Puisi - puisi Joko Pinurbo

Penyair Joko Pinurbo bisa dibilang seorang penyair yang membumikan puisi dari tempatnya nun jauh di langit. Melalui karya-karya puisinya yang kerap menggunakan metafora sehari-hari, puisi ibarat seorang teman lama yang berkunjung ke rumah jiwa pembaca. Bagi Jokpin, puisi tak hanya endapan emosi meledak-ledak yang datang spontan dan butuh penyaluran, namun puisi lebih merupakan pencarian makna filosofis atas tiap pengalaman kemanusiawian yang disampaikan dengan bahasa komunikatif, akrab dan cepat dipahami khalayak penikmat sastra. Cermati saja petikan bait ke IV dari salah satu karya puisinya yang berjudul KENANGAN berikut ini:

Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang bencimu. Ia membencimu
dengan lebih untuk menunjukkan
bahwa ia mencintai dirinya sendiri dengan kurang.

Jokpin ingin menyampaikan pada pembaca kalau sebenarnya tiap orang sebagai individu sering dihasut oleh kebencian yang ditumbuhkannya dengan subur dalam hati. Membenci berakibat meresahkan jiwa, sebab orang akan dibuat cemas, gelisah, dan marah tanpa alasan yang masuk akal. Akibatnya, "si-tukang benci" lebih sibuk mengurusi orang yang dibencinya dan lalai memperbaiki diri sendiri. Dalam bahasa puitis Jokpin, orang yang dihasut dengan perasaan membenci menunjukkan bahwa ia mencintai dirinya sendiri dengan kurang.

Joko Pinurbo, Jokpin, puisi jokpin terbaru


Ada tujuh karya puisi Joko  Pinurbo terbaru, yang sebelum dimuat dalam rubrik AKHIR PEKAN PUISI, Harian KOMPAS, Sabtu 5 Maret 2016. Silakan dinikmati dan temukan makna filosofis yang terkandung dalam tiap karya puisi terbaru tersebut, semoga bisa memberikan manfaat dan menjadi bahan refleksi diri bagi pembaca.

Kenangan
Oleh JOKO PINURBO


Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang cukurmu. Ia memangkas
rambutmu dengan sangat hati-hati
agar gunting cukurnya tidak melukai keluguanmu.

Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang baksomu. Ia membuat
baksomu dengan sepenuh hati seakan-akan kau
mau menikmati jamuan terakhirmu.

Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang fotomu. Ia memotretmu
dengan sangat cermat dan teliti agar mendapatkan
gambar terbaik tentang bukan-dirimu.

Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang bencimu. Ia membencimu
dengan lebih untuk menunjukkan
bahwa ia mencintai dirinya sendiri dengan kurang.

(Jokpin, 2016)


Yang
Oleh JOKO PINURBO


Perjalanan nasib saya tak dapat dilepaskan
dari pesan-pesan indah yang dinaungi kata yang.

Pesan ibu: Yang kauperlukan hanya tidur
yang cukup, pikiran yang jernih, dan hati yang pasrah.
Pesan hujan: Yang tumpah akan menjadi berkah.
Pesan jalan: Yang jauh akan tertempuh
asal kau sabar mengikutiku selangkah demi selangkah.

Dalam untung dan malang saya selalu teringat
pada kelembutan kata yang. Dan setiap memandang
kata yang, saya merindukan seorang ibu
yang sabar menuai hujan sepanjang jalan.

Berjalan bersama yang kadang memang
terasa lamban dan membosankan, lebih-lebih
jika hidupmu selalu diburu-buru oleh tujuan.
Kau dapat saja mengatakan, “Yang kauperlukan
hanya tidur cukup, pikiran jernih, dan hati pasrah.”

Kali lain, tanpa yang, perjalananmu terasa
garing dan tergesa. Karena itu, kau lebih suka bilang
“Aku berlindung pada matamu yang polos dan bibirmu
yang lugu dari godaan rindu yang menggebu”
ketimbang “Aku berlindung pada mata polos
dan bibir lugumu dari godaan rindu menggebu”.

Berjalanlah. Jika hatimu macet parah dan endasmu
mau pecah, berserahlah pada kelembutan kata yang.

Pesan ranjang: Yang dedel-duel dalam perjalanan
akan disembuhkan oleh tidur yang cantik dan ramah.

(Jokpin, 2016)


Pada Suatu
Oleh JOKO PINURBO


Guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata,
“Kiamat tak akan ada selama kau masih dapat
mengucapkan pada suatu hari atau pada suatu ketika.”

Dengan pada suatu hari atau pada suatu ketika
engkau yang kacau dapat disusun kembali,
aku yang beku dapat mencair dan mengalir kembali.

Dalam pelajaran mengarang di sekolah
kau pasti pernah menggunakan pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Begitu pun saya.

“Hidupmu lebih luas dari pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Carilah pada suatu yang lain,”
pesan guru saya saat saya lulus dan berpamitan.

Pada suatu cium surga samar-samar terbuka;
maut tersipu, silau oleh cahaya matamu.
Pada suatu tidur bantal terpental, guling terguling,

dan di atas ranjang yang runtuh doaku utuh.
Pada suatu kenyang piring bersabda, “Nikmat apa lagi
yang kauminta bila lidahmu tak pernah bisa bahagia?”

Pada suatu syukur ada suara burung trilili
yang gemar bermain tralala sepanjang waktu
dan tak pernah bertanya, “Apakah kebahagiaan itu?”

Pada suatu mandi tak ada sumuk yang abadi.

(Jokpin, 2016)


Keluarga Puisi
Oleh JOKO PINURBO


Aku mendapat tugas mengarang dengan tema keluarga
bahagia. Aku siap melaksanakan tugas. Semoga guruku
yang baik dan benar dapat menikmati karanganku.

Ibu sedang mekar di ranjang,
harumnya tersebar ke seluruh kamar.
Ayah sedang berembus di beranda
dan aku masih menyala di atas meja.

Pagi-pagi ibu sudah mengepul di dapur,
ayah berderai di halaman,
dan aku masih gemercik di tempat tidur.

Kakek sudah menguning,
tak lama lagi akan terlepas dari ranting
dan menggelepar di pekarangan.
Nenek sudah hampir matang,
sudah bersiap meninggalkan dahan
dan terhempas di rumputan.


Guruku tersenyum misterius membaca tulisanku.
Ia memanggilku hanya untuk mengatakan bahwa aku
telah membuat karangan bagus tentang keluarga gaib.

(Jokpin, 2016)


Dihadapan Rahasiapa
Oleh JOKO PINURBO


– untuk Adimas Immanuel

Seorang penyair muda meninggalkan kotanya
dan pergi jauh ke kota impiannya. Foto dirinya
tersenyum manis di dinding kamarnya: “Hati-hati
di jalan. Jalanmu adalah sajak terpanjangmu.”

Di manakah kota impiannya tersembunyi?
Di sebuah surga yang hampir cantik macetnya
atau di sebuah hati yang belum ia temukan kodenya?
Ia tak mengerti sebab pergi adalah mencari.

Kadang ia bertanya, di hadapan siapa ia menulis.
Di hadapan kata-kata, itu pasti. Di hadapan
yang tak terucapkan kata-kata, itu lebih pasti.
Ia curiga, jangan-jangan jawab terbaik terselip
di senyum manis foto dirinya di dinding kamarnya.

Kata-kata datang dan pergi, meninggalkan bunyi,
menyisakan sunyi. Ketika jam berdentang
memukul waktu, ia teringat sebuah lagu keroncong
yang dinyanyikan seorang penyanyi Solo:
“Engkau mengalir sampai jauh, akhirnya ke aku.”

(Jokpin, 2016)


Lubang Kopi
Oleh JOKO PINURBO


Jam tiga pagi Waktu Indonesia Bagian Kopi
lampu tidur di matanya menyala kembali.
Hujan tinggal bekas dan kopi sudah menjadi miras.

Ia sedang jatuh cinta pada kantuknya
ketika dilihatnya lubang besar di layar komputernya.
Lubang kopi yang hitam menganga.

Kata-kata berjatuhan ke dalam lubang
dan tak kembali. Dan kembali sebagai sunyi.

Dari dalam lubang muncul seekor kucing
bermata cerlang dan manis. Kucing biru yang dulu
hilang di balik hujan dan ia hampir menangis.

Kucing itu terbuat dari kata kangen yang keluar
dari kamus, lalu masuk ke lubang sunyi
jam tiga pagi Waktu Indonesia Bagian Kopi.

(Jokpin, 2016)


Misal
Oleh JOKO PINURBO


Misalkan Aku datang ke rumahmu
dan kau sedang khusyuk berdoa,
akankah kau keluar dari doamu
dan membukakan pintu untukKu?

(Jokpin, 2016)

* Gambar dari situs idwriters com