telah berubah. Tiba-tiba saja, karena sebuah keajaiban, semua rasa benci dan amarah lenyap dari hatiku. Aku berjalan berkeliling penjara, memandangi wajah-wajah yang kutemui. Aku menatap seorang petani yang sedang meneriakkan lagu pemabuk dengan amat nyaring. Ia juga, pikirku, mungkin petani yang sejenis dengan Marey. Aku tak mungkin melihat hingga ke dalam hatinya, bukan?

Malam itu aku bertemu dengan Miretski lagi. Lelaki malang! Ia tidak memiliki kenangan apa pun tentang Marey atau petani lain. Ia tidak memiliki pendapat lain tentang orang-orang ini, kecuali, “Aku benci para pelanggar hukum ini!” Ya, keadaan seperti ini menjadi lebih sulit bagi Miretski daripada bagiku.




Tentang Penulis : Fyodor Dostoyevsky (1821–1881) adalah pengarang terkemuka Rusia. Cerita di atas diterjemahkan Atta Verin dan Anton Kurnia dari The Peasant Marey dalam Great Short Stories from Around the World, Golden Books, Kuala Lumpur, 1995.

Sumber : Koran Jawa Pos, Minggu 27 Maret 2016