Film London Has Fallen

Download film, London Has Fallen


London Has Fallen, sebuah film laga yang disutradarai oleh Babak Najafi. Film ini dirilis pada 9 Maret 2016. Film yang skenarionya ditulis bersama oleh Creighton Rothenberger, Katrin Benedikt, Christian Gudegast, Chad St. John, mengambil lokasi di London. Kisahnya bercerita ketika Perdana Menteri Inggris didapati telah meninggal secara misterius.

Pada saat pemakaman seluruh pemimpin dunia barat hadir. Pengamanan pun diperketat karena ada skenario mematikan yang berencana membunuh para pemimpin tersebut. Agar ancaman pembunuhan tersebut dapat dicegah, peranan Presiden AS Benjamin Asher (Aaron Eckhart), agen rahasia tangguh Mike Banning (Gerard Butler) dan agen M16 dari Inggris (Charlotte Riley) menjadi penting.

Film laga berbahasa Inggris yang menelan anggaran pembuatannya sekitar $105 juta ini layak Anda saksikan. London Has Fallen disunting oleh Michael J. Duthie dan Paul Martin Smith, dengan Sinematografinya Ed Wild, penata musik Trevor Morris. Diproduksi oleh sebuah perusahaan film G-BASE - Millennium Films.

Jika Anda ingin menonton London Has Fallen lengkap dengan substitle berbahasa Indonesia, silakan klik tautan di bawah.

London Has Fallen with Indonesian Subtitle

Cerpen Gerson Poyk : Jaket Kenangan

Jaket Kenangan

Oleh GERSON POYK

Cerpen Kompas Minggu, Karya Cerpen, Cerpen Gerson Poyk, Cerpen Jaket Kenangan
ilustrasi I Made Susanta Dwitanaya

Sudah lama aku meninggalkan sebidang tanah kebun yang kubeli beberapa tahun sebelumnya di Denpasar. Dulu, selama tinggal di Bali aku buka usaha garmen sehingga aku bisa membeli kebun itu. Karena anakku berbakat matematika dan di Bali tak ada fakultas matematika aku menjual pabrik garmenku untuk ongkos pindah ke Jakarta.

Turun dari pesawat di Bandara Ngurah Rai aku langsung naik taksi menuju kebunku. Rumput sudah meninggi bercampur semak belukar. Aku langsung melemparkan tas punggungku di bawah sebuah pohon lalu membuka pakaian luar, tinggal celana dalam dan kaos lalu mengeluarkan arit mungil dari tas punggung, lalu mulai mengarit rumput. Ada beberapa pohon jambu yang nampaknya berbuah lebat tetapi habis dipetik anak-anak. Begitu juga empat pohon nangka. Ada empat pohon sawo yang batangnya sudah selebar pinggangku. Dua rumpun bambu kuning, walaupun tumbuh subur orang sering mengambil rebungnya, katanya untuk mengobati penderita sakit kuning atau liver. Dua rumpun bambu betung yang besar, selalu dikeroyok rebungnya untuk sayur. Aku hanya bisa menggeleng kepala dan berkata dalam hati, mesti ada yang jaga…

Aku mengarit sampai sore. Setelah kembali memakai pakaian aku berjalan ke sebuah warung tak jauh untuk memesan teh manis dan makan sore. Pemilik warung punya kamar-kamar kontrak per bulan. Karena sudah terlalu lelah aku mengontrak sebuah kamar untuk sebulan. Sewa kamar itu cukup murah karena dindingnya terdiri dari gedek bambu yang dianyam jarang sehingga kamar itu seperti kelambu raksasa. Angin malam mulai membawa udara dingin musim kemarau sehingga aku harus tidur tanpa membuka pakaian, bahkan harus memakai jaket supaya tidak kedinginan. Soalnya aku lupa membawa selimut dari Jakarta. Aku terbangun jam dua belas malam untuk kencing. Tetangga sebelah kamarku belum tidur rupanya. Ia sibuk memperbaiki sepeda motornya. Kakinya mengentak-ngentak tetapi motornya tak mau hidup. Kadang-kadang memang hidup tetapi mendadak mati lagi. Dientak terus, entak terus puluhan kali tetapi tidak juga mau hidup. Setelah berjam-jam tak hidup juga mesinnya, ia pun mengeluh, “O, Gusti, beginilah kalau jadi manusia. Punya satu istri, dua orang anak. Kalau motor tidak hidup, mau makan apa, besok? Anak masih kecil-kecil. … Mendengar itu aku bangun lalu mengintip ke sebelah. Kamar itu cukup besar. Ada tempat tidur. Tidak jauh dari tempat tidur ada tungku dengan seonggok batang jagung kering. Ada beberapa potong kayu bakar, rak piring, meja kecil, dan di dekat tempat tidur ada lemari pakaian. Suami, istri dan dua anak bercampur dengan tungku yang sudah tentu sangat berasap, rak piring, meja dan sebuah lemari lusuh.

Aku melangkah kembali ke tempat tidur lalu berusaha tidur dengan perasaan prihatin pada nasib tetangga kamarku. Besoknya aku ke kali kecil tak jauh untuk mandi. Sudah lama aku ingin mandi telanjang di kali, seperti pada umumnya lelaki dan perempuan Bali. Rasanya beda jauh dengan mandi di kamar mandi. Waktu aku membungkuk untuk menyiram kepalaku, seolah terdengar seorang perempuan muda yang telah membuka pakaiannya sehingga nampak kulit coklat terang dan halus, seksi, segar, sehat, berada sekitar dua meter di depanku. Aku mandi di sebuah sungai kecil bersama seorang perempuan muda yang dengan sopannya bertelanjang tubuh tak malu-malu minta izin untuk mandi telanjang di depanku. Rasanya seperti disodorkan video porno, tetapi aku menutup mata. Menutup mata… Bukan! Aku menutup hati. Aku bisa menertibkan anjing libido dalam diriku yang menggoyang-goyang ekor. Mungkin karena aku manusia. Kalau aku binatang pada waktu itu sudah tentu aku terkam perempuan telanjang itu! Itu dulu. Masa lampau remaja tinting yang sensual. Kini aku sedang mandi telanjang sendiri. Oh enaknya mandi pagi di sungai yang airnya lewat persawahan yang luas, bersih, sejuk, walau diganggu kenangan mandi di masa muda.

Sehabis mandi aku kembali ke kamarku. Sehabis mengganti pakaian, aku menghampiri tetanggaku itu dan bertanya, “Apanya yang rusak?” Dia menjelaskan apa yang rusak.

“Saya perlu berkeliling dengan sepeda motor. Kalau saya bisa bantu belikan onderdilnya, lalu motornya hidup kembali, bisakah membawa saya bertugas keliling?” Menerima uang dariku ia senang sekali. Menjelang magrib ia kembali dan segera menghidupkan motornya. Hari sudah malam ketika kami keluar dari rumah.

“Kita mampir ke restoran makan malam, yok. Cari restoran yang ada cewek yang bisa berdansa atau ajojing,” kataku. Lalu motor berhenti di sebuah restoran besar yang berisi dua puluh pelayan cantik dan hostes bahenol.

Aku memesan makan malam yang paling enak untuk berdua. Sekaligus bir. Waktu aku makan, aku melihat dia tercenung, hampir tak ingin makan makanan mewah itu. Wajahnya berubah murung seperti bintang film kawakan pemain watak. Aku merasa membawa orang susah ke restoran mewah dan mahal. Ketika kulihat matanya tercenung dan kaku, tak mau makan enak sendiri sedang di rumah istri dan anak belum makan, rasa bersalahku muncul. Mestinya aku membawanya makan di terminal bus, bukan di restoran besar ini. Bagiku menolong orang bukan didorong oleh semacam rasa superior atas orang lain. Atau untuk dipuji dan dihormati. Bukan. Di dalam jiwaku ada semacam imperatif kategoris, semacam perintah dari dalam diri untuk berbuat baik kepada orang lain. Kesadaran ini agak mengurangi penyesalanku, ditambah pula dengan pikiran mengenai bisnis. Nanti, ketika aku meminta ia menjaga bidang tanahku, kemurnian nuraniku akan bercampur dengan maksud keuntungan pribadi, yaitu kebunku akan terjaga dengan baik.

Turis-turis pada datang dan para hostes jadi segar gerak-gerik mereka. Masing-masing mereka menjerat seorang turis, memesan bir, makanan dan berceloteh dalam bahasa Inggris. Inggris Banyuwangi, kedengarannya. Mata tukang ojek nampak berlari-lari kosong. Yang nampak hanya anak istrinya di rumah bukan makanan enak dan bir di depannya. Aku juga kejangkitan tak melihat makanan enak dan bir di depanku. Mata kepalaku jadi buta dan yang hidup adalah mata hati yang memandang anak istrinya semula lewat celah dinding gedek kamarku, kemudian lewat sang suami yang tegang di depan makanan enak, bir dan perempuan-perempuan cantik.

Aku mendesaknya menghabiskan makan dan minuman di depannya. Aku makan dan minum sampai habis dan membayar. Sudah jam dua belas malam. Aku memintanya menuju terminal bus. Di terminal, Bali tak pernah tidur dan aku ingin memuaskan insomniaku di sana. Sampai di terminal aku katakan padanya, “Sekarang aku bayar ongkos ojek tetapi aku minta kita terlibat dengan bisnis begadang. Jam begadang dihitung sampai pagi dan saya akan bayar ongkos begadang.”

“Wah ini bisnis baru,” katanya.

Lalu kami memesan makanan ringan dan kopi kental dan duduk ngobrol sampai pagi. Nampaknya ia kedinginan dan ketika aku memegang pipinya, oh agak panas. Ia demam rupanya. Walaupun pipinya panas, ia berkata bahwa dia kedinginan. Spontan aku membuka jaketku dan menyerahkan padanya. Ia menolak tetapi aku mendesak ia memakainya.

Pulang ke kamar kami, hari sudah siang. Nampaknya ia menyerahkan uangnya kepada istrinya, lalu istrinya keluar meninggalkan anak yang paling kecil yang menangis. Mungkin lapar. Aku bergerak ke warung pemilik kamar kontrakan untuk makan siang.

“Sekarang motornya sudah hidup, ya,” kata ibu pemilik warung.

“Ya, Bu,” jawabku.

“Baguslah, mudah-mudahan, ia bisa membayar utang warung ini,” kata si Ibu warung.

Aku agak kaget. “Berapa, Bu?”

“Banyak!”.

Setelah si Ibu mengatakan jumlahnya aku membuka dompetku lalu membayar utang tukang ojek itu. Walaupun ia menerima, namun ia menasihatiku, “Bapak menolong orang yang salah. Dulu dia pematung yang bagus. Kemudian jadi pemborong. Kekayaannya habis di arena judi adu ayam.”

“O, begitu,” kataku.

Aku meninggalkan warung itu dengan perasaan bahwa aku tak salah. Aku ingin mengatakan pada tukang ojek itu bahwa kebunku memerlukan perawatan. Aku akan memintanya menjaga dan merawatnya, karena kalau tak terawat sekian tahun, pemerintah akan mengambil alih pemilikannya dan buah di kebun itu akan dikuras orang. Sesungguhnya aku punya pengalaman menolong orang yang lapar. Orang yang lapar dan menderita ada macam-macam. Ada yang di waktu lapar keparat, jiwanya jadi busuk. Setiap orang yang memberinya makan adalah musuh. Waktu dia bangkit dari kemiskinan, dia benci pada orang yang memberinya makan waktu ia lapar keparat. Mudah-mudahan tukang ojek itu tak seperti yang baru kukatakan tidak demikian.

Sebelum pulang ke Jakarta aku meminta dia merawat kebunku. Nangka bisa menghasilkan. Pisang, sirsak, jambu pun demikian. “Nanti saya kirim uang bulanan dari Jakarta,” kataku.

“O, tak usah, Pak. Istri saya bisa membuat jajan berbungkus daun pisang di kebun Bapak untuk dijual,” katanya menolak pemberianku. Begitulah, aku meninggalkan dia untuk kembali ke Jakarta.

Tiga tahun kemudian aku kembali ke Bali. Turun dari pesawat aku berjalan kaki keluar dari bandara. Di depan gerbang bandara tiba-tiba aku lihat tukang ojek itu sedang duduk di atas sepeda motornya memakai jaket yang kuhadiahkan. Salah satu kakinya menopang ke pinggir trotoar. Ia menunduk menutup mata. Waktu aku menepuk bahunya, ia tersentak kaget.

“Eh, Bapak, saya seperti merasa Bapak ada di pesawat terbang sehingga saya datang ke gerbang ini, walaupun ini bukan pangkalan ojek. Tepat sekali. Bapak ada di depan saya. Getaran jiwa Bapak kuat sekali,” katanya.

Aku tidak peduli akan sanjungan itu. Ia membonceng aku ke kebunku. Aku kaget melihat sudah ada rumah mungil artistik terbuat dari kayu cemara dan bambu kuning dan bambu betung. Memasuki rumah mungil bambu kuning artistik itu aku kaget sekali karena ada patung dada terbuat dari kayu cemara. Mirip aku! “O, terimakasih,” kataku.

Ia membuka jaket yang dipakainya dan memakaikan ke patungku. “Jaket kenangan!” katanya lalu bergerak cepat ke lemari mengambil uang. “Ini uang hasil penjualan patung, Pak. Maaf, terbuat dari kayu sawo karena pohon sawo dan cemara disambar petir,” katanya.

“Ambil saja uangnya. Eh, patung apa?” tanyaku.

“Ini patungnya,” katanya sambil memperlihatkan selembar foto patung. ”Saya bertemu orang ini dalam diri Anda,” sambungnya.

“Oh, patungnya memakai mahkota duri,” kataku. “Seandainya ia manusia, bukan patung, Anda pengkhianat, karena telah menjualnya, hehe…”




Tentang Penulis : Gerson Poyk - Lahir di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Sudah menulis puluhan buku dan menerima banyak penghargaan. Tahun 1985 dan 1986, dia menerima Hadiah Adinegoro. Tahun 1989 menerima hadiah sastra ASEAN, SEA Write Award, dan Lifetime Achievement Award dari harian Kompas. Karya-karyanya antara lain Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Cumbuan Sabana (1979), Giring-giring (1982), Matias Akankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat(1978), dan Di Bawah Matahari Bali (1982).

Sumber : KOMPAS Kompas Minggu, 24 April 2016

Cerpen Mashdar Zainal : Penglihatan


Sastra, Cerpen Kompas Minggu, Karya Cerpen, Cerpen , Cerpen Pengakuan Rusmini
ilustrasi Nur Khaerunnisa


Penglihatan

Oleh MASHDAR ZAINAL


Aroma napas ibu berwarna seperti akar rumput yang baru dicabut dari tanah basah. Mirip aroma rempah yang segar.

Ibu telah menjelaskan puluhan kali. Bahkan mungkin ratusan kali. Dengan napas aroma akar rumput basah yang sama. Bahwa aku terlahir sempurna. Tubuh dan indraku utuh, tidak ada yang cuwil atau rompal. Tidak ada yang panjang sebelah ataupun kecil sebelah. Semua sempurna. Bahkan sepasang mata ini. Sepasang mata ini. Orang bilang aku buta. Tapi ibu bilang, aku hanya melihat dengan cara berbeda. Melihat dengan cara berbeda. Itu saja.

Anak-anak lain suka bertanya, apakah yang aku lihat hanya gelap? Gelap itu artinya berwarna hitam. Tak ada cahaya. Kata mereka, gelap itu seperti ketika kau memejamkan mata. Ketika kau memejamkan mata, maka kau takkan dapat melihat. Seperti itulah aku. Seperti itulah orang buta. Mungkin aku tak paham seperti yang mereka paham. Seperti apa warna gelap. Seperti apa warna hitam. Ketika aku memejamkan mata, sama rasanya dengan ketika ibu mematikan lampu saat aku disuruh berangkat tidur. Setelah terdengar bunyi klik—tanda lampu dimatikan, semua hanya menjadi sedikit berbeda. Seperti itulah gelap. Gelap hanya sedikit berbeda dengan tidak gelap.

Barangkali gelap mereka memang berbeda dengan gelapku. Namun, seperti mereka, aku pun masih bisa merasakan kehadiran cahaya. Aku masih bisa merasakan sesuatu yang disebut ‘silau’ oleh mereka. Suatu pagi, ibu pernah membawaku ke taman, dan menyuruhku mendongak. Sesuatu yang hangat, yang bukan tangan ibu, mulai meraba wajahku. Sesuatu yang megah dan seperti hendak memelukku. Aku nyaris terperenyak.

“Itu matahari, Sayang. Cahayanya hangat dan agung, raja di siang hari,” ucap ibu. Aku tahu, ibu juga mendongak. Aroma akar rumput basah itu menyebar ke langit. Beberapa titik jatuh ke wajahku.

Pada malam yang dialiri angin yang lembut seperti satin, ibu juga membawaku ke halaman rumah. Ia juga menyuruhku mendongak. Tak ada usapan hangat. Tapi aku merasakan sesuatu yang lembut mengaliri wajahku. Megah sekaligus ramah.

“Itu rembulan, Sayang. Cahayanya anggun dan redup, ratu di malam hari,” telisik ibu. Angin satin itu membawa aroma akar rumput basah milik ibu ke mana-mana.

Sejak ibu mengenalkanku pada matahari dan rembulan—aku lupa kapan, tapi itu sudah lama sekali, aku telah bisa membedakan gelap dan terang dengan sangat gamblang. Gelap adalah ketika kau sendiri. Dan terang adalah ketika sesuatu yang megah membersamaimu. Dan hal itu: cahaya, membuatku lebih mudah mengayunkan langkah.

Aku berjalan dengan meraba cahaya, menyelisik suara, dan membaui aroma. Dan bagiku, itu tak ada kesulitan sama sekali. Tak ada kesulitan sama sekali. Aku tetap bisa melihat, hanya dengan cara berbeda, seperti kata ibu. Aku melihat ibu dengan meraba wajahnya dan menyelisik suaranya. Hingga dapat kubayangkan wajah ibu dalam benakku. Begitu terang. Begitu jelas. Suara ibu renyah. Renyah itu seperti ketika kau makan kerupuk yang baru diambil dari dalam toples. Renyah itu tegas tapi lembut. Mirip suara ‘krap’. Seperti itulah suara ibu.

Ibu adalah satu-satunya kawan dekatku yang paling dekat. Setelah ibu, baru ada Lukas dan Elias yang sudi berkawan denganku. Yang lain juga berkawan, tapi tidak terlalu dekat. Dekat artinya, mereka sering meluangkan waktu bersamaku dan suka mengajakku bercakap-cakap. Ibu, Lukas, dan Elias, suka melakukan itu. Sebab itu, aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa Lukas dan Elias akan tetap jadi kawanku sampai kapanpun. Tapi Lukas dan Elias punya kebiasaan buruk, mereka suka datang mengendap-endap. Padahal ibu tak pernah memarahi mereka. Tapi mereka tetap saja suka datang mengendap-endap.

Ketika ibu tengah sibuk dengan pekerjaan di dalam rumah. Biasanya Lukas dan Elias muncul dan mengajakku bermain di halaman rumah. Di sana ada dua ayunan. Aku duduk di ayunan yang satu, sedangkan Lukas dan Elias duduk di ayunan yang lain. Mereka bilang di halaman rumahku banyak bunga. Ibuku memang suka sekali dengan bunga. Ada mawar. Melati yang merambat ke tiang teras. Ada juga kamboja dan bougenvil dalam pot. Lukas dan Elias menjelaskan bahwa bunga-bunga itu bermacam-macam warnanya. Ada banyak warnanya.

“Mawar itu merah, melati itu putih, kamboja merah muda, bougenvil putih dan merah muda, tapi merah mudanya berbeda dengan merah muda kamboja,” ujar Lukas.

“Kalau daunnya, hampir semua berwarna hijau,” Elias turut menjelaskan.

Aku hanya berterima kasih dan lalu tersenyum, melebarkan sudut bibir ke kiri dan ke kanan. Kata ibu, begitulah cara orang tersenyum. Aku bisa membayangkan dengan mudah seperti apa bentuk mawar, melati, kamboja, dan bougenvil, meski aku tak begitu paham dengan warna-warna mereka.

Ibu, Lukas, dan Elias mengamati warna dengan mata kasat mereka. Sedangkan aku mengamati warna dengan caraku sendiri. Merah seperti aroma garam dan karat. Seperti aroma darah. Kata ibu darah berwarna merah. Meski aku tahu, mawar punya aroma yang khas—orang-orang menyebutnya harum, tapi bagiku warna mawar seperti garam dan karat. Dan mawar berduri, jariku pernah tertusuk duri bunga itu. Mengeluarkan darah. Darah yang beraroma seperti garam dan karat. Garam dan karat.

Adapun warna melati seperti rasa pahit dan sepat. Warna kamboja seperti serbuk minuman yang dituang ke dalam gelas. Warna bougenvil seperti sobekan kertas. Dan warna daun-daun seperti puding cincau yang mendidih dalam panci. Sekali lagi, aku berbicara tentang warna, bukan aroma. Bagiku warna adalah bentuk. Merah adalah bentuk. Putih adalah bentuk. Merah muda dan hijau juga sebuah bentuk. Barangkali itulah yang disebut ibu sebagai ‘melihat dengan cara berbeda’. Melihat dengan cara berbeda.

Suatu malam, di usiaku yang keduabelas, kami duduk mengitari meja makan. Aku dan ibu duduk bersebelahan. Ayah duduk di seberang. Aku tidak terlalu dekat dengan ayah. Tapi aku bisa membayangkan wajah ayah dari suaranya yang keras seperti dahan patah, juga aroma napasnya yang dingin seperti udara yang menyambar ketika kulkas dibuka. Aku pernah meraba wajah ayah, hampir sama dengan wajah ibu dan wajahku. Hanya saja wajah ayah kasar di beberapa bagian. Menurut ibu, itu sisa kumis dan jenggot yang dipangkas. Itu adalah salah satu tanda bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Laki-laki dan perempuan berbeda.

Ayah bekerja sebagai pejabat negara. Kata ibu, ayah orang penting. Ayah dekat dengan presiden. Dan sebab itu, ayah jarang sekali tinggal di rumah. Ayah sering pergi ke ibu kota. Dan bahkan ke luar negeri. Aku dan ibu sudah terbiasa ditinggalkan ayah. Sebenarnya, di rumah kami ada dua orang pelayan, yang satu namanya No, ia bekerja merawat taman. Dan yang satu namanya Tik, ia bagian mengurusi pekerjaan rumah. Tapi menjelang petang mereka selalu pulang. Dan aku tak begitu suka dengan mereka. Mereka jarang berkata-kata, dan seringkali, aroma mereka yang satu seperti tanah becek dan yang satu seperti kain terbakar. Tapi bagaimanapun, mereka sudah berbaik hati sudi membantu ibu sampai petang. Jadi aku tetap menghormati mereka.

Kami masih mengitari meja makan, ketika ayah menyampaikan, bahwa sebentar lagi, aku akan bisa melihat. Melihat dengan cara yang sama, persis seperti ayah dan ibu melihat. Seperti Lukas dan Elias melihat. Kata ayah, itu hadiah ulang tahunku yang keduabelas. Hadiah yang takkan pernah kulupakan. Ayah berbicara soal donor mata. Yang kutahu, donor itu semacam pemberian. Berarti pemberian mata. Dan ibu menyinggung soal operasi. Yang kutahu, operasi itu pekerjaan yang berhubungan dengan pisau, dokter bedah, dan kesembuhan seseorang.

Sepertinya pembicaraan ayah dan ibu akan berlangsung lama. Sebab itu, setelah makan, ibu mengantarku cuci muka, cuci kaki, sikat gigi, dan lalu tidur. Klik. Lampu dimatikan. Klek. Pintu ditutup dari luar. Seketika, dalam benakku muncul bentuk-bentuk yang beterbangan. Warna-warna, aroma-aroma, dan cahaya yang berlompatan. Ketika itu, tiba-tiba Lukas dan Elias datang. Seperti biasa, mereka datang diam-diam. Barangkali mereka memanjat jendela. Kata Lukas, mereka sempat menguping soal hadiah ulang tahun itu. Soal aku akan bisa melihat dengan cara yang sama. Melihat dengan cara yang sama.

“Akan lebih baik kalau kau tidak menerima hadiah itu,” desis Lukas.

“Betul,” sahut Elias, “hampir semua penglihatan manusia adalah anak panah iblis yang dilesatkan. Dan itu akan menikam dirimu sendiri. Sudah banyak buktinya.”

“Lagi pula, sebagian besar manusia memiliki wajah dan sosok yang menyeramkan dan kadang menjijikkan untuk dilihat. Kau pasti akan ketakutan.”

“Dan seringkali mereka mendesis seperti ular derik. Berisik dan mencelakai orang.”

“Akan banyak sekali hal di dunia ini yang tak ingin kau lihat nantinya. Percayalah, kau takkan suka melihat dengan cara yang sama.”

Aku hanya menyimak ucapan mereka. Dengan rasa ngeri yang mulai melata.

“Tapi semua terserah padamu,” singkat Lukas.

“Ya, keputusan tetap ada di tanganmu,” Elias menambahkan.

Malam itu, Lukas dan Elias pamit setelah kukatakan bahwa aku harus segera tidur. Sejujurnya, aku mulai bosan dan menganggap mereka hanya menakut-nakutiku. Setelah aku bisa melihat seperti yang lain, tentu akan semakin banyak anak yang mau berkawan denganku. Pasti Lukas dan Elias cemas akan hal itu. Padahal aku sudah bersumpah, sampai kapanpun, mereka akan tetap jadi kawan dekatku. Sampai kapanpun.

Setelah malam itu, Lukas dan Elias masih datang sesekali untuk mengingatkan soal penglihatan manusia yang kata mereka mengerikan itu. Sampai ayah dan ibu benar-benar membawaku ke rumah sakit untuk hadiah istimewa itu. Ketika aku sampai di rumah sakit, cahaya berlesatan di hadapanku. Aroma-aroma membaur menjadi satu. Warna-warna beradu. Juga suara Lukas dan Elias yang terus mengiang sayup di telingaku. Hingga aku seperti tertidur. Tidak ingat apa-apa lagi.

Entah berapa lama, ketika aku terbangun, sebagian kepalaku sudah dibaluti kain panjang dan pipih. Setelah beberapa hari, ketika kain itu dibuka, perlahan. Mataku segera mengerjap. Cahaya mendekap tubuhku. Seperti kain raksasa yang meringkusku. Dan semua menjadi begitu berbeda. Ibu bertanya, apakah aku bisa melihat? Apakah aku merasa silau? Aku hanya tersenyum lebar. Ibu menciumku. Wajah ibu persis seperti yang kubayangkan selama ini. Persis. Namun aroma akar rumput basah itu lenyap entah kemana.

Dan aku merasa sangat girang bisa melihat begitu banyak binatang berkeliaran. Berbaur dengan manusia. Aku tahu itu binatang karena mereka memiliki moncong. Semacam bibir yang menjorok ke depan. Ibu pernah bercerita, bahwa salah satu perpedaan fisik antara manusia dan binatang adalah pada moncongnya. Bahkan bebek dan ikan lele sekalipun memiliki moncong. Sungguh, aku merasa takjub dengan dunia baruku.

Aku tidak sabar untuk mengucapkan terima kasih pada ayah yang telah menghadiahiku sebuah penglihatan. Sebuah dunia baru. Aku dan ibu telah menunggu ayah di depan pintu setelah beberapa hari ayah pergi ke luar kota seperti biasanya. Ketika ayah keluar dari mobil, aku baru tahu bahwa ayah juga memiliki moncong. Ayah juga memiliki moncong. Tiba-tiba aku teringat kata Lukas dan Elias. Namun entah mengapa, semenjak aku memiliki penglihatan yang sama, Lukas dan Elias tak pernah muncul lagi. Mereka menghilang.

Ketika aku bertanya pada ibu perihal Lukas dan Elias, ibu menjawab enteng. Kata ibu, Lukas dan Elias hanya sepasang anjing kembar milik tetangga sebelah. Anjing kembar yang suka keluyuran ke halaman rumah kami. (*)




Tentang Penulis : Mashdar Zainal lahir di Madiun, 5 Juni 1984, menulis puisi serta prosa di berbagai koran. Kini bermukim di Malang. Cerpennya beberapa kali masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas.

Sumber : Kompas, Minggu 17 April 2016


Cerpen Haruki Murakami : Manusia Es

Sastra, Karya Cerpen, Cerpen Haruki Murakami, Cerpen Manusia Es
illustration by Sarah Lacey
Manusia Es

Oleh HARUKI MURAKAMI


Aku menikahi Manusia Es.

Pertama bertemu dengannya di sebuah hotel di ski resort, tempat paling sempurna untuk menemukan Manusia Es, memang. Lobi hotel begitu riuh dengan anak muda, tapi Manusia Es duduk sendiri di kursi sudut yang letaknya paling jauh dari perapian, diam membaca buku sendirian. Meski sudah hampir malam, tapi cahaya dingin pagi awal winter terlihat berpendar mengitarinya.

“Lihat! Itu si Manusia Es,” bisik temanku.

Waktu itu, aku sungguh tak tahu makhluk apa itu Manusia Es. Temanku juga. “Dia pasti terbuat dari es. Itu sebabnya orang-orang menyebutnya Manusia Es.” Temanku mengatakan hal tersebut dalam nada serius seolah dia sedang membicarakan hantu atau seseorang dengan penyakit menular.

Manusia Es tinggi, tampak muda, tegap, sedikit bagian rambutnya tampak putih seperti segenggam salju yang tak meleleh. Tulang pipinya tajam meninggi seperti batu yang beku, dan jarinya embun beku putih yang seolah abadi. Namun begitu, Manusia Es terlihat seperti manusia normal. Dia tidak seperti lelaki yang bisa kau sebut tampan memang, tapi dia terlihat begitu menarik—tergantung dari bagaimana kau melihatnya. Dalam suatu kesempatan, sesuatu tentang dia menusukku sampai ke hati. Aku merasakan hal tersebut terutama saat memandang matanya. Tatapannya senyap dan transparan seperti serpih cahaya dalam untaian tetes salju di pagi musim dingin. Seperti kilatan kehidupan dalam tubuh makhluk buatan.

Aku berdiri beberapa saat memperhatikan si Manusia Es dalam jarak dekat. Dia tak menoleh. Dia hanya duduk diam, tak bergerak. Membaca bukunya seakan tiada seorang pun yang ada di sana selain dirinya….

Keesokan paginya, Manusia Es masih berada di tempat yang sama, membaca buku dengan cara yang persis sama. Ketika aku melangkah ke ruang makan untuk makan siang, dan ketika aku kembali dari bermain ski dengan teman-teman pada malam tersebut, dia masih ada di sana, mengarahkan tatapan yang sama pada halaman-halaman buku yang sama. Hal serupa terjadi sehari setelah itu. Bahkan ketika matahari tenggelam rendah, dan jam terlambat tumbuh, ia duduk di kursinya, setenang adegan musim dingin di luar jendela.

Pada sore di hari keempat, aku me-reka berbagai alasan supaya bisa tidak turut keluar menelusur lereng. Aku tinggal di hotel sendiri dan mondar-mandir di lobi yang sekosong kota hantu. Udara di lobi terasa hangat dan lembab, dan ruangan itu memiliki bau aneh yang sedih mematahkan hati—bau salju yang terlacak di dalam sol sepatu yang sekarang tengah mencair di depan perapian.

Aku menatap keluar jendela, berdesir saat melihat halaman-halaman surat kabar, dan sekonyong mendekat ke Manusia Es, mengumpulkan keberaniann untuk berbicara.

Aku cenderung pemalu dengan orang asing, kecuali memiliki alasan yang sangat bagus, aku biasanya tak mudah berbicara dengan orang yang tak kukenal. Tapi dengan Manusia Es aku merasa memiliki dorongan untuk berbincang, tak peduli tentang apa pun itu. Ini malam terakhirku di hotel tersebut, dan jika kubiarkan kesempatan ini pergi, aku takut aku takkan punya kesempatan lagi untuk bisa berbicara dengan dia: pria es, si Manusia Es itu….

“Tidak main ski?” tanyaku padanya, sesantai mungkin.

Dia memalingkan wajah perlahan seolah mendengar suara di kejauhan. Dia menatapku, lalu dengan tenang menggeleng. “Aku tidak bermain ski,” ucapnya. “Hanya ingin duduk di sini, membaca dan melihat salju.”

Kata-katanya membentuk awan putih di atas kepala, seperti balon-balon kata keterangan di komik strip. Aku benar-benar bisa melihat kata-kata itu mengambang di udara, sampai ia menggosok mereka pergi dengan jarinya yang beku. Aku tak tahu lagi apa yang harus dikatakan selanjutnya. Aku hanya tersipu dan berdiri di sana.

Manusia Es menatap mataku dan tampak sedikit tersenyum. “Mau duduk?” tanyanya. “Kau tertarik padaku, kan? Ingin tahu apa itu Manusia Es?” Ia tertawa. “Tenang, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak akan pilek kok kalau cuma bicara denganku….”

Kami duduk berdampingan di sofa di sudut lobi dan menyaksikan butiran-butiran salju menari di luar jendela. Aku memesan cokelat panas dan meminumnya, sedang Manusia Es tidak memimun apa-apa. Rupanya dia tidak lebih jago dalam bercakap-cakap dari aku. Dan bukan hanya itu, kami juga tak memiliki kesamaan apa pun untuk dijadikan bahan obrolan. Awalnya, kami berbincang tentang cuaca. Lalu kami ngobrol tentang hotel.

“Anda di sini sendirian?” tanyaku pada si Manusia Es.

“Ya,” jawabnya.

Dia bertanya, apakah aku suka main ski? “Tidak terlalu,” kataku. “Aku hanya datang karena teman-temanku ngotot mengajakku. Sesungguhnya aku benar-benar jarang main ski….”

Ada banyak hal yang sebenarnya sangat ingin aku tahu dari Manusia Es. Benarkan tubuhnya sungguh-sungguh terbuat dari es? Apa yang dia makan? Di mana dia tinggal di musim panas? Apakah dia punya keluarga? Ya, hal-hal semacam itulah. Tetapi Manusia Es tidak bicara tentang dirinya, dan itu membuatku menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan pribadi. Sebaliknya, Manusia Es malah berbicara tentang aku. Rasanya sulit dipercaya, tetapi entah bagaimana ia tahu semuanya. Dia tahu anggota keluargaku, dia tahu umurku, tahu apa yang kusuka dan yang tidak, tahu keadaan kesehatanku, tahu sekolah yang kumasuki dan tahu juga teman-teman yang biasa kukunjungi. Dia bahkan tahu hal-hal yang telah terjadi begitu jauh di masa lalu yang aku sendiri telah lupa.

“Saya tak mengerti,” kataku, bingung. Aku merasa seakan-akan aku telanjang di depan orang asing. “Bagaimana kamu bisa tahu begitu banyak tentang saya? Bisa baca pikiran orang ya…?”

“Tidak, saya tak bisa baca pikiran atau apa pun yang semacam itu. Cuma tahu saja,” ucap si Manusia Es. “Saya tahu begitu saja. Seakan-akan saya jauh melihat ke dalam es, dan, ketika saya melihat Anda seperti ini, hal-hal tentang Anda menjadi terlihat begitu jelas bagi saya.”

Lalu aku bertanya, “Bisakah kamu melihat masa depan?”

“Saya tak bisa melihat masa depan,” kata Manusia Es perlahan. “Saya sama sekali tidak mampu mengambil keuntungan dari masa depan. Lebih tepatnya…, saya tidak punya konsep masa depan karena es tak memiliki masa depan. Semuanya hanya masa lalu yang terlampir di dalamnya. Dengan cara yang sangat bersih dan jelas, es bisa mengawetkan banyak hal dan membuatnya seolah-olah masih hidup, meskipun itu masa lalu. Itulah esensi es,” terangnya.

“Itu bagus,” ucapku sambil tersenyum. “Benar-benar lega mendengarnya. Setelah ini… aku pun sungguh-sungguh tak ingin tahu bagaimana masa depanku.”

***

Kami bertemu lagi beberapa kali setelah aku kembali ke kota. Akhirnya, kami mulai berkencan. Kami tidak pergi ke bioskop, atau ke café. Kami bahkan tidak pergi ke restoran. Manusia Es jarang makan. Kita paling sering duduk-duduk di bangku taman dan berbincang tentang banyak hal selain tentang Manusia Es sendiri.

“Kenapa begitu?” Sekali aku pernah bertanya. “Mengapa kamu tidak mau bicara tentang dirimu? Aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu. Di manakah kamu dilahirkan? Seperti apa rupa orang tuamu? Bagaimana ceritanya hingga kamu menjadi Manusia Es?”

Manusia Es menatapku sekejap lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” katanya pelan dan jelas, mengembuskan embusan gelembung kata putih ke udara. “Aku tahu banyak tentang masa lalu hal-hal lain, tapi aku sendiri tidak punya masa lalu. Aku tidak tahu di mana aku lahir, atau seperti apa orang tuaku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku memiliki orang tua. Aku juga tidak tahu berapa umurku, dan bahkan aku tidak tahu apakah aku memiliki umur.” Manusia Es ternyata sesepi gunung es di malam muram….

***

Aku serius jatuh cinta pada Manusia Es. Manusia Es pun mencintaiku apa adanya—di masa kini, tanpa masa depan. Pada gilirannya aku pun mencintai Manusia Es apa adanya—di masa sekarang, tanpa masa lalu. Kami bahkan mulai berbicara tentang pernikahan.

Aku baru berusia dua puluh, dan Manusia Es adalah lelaki pertama yang benar-benar kucintai. Saat itu, aku tidak bisa membayangkan apa artinya mencintai seorang Manusia Es. Tapi bahkan jika aku jatuh cinta pada pria normal sekalipun, aku ragu akankah aku bisa memiliki ide yang jelas tentang cinta?

Ibu dan kakak perempuanku tentu saja menentang ide menikahi Manusia Es.

“Kamu terlalu muda untuk menikah,” kata mereka. “Selain itu, kamu juga tidak tahu apa-apa tentang latar belakangnya. Kamu bahkan tidak tahu di mana Manusia Es dilahirkan dan kapan ia lahir. Bagaimana mungkin kita bisa bilang ke saudara dan kerabat kita kalau kamu menikahi orang semacam itu? Lagi pula, yang kita bicarakan ini Manusia Es! Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba ia mencair, hah? Kamu nggak paham kalau pernikahan itu memerlukan komitmen yang ‘riil’?!”

Biar bagaimanapun, kekhawatiran mereka tidak beralasan. Karena pada akhirnya, Manusia Es tidak pernah benar-benar terbuat dari es….

***

Dia tidak akan meleleh, tak peduli betapa hangat kondisi sekitar di mana ia berada. Dia disebut Manusia Es karena tubuhnya sedingin es, tapi apa yang membuatnya begitu, jelas bukan es. Itu bukan jenis dingin yang bisa menghapus panas orang lain. Jadi… kami menikah.

Tidak ada yang memberkati pernikahan itu. Tidak ada teman atau kerabat yang berbahagia untuk kami. Kami tidak mengadakan upacara, dan, ketika datang waktunya bagiku untuk memiliki nama keluarga yang terdaftar, Manusia Es tak memilikinya. Kami hanya memutuskan bahwa kami berdua menikah. Kami membeli kue kecil dan makan bersama, dan itulah pernikahan kami yang sederhana.

Kami menyewa subuah apartemen kecil, dan Manusia Es mencari nafkah dengan bekerja di sebuah fasilitas penyimpanan daging dingin. Dia bisa mengambil sejumlah rasa dingin dari sana, dan tak pernah merasa lelah tak peduli seberapa keras ia bekerja. Majikan suamiku sangat menyukainya, dan membayar gaji Manusia Es lebih tinggi dari karyawan lain.

Kami berdua hidup bahagia tanpa mengganggu atau diganggu siapa pun. Ketika kami bercinta dan Manusia Es menggumuliku, aku melihat dalam pikiranku, sepotong es yang kuyakin ada di suatu tempat di kesendirian yang tenang.

Kupikir Manusia Es mungkin tahu di mana es tersebut berada. Es yang dingin, beku, dan keras, sebegitu kerasnya hingga kupikir tidak ada yang bisa melebihi kekerasannya. Itulah lempengan es terbesar di dunia. Terletak di suatu tempat yang sangat jauh, dan rupanya manusia Es tengah membagikan kenangan tersebut padaku dan pada dunia.

Awalnya, aku kerap bingung bila Manusia Es mengajak bercinta. Tapi, setelah beberapa waktu, aku menjadi terbiasa. Aku bahkan mulai menyukai bercinta dengan Manusia Es.

Pada malam hari, diam-diam kami berbagi potongan es terbesar di dunia, di mana ratusan juta tahun masa lalu dunia, tersimpan di dalamnya.

***

Dalam kehidupan pernikahan kami, tidak ada masalah untuk “berbicara”. Kami saling mencintai begitu dalam, dan tak ada yang lebih penting dari itu.

Kami ingin punya anak, tapi itu tampaknya tak mungkin. Ini lebih karena, mungkin… gen manusia dan gen Manusia Es tidak bisa digabungkan dengan mudah. Dalam kasus semacam ini, karena kami tidak memiliki anak, aku memiliki lebih banyak waktu.

Aku menyelesaikan semua pekerjaan rumah di pagi hari, dan kemudian tidak ada lagi yang bisa kukerjakan. Aku tidak punya teman untuk bicara atau pergi bersama, dan aku tak memiliki banyak hal yang bisa dilakukan dengan para tetangga. Ibu dan kakak perempuanku masih marah dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bertemu denganku lagi. Dan meskipun bulan-bulan berlalu, dan orang-orang di sekitar kami mulai berbicara dengan Manusia Es, jauh di dalam hati, mereka masih belum bisa menerima keberadaan Manusia Es atau aku—yang telah menikahinya. Kami berbeda dari mereka, dan tak ada jumlah waktu yang dapat menjembatani kesenjangan itu. Jadi, sementara suamiku Manusia Es bekerja, aku tinggal sendiri di rumah, membaca buku dan mendengarkan musik.

Biar bagaimanapun aku cnderung lebih suka tinggal di rumah dan aku tak keberatan sendirian. Hanya saja aku masih muda, dan melakukan hal yang sama hari demi hari akhirnya mulai terasa mengganggu. Bukan kebosanan yang menyakitkan, tapi pengulangan. Itu sebabnya suatu hari aku berkata pada suamiku, “Bagaimana kalau kita pergi berdua? Sebuah perjalanan. Untuk ganti suasana saja….”

“Sebuah perjalanan?” tukas Manusia Es. Dia menyipitkan mata dan menatapku. “Untuk apa kita melakukan perjalanan? Tidakkah kau bahagia di sini bersamaku?”

“Bukan itu,” kataku. “Tentu saja aku senang bersamamu, tapi aku bosan. Aku merasa ingin pergi ke suatu tempat yang jauh dan melihat hal-hal yang belum pernah kulihat. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menghirup udara baru. Kamu mengerti kan maksudku? Lagi pula… kita belum berbulan madu. Kita punya tabungan dan kamu punya hari libur yang harus kamu isi. Bukankah ini cuma masalah waktu saja? Kita akan pergi ke suatu tempat, dan segalanya akan mudah serta menyenangkan.”

Manusia Es menghela napas bekunya dalam-dalam. Napas beku yang mengkristal di udara diiringi sedikit suara gemerincing. Dia menyusurkan jejarinya yang panjang bersama-sama di lutut. “Baiklah, jika kamu benar-benar ingin melakukan perjalanan, aku tak keberatan. Aku akan turut pergi ke mana pun kamu pergi andai itu membuatmu bahagia. Tapi, kamu tahu ke mana kamu mau pergi?”

“Bagaimana kalau kita mengunjungi Kutub Selatan?” kataku. Kupilih Kutub Selatan karena aku yakin bahwa Manusia Es akan tertarik pergi ke suatu tempat yang dingin. Dan, jujur saja, aku memang selalu ingin melakukan perjalanan ke sana. Aku ingin mengenakan mantel bulu yang bertopi indah, aku ingin melihat aurora australis dan juga kawanan penguin yang sibuk bermain. Namun, saat kukatakan hal tersebut, suamiku menatapku lekat, tanpa berkedip, dan aku merasa seolah-olah sebongkoah es menusukku, menembus bagian belakang kepalaku.

Manusia Es diam sejenak, dan akhirnya berkata dengan suara yang seperti salju berdentingan, “Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Mari kita pergi ke Kutub Selatan…. Kau sungguh-sungguh yakin ini yang kau inginkan?”

Entah kenapa aku tak bisa segera menjawab. Suamiku, Manusia Es, menatapku begitu lama, sedang di dalam kepalaku, aku seperti mati rasa. Lalu aku mengangguk.

***

Seiring waktu berlalu, aku mulai menyesali gagasan pergi ke Kutub Selatan. Aku tak tahu persisnya kenapa, tapi begitu aku mengucapkan kata “Kutub Selatan”, sesuatu berubah dalam diri suamiku. Matanya menjadi lebih tajam, napas yang keluar jadi lebih putih, dan jejarinya terlihat semakin beku. Setelah itu dia tak berbicara padaku lagi dan ia juga berhenti makan sepenuhnya. Semua itu tentu saja membuatku merasa sangat tidak nyaman.

Lima hari sebelum waktu berangkat, kubangun keberanian dan kukatakan pada suamiku, “Mari kita lupakan Kutub Selatan. Ketika kupikir hal itu sekarang, aku sadar kalau saat ini akan menjadi sangat dingin di sana, dan itu tidak bagus untuk kesehatanku. Jadi aku mulai berpikir mungkin lebih baik kalau kita pergi ke suatu tempat yang lebih biasa. Bagaimana kalau Eropa? Mari kita liburan di Spanyol. Kita bisa minum anggur, makan paella, dan melihat adu banteng atau sesuatu yang….”

Tapi suamiku tak menaruh perhatian, ia menatap angkasa beberapa lama lalu berkata, “Tidak, aku tidak terlalu ingin pergi ke Spanyol. Spanyol terlalu panas bagiku dan kotanya terlalu berdebu. Makanannya terlalu pedas. Selain itu, kita sudah membeli tiket ke Kutub Selatan. Dan kita punya mantel bulu, dan sepatu boot berbulumu sudah berbaris. Tak mungkin kita membuangnya ke tempat sampah. Sekarang kita sudah sejauh ini, kita tidak bisa tidak pergi….”

Alasan sesungguhnya aku mengajukan ide Eropa adalah bahwa sebenarnya aku takut. Aku memiliki firasat bahwa jika kami pergi ke Kutub Selatan sesuatu akan terjadi, dan sesuatu itu tak akan mungkin bisa di-undo. Tidak bisa diulang-kembalikan lagi.

Belakangan aku mengalami mimpi buruk, dan itu terjadi berulang-ulang. Selalu mimpi yang sama. Aku keluar berjalan-jalan sendiri lalu terjatuh begitu saja ke jurang yang dalam. Jurang terbuka di dasar tanah. Tak seorang pun menemukanku. Aku membeku di bawah sana. Diam dalam es, menatap nyalang ke langit di atas permukaan. Aku sadar, tapi aku tidak bisa bergerak, bahkan untuk menggerakkan jari pun aku tak mampu. Dari waktu ke waktu aku sadar aku telah menjadi masa lalu. Aku seolah ada dalam adegan yang bergerak mundur, menjauh dari mereka; orang-orang tersebut. Lalu sekonyong aku terbangun, dan saat terbangun, aku menemukan Manusia Es terbaring tidur di sampingku.

Suamiku, Manusia Es yang selalu tidur tanpa bernapas, Manusia Es yang seperti manusia mati….

***

Kini aku merindukan Manusia Es yang dulu pernah kutemui di ski resort. Di sini tak mungkin lagi keberadaannya menjadi perhatian siapa pun. Semua orang di Kutub Selatan menyukai Manusia Es, dan anehnya, orang-orang itu tak mengerti sepenggal pun kata yang kuucapkan. Sambil menguapkan napas putih mereka, mereka akan saling menceritakan lelucon dan berdebat serta menyanyikan lagu dalam bahasa mereka yang tak kumengerti, sementara aku duduk sendirian di kamar kami, memandang langit abu-abu yang sepertinya tak mungkin akan menjadi cerah dalam beberapa bulan mendatang. Pesawat terbang yang membawa kami ke sana sudah lama hilang, dan landasan pesawat kini tertutup lapisan es keras, sekeras hatiku.

“Musim dingin telah datang,” ujar suamiku. “Ini akan menjadi musim dingin yang sangat panjang. Takkan lagi ada pesawat atau kapal. Semuanya telah membeku. Kelihatannya kita harus tinggal di sini sampai musim semi berikutnya,” begitu ucapnya.

Sekitar tiga bulan setelah kami tiba di Kutub Selatan, aku baru sadar kalau aku hamil. Anak yang akan kulahirkan pastilah Manusia Es kecil, si junior—aku tahu itu! Rahimku sudah beku dan cairan ketubanku adalah lumpur es. Aku bisa merasakan dingin dalam diriku. Anakku akan menjadi seperti ayahnya, memiliki mata seperti tetesan air beku dan jejari yang juga kaku beku. Keluarga baru kami tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di luar Kutub Selatan.

O, aku baru tersadar. Masa lalu abadi, teramat berat dan melampaui semua pemahaman, mencengkeram begitu erat. Kita tak akan mampu mengguncangnya.

Sekarang… hampir tak ada hati tertinggal padaku. Kehangatanku telah pergi teramat jauh, dan terkadang aku bahkan lupa kalau kehangatan itu pernah ada. Di tempat ini, aku lebih kesepian dari siapa pun di dunia. Dan ketika aku menangis, suamiku sang Manusia Es akan mendekat dan mencium pipiku. Mengubah air mataku menjadi es. Dan dengan lembut dia akan mengambil air mata yang membeku di tangannya itu dan meletakkannya di ujung lidah, “Lihat betapa aku mencintaimu,” katanya.

Dia mengatakan hal yang sesungguhnya, tapi angin menyapunya ke ketiadaan, meniupkan kata-kata putihnya kembali dan kembali ke masa lalu…. (*)

(Hadiah ultah ke-25 untuk seseorang….)




Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Richard L. Peterson. Lalu, diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Ucu Agustin.

Sumber : Jawa Pos, 26 Desember 2010

ilustrasi cerpen oleh Sarah Lacey

Cerpen Ken Hanggara : Pak Kodir

Pak Kodir

Oleh KEN HANGGARA


Karya Cerpen, Cerpen Ken Hanggara, Cerpen Pak Kodir
ilustrasi oleh Rendra Purnama


Orang-orang berkumpul di masjid pagi itu, menonton seorang ahli ibadah sedang berada dalam posisi sujud selama lebih dari satu jam. Tentu saja beliau sudah mangkat… Orang memanggilnya Pak Kodir. Sehari-hari jualan soto di pertigaan dan semua orang kenal soto ayamnya yang lezat. Jadi, ketika kabar ini merebak, orang-orang pun berpikir, “Siapa yang jual soto seenak itu lagi, ya?”

Meninggalnya Pak Kodir segera jadi kabar yang melesat ke segala arah. Tidak ada yang bicara keburukan; semua kenal beliau baik dan suka memberi makan gelandangan, pengemis, atau sesekali orang gila. Siapa pun mampir ke warungnya, tetapi tidak bawa uang, tidak perlu khawatir, karena Pak Kodir bakal memberi seporsi gratis buat Anda (kalau mau lebih juga boleh). Meski begitu, sotonya laris manis dan beliau tidak pernah rugi.

“Memberi makan orang sebanyak itu, kalau saya, wah…, ya rugi!” kata Pak Mudakir, penjual gulai kambing yang warungnya berdiri persis di seberang warung Pak Kodir.

Tapi, memang dasarnya Pak Kodir baik, tindakan ini bukan masalah. Beliau senang karena bisa menghangatkan perut orang.

“Perut hangat adalah bagian dari kehidupan, meski kita tidak disuruh untuk hidup dengan mengenyangkan diri. Maksudnya, makan secukupnya, asal perut kita ini hangat. Dengan demikian, kehidupan berjalan lancar,” begitu kata beliau semasa hidup.

Pak Kodir meyakini, hidup bukan untuk makan, tetapi makanlah untuk hidup. Jadi, beliau senang melihat sesama makhluk hidup bisa bertahan hidup dan tidak kelaparan. Dengan begitu, mereka yang tidak kelaparan itu memiliki tenaga untuk beribadah. Pak Kodir kadang-kadang membagikan beberapa mangkuk sotonya gratis. Pernah juga satu hari hanya laku beberapa mangkuk, sisanya tandas oleh mereka yang tak berduit, dan beliau pulang dengan senyum mengembang.

***

Orang tidak heran Pak Kodir bisa berbuat sebaik ini, tanpa ada yang protes. Istri sudah meninggal beberapa tahun lalu. Anak-anak? Beliau tidak pernah punya anak. Satu kali menikah, satu kali perpisahan karena kematian; itulah kisah asmara Pak Kodir yang tidak mencintai dunia secara berlebih. Ia hanya bahagia hidup di dunia ini karena di sini ia bisa berbagi.

Begitu hafalnya watak orang akan tabiat nyaris malaikat dari Pak Kodir maka tak jarang orang memanfaatkannya. Pelanggan soto kadang sengaja datang tidak membawa dompet. Begitu selesai makan, beralasan, “Waduh, Pak, dompet ketinggalan, nih!”

Dan, Pak Kodir pun melambaikan tangan, “Santai. Berarti itu rezekimu.”

Kadang-kadang ada juga yang malah secara langsung, tanpa sungkan, menadahkan tangan meminta dua piring nasi soto karena sangat kelaparan. Pak Kodir pun melayani orang semacam ini sebagaimana ia melayani mereka yang membayar. Beliau memang tidak pernah pandang bulu.

Banyak penjual seperti Mudakir yang heran dan tidak habis pikir; bagaimana bisa ada penjual seperti Pak Kodir ini? Berjualan adalah cara mereka menyambung hidup, tetapi berjualan cara Pak Kodir seperti tidak masuk akal. Lagi pula, satu-satunya rezeki beliau cuma dari jualan soto.

“Beda kalau Pak Kodir jualan apa gitu di rumahnya, selain soto di warung dekat pertigaan itu,” kata seseorang.

“Dan, beda lagi kalau punya bisnis jualan baju gaul via online,” kata yang lain.

Begitu banyak asumsi bahwa Pak Kodir mungkin punya pesugihan di rumahnya sehingga uangnya selalu saja ada dan rezekinya seperti mengalir tiada henti. Mungkin beliau membagi soto secara serampangan agar semua orang menganggapnya orang baik, padahal aslinya bejat dan senang pergi ke dukun.

Dugaan ini, sayang sekali, tidak pernah terbukti. Setiap hari Pak Kodir selalu ke masjid. Tidak ada yang pergi ke masjid sesering beliau. Beliau berjualan soto dari jam delapan pagi hingga jam dua siang. Dan sisa waktu itu, lebih banyak beliau habiskan di masjid. Beliau berada lebih lama di rumah apabila sedang tidur atau memasak soto pada dini hari sebelum azan Subuh. Masjid seperti rumah kedua. Ia juga selalu mengaji dan kadang-kadang menjadi imam salat. Tidak ada ciri orang suka pergi ke dukun pada diri Pak Kodir.

“Orang seharusnya tahu, rezeki ini datang dari Allah. Diturunkan dari langit, dan keluar dari perut bumi. Semua yang kita kerjakan, semua yang kita doakan, selalu ada balasan yang setimpal,” kata Pak Kodir, jika ada yang bercerita bagaimana orang-orang curiga ia memiliki pesugihan. Pak Kodir tertawa dan istighfar beberapa kali.

***

Tentu saja, penjual soto ini tidak pakai cara salah. Ia berjualan soto seperti biasa;
hanya saja orang tidak tahu ketika setiap kali semangkuk soto yang beliau bagikan pada siapa pun selalu kembali 10 kali lipat dari nilai laba semangkuknya.

Misal, suatu pagi seorang ibu-ibu turun dari mobil dan memesan sebungkus soto ayam untuk menyambut calon menantu. Katakanlah ibu tersebut melakukan ini darurat. Ibu ini membayar dengan uang lebih besar dan pergi setelah mengatakan terima kasih berkai-kali karena soto Pak Kodir menolongnya keluar dari situasi malu.

Atau, pernah juga begini: Pak Kodir memberi makan bocah pengamen, lalu anak itu bercerita ke semua orang hingga sampailah cerita kebaikan penjual soto pada seorang pemilik rental mobil. Orang itu lalu membeli soto beliau dan merasakan sotonya sangat enak. Ia katakan pada teman-temannya, “Soto ayam di dekat pertigaan itu enak banget. Cobain saja.”

Lalu, berbondong-bondonglah beberapa hari kemudian, orang-orang yang diketahui sebagai teman pemilik rental mobil. Karena sotonya enak, mereka memaksa Pak Kodir menerima bayaran lebih besar.

“Soto ini mengingatkan masa muda saya,” kata salah seorang.

“Soto ini memberi saya ide bagaimana jadi pengusaha baik yang dekat dengan Tuhannya,” kata orang kedua.

Begitulah cara “aneh” yang Tuhan tunjukkan demi membalas kebaikan seorang Pak Kodir.

Pak Kodir sendiri tidak pernah berharap balasan mendadak semacam ini dan beliau memberi makan orang cuma untuk membahagiakan sesama. Uang itu akan beliau olah lagi menjadi soto dan sebagian ditabungnya untuk sebuah rencana besar: membangun satu masjid di dekat tempat tinggalnya sebab masjid yang biasa ia tempati untuk shalat dan mengaji sudah begitu tua dan nyaris roboh. Tidak ada yang inisiatif merenovasi atau apalah.

Niat ini tidak pernah terucapkan, kecuali ditulis di sehelai kertas di dalam dompet Pak Kodir. Ketika beliau meninggal dan di sakunya ditemukan dompet tersebut, orang memeriksa isinya dan ketahuanlah niat membangun masjid dari tabungan yang dipunyai selama ini.

***

Pagi itu menjadi pagi paling mengharukan; kematian Pak Kodir membuat banyak orang kehilangan dan di kepala mereka terbayang masjid baru yang pernah dimimpikan seorang penjual soto. Sebuah masjid dengan kubah putih berkilau, yang di dalamnya selalu penuh orang-orang beribadah dan berdoa.

Aku sendiri ikut mengurus jenazah Pak Kodir yang bertubuh lumayan gendut, tapi beliau tidak terasa berat. Ringan seakan menggotong beberapa keping kayu bakar yang kering. Mudakir juga mengakui itu dan sadar fenomena macam ini berhubungan dengan perbuatan baik manusia semasa hidup. Ia menangis sesenggukan karena dulu berburuk sangka pada Pak Kodir.

“Kukira punya pesugihan. Malah pernah juga kukira dia bandar togel atau apalah yang tidak halal,” kata Mudakir pada suatu hari. Aku dengar ia berkata itu dengan wajah merah padam.

Sekarang, begitu menangis, Mudakir tidak bisa berucap lain selain istighfar.

Tidak butuh waktu lama, setelah ditemukan mangkat dalam posisi sujud, jasad itu telah diuruk tanah dan batu nisan telah tertancap dengan tulisan: Pak Kodir bin Jaelani. Di bawah ada tanggal lahir dan tanggal beliau wafat. Ditulis secara sederhana, dengan torehan huruf agak berantakan karena yang menulis itu tidak kuat menahan tangisnya. Padahal, ia dianggap paling tegar karena semua yang di sana tidak bisa menulis lebih baik. Orang-orang gemetar begitu hebatnya, hingga ada yang tak kuat berdiri.

“Siapa yang jual soto seenak itu lagi, ya?”

Pertanyaan itu kembali terngiang selama tujuh hari berturut-turut setelah kematian Pak Kodir. Aku pelanggan soto ayamnya. Tetapi, tidak pernah berbohong dengan bilang dompetku ketinggalan atau dijambret orang. Aku bawa uang dan membayar soto seperti sewajarnya. Aku tidak protes mengapa Pak Kodir sering memberi orang yang tidak dikenal makanan. Bahkan, anak jalanan yang berkelompok kadang membawa teman mereka untuk turut makan.

Aku hanya berkata, “Bagaimana menata niat itu, Pak?”

Selalu, Pak Kodir menjawabnya dengan santai, “Kita punya rahasia dengan Allah. Dia Mahatahu dan kita tidak tahu apa-apa, kan? Dia sudah tahu apa yang kita niatkan dan lakukan apa yang menurut Nak Toni baik. Niat tidak perlu diumbar, yang penting menghasilkan kebaikan buat orang sekitar. Saya kira, itulah cara menata niat. Saya tidak tahu cara menjelaskannya lebih detail. Maklum, bukan orang pinter.” Ah,begitulah engkau, Pak…. (*)

Gempol, 13 April 2016



Tentang Penulis : Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media lokal dan nasional.

Sumber : Republika, Minggu 17 April 2016




Cerpen Feng Jicai : Pertunjukan Menyapu Jalan

Pertunjukan Menyapu Jalan

Oleh FENG JICAI

Karya Cerpen, Cerpen Feng Jicai, Cerpen Pertunjukan Menyapu Jalan
ilustrasi oleh Bagus

“Minggu Bersih-Bersih Nasional di mulai hari ini,” kata Sekretaris Zhao, “dan para pejabat di semua daerah akan ikut serta dalam acara menyapu jalan. Ini daftar peserta kita––seluruh pejabat teras kota dan para tokoh masyarakat. Kami baru saja menyalinnya di kantor untuk Anda tanda tangani.”

Lelaki itu tampak seperti layaknya sekretaris eselon atas: kerah bajunya tampak rapi jali, setelan jas militer Mao yang pas badan rapat terkancing; kulit wajahnya pucat; kacamatanya fungsional. Lagak lagunya yang lembut dan santun serta suaranya yang sengaja dimerdu-merdukan menyembunyikan karakternya yang keras dan gampang naik darah.

Wali kota meneliti daftar yang disodorkan sekretarisnya, sekan-akan kedelapan puluh nama yang tertera adalah orang-orang yang terpilih untuk pergi ke luar negeri. Berkali-kali dia menoleh ke langit-langit putih yang tinggi seraya berpikir keras.

“Mengapa tak ada orang dari Persatuan Perempuan?” tanyanya.

Sekretaris Zhao berpikir sejenak. “Oh, Anda benar ––itu dia! Kami sudah memasukkan seluruh kepala jawatan kantor pemerintah di kota ini ––Dewan Olahraga, Dewan Persatuan Pemuda, Persatuan Buruh, Persatuan Sastrawan dan Seniman–– bahkan beberapa guru besar ter kenal dari universitas. Yang terlupakan adalah Persatuan Perempuan.”

“Perempuan adalah sokoguru masyarakat. Bagaimana mungkin kita melupakan perwakilan kaum perempuan?” Sang wali kota lebih terdengar berpuas diri ketimbang kesal. Hanya seorang pemimpin yang sanggup memikirkan segalanya. Inilah saatnya kepemimpinan sejati memainkan peran.

Sekretaris Zhao teringat ketika suatu kali wali kota mengomel karena hidangan ikan tak disajikan dalam jamuan makan untuk menghormati sejumlah tamu dari luar negeri.

“Tambahkan dua nama dari Persatuan Perempuan dan pastikan mereka adalah petinggi atau orang yang memiliki jabatan penting dalam organisasi itu. ‘Pemimpin Pawai Bendera Merah 8 Maret’ (Hari Buruh Perempuan Internasional), ‘Keluarga Para Martir’, atau ‘Buruh Panutan’ boleh juga.” Seperti seorang guru SD yang mengembalikan PR yang buruk kepada muridnya, wali kota menyerahkan daftar nama yang belum lengkap itu kepada sekretarisnya.

“Baik, Yang Mulia, saya akan langsung mengerjakannya. Daftar yang lengkap akan berguna jika nanti ada lagi acara semacam ini. Dan saya harus mengontak setiap orang secara bersamaan. Acara menyapu jalan dijadwalkan pukul dua siang di alun-alun kota. Apakah Anda bisa hadir?”

“Tentu saja. Sebagai wali kota, aku harus memberikan teladan.”

“Mobil akan menjemput Anda di gerbang rumah pukul satu tiga puluh. Saya akan mengiri ngi Anda.”

“Bagus,” sahut sang wali kota acuh tak acuh seraya menggaruk-garuk kepalanya dan membuang muka.

Sekretaris Zhao bergegas pergi.

Pada pukul satu tiga puluh siang sang wali kota melaju ke alun-alun dalam mobil limosinnya. Segenap karyawan, penjaga toko, pelajar, ibu rumah tangga, dan para pensiunan ke luar rumah untuk menyapu jalan dan udara begitu tebal oleh debu. Sekretaris Zhao bergegas menutup kaca jendela mobil. Di dalam mobil hanya tercium bau samar menyenangkan bensin dan kulit pelapis kursi.

Di alun-alun mereka menepi di samping barisan limosin aneka warna. Di depan mereka sekelompok pejabat tinggi dan orang penting telah berkumpul untuk menunggu kedatangan sang wali kota. Seseorang telah mengatur para polisi berseragam untuk berdiri berjagajaga di setiap sudut.

Sekretaris Zhao melangkah keluar dari limosin dan membukakan pintu lebar-lebar bagi bosnya. Para pejabat dalam kerumunan yang tengah menunggu melangkah maju dengan wajah tersenyum lebar menyambut sang wali kota. Semua orang mengenalnya dan berharap menjadi orang pertama yang menyalami tangannya.

“Selamat siang. Ah, senang bertemu dengan Anda. Selamat siang…” Sang wali kota berkata berulang-ulang seraya menyalami mereka satu per satu.

Seorang polisi tua mendekat, diikuti dua polisi lain yang lebih muda seraya mendorong gerobak penuh sapu ijuk besar. Polisi tua itu memilih satu sapu paling bagus berukuran agak kecil dan menyerahkannya dengan penuh hormat kepada wali kota seperti seorang Tibet menyerahkan hada ––sapu tangan sutra sebagai tanda hadiah selamat datang–– kepada seorang tamu kehormatan. Ketika para orang terpandang lainnya telah mendapatkan sapu mereka masing-masing, seorang petugas berseragam dengan pita merah di lengan membawa mereka semua ke tengah alun-alun. Secara alamiah sang wali kota berjalan paling depan.

Kelompok-kelompok orang berdatangan dari tempat kerja mereka untuk menyapu lapangan alun-alun yang luas. Meihat prosesi agung orang-orang yang menyandang sapu dengan iringan para polisi dan petugas yang diselingi jepretan kamera para fotografer ini, para buruh itu menyadari bahwa iring-iringan itu adalah rombongan orang penting dan mereka pun tertarik untuk melihat dari lebih dekat. Betapa luar biasa seorang wali kota menyapu di jalanan, pikir Sekrretraris Zhao, yang dipenuhi rasa bangga tanpa sadar saat dia berjalan di samping wali kota dengan sapu tersandang di bahu.

“Di sinilah tempatnya,” ujar si petugas berpita merah ketika mereka telah mencapai titik yang telah ditentukan.

Kedelapan puluh dua orang terkemuka itu pun mulai menyapu.

Kerumunan orang-orang yang melihat, yang terus dihalau menjauh oleh polisi, berceloteh ribut dengan riang gembira, “Lihatlah orang yang di sebelah sana itu.”

“Yang mana? Yang berbaju hitam?”

“Bukan, yang gemuk botak berbaju biru.”

“Jangan ngobrol saja!” bentak seorang polisi.

Alun-alun itu sangat luas sehingga mereka bingung harus menyapu di sebelah mana. Pelataran yang ditembok sudah tampak bersih. Tapi mereka mulai dari sana. Mereka menyapu sedikit kotoran bolak-balik dengan sapu-sapu besar mereka. Sampah yang paling mencolok adalah sehelai bungkus permen yang mereka kejar beramai-ramai seperti anak-anak mengejar capung.

Para fotografer merubungi sang wali kota. Sebagian bahkan merunduk dan menekuk sebelah lutut untuk mencari gambar yang bagus dari sudut menyamping. Bagai segumpal awan di tengah badai, sang wali kota terus-menerus disinari oleh lampu kilat kamera. Lalu seorang lelaki bertopi yang membawa kamera video menghampiri Sekretaris Zhao.

“Saya dari stasiun TV,” ujar lelaki itu. “Bisakah Anda meminta mereka semua berbaris dalam satu barisan agar mereka tampak rapi di kamera?”

Sekretaris Zhao meminta pendapat wali kota yang ternyata menyetujui permintaan ini. Orang-orang penting itu kemudian membentuk satu barisan panjang dan mulai menggerak-gerakkan sapu mereka demi kamera, tak peduli ada kotoran atau tidak di atas permukaan tanah.

Kamerawan sudah hendak mengambil gambar ketika dia sekonyong-konyong berhenti dan berlari ke arah wali kota.

“Maaf, Yang Mulia,” ujarnya, “tapi Anda semua harus menghadap ke arah lain karena Anda semua memunggungi matahari. Selain itu saya juga ingin agar seluruh barisan berbalik agar Anda berada di paling depan.”

“Baiklah,” kata sang wali kota menyetujui dengan penuh semangat dan bergegas memimpin barisan, seperti sekawanan penari barongsai, dengan gerakan yang wagu. Tak lama mereka pun kembali menyapu. Dengan senang hati kamerawan itu berlari ke muka barisan, mengangkat ujung topinya, dan membidikkan kamera ke arah wali kota. “Baiklah,” katanya saat kamera mulai merekam adegan, “ayunkan sapu. Bersama-sama––lakukan dengan penuh penghayatan––ya, begitu! Tolong angkat dagu, Yang Mulia. Tahan––bagus––ya!”

Dia mematikan kamera, menjabat tangan sang wali kota, dan mengucapkan terima kasih karena telah berkenan membantu seorang reporter jelata menunaikan tugasnya.

“Mari kita sebut ini hari yang luar biasa,” ujar si petugas berpita lengan merah kepada Sekretaris Zhao. Lalu dia menoleh ke arah wali kota. “Anda telah berhasil menyelesaikan tugas mulia ini dengan gemilang,” ujarnya.

“Bagus––terima kasih sudah repot-repot,” sang wali kota berbasa-basi seraya tersenyum dan berjabatan tangan.

Beberapa wartawan datang memburu wali kota. “Ada pesan, Yang Mulia?” Seorang wartawan bertubuh tinggi kurus bertanya dengan amat bersemangat.

“Tak ada pesan khusus.” Wali kota berhenti berbicara sejenak. “Semua orang harus menjaga kebersihan kota.”

Rombongan wartawan itu menuliskan kata-kata berharga sang wali kota di buku catatan mereka.

Para polisi menyeret kembali gerobak dan semua orang mengembalikan sapu mereka. Sekretaris Zhao mengambil sapu di tangan wali kota dan menaruhnya di gerobak.

Saatnya pergi. Wali kota berjabat tangan lagi dengan semua orang.

“Selamat tinggal ––selamat tinggal–– selamat tinggal.” Yang lain menunggu wali kota masuk ke dalam limosinnya sebelum mereka masuk ke limosin masingmasing.

Limosin sang wali kota mengantarnya ke rumahnya. Di sana pelayan telah menyiapkan air mandi hangat dan sabun wangi serta handuk bersih. Dia menikmati mandi santai dan keluar dari kamar mandi dengan kulit kemerahan dan pakaian bersih, meninggalkan debu dan letih di dalam bak mandi.

Saat dia menuruni tangga rumah untuk makan malam, cucu lelakinya bergegas menyambutnya di ruang tengah.

“Kakek, lihat! Kakek ada di TV!” Di layar televisi sang wali kota tampak sedang melakukan pertunjukan menyapu jalan, layaknya seorang aktor. Dia membuang muka dan menepuk bahu cucunya.

“Itu tak perlu ditonton. Ayo kita makan.” (*)




Tentang Penulis : Feng Jicai lahir di Tianjin, Tiongkok, 1942. Selain dikenal sebagai pengarang terkemuka, dia adalah pelukis pemenang penghargaan. Pada 1966, saat terjadi Revolusi Kebudayaan, buku-buku dan lukisannya dimusnahkan penguasa karena dianggap kontrarevolusi. Dia lalu dipaksa berhenti menulis dan melukis serta dihukum kerja paksa. Namun, diam-diam dia terus menulis meski tak dapat memublikasikan karya-karyanya yang kritis terhadap penguasa hingga 1977. Beberapa karyanya (dalam terjemahan bahasa Inggris) adalah The Boxers (1977) dan Voices from the Whirlwind: An Oral History of the Chinese Cultural Revolution (1991).

Cerpen ini diterjemahkan Anton Kurnia dari “The Street Sweeping Show” terjemahan Susan Wilf Chen dari bahasa Mandarin dalam antologi International Story, St Martin Press, New York, 1994, susunan Ruth Spack.

Sumber : Jawa Pos, Minggu 17 Januari 2016