Opini Jakob Sumardjo : Kedondong atau Salak

Kedondong atau Salak

Oleh JAKOB SUMARDJO



Jakob Sumardjo, Budayawan, Opini Jakob Sumardjo

Dalam dasawarsa 1960-an terkenal lagu "Dondong Opo Salak" oleh penyanyi Kris Biantoro. Judul lagu itu berasal dari ungkapan rakyat Jawa tentang dilema pilihan hidup.

Kedondong adalah buah yang kulitnya halus, tetapi isinya penuh "duri". Salak adalah buah yang kulitnya kasar yang dapat melukai jari, tetapi isinya justru halus, tidak membahayakan mulut seperti buah kedondong. Hidup ini tinggal memilih, kulitnya atau isinya, tampak permukaan atau yang tersembunyi di dalam, yang dangkal atau yang dalam.

Kaum perempuan sering menemui dilema ini, pilih suami yang tindak-tanduknya kasar dan wajahnya tidak tampan, tetapi hatinya baik setengah mati; atau pilih suami yang tampan dan tindak-tanduknya halus bin sopan, tetapi kejam kurang tanggung jawab. Memilih pemimpin pun menghadapi dilema semacam itu. Pemimpin salak atau pemimpin dondong.

Pemimpin kedondong menampakkan dirinya sebagai pembela rakyat sejati, menggendong anak kecil tukang sayur di depan kamera, tutur katanya penuh nasihat-nasihat hidup orang saleh, yang intinya tampil sebagai manusia sempurna. Namun, kepemimpinannya tak membawa perubahan apa pun; yang berubah hanya dirinya yang kian kaya. Diam-diam jet pribadinya lima.


Seperti Bima

Pemimpin salak tak pandai bicara. Seperti Bima yang tak bisa berbicara halus, bahkan kepada para dewa, Bima tetap berbahasa kasar. Tindak-tanduknya tak sopan, bahkan duduk pun tak mau di hadapan raja dan dewa. Ia selalu berdiri berkacak pinggang dalam sidang-sidang negara. Bima itu agak urakan, kalau perlu menendang langsung tanpa basa-basi. Namun, di balik kekasarannya yang dapat menyakitkan, moralitasnya tinggi, pembela yang lemah, tegas dalam keadilan, pemberani, tidak takut siapa pun karena berpegang pada kebenaran.

Dalam situasi Indonesia sekarang ini, yang sudah 70 tahun merdeka tak mengubah apa-apa, kita memerlukan pemimpin kedondong atau pemimpin salak, kalau perlu pemimpin durian sekalipun? Nasib bangsa dan negara ini ada di tangan para pemimpinnya. Negara biasa hancur karena kekuasaan ada di tangan pemimpin kedondong. Luarnya halus dalamnya kasar. Luarnya bersih di dalamnya menguning. Luarnya wangi dalamnya busuk.

Negara yang selama 70 tahun telah "rusak" oleh para pemimpinnya ini memerlukan pemimpin paradoks seperti Bima. Orangnya boleh "kurang ajar", tetapi hatinya priayi. Negara ini mirip daerah wild west dalam film-film western atau cowboy tahun 1950-an ala Hollywood.

Dalam film cowboy itu selalu muncul tokoh Lone Ranger semacam John Wayne yang suka "tembak dulu, urusan belakang". Dalam sebuah town yang dikuasai bandit, sheriff dan hakim dapat disogok sehingga penduduk hidup dalam ketidakadilan di luar hukum. Yang kuat berkuasa, yang berkuasa menentukan siapa benar dan siapa salah. Sebuah wilayah wild west, kota dikuasai para Korawa yang kasar luar-dalam.

Kalau suatu daerah yang para pemimpinnya sudah lebih dari 50 persen "jahat" atau bahkan tiga perempatnya "jahat", maka diperlukan hukum baru yang luar biasa. Kita memerlukan John Wayne yang datang entah dari mana. Situasi darurat bahaya memerlukan tindakan darurat juga, yakni pemimpin salak atau durian. Kita memerlukan sapu pembersih macam Henry Fonda, Burt Lancaster, atau Allan Ladd, dalam film High Noon perlu Garry Cooper. Mereka ini jagoan-jagoan pembela rakyat tanpa pamrih seperti tersua juga dalam banyak cerita silat. Setelah situasi kembali normal, para jagoan ini menghilang dari kota, menolak diangkat jadi sheriff, mengembara mencari wild west lain.

Itulah pemecahan secara western. Di Indonesia sendiri sudah lama dikenal adanya zaman edan, yang para pemimpinnya bersih di luar busuk di dalam. Memang masih ada menteri-menterinya yang baik dan jujur, tetapi tidak mampu mengatasi kaum kedondong ini. Mungkin karena bangsa ini terlalu religius, lalu menyerahkan kekacauan negara ini kepada Tuhan Yang Mahaadil.


Zaman edan

Pada zaman edan ini yang penting tiap orang harus eling dan waspada. Eling adalah senantiasa ingat pada perintah Tuhan, dan waspada adalah sikap untuk tak ikut dalam kejahatan budaya para koruptor. Kita tinggal tunggu datangnya Ratu Adil, seperti film-film western menunggu datangnya John Wayne.

Zaman edan mengacu pada kepercayaan lama tentang penghancuran dunia kalau hampir seluruh manusia (pemimpin) telah jahat. Tak seperti para cowboy Hollywood yang langsung dar-der-dor menghabisi para bandit negara, di Indonesia orang tak boleh mengadili seperti itu. Pengadilan Tuhan yang ditunggu. Itu sebabnya, selama ini kita toleran terhadap para kedondong negara karena hanya Tuhan yang akan menghakimi secara adil.

Rupanya kita masih toleran terhadap para pemimpin kedondong. Tidak menyukai pemimpin salak dan durian. 




Tentang Penulis : Jakob Sumardjo adalah seorang budayawan.

Sumber : Surat Kabar Harian Kompas, Sabtu 26 Maret 2016