Cerpen Miranda Seftiana : Geheugen Gallery

Geheugen Gallery

Oleh MIRANDA SEFTIANA


Karya Cerpen Koran Kompas, Cerpen Miranda Seftiana, Cerpen Geheugen Gallery
ilustrasi Dea Aprilia

Rijksmuseum Volkenkunde
di musim bunga tulip bermekaran. Aku melangkah gontai menuju pintu masuk museum nasional Belanda yang terletak di bagian timur laut Museumplein, Amsterdam, Belanda ini. Sebuah tempat yang dirancang oleh Pierre Cuypers sebagai dedikasi bagi seni, sejarah, dan kenangan. Membawa hati yang baru saja dilepaskan demi sebuah tanggung jawab.

Melewati taman, kulihat sebagian orang sedang sibuk mengabadikan momen di depan bangunan yang indah. Terasa wajar kiranya jika Rijksmuseum dinobatkan sebagai museum paling terkenal di negeri kincir angin ini dengan jumlah pengunjung mencapai dua juta lebih per tahun. Meski di luar terlihat ramai, ternyata pada bagian dalam cukup sepi. Membuat atmosfer masa lalu semakin kental membalut bangunan yang pertama kali dibuka sejak tahun 1885 ini.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” suara lembut namun berat itu sedikit mengusikku yang sedang melihat beberapa koleksi tahun 1100 di lantai pertama.

Keningku sedikit berkerut saat menatap lelaki di depanku ini. Tubuhnya tegap dalam balutan kemeja berwarna hitam yang membuat kulit putih itu semakin jelas. Matanya biru laut dan teduh. Rasanya dia lebih mirip wisatawan daripada penjaga museum.

Dia tersenyum. “Apakah Anda ingin melihat-lihat koleksi kenangan di sini?”

Tawaran yang menggiurkan. Terlebih aku adalah penyuka sejarah, kolektor kenangan. Itu pula yang turut menjadi alasanku memilih studi ilmu sejarah. Mungkin jika ada studi tentang kenangan aku akan memilihnya juga. Tetapi bukankah kenangan dan sejarah sebuah kesatuan?

Aku mengangguk. “Tentu saja, Tuan.”

Kami berjalan menuju lantai ketiga, sebuah galeri tempat menyimpan barang peninggalan abad ke-18 Masehi. Dia bilang di sanalah benda-benda yang memiliki kenangan bagi pemiliknya tersimpan.

Mataku seketika memicing saat bertumbuk pada sebuah benda yang terkesan tak lazim disimpan dalam sebuah museum. Terlebih sekelas Rijksmuseum yang terdiri dari 4 lantai ini. Ia seakan mengerti dengan jalan pikiranku.

“Itu namanya sekaca Cempaka. Ia adalah lambang keabadian cinta.”

***

“Apa tidak bisa jika kamu tinggal di sini saja?” Seorang perempuan bicara dengan isak tertahan di antara suara elang yang beterbangan pada langit terbias tembaga.

Lelaki di depannya menggeleng pelan. Terlihat seragam bercorak khas seorang anggota angkatan bersenjata itu kumal dan kotor. Bahkan sepertinya ada noda darah di sana.

“Niet doen …” ucapnya lemah. Dialek Belanda terdengar kental dalam nada bicaranya.

“Kau tahu sendiri, aku bisa dianggap pengkhianat negara jika tetap bertahan di sini.”

“Tetapi kamu lebih dulu membuatku menjadi pengkhianat, Dageraad!” sergah perempuan itu cepat. Ia merasa tidak diterima dengan perkataan lelaki bernama Dageraad itu.

Bagaimanapun, bagi orang Banjar, mencintai Walanda adalah sebuah kenistaan terbesar. Terlebih bagi perempuan.

Dageraad terdiam. Betapa ternyata menembakkan satu peluru ke dada musuh lebih mudah daripada jatuh cinta. Karena setelah itu kau tak perlu turut terluka seperti ini.

“Apa suatu saat kamu akan kembali, Dage?”

Lelaki itu menarik napas dalam. Coba mengalirkan udara lebih banyak untuk mengurangi sesak pada rongga dadanya.

“Andai kamu tahu, Galuh, jika saja membawamu pergi dari sini tak lebih membahayakan, tentu aku telah melakukannya sebelum ini.” Batin Dageraad berujar lirih.

“Dage….”

“Aku belum bisa menjanjikan itu padamu, Diamant. Tetapi satu hal yang harus kamu tahu, hanya ada dua warna Cempaka di dunia ini.”

“Putih disimpan lelaki, sebagai tanda perasaan itu murni. Dan kuning disimpan perempuan, sebagai perlambang ia sakral.” Galuh menyambung kalimat Dageraad.

“Dan keduanya akan selalu abadi selama tidak ada yang memecahkan salah satu darinya. Itu bermakna, selama tak ada hati yang terluka, perasaan itu akan tetap terjaga.”

Sepasang manusia berbeda bangsa itu tersenyum tipis. Tangan mereka mengusap cempaka yang tersimpan dalam botol kaca dari minuman bergrafir bahasa Belanda dengan 1829 turut tercetak di sana. Galuh sendiri yang merangkai sekaca cempaka itu untuk dibawa Dageraad ke negerinya sebagai kenangan. Menurut legenda, jika berjodoh, kelak sepasang cempaka kuning dan putih yang disimpan dalam botol kaca dengan air itu akan ada di tempat yang sama. Tetapi jika tidak, ia akan tetap membuat pemiliknya saling terikat meski terpisah asalkan tidak dipecahkan.

“Ik hou van jou, Diamant.”

“Ik hou ook van jou, Dage.”

Ya. Dageraad memang selalu memanggil Galuh dengan sebutan Diamant yang berarti intan. Karena dalam budaya pendulang di tanah Banjar, intan disebut dengan Galuh sebagai sapaan penghormatan sekaligus lambang kasih sayang seperti seorang ayah pada putrinya atau kekasih terhadap orang yang dicintainya.

Sepuluh tahun menginjak tanah Banjar nyatanya cukup mempengaruhi banyak sisi kehidupan dalam diri seorang Dageraad Van Dallen, marinir angkatan darat Walanda itu. Termasuk tentang hatinya.

“Maukah kamu berjanji menjaga hatimu untukku?” Mata biru laut nan teduh itu menatap dalam. Ada sebuah pengharapan yang tecermin di sana.

Galuh mengangguk halus. Tentu, Dage. Tentu saja aku akan menjaga hatiku meski tanpa kamu memintanya. Sebab, hakikat hati seperti cempaka. Ia akan hanya terdiri dari dua warna, kuning dan putih. Dan cempaka hanya akan tumbuh pada tanah yang tepat. Laksana cinta, tidak akan bersemi bila bukan pada hati yang tepat.

***

“Itu sebabnya ruangan ini dinamakan galeri kenangan.” Dia mengakhiri kisahnya.

“Apa Dage.” Aku baru saja hendak menanyakan tentang Dageraad ketika menyadari sosok lelaki yang sedari tadi menemani tak lagi berada di sisiku.

Mataku melirik ke segala penjuru ruangan yang didominasi warna coklat kayu lembut ini. Tetapi tak ada seorang pun di sini. Bahkan tak ada benda koleksi apa pun yang terpajang di galeri ini. Berbeda sekali dengan sebelumnya. Hingga sebuah papan pengumuman itu seketika membuat tubuhku bergetar.

Geheugen Gallery didedikasikan untuk mengenang pahlawan kita, Dageraad Van Dallen. Resmi dibuka….

Foto lelaki di banner itu, dia mirip sekali dengan yang tadi menemaniku. Mataku membelalak dengan sempurna. Tanggal pembukaan yang tertera di sana, baru akan dibuka bulan depan. Jadi, dia… seketika aku merasa sedang mengalami de javu.

Bergegas kulangkahkan kaki menuju anak tangga. Ada sesuatu yang terasa menelisik. Mengapa perpisahan Dageraad dan Galuh seakan kini sedang bereinkarnasi padaku? Hanya bedanya, dia yang berdarah Indonesia dan harus kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdi.

“Cempaka bukan tulip. Ia akan selalu sepasang, putih dan kuning. Takkan bisa tumbuh jika bukan pada tanah yang tepat….”

Kalimat itu kembali terngiang di telingaku. Ucapan Fajar tadi saat aku mengantarnya ke bandara.

Tapi apa bisa sepasang cempaka itu tersimpan di tempat yang sama atau hanya akan tersimpan dalam galeri kenangan di hati kita, Fajar? Saat kamu memilih jalan sendiri. Kembali ke tanah di mana cempaka terlahir dan bertumbuh, tanpa aku bisa mendampingi. Perempuan Walanda yang menunggumu di sudut Geheugen Gallery dengan kenangan yang abadi. Seperti milik Diamant dan Dageraad. (*)



Tentang Penulis : Miranda Seftiana, seorang penulis yang lahir di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Kesehariannya diisi dengan menulis di beberapa media, baik cetak maupun “online”. Beberapa karyanya telah dibukukan, antara lain dalam “Senandung Cinta untuk Bunda” yang diterbitkan oleh Leutika Prio pada 2011. Selain sebagai penulis, ia juga bekerja di salah satu penerbit buku di Yogyakarta

Sumber : Kompas, Minggu 27 Maret 2016

Cerpen Fyodor Dostoyevsky : Seorang Petani

Seorang Petani

Oleh FYODOR DOSTOYEVSKY


Karya Cerpen, Cerpen Fyodor Dostoyevsky, Cerpen Seorang Petani


Ini adalah Senin Paskah. Udara terasa hangat dan langit tampak biru, tetapi aku terjebak dalam kemuraman. Aku berkeliling menjelajahi sudut-sudut halaman penjara, menghitung jeruji di dalam pagar besi yang kokoh. Sebetulnya aku tidak sungguh-sungguh ingin menghitung jeruji. Aku melakukannya lebih karena kebiasaan saja.

Hari itu adalah hari “liburan” keduaku di penjara. Inilah hari-hari saat seorang narapidana tidak perlu bekerja. Kebanyakan di an tara para narapidana itu memilih mabuk-mabukan dan berkelahi. Yang lainnya bernyanyi keras-keras, lagu-lagu yang menjijikkan. Semua ini berakibat buruk kepadaku. Aku bahkan merasa sakit. Aku tidak pernah tahan dengan pesta-pesta yang dilakukan orang-orang jelata ini. Di dalam penjara, pesta-pesta itu bahkan lebih mengerikan lagi daripada yang terjadi di luar sana.

Pada masa liburan, para sipir tidak merasa perlu berepot-repot memeriksa para narapidana. Mereka sepertinya berpikir bahwa para narapidana harus diberi kesempatan untuk menikmati saat bersenang-senang sekali dalam setahun. Kalau tidak, keadaan di sini akan menjadi lebih buruk lagi sepanjang waktu.

Aku berjalan melewati seorang narapidana Polandia, Miretski. Seperti juga aku, ia dipenjara karena alasan politis. Ia memandangiku dengan tatapan muram, dengan kilatan di matanya dan bibir bergetar. “Aku membenci para pelanggar hukum ini!” desisnya kepadaku dengan suara rendah. Lalu ia berlalu melewatiku. Aku kembali ke selku meskipun aku baru meninggalkannya 15 menit yang lalu.

Saat aku melewati salah satu lorong penjara, enam narapidana kekar memukuli seorang lelaki bernama Gazin. Mereka memukulinya dengan begitu keras sehingga seekor unta pun bisa mati dengan sebuah pukulan seperti itu. Kemudian, saat aku kembali melewati lorong itu, kulihat Gazin tengah berada di luar, kedinginan. Seorang lelaki tinggi besar terbaring di sebuah bangku di salah satu sudut bangsal. Ia terbalut sehelai selimut dan setiap orang yang melewatinya berjalan perlahan. Mereka semua tahu, Gazin bisa tewas karena penganiayaan seperti itu.

Aku membaringkan diriku di bangkuku sendiri, memejamkan mata dan meletakkan tangan di bawah kepalaku. Aku menyukai istirahat dengan cara seperti itu. Tak seorang pun akan mengganggu orang yang sedang tidur dan itu memberiku kesempatan untuk melamun dan berpikir. Tetapi hari ini aku merasa sulit melamun. Jantungku berdegup amat kencang tanpa henti. Dan kata-kata Miretski masih terus menggema di telingaku, “Aku membenci para pelanggar hukum ini!”

Setelah beberapa lama aku mampu melupakan keadaan di sekitarku. Aku segera terhanyut dalam kenangan-kenanganku. Selama empat tahun masa hukumanku di penjara, aku selalu memikirkan masa laluku. Dalam kenanganku, aku seakan ingin kembali menjalani kehidupanku yang dahulu.

Hari ini, untuk alasan tertentu, aku tiba-tiba saja teringat sepenggal waktu di awal masa kanak-kanakku. Pada suatu hari di bulan Agustus itu, aku baru berumur sembilan tahun. Matahari bersinar cerah di atas kampung kami meski desir angin masih terasa dingin. Musim panas hampir berlalu. Tak lama lagi kami harus hijrah ke Moskow. Di sana kami harus menghabiskan musim dingin dengan mengikuti pelajaran-pelajaran berbahasa Prancis yang membosankan. Aku merasa menyesal bahwa kami harus meninggalkan kampung.

Aku pergi ke luar untuk menghabiskan sepanjang siang itu dengan menikmati suasana pinggiran kampung. Tak lama kemudian aku berjalan di tepi semak belukar yang rimbun memanjang hingga ke hutan terdekat. Dari situ aku bisa mendengar seorang petani sedang membajak ladang di lereng sebuah bukit. Ia pasti tak sampai 30 meter jauhnya dariku. Kudanya mungkin merasa ladang itu kering sehingga sulit baginya untuk menarik bajak. Aku bisa mendengar petani itu berteriak, “Ayo cepat! Ayo cepat!”

Aku mengenal hampir semua petani di kampung kami, tetapi aku tidak tahu siapakah petani yang sedang membajak itu. Tentu saja, sebetulnya tidak masalah siapa pun yang sedang membajak. Aku pun sedang sibuk dengan kegiatanku sendiri. Di semak-semak itu aku menemukan sebatang kecil dahan pohon hazel. Aku menggunakannya untuk menemukan kumbang dan serangga-serangga lainnya. Sebetulnya aku sedang mengumpulkannya.

Beberapa jenis kehidupan liar di sana sangat indah. Aku menyukai kadal kecil yang lincah, tubuhnya berwarna merah dan kuning dengan bintil-bintil hitam. Aku takut pada ular. Tetapi di sana jumlah ular lebih sedikit daripada kadal yang bersembunyi di semak belukar. Dan di sana juga tak banyak dijumpai jamur. Untuk mendapatkan jamur, kita harus berani memasuki hutan—dan ke sanalah aku menuju.

Tak ada apa pun di dunia ini yang lebih kucintai daripada hutan. Hutan mengandung jamur-jamur dan tumbuhan beri liar, kumbang dan burung, landak dan tupai. Aku teringat hangatnya dan aroma lembap dedaunan busuk. Bahkan saat kutulis kisah ini, aku masih bisa mencium wewangian hutan itu. Kenangan seperti ini akan menetap sepanjang hidup.

Tiba-tiba saja, dalam keheningan yang mematikan, aku mendengar sebuah seruan keras. Seseorang baru saja berteriak, “Serigala! Serigala!” Aku langsung ikut berteriak sekuat-kuatnya. Lalu aku bergegas ke luar dari hutan itu. Aku mendapati diriku berlari lurus ke arah si petani yang sedang membajak ladang.

Ia petani dari kampung kami. Namanya Marey. Usianya sekitar 50 tahun. Agak gempal dan lebih tinggi dari lelaki kebanyakan. Ia memiliki jenggot tebal berwarna cokelat gelap. Aku mengenalnya, tetapi hingga hari itu aku biasanya tak banyak bercakap-cakap dengannya. Ketika ia mendengar teriakanku, ia menghentikan kudanya. Aku meraih bajak kayunya dengan sebelah tangan dan kerah bajunya dengan tanganku yang lain. Ia bisa melihat betapa ketakutannya aku.

“Ada serigala di dalam sana!” jeritku, terengah-engah dan kehabisan napas. Ia melihat berkeliling untuk beberapa saat, hampir tak percaya kepadaku. “Di mana serigalanya?” tanyanya. “Seseorang berteriak, ‘Serigala! Serigala!’ tadi,” ucapku tergagap.

“Tidakkah Anda mendengarnya?”

“Di sana! Tak ada serigala di sekitar sini,” ujarnya. Ia berusaha menenangkanku. “Kau baru saja berkhayal, Nak. Siapakah yang pernah mendengar tentang serigala di sekitar sini?”

Namun, sekujur tubuhku gemetar. Menurutku aku pasti sangat pucat saat itu. Ia menatapku dengan senyuman cemas.

“Betapa ketakutannya diri mu,” katanya seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan takut. Oh, betapa malangnya, kau! Nah, sudahlah.”

Akhirnya kusadari juga bahwa memang tak ada serigala di tempat itu dan aku hanya melamunkan teriakan itu saja. Sekali dua kali sebelumnya aku juga pernah melamunkan teriakan seperti itu—dan tidak hanya tentang serigala. Saat beranjak dewasa, aku tidak lagi melamunkan teriakan-teriakan semacam itu lagi.

“Baik lah, saya akan pergi sekarang,” ujarku, memandanginya dengan tersipu.

“Larilah, Nak. Aku akan mengawasimu,” sahutnya.

Lalu ia menambahkan, “Janganlah mencemaskan apa pun. Semuanya akan baik-baik saja.”

Aku pergi dan berlalu, berbalik melihat ke arahnya setiap beberapa meter. Sambil berjalan pulang, Marey berdiri tegak di dekat kudanya dan mengawasiku. Ia mengangguk kepadaku setiap kali aku berbalik memandangnya. Aku merasa sedikit malu pada diriku sendiri, tetapi aku masih agak ketakutan sampai aku tiba di rumah. Di sana, kengerian yang sebelumnya kurasakan sepenuhnya hilang saat kulihat anjingku berlari ke arahku.

Dengan anjingku di sisiku, aku tidak lagi merasa ketakutan. Sekarang, aku berpaling ke belakang untuk melihat Marey terakhir kali. Aku tidak bisa lagi melihat wajahnya dengan jelas. Namun, entah bagaimana aku yakin bahwa ia masih mengangguk dan tersenyum lembut kepadaku. Aku melambai ke arahnya dan ia membalas lambaian tanganku.

Kejadian itu sudah lama berlalu, tetapi tiba-tiba saja semua itu kembali kuingat seluruhnya. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku bisa mengingat setiap detailnya. Untuk beberapa menit berikutnya, pikiranku kembali ke saat-saat di masa kanak-kanakku itu.

Ketika aku pulang ke rumah hari itu, aku tidak menceritakan apa pun tentang “petualanganku”. Lagi pula, kejadian itu tidak benar-benar bisa disebut petualangan dan dengan cepat aku sudah melupakan semua hal tentang Marey. Kapan pun aku kebetulan bertemu dengannya, aku bahkan tidak bercakap-cakap dengannya. Kami tidak lagi membicarakan tentang serigala atau hal-hal lain.

Sekarang, dua puluh tahun kemudian, aku berada di dalam penjara Siberia. Betapa anehnya bahwa aku tiba-tiba saja teringat kejadian hari itu dengan sangat jelas! Tidak satu detail pun yang terlupakan. Tentu saja ini berarti kenangan tentang hal itu selama ini tersembunyi di dalam benakku tanpa kusadari. Kenangan itu kembali kuingat karena aku memang ingin mengingatnya kembali. Sekarang aku yakin bahwa aku tidak akan pernah bisa melupakan kelembutan dan senyum petani itu, juga caranya menganggukkan kepalanya kepadaku.

Tentu saja, setiap orang akan melakukan kebaikan serupa untuk menenangkan seorang anak kecil. Tetapi ada sesuatu yang berbeda yang terjadi dalam pertemuan itu. Jika aku adalah anaknya sendiri saat itu, ia mungkin tak akan memandangiku dengan pandangan penuh kasih yang begitu hangat. Dan apakah yang membuatnya seperti itu?

Marey adalah salah seorang buruh tani kami. Sebagai seorang buruh tani, ia adalah harta benda keluargaku. Aku adalah anak majikannya. Tak seorang pun tahu betapa ia pernah bersikap teramat baik kepadaku. Tak ada seorang pun yang akan memberinya hadiah atas apa yang telah dilakukannya kepadaku. Apakah ia memang begitu mencintai anak-anak?

Ternyata memang ada orang-orang seperti itu. Tak diragukan lagi. Pertemuan kami saat itu bertempat di sebuah ladang yang sepi. Tak ada orang lain yang menyaksikan perasaan-perasaan manusiawi yang halus dari seorang petani Rusia yang kasar.

Saat aku bangkit dari bangkuku dan melihat ke sekitar, perasaanku tentang para nara pidana lainnya telah berubah. Tiba-tiba saja, karena sebuah keajaiban, semua rasa benci dan amarah lenyap dari hatiku. Aku berjalan berkeliling penjara, memandangi wajah-wajah yang kutemui. Aku menatap seorang petani yang sedang meneriakkan lagu pemabuk dengan amat nyaring. Ia juga, pikirku, mungkin petani yang sejenis dengan Marey. Aku tak mungkin melihat hingga ke dalam hatinya, bukan?

Malam itu aku bertemu dengan Miretski lagi. Lelaki malang! Ia tidak memiliki kenangan apa pun tentang Marey atau petani lain. Ia tidak memiliki pendapat lain tentang orang-orang ini, kecuali, “Aku benci para pelanggar hukum ini!” Ya, keadaan seperti ini menjadi lebih sulit bagi Miretski daripada bagiku.




Tentang Penulis : Fyodor Dostoyevsky (1821–1881) adalah pengarang terkemuka Rusia. Cerita di atas diterjemahkan Atta Verin dan Anton Kurnia dari The Peasant Marey dalam Great Short Stories from Around the World, Golden Books, Kuala Lumpur, 1995.

Sumber : Koran Jawa Pos, Minggu 27 Maret 2016

Cerpen Martin Aleida : Asmara dan Kematian di Perbatasan

Asmara dan Kematian di Perbatasan

Oleh MARTIN ALEIDA

Karya Cerpen, Cerpen Martin Aleida, Cerpen Asmara dan Kematian di Perbatasan


“Dreilandpunkt. Drielandpunt. Aux Trois Bornes.” Dengan lafal yang ganjil, aku terbata-bata membacakan kata-kata yang terpatri di semacam koin berbentuk lonjong yang ditemukan cucuku.

Membolak-balik benda pipih yang terbuat dari perunggu itu, kubujuk dia: “Ini bukan mata uang, sayang. Atok peroleh dengan memasukkan uang logam sungguhan ke dalam sebuah mesin mekanik. Memutar engkolnya. Dan keluarlah tanda mata ini. Oleh-oleh untukmu dari titik pertemuan batas negara antara Jerman, Belanda, dan Belgia, yang masih terselip di sakuku.”

Mesin tandamata itu terletak di bawah. Di kaki sebuah menara yang menjulang tinggi seperti hendak menyundul angkasa musim gugur yang malas. Di sekeliling, nun di bawah sana, terhampar hutan berwarna-warni seperti permadani yang baru dibentangkan jauh dan berdesakan berlomba hendak mencium kaki langit. Daun-daun berubah warna menahan dinginnya cuaca dan sapuan angin benua yang kering membekukan. Kuning, kecoklatan, juga merah. Ditingkahi pucuk-pucuk cemara yang tetap hijau. Ya, hanya cemara yang bertahan terhadap bengisnya musim, yang mengisyaratkan Natal akan abadi. Tak terkalahkan. Dan dia rela menyerahkan diri siap untuk ditebang kaum yang merayakannya. Diterpa angin, hamparan hutan berwarna-warni itu terkadang berubah menjadi lautan dengan gelombang yang bergulung-gulung merindukan tepian untuk merebahkan diri.

Ah, sedapnya duduk-duduk di sini sambil menatap kejauhan. Berkaca pada masa lalu. Suhu beberapa langkah di bawah titik beku, tapi fantasi tetap semarak. Di bawah, di kaki menara, daun-daun kuning mengering, rontok, dan dipermainkan angin. Kandas di tanah di mana sebuah tonggak batas tiga negara ditancapkan. Tonggak itu menjadi saksi bagi kekuatan cinta. Antara aku dan istriku. Dan bahwa cinta itu melebihi kesadaran kami terhadap tanah air, di mana sebuah kekuasaan sedang melancarkan teror terhadap warganya sendiri, menyusul bencana politik setengah abad lalu, yang menyebabkan ratusan ribu dibunuh, sementara kami yang sedang berada di luar negeri tak bisa pulang. Kecuali mau mati. Atau paling tidak siap dipenjarakan.

Dalam jumlah ratusan, kami gentayangan di negara-negara Eropa, tanpa paspor. Sakit hati, memang, kalau dikenang. Sebab anjing-anjing saja di daratan jauh ini mengantongi sertifikat. Namun, cinta tidak membutuhkan secarik kertas. Dia hanya memanggil-manggil keteguhan hati.

Adalah dua orang pemuda Jepang yang tak takut mati untuk kesetiaan pada persaudaraan dengan orang-orang yang terbuang seperti kami. Mereka pelesir dan menyamar sebagai back-packers untuk mencari perbatasan yang aman untuk menyeberang bagi orang-orang seperti kami dari satu negara ke negara lain di Eropa ini. Dan mereka menemukan titik temu dari perbatasan tiga negara ini.

Dengan bekal seadanya, aku dan istriku merapat ke Aachen, kota Jerman yang cuma sepelemparan batu ke perbatasan ini. Berpura-pura sebagai pengantin baru yang sedang berbulan madu, beberapa kali kami ke sini, duduk-duduk di bangku malas untuk mengenalinya dengan saksama. Ya, kami harus mengenalinya sama seperti kami mengenal kulit dan bulu roma kami sendiri dengan baik. Kalau perlu mengambil sekepal tanahnya yang berpasir, menjilat dan menciuminya untuk mengingat aromanya. Juga batang pepohonan dan daun-daun. Karena yang kami rencanakan adalah pertaruhan antara tertangkap dan kebahagiaan manusia yang memiliki sebuah kewarganegaraan.

Hutannya tidaklah selebat dan seganas hutan Nantalu di kampungku, tak jauh dari Sungai Asahan. Jauh lebih ramah. Renggang. Lebih tepat seperti hutan karet, kelihatannya. Mudah menyelinap di antara pepohonannya yang muda. Ramah pula.

Aku dan istri lahir ketika Belanda belum mengakui Republik. Jadi, kalau kami mengajukan permohonan kewarganegaraan di negara itu, tentulah lebih besar kemungkinannya diterima daripada mereka yang datang dari wilayah non-koloni Kerajaan Belanda. Paling tidak begitulah pikiran kami.

Pada suatu hari, yang sampai detik ini, kenangannya masih melekat kuat dalam ingatanku, kami berdiri lagi di perbatasan ini. Menjelang turunnya gelap. Daun-daun yang rontok sudah tak tampak. Untuk yang terakhir kali. Kami harus melangkah ke hutan kecil di bagian wilayah Belanda dalam keadaan bersih. Dengan jantung berdebar kuat-kuat dan hati yang diperteguh. Tak secarik kertas pun boleh tinggal di badan kami. Sebab kalau tertangkap, kami pasti dihukum, mujur kalau hanya ditendang kembali ke Jerman.

Aku meminta istriku untuk menyerahkan kertas-kertas yang ada di dompetnya. Melarang dia untuk menyobek-nyobeknya sekalipun sampai sudah menjadi remah. Sebab ceceran sobekan kertas itu bisa ditemukan kembali, dan bisa dibaca lagi. Sambil berdiri, kertas itu mula-mula memang kusobek juga sampai sekecil-kecilnya. Selumat-lumatnya. Tentu saja tidak untuk kubuang ke tempat sampah. Tapi, kukunyah di dalam mulutku. Bercampur dengan liur, gumpalan kertas itu terasa asin dan hambar di rongga mulutku. Kutelan! Ya, kutelan…! Dan kudorong dengan setenggak air. Dan dengan langkah pasti, namun dengan hati memikul beban pertaruhan, kami menyuruk di antara pepohonan dan semak-belukar dan kami masuk menginjakkan kaki yang gemetaran di tanah Ratu Wilhelmina.

Orang-orang yang terbuang, yang tak bisa pulang, dihadang senjata dan penjara, seperti aku ini masih muda-muda pada waktu itu. Romantisme ada di mana-mana, tidak hanya di taman-taman kota, atau mal. Juga tidak dalam keterasingan yang tidak pernah kami bayangkan. Asmara tidak mengenal penderitaan. Dia malah melampauinya. Seperti aku, sejumlah kawan lain memutuskan nikah dengan cara kami sendiri, tanpa tuan kadi, tanpa sesiapa, kecuali kami berdua.

Asmara. Apalagi dalam pengasingan. Siapa yang kuasa membendungnya? Konon pula hanya sebuah tonggak perbatasan. Kisahnya begini. Seorang perempuan. Belum tiga puluh usianya. Junjungan jiwanya berada di sebuah kota kecil di utara Jerman, sementara dia tinggal di sebuah kota kecil terpencil di Belanda. Dia berketetapan hati untuk menyongsong sang kekasih dengan menyeberang di titik perbatasan tiga negara ini.

Mengendap-endap, suatu sore, dia melangkahi apa yang dia kira perbatasan, dan yakin dia sudah menginjakkan kakinya yang molek di negeri Schiller. Dia keluar dari belukar dan begitu bahagia sudah merasa di seberang, dan dia rasanya akan segera mencari alat angkutan, menumpang bus menuju Jerman utara. Tiba-tiba dua orang polisi Belanda mencegatnya. Karena ternyata dia tersesat, dan kembali berada di wilayah Belanda. Tapi, pelarian, apalagi yang jadi korban dari satu kekuasaan yang tak punya hati, membuat manusia menjadi cerdas tak terduga. Perempuan kita itu menyatakan dia tidak berniat melanggar hukum. Dia telah dipermainkan oleh asmara, katanya.

“Saya kemari dengan pacar saya tadi. Kami bertengkar dan dia meninggalkan saya. Saya tidak berniat jahat, Tuan….”

Tentulah hatinya bersorak setinggi langit ketika sepasang polisi tadi membiarkannya melenggang pergi. Mereka sangka dia memang hanya seorang perempuan yang disia-siakan oleh asmara. Mengarungi gelap malam, perempuan itu harus kembali ke rumahnya sendiri. Tetap terpisah dari junjungan hatinya. Sampai kapan, maaf, aku tak tahu. Namun, ada kawan yang bercerita pernah melihat dia, berpasangan dengan lelaki Indonesia juga, sedang menikmati konser gratis selepas makan siang hari Selasa di Berliner Symphony. Syukurlah.

Titik-temu tiga negara ini sungguh berpahala bagi kami kaum yang tak bisa pulang, yang disingkirkan, yang dibiarkan melata mencari daratan tempat perlindung. Untuk merawat kehidupan yang sesungguhnya tidak diciptakan untuk menemukan akhir dalam kesengsaraan. Cuma untuk mati tapal batas ini tiada gunanya. Karena tak seorang pun di antara kami yang tahu di mana bisa ditemukan batas antara hidup dan mati. Pasukan berani mati seperti apa pun takkan mungkin bisa membantu kami menemukan jalan pelarian dari kematian. Kami harus menemukannya sendiri-sendiri. Menghadapinya sendiri-sendiri, bagaimanapun melambungnya cinta antara aku dan istriku. Tak bisa memilih. Satu kenyataan yang getir, yang tak bisa kuelakkan. Tak ada yang ingin dikubur di daratan yang jauh ini. Semua ingin mati di tanah air, angan-angan yang sulit ditampik kalau usia sudah uzur. Ada yang memutuskan menutup premi asuransi untuk mati secara Islam maupun Kristen. Sebab dengan jalan itu setidak-tidaknya kami bisa mati dengan baik-baik, beriring doa. Kematian yang tidak bisa kami bayangkan lima puluh tahun yang lalu, manakala kekuasaan yang zalim membiarkan kalau bukan mendorong para jagal untuk menebas batang leher kami. Cuma sedikit di antara kami yang meninggalkan agama nenek-moyang dan memutuskan untuk dikremasi dan abunya diterbangkan pulang dan dilarung di tanah tumpah darah dan di kota-kota Eropa di mana kami pernah berlindung di kaki langitnya, bertahan hidup.

“Maaf, Atok sendiri ingin menemukan kematian dengan jalan yang mana?”

Daguku menggantung dibuatnya. Mulutku yang tua cuma bisa ternganga seperti mengundang air liur. Otakku mandek. Begitu bodohnya si tua ini. Jari-jariku bergetar menahan debar jantungku yang seperti kena tonjok pertanyaan cucuku ini. Aku cuma bisa berdiam diri. Aku tak tahu apakah pelupuk mataku hangat oleh bulir airmata karena pertanyaannya yang tajam itu. Aku hanya ingat izin tinggalku di Indonesia akan berakhir tiga hari lagi. (*)




Catatan : Atok = Kakek

Tentang Penulis : MARTIN ALEIDA, Lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 1943, menerima penghargaan Kesetiaan Berkarya “Kompas” (2013), Anugerah Seni Kementerian P&K (2014), dosen luar biasa bahasa dan sastra di Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta.

Sumber : Surat Kabar Harian Kompas, Minggu 06 Maret 2016


Opini Jakob Sumardjo : Kedondong atau Salak

Kedondong atau Salak

Oleh JAKOB SUMARDJO



Jakob Sumardjo, Budayawan, Opini Jakob Sumardjo

Dalam dasawarsa 1960-an terkenal lagu "Dondong Opo Salak" oleh penyanyi Kris Biantoro. Judul lagu itu berasal dari ungkapan rakyat Jawa tentang dilema pilihan hidup.

Kedondong adalah buah yang kulitnya halus, tetapi isinya penuh "duri". Salak adalah buah yang kulitnya kasar yang dapat melukai jari, tetapi isinya justru halus, tidak membahayakan mulut seperti buah kedondong. Hidup ini tinggal memilih, kulitnya atau isinya, tampak permukaan atau yang tersembunyi di dalam, yang dangkal atau yang dalam.

Kaum perempuan sering menemui dilema ini, pilih suami yang tindak-tanduknya kasar dan wajahnya tidak tampan, tetapi hatinya baik setengah mati; atau pilih suami yang tampan dan tindak-tanduknya halus bin sopan, tetapi kejam kurang tanggung jawab. Memilih pemimpin pun menghadapi dilema semacam itu. Pemimpin salak atau pemimpin dondong.

Pemimpin kedondong menampakkan dirinya sebagai pembela rakyat sejati, menggendong anak kecil tukang sayur di depan kamera, tutur katanya penuh nasihat-nasihat hidup orang saleh, yang intinya tampil sebagai manusia sempurna. Namun, kepemimpinannya tak membawa perubahan apa pun; yang berubah hanya dirinya yang kian kaya. Diam-diam jet pribadinya lima.


Seperti Bima

Pemimpin salak tak pandai bicara. Seperti Bima yang tak bisa berbicara halus, bahkan kepada para dewa, Bima tetap berbahasa kasar. Tindak-tanduknya tak sopan, bahkan duduk pun tak mau di hadapan raja dan dewa. Ia selalu berdiri berkacak pinggang dalam sidang-sidang negara. Bima itu agak urakan, kalau perlu menendang langsung tanpa basa-basi. Namun, di balik kekasarannya yang dapat menyakitkan, moralitasnya tinggi, pembela yang lemah, tegas dalam keadilan, pemberani, tidak takut siapa pun karena berpegang pada kebenaran.

Dalam situasi Indonesia sekarang ini, yang sudah 70 tahun merdeka tak mengubah apa-apa, kita memerlukan pemimpin kedondong atau pemimpin salak, kalau perlu pemimpin durian sekalipun? Nasib bangsa dan negara ini ada di tangan para pemimpinnya. Negara biasa hancur karena kekuasaan ada di tangan pemimpin kedondong. Luarnya halus dalamnya kasar. Luarnya bersih di dalamnya menguning. Luarnya wangi dalamnya busuk.

Negara yang selama 70 tahun telah "rusak" oleh para pemimpinnya ini memerlukan pemimpin paradoks seperti Bima. Orangnya boleh "kurang ajar", tetapi hatinya priayi. Negara ini mirip daerah wild west dalam film-film western atau cowboy tahun 1950-an ala Hollywood.

Dalam film cowboy itu selalu muncul tokoh Lone Ranger semacam John Wayne yang suka "tembak dulu, urusan belakang". Dalam sebuah town yang dikuasai bandit, sheriff dan hakim dapat disogok sehingga penduduk hidup dalam ketidakadilan di luar hukum. Yang kuat berkuasa, yang berkuasa menentukan siapa benar dan siapa salah. Sebuah wilayah wild west, kota dikuasai para Korawa yang kasar luar-dalam.

Kalau suatu daerah yang para pemimpinnya sudah lebih dari 50 persen "jahat" atau bahkan tiga perempatnya "jahat", maka diperlukan hukum baru yang luar biasa. Kita memerlukan John Wayne yang datang entah dari mana. Situasi darurat bahaya memerlukan tindakan darurat juga, yakni pemimpin salak atau durian. Kita memerlukan sapu pembersih macam Henry Fonda, Burt Lancaster, atau Allan Ladd, dalam film High Noon perlu Garry Cooper. Mereka ini jagoan-jagoan pembela rakyat tanpa pamrih seperti tersua juga dalam banyak cerita silat. Setelah situasi kembali normal, para jagoan ini menghilang dari kota, menolak diangkat jadi sheriff, mengembara mencari wild west lain.

Itulah pemecahan secara western. Di Indonesia sendiri sudah lama dikenal adanya zaman edan, yang para pemimpinnya bersih di luar busuk di dalam. Memang masih ada menteri-menterinya yang baik dan jujur, tetapi tidak mampu mengatasi kaum kedondong ini. Mungkin karena bangsa ini terlalu religius, lalu menyerahkan kekacauan negara ini kepada Tuhan Yang Mahaadil.


Zaman edan

Pada zaman edan ini yang penting tiap orang harus eling dan waspada. Eling adalah senantiasa ingat pada perintah Tuhan, dan waspada adalah sikap untuk tak ikut dalam kejahatan budaya para koruptor. Kita tinggal tunggu datangnya Ratu Adil, seperti film-film western menunggu datangnya John Wayne.

Zaman edan mengacu pada kepercayaan lama tentang penghancuran dunia kalau hampir seluruh manusia (pemimpin) telah jahat. Tak seperti para cowboy Hollywood yang langsung dar-der-dor menghabisi para bandit negara, di Indonesia orang tak boleh mengadili seperti itu. Pengadilan Tuhan yang ditunggu. Itu sebabnya, selama ini kita toleran terhadap para kedondong negara karena hanya Tuhan yang akan menghakimi secara adil.

Rupanya kita masih toleran terhadap para pemimpin kedondong. Tidak menyukai pemimpin salak dan durian. 




Tentang Penulis : Jakob Sumardjo adalah seorang budayawan.

Sumber : Surat Kabar Harian Kompas, Sabtu 26 Maret 2016

Cerpen Wina Bojonegoro : Pengakuan Rusmini


Karya Cerpen, Cerpen Wina Bojonegoro, Cerpen Pengakuan Rusmini



Pengakuan Rusmini

Oleh WINA BOJONEGORO


Kesendirian seringkali lebih mematikan dari sebilah belati. Caranya membunuh begitu perlahan, terkadang menyerupai kenikmatan. Kesendirian tidak membunuh tubuh, melainkan jiwa. Lihatlah Nyonya Rusmini. Ia terlalu terpukau pada lukisan tangannya di tembok kamar itu, hingga sering lalai pada tubuhnya. Kenangan demi kenangan ia sesapi dan cumbui seperti cerutu di bibir lelaki dalam lukisan itu. Kurasa, Nyonya Rusmini bukan kehilangan kecantikan fisiknya. Ia kehilangan sebagian jiwanya. Terbunuh perlahan bukan oleh belati, namun kesendirian itu.

Telah lebih dari satu dasa warsa kulalui hidupku di rumah besar ini. Rumah di atas bukit kecil di wilayah Tegal Alang. Tepatnya di sebelah kiri jalan menuju Kintamani. Tidak di tepi jalan raya, melainkan di antara sawah dan terasering. Tak seperti rumah di sekitarnya yang tetap tradisional melebar, rumah bercat putih ini berlantai dua, bergaya kolonial. Seperti sebuah kesendirian yang telah dirancang sejak mula, rumah ini sangat tidak menyatu dengan lingkungannya.

Telah kulewati masa-masa saat perempuan itu belum serapuh sekarang. Seingatku, ia masih rajin mengenakan gincu dan berbedak di pagi hari. Dipungutinya sampah daun kering halaman, lalu dibakarnya dalam lubang di belakang rumah, tempat di mana ia sering melakukan olah raga ringan saat matahari seperempat cahaya. Sesekali ia duduk melukis mawar atau teratai yang tumbuh riang di kolam kecil di taman belakang, tempat favorit Nyonya Rusmini ketika menghabiskan waktu pagi dan sore hari. Aku tahu mengapa. Dengan duduk di kursi taman yang terbuat dari kayu ebony itu, ia dapat menatap pemandangan desa Tegal Alang dengan leluasa. Pada bagian terasering di sebelah kiri dan pada rerumpun nyiur di sebelah kanan. Lalu sungai kecil mengalir tenang namun gemercik, tempat penduduk desa mandi dan mencuci pakaian, meskipun rumah mereka telah memiliki sumur.

Lelaki bertopi bowler sering bertandang ke rumah ini. Meskipun tak muda, aku melihat Nyonya Rusmini masih memiliki kehidupan. Matanya masih menitikkan cahaya. Ialah ketika mereka menikmati teh jahe berdua di kursi kayu ebony itu. Nyonya Rusmini melukis, lelaki itu memetik gitar, lamat-lamat, sambil sesekali bersenandung. Terkadang mereka memainkan musik dari tape recorder tua, lalu menari bersama.

"Mam, tinggallah bersama kami, salah satu di antara kami, atau bergiliran dari kota ke kota." Kata anak bungsunya, Adelia. Nyonya Rusmini mendekat ke arahku, seperti biasa, hendak membisikkan kata-kata.

"Mon, kau dengar apa kata mereka?" Aku hanya menatap matanya yang kelabu, namun mencatat sejuta kemasan masa lalu. Mata yang selalu menghindar saat ingin kutelusuri kisahnya.

"Aku akan ditinggalkan sendirian di rumah mereka, sementara mereka bekerja hingga malam. Para pembantu yang menemaniku lebih sibuk dengan hapenya. Cucu-cucuku hanya datang dan pergi mencium pipi, lalu masuk kamar masing-masing, menutup telinga mereka dengan alat musik."

Wajahnya rata, tanpa warna.

"Anak pertamaku Adonies, istrinya mengerikan. Dia perempuan yang rajin ke salon, berbicara nyinyir, mengomentari apa saja. Telingaku tersiksa. Tapi Adonies menyukainya. Zaman sekarang kita tak bisa memilih menantu."

Mata Nyonya Rusmini berkaca-kaca.

"Sementara Arlina, tak mungkin aku bersamanya. Di negeri suaminya kita tak boleh datang pergi sesuka hati, berkunjung pun harus dengan persetujuan sebelumnya. Lagipula, bule-bule itu lebih suka menampung orangtua di panti jompo."

Nyonya Rusmini mengusap ujung matanya dengan selembar tisyu.

"Bahkan Adelia, anak bungsu yang menyusu dua tahun setengah, jauh lebih banyak dibanding kakak-kakaknya. Ia selalu mengajakku bersamanya, tetapi apa yang diberikan? Ia selalu pulang lebih dari jam sembilan malam. Saat itu aku sudah terlalu mengantuk untuk bercakap, Mon. Aku sering mengantuk sekarang, obat-obat yang katanya menjaga kebugaranku itu mengacaukan jam tidurku."

Kesepian memang lebih tajam dari sebilah belati. Lihatlah Nyonya Rusmini. Pada kulitnya yang keriput terdapat bintik-bintik hitam akibat kekurangan matahari. Hal mana sekarang tak lagi dilakukan, sejak ia melukis lelaki bertopi bowler yang menggigit cerutu. Dulu, ia bersama lelaki itu sering berlama-lama di kursi taman. Mereka bermandikan cahaya matahari, sembari menikmati teh jahe. Tertawa, bahkan sesekali mereka menari bersama. Tari tango yang memukau. Saat menari mereka seperti pangeran dan putri dalam dongeng. Saling menatap. Bercakap dengan mata.

Tetapi kebahagiaan sering pergi tanpa alasan. Justru ketika Adonies datang ke rumah besar ini dan memergoki mereka tengah menari. Kemarahan seperti api membakar rumah kardus dengan lahap. Kalimat-kalimat sarkas terlontar menggelegar. Kebahagiaan dengan singkat mengakhiri perannya. Lelaki bertopi bowler yang menggigit cerutu itu pergi. Nyonya Rusmini menangis di kamarnya. Adonies mengetuk pintu, memanggil-manggil, dengan wajah memerah memendam amarah.

"Mami tidak malu pada tetangga? Please! Usir laki-laki itu dari sini Mam dan jangan boleh kembali."

Saat itu, pintu kamar tiba-tiba terkuak. Nyonya Rusmini dengan mata basah menggertakkan giginya, dan mendesis:

"Asal kamu tahu, Adonies! Dialah ayah kandungmu. Ayah kandung kalian.!" Pintu kamar terbanting lagi. Lebih keras. Lebih mematikan. Adonies berdiri kaku. Membeku. Beberapa menit ia masih disitu. Sejak hari pengakuan dosa itu, lelaki bertopi bowler yang menggigit cerutu lenyap. Nyonya Rusmini mulai melukis di kamarnya, menghabiskan sisa waktu, mengikis kesendirian. Dan ketiga anak-anak yang telah tumbuh menjadi keluarga baru itu tak lagi bertandang.



Suatu hari, Nyonya Rusmini duduk di teras depan. Sendirian. Ia merajut. Selama ini aku tak pernah melihatnya merajut. Benang-benang besar dalam gulungan itu dirajutnya menjadi sebuah topi anak-anak. Warnanya menyerupai pelangi.

"Mon, minggu depan Atalia genap lima tahun. Aku akan menghadiahkan ini untuknya. Dia pasti secantik ibunya saat usia yang sama." Kemudian ia berhenti merajut. Matanya yang telah berubah abu-abu menerawang.

"Aku tidak tahu apa jadinya jika kau tak ada bersamaku, Mon. Mereka melupakanku, justru ketika aku berusaha jujur. Benar kata orang-orang bijak itu. Diam adalah emas. Terkadang jujur justru lebih menyakitkan." Nyonya Rusmini meletakkan rajutan di pangkuannya, lalu menatapku seperti memohon perlindungan.

"Dengarkanlah aku, Mon. Di hadapanmu sekarang akan kulepaskan sebuah rahasia. Rahasia besar kami, yang kami pikul seumur hidup."

Nyonya Rusmini, Nyonya Rusmini.

Aku telah mengenalnya sepuluh tahun belakangan ini. Di mataku, tak ada rahasia dapat tersimpan. Seluruh kejadian di rumah ini, apa yang terjadi di luar dan apa yang direncanakan, semua kurekam dengan baik. Tapi rahasia seumur hidup?

"Suamiku mandul..." Bisik Nyonya Rusmini dalam suara serak tertahan, "Sementara kami sangat ingin memiliki keturunan. Lagipula, kami harus punya anak laki-laki. Warisan dan segala tetek-bengeknya hanya bisa diturunkan pada anak lelaki. Kemudian, entah dari mana datangnya ide itu. Kami menyewa lelaki yang kami temukan di bar tengah kota. Sosok tampan dengan fisik sempurna dan pandai bermain musik. Kami ingin anak-anak yang rupawan, pandai bermain musik atau melukis seperti aku. Ia pun menjadi suami rahasia bagiku. Tapi akhirnya, kami saling jatuh cinta. Tiga anak, Mon. Suamiku hanya berkata: rahasiakan ini dari anak-anak kita."

Lahar yang jebol itu menguras emosinya. Pada saat itu ia terlihat lebih tua dari usianya yang 67 tahun. Saat tangisnya reda, Nyonya Rusmini kembali merajut. Kali ini kecepatannya lebih rendah. Ia seolah sedang menyeimbangkan emosi dan gerak ritmis di tangannya.

"Mereka adalah dua lelaki yang kucintai, Mon. Tak bolehkah perempuan jatuh cinta pada lebih dari satu lelaki? Dua orang itu memiliki hal-hal berlainan, saling melengkapi. Memiliki keduanya seakan memiliki satu nyawa dalam bentuk sangat sempurna. Hidupku sempurna. Bahkan, saat suamiku meninggal, kekasihkulah yang memanggulnya ke kubur, ia pula yang menyiapkan upacara pembakarannya."

Untuk pertama kalinya, kulihat air mata yang begitu banyak mengalir dari sepasang matanya yang renta. Kurebahkan tubuhku dalam pangkuannya. Seperti itulah biasanya Nyonya Rusmini akan melepaskan gelisah. Dengan memelukku.

"Tapi lihatlah Mon, sekarang apa yang terjadi pada anak-anak yang kami dambakan itu. Mereka kami inginkan begitu rupa hingga kami terseret pada jalan terlarang. Sekarang mereka menghilang, seperti tak pernah ada. Seberapa kuatnya kami menginginkannya di dunia ini, mereka toh akhirnya memiliki hidupnya sendiri. Bahkan mereka seperti lupa pernah terlahir dari rahimku."

Kemudian senyap. Nyonya Rusmini terpaku menatap jalan raya Tegal Alang yang lengang di kejauhan. Selengang suasana rumah besar ini beberapa tahun belakangan, kecuali saat kehadiran lelaki bertopi bowler.

"Sudah berapa lama mereka tak berkunjung kemari, Mon?" Aku berusaha mengingat sebaik mungkin waktu itu, ketika Adonies membeku di depan pintu kamar Nyonya Rusmini.

"Tiga tahun, Mon. Nyaris tiga tahun. Kekasihku tak pernah lagi datang, Adonies telah mencercanya. Ia sangat terluka. Luka seorang lelaki yang dicaci anak kandungnya. Bisakah kau rasakan? Maka ia memilih pergi."

Wajah Nyonya Rusmini mengerut makin dalam. Betapa kesedihan dan kesepian saling bekerja sama memagut kecantikan dan kebugaran tubuh, lebih giras dari sepatutnya. Aku hanya dapat menatapnya, memberikan waktu untuk melahirkan rahasia-rahasia yang selama ini membebani hidupnya. Hingga seminggu kemudian. Topi rajut warna pelangi untuk Atalia telah siap. Topi warna pelangi itu diletakkan dalam box mika disertai tulisan khas zaman dulu, huruf latin miring rapi jali.

Hingga hari yang ditunggu tiba, tak seorangpun datang ke rumah ini. Nyonya Rusmini pun tak juga membuka pintu kamarnya. Aku dan anak-anakku mulai cemas. Kami yang telah menjadi bagian dari rumah besar ini bertahun-tahun, merasakan sesuatu yang tak biasa.

Kecemasan memuncak ketika hari kedua Nyonya Rusmini tak juga keluar kamar. Ini bukan kebiasaannya. Sesuatu pasti telah terjadi. Selera makan kami hilang, dan kecemasan telah merasuki kepala sejak fajar merekah. Saat matahari telah menguasai hari, di antara kepanikan dan gelisah yang saling melengkapi, kami memutuskan mendobrak pintu kamar Nyonya Rusmini.

Tubuh ringkih itu tergeletak di atas kasurnya. Dingin. Kaku. Kami hanya mampu meraung putus asa. Berteriak. Berusaha mengeluarkan suara paling nyaring di telinganya, agar Nyonya Rusmini terbangun. Tetapi tubuh itu membeku, kaku. Seperti ingin membekukan sejarah kelam dalam dunianya, entah dunia yang keberapa. Hingga sesuatu menyita perhatian kami. Lukisan lelaki bertopi bowler menggigit cerutu tak ada lagi di tembok kamar.

Meme, Miyu dan Miko melesat keluar dari kamar. Mereka mengejar sesuatu dan mengeong bersahut-sahutan. Tiba-tiba mereka mengeluarkan suara yang lain, suara asing, serupa desis ketakutan. Bulu-bulu leher mereka berdiri. Dari dalam kamar, melalui pintu kamar yang terbuka, kulihat sepasang tubuh renta menari. Ya, mereka menari tango. Lelaki bertopi bowler menggigit cerutu, dan Nyonya Rusmini. Wajah mereka bersemu merah, serupa darah. Wajah yang hidup oleh bahagia. Sementara jasad yang kaku ini tetap membeku di sampingku.



Tentang Penulis : Wina Bojonegoro, punya nama lahir Endang Winarti, pendiri dan penggagas Kedai Kreasi, perpustakaan berbasis komunitas literasi dan seni di Surabaya. Kumpulan cerpen "Korsakov ke Kota Kenangan" (2016), novel "Sekotak Coklat untuk Ara" (2016), dan kumpulan cerpen "Negeri Atas Angin" (2013).

Sumber : Surat Kabar Harian KOMPAS, Minggu, 20 Maret 2016 (Rubrik HIBURAN / SENI)

Ilustrasi Cerpen : Karya Emmy Go (Repro: KOMPAS Minggu, 20 Maret 2016)


Bernostalgia dengan Musik Keroncong


musik, keroncong, download lagu keroncong kenangan


Jika ada satu jenis seni yang paling abstrak dari segi bentuk namun paling konkret efeknya, maka seni yang demikian itu tak lain adalah musik.

Musik, jenis seni yang langsung berhubungan dengan batin pendengarnya. Musik menjalin komunikasi bawah sadar dengan kita, baik dengan cara menentramkan emosi atau bahkan melarutkan pikiran emosional masuk ke dalam suasana penghayatan tertentu. Maka, tak heran apabila melihat seseorang yang sedang mendengarkan musik favoritnya dapat terlarutkan dalam alunan nada-nada musikal yang menenggelamkan sedemikian rupa.

Banyak cara bisa dilakukan musik untuk memikat kita. Musik menawarkan semacam relaksasi. Kita seperti sedang dihibur, diajak sejenak melepaskan segala kepenatan akibat rutinitas yang mungkin membebani diri. Musik juga mampu memanggil kembali sederet kenangan masa lampau, baik yang indah penuh suka cita atau pun yang sarat dengan suasana syahdu. Bernostalgia lebih terasa manisnya berkat sentuhan musik.

Begitu pula dengan musik keroncong. Musik ini amat nikmat didengar. Suara ukulele yang ritmis berpadu secara harmonis dengan alunan flute, dan sayatan nada melodis biola yang begitu menyentuh hati. Keroncong sendiri awalnya adalah sejenis musik instrumen yang berasal dari Portugis, dikenal sebagai fado. Seiring perkembangannya dari zaman ke zaman, musik keroncong menjadi musik yang populer karena sifatnya yang fleksibel. Banyak lagu-lagu yang terasa berbeda, lebih enak didengar dan terkesan romantis lembut ketika diaransemen ulang ke dalam musik keroncong. Coba saja Anda dengarkan sendiri; ada sebuah lagu barat yang berjudul Someone Like You diaransemen ulang dengan sentuhan musik keroncong – begitu ritmis dan nyawa lagu tersebut lebih hidup.

Berikut ini ada sejumlah lagu-lagu keroncong yang bagus untuk Anda dengarkan. Tapi, mohon diingat saran dari saya.. Sebelum mendengarkan musik keroncong, makanlah sekenyang-kenyangnya. Supaya perut Anda tidak terdengar sedang keroncong-an.



  1. Keroncong - Someone like you

  2. Keroncong - Seruling Bambu

  3. Keroncong - Rangkaian Melati

  4. Keroncong - Sepasang Mata Bola

  5. Keroncong - Rayuan Pulau Kelapa

  6. Keroncong - Romansa

  7. Keroncong - Sabda Alam

  8. Keroncong - Sapu Tangan

  9. Keroncong - Sedap Malam

  10. Keroncong - Sepanjang Jalan Kenangan

  11. Keroncong - Tirtonadi

  12. Keroncong - Setangkai Bunga Mawar

  13. Keroncong - Setulus Hatimu Semurni Cintamu

  14. Keroncong - Solo di Waktu Malam

  15. Keroncong - Stambul Terkenang

  16. Keroncong - Dewi Murni

  17. Keroncong - Di Bawah Sinar Bulan Purnama

  18. Keroncong - Gereja Tua

  19. Keroncong - Hanya Engkau

  20. Keroncong - Irama Malam

  21. Keroncong - Jangan Ditanya Kemana Aku Pergi

  22. Keroncong - Jembatan Merah

  23. Keroncong - Juwita Malam

  24. Keroncong - Katakan Sayang Sebelum Kau Pergi

  25. Keroncong - Kisah Seorang Pramuria

  26. Keroncong - Kusumaning Ati

  27. Keroncong - Lagu Bunga Anggrek

  28. Keroncong - Melati di Tapal Batas

  29. Keroncong - Mengapa harus Jumpa

  30. Keroncong - Pahlawan Merdeka




Cerpen Joko Pinurbo: Sebotol Hujan untuk Sapardi

Sebotol Hujan untuk Sapardi

Oleh JOKO PINURBO

Karya Cerpen, Cerpen Joko Pinurbo, Sebotol Hujan untuk Sapardi

Saya jatuh cinta pada puisi gara-gara pada suatu malam, sebelum tidur, membaca seuntai kata dalam sebuah sajak Sapardi Djoko Damono: "masih terdengar sampai di sini dukaMu abadi". Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMA dan belum punya cita-cita.

Kata-kata itu terus menggema dalam kepala saya dan membuat saya semakin suka bersendiri bersama puisi. Sempat terbetik keinginan untuk ikut-ikutan menjadi penyair, tapi menurut sahabat dekat saya, kepala saya kurang abnormal untuk mendukung keinginan saya. "Lebih baik jadi teman penyair saja," ujarnya dan saya mengiyakannya.

Saya gemar mengoleksi buku puisi. Bila ada buku puisi yang hilang, saya akan mencarinya lagi di toko buku sampai ketemu. Pernah seorang teman meminjam buku puisi yang baru saya beli dan belum sempat saya buka. Diam-diam buku puisi itu ia berikan kepada pacarnya sebagai hadiah ulang tahun. Kepada banyak orang, teman saya itu sering mengungkapkan rasa bangganya karena berkat hadiah buku puisi darinyalah pacarnya tumbuh menjadi seorang pengusaha kata yang sukses dan kaya.

Saya sendiri, sekian tahun setelah malam yang diguncang puisi itu, sudah menjadi seorang karyawan yang mapan di sebuah perusahaan di Jakarta dan saya tetap belum mengerti apa sebenarnya cita-cita saya. Kecintaan saya terhadap puisi masih terpelihara dengan baik. Di tengah kesibukan saya yang tiada habisnya, saya masih bisa mencuri waktu untuk menghadiri berbagai acara pembacaan puisi, minta tanda tangan dan berfoto bersama penyair-penyair kesayangan saya. Kadang saya membantu penyair-penyair dari daerah mencari tempat untuk sekadar numpang tidur dan mandi.

Ada satu impian lama yang ingin segera saya wujudkan: berfoto bersama Sapardi dan minta tanda tangannya. Sebenarnya saya pernah punya kesempatan bagus untuk berkenalan dengannya. Dalam sebuah acara pesta puisi Sapardi lewat persis di depan saya. Ia mengenakan kaos oblong putih bertuliskan "Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma". Keren sekali. Sayang, dalam sekejap ia sudah diserbu oleh para penggemarnya dan saya tidak kebagian waktu. Selain itu, saya masih ragu untuk mendekat dan berhadapan dengannya. Saya takut ditanya, "Anda siapa ya?" Dan saya bukan siapa-siapa.

Malam itu, sepulang dari lembur di kantor, saya sempatkan berbicara dengan diri saya sendiri. Dalam naungan hangat kopi, saya membaca tulisan Seno Gumira Ajidarma: "Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa."

Asu! Kepala saya langsung menggigil. Saya memerlukan miras (minuman waras) atau obat penenang untuk menghadapi bayangan kengerian menjadi tua di Jakarta. Saat itu juga saya mengontak teman saya, Subagus, yang kenal baik dengan Sapardi. Saya minta tolong Subagus untuk mencarikan kesempatan bertemu dengan Sapardi dan Subagus menyanggupi.

Pada hari yang telah disepakati oleh Subagus dan Sapardi, hujan mengantar saya ke rumah penyair kurus itu. Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul-mukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan. Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, saya balik badan dan pulang.

Dalam perjalanan pulang saya menemukan sebuah amplop berisi sepotong senja tergeletak di dekat tiang listrik. Pastilah itu sepotong senja yang dikirim Seno untuk seseorang yang sangat merindukannya. Burung yang diminta untuk mengantarkannya ke tujuan agaknya kemalaman, kemudian menjatuhkannya begitu saja di tengah kemacetan jalan. Saya ambil amplop itu, saya selipkan di saku baju. Sesampai saya di rumah, saku baju saya belepotan oleh cairan berwarna kuning kemerah-merahan. Senja yang luntur. Senja orang-orang Jakarta. "Itu bukan senjaku," kata Seno yang saat itu ternyata sedang tidak berada di dunia nyata.

Saya ceritakan kepada Subagus perihal kedatangan saya ke rumah Sapardi seraya minta tolong lagi dicarikan kesempatan kedua untuk berjumpa dengannya dan Subagus menyanggupi. Tidak lupa saya berpesan, "Cari tahu jam yang paling tepat untuk bertemu beliau ya, Su." Memperhatikan gaya bicara Subagus yang terkesan kurang serius, diam-diam saya mencium ada sesuatu yang tidak beres. Namun saya tidak mau berprasangka.

Gelap baru saja datang ketika saya tiba di tempat kediaman Sapardi. Rumahnya kelihatan sepi dan gelap. Saya ketuk-ketuk pintunya dengan sopan. Setelah diketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Tanpa ba-bi-bu ia melepaskan kata-kata: "Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar." Pintu segera ditutup. Saya terperangah dan terpana, lalu balik badan dan pulang.

Dua kali gagal tidak membuat saya menyerah dan kehilangan akal. Tanpa sepengetahuan Subagus, saya mempersiapkan kesempatan ketiga. Untuk usaha ketiga ini, saya akan datang menjumpai Sapardi tanpa janji dan pemberitahuan terlebih dulu. Saya akan memilih sebuah hari yang istimewa. Saya akan menjumpainya dengan cara yang jitu, yang akan membuatnya tidak bisa menghindari saya.

Saya siapkan semua buku kumpulan puisi Sapardi yang saya punya untuk saya mintakan tanda tangan penyairnya. Saya siapkan pula sebuah bingkisan sederhana sebagai tanda terima kasih saya karena sajak-sajaknya telah berhasil menjebloskan saya ke dunia kata-kata yang mengacak-acak ruang dan waktu. Saya merasa sudah siap mental untuk menemuinya lagi. Saya tidak tahu apakah dia juga siap mental.

Dan saat itu pun tiba. Saya datang ke rumahnya malam hari. Saya ketuk-ketuk pintu rumahnya dengan lembut. Setelah saya ketuk-ketuk tiga kali, pintu terbuka. Dari balik pintu muncullah Tuan Sapardi. Saya langsung menembaknya: "Tuan Tuhan, bukan? Tunggu di luar, saya sedang berdoa sebentar."

Ia tertawa tergelak-gelak dengan nada suara yang tak terlukiskan indahnya. Ia mempersilakan saya masuk, lalu membimbing saya menuju halaman belakang di mana terdapat sebuah kolam kecil yang jernih airnya. Kami duduk di tepi kolam. Kami bercermin pada kolam. Melalui air kolam saya dapat melihat dengan jelas sosok penyair hujan itu: di dalam tubuhnya yang tampak ringkih terdapat daya yang lebih.

Sapardi mengenakan sarung dan kaos oblong putih bertuliskan "Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi". Keren sekali. Rupanya dia habis nonton film "Filosofi Kopi". Dan ia menghidangkan kopi seraya berkata, "Seno dan Subagus juga barusan ngopi-ngopi sini." Kopi saya terima dengan takzim. Saya dan kopi tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih haus. Kopi dan saya tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang lebih pahit.

Saya buka tas gendong saya, saya keluarkan sejumlah buku puisi Sapardi untuk ditandatangani oleh penyairnya. Setelah itu kami berfoto berdua. Sah. Sempurna.

Hari itu Sapardi genap berusia 75 tahun. Saya ambil sebuah bingkisan dari dalam tas. Saya ulurkan padanya sebuah botol besar berisi hujan bercampur senja. Ia mengucapkan terima kasih. Ia tempelkan botol itu di telinganya. Ia berbinar-binar mendengarkan suara hujan di dalam botol. Hujan yang hangat dan jingga oleh senja.

Ia bangkit berdiri. Dikocok-kocoknya botol hujan itu berulang kali. Tutup botol tiba-tiba terlepas dan menyemburlah air berwarna jingga. Menyembur tinggi ke udara. Saya masih mendongak takjub ketika semburan air berwarna jingga sudah lenyap tak berbekas. Sapardi menepuk punggung saya. "Lihat!" katanya sambil jari tangannya menunjuk ke arah kolam.

Saya lihat di atas kolam sudah ada sekuntum bunga berwarna jingga. Saya tidak tahu bunga apa namanya. Cahaya bulan memenuhi kolam, membuat bunga jingga itu tampak kian menyala. Kami terdiam beberapa lama. Hening malam membekukan bahasa. Dengan suara pelan dan dalam Sapardi berkata, "Yang fana adalah waktu. Kita abadi."




Tentang Penulis : Joko Pinurbo. Adalah seorang penyair yang sesekali menulis cerpen. Menetap di Yogyakarta, tapi kerap kali ke Jakarta untuk acara kesusastraan. Cerpennya masuk dalam antologi CPK (Cerpen Pilihan Kompas) 2013 dan CPK 2014

Sumber : Kompas, 7 Juni 2015



Cerpen Sori Siregar: Senjata

Cerpen Sori Siregar, Cerpen Kompas 13 Maret 2016


SENJATA

Oleh SORI SIREGAR


"Pada saat tertentu ia merasa perlu memiliki senjata api itu untuk melindungi diri, jika dihadang mara bahaya. Pada ketika lain ia berpikir akan menggunakan senjata genggam itu untuk melukai seseorang yang tidak disukainya dan dibenci orang lain."


Gerson berkali-kali memperingatkan Iros. Duduk di samping jendela dengan wajah yang kelihatan dari luar adalah mengundang bahaya fatal. Jendela double glazing tidak berarti tidak tembus peluru. Jendela berkaca gandaini hanya untuk mengusir suara bising dan udara dingin.

Iros paham akan peringatan Gerson. Di negeri ini, orang dapat membunuh siapa saja tanpa alasan. Para pembunuh itu bukan mantan GI yang bertaruh nyawa dalam perang Vietnam. Tapi orang-orang sakit yang ingin menyembuhkan penyakitnya dengan membunuh. Korban yang tumbang telah terlalu banyak. Tidak berkurang dari tahun ke tahun.

Sasarannya bisa siapa saja. Anak-anak sekolah yang sedang belajar di dalam kelas, para guru yang sedang mengajar, pengunjung restoran, orang yang menunggu kedatangan kereta api di stasiun, pengunjung plaza, supermarket atau mall bahkan orang yang lalu lalang di jalan raya. Siapa saja. Peringatan Gerson itu dilontarkan pada suatu masa lampau yang jauh. Di sana bukan di sini.

Peringatan itu mengendap dalam diri Iros. Dan ia takluk. Hingga saat ini pun ia takut duduk di samping jendela, berbelanja di supermarket atau berjalan kaki di sekitar lapangan sepak bola di dekat rumahnya. Kini suasana di sana dan di sini tidak berbeda. Setiap hari ada saja orang yang pindah ke dunia sana di luar keinginannya. Iros tidak ingin menyusul dan menjadi salah seorang di antara mereka. Ia senantiasa memelihara kewaspadaan bahkan sesekali meningkatkannya.

Hari ini ledakan terjadi di sebuah pasar tradisional. Lima belas orang tewas, hampir semua identitas mereka sukar dikenal karena luka bakar. Petugas keamanan menarik kesimpulan sementara, ledakan yang memorak-porandakan pasar tradisional itu dilakukan teroris. Kesimpulan sementara ini dapat menjadi kesimpulan tetap karena petugas keamanan tidak dapat mengungkapkan siapa para pelakunya. Bom bunuh diri. Kalimat ini sering menjadi jawaban jika para jurnalis bertanya kepada petugas keamanan.

Iros percaya saja, karena ia terkagum-kagum dengan upaya yang pernah dilakukan petugas keamanan dalam menyelamatkan sejumlah sandera di dalam sebuah pesawat terbang. Bagi Iros tidak ada bedanya petugas keamanan yang menjaga keamanan di dalam negeri dan mereka yang yang bertugas menjaga keamanan negara dari serangan luar. Yang penting tugas mereka adalah membebaskan dan menyelamatkanorang dari potensi bencana, seperti pembajakan pesawat terbang itu.

Kekaguman yang tak pernah sirna itu semata-mata karena petugas keamanan dapat melakukan tugasnya dengan sangat baik. Hanya dalam waktu tiga menit. Perhitungan yang cermat membuat mereka dapat membebaskan sandera tiga puluh detik lebih cepat dari yang direncanakan.

Luar biasa. Itulah yang tertanam dalam batok kepala Iros. Sandera dapat dibebaskan dan di pihak petugas keamanan hanya satu orang yang tewas.

Seseorang memberondongkan senjatanya ke sebuah toko mainan anak. Dua orang anak tewas dan tiga orang ibu luka parah. Senjata kembali merenggut nyawa orang. Setelah itu muncul peristiwa serupa di mana-mana. Senjata telah menjadi mesin pencabut nyawa yang menakutkan. Karena itu setiap kali terjadi pembunuhan dengan tembakan, Iros senantiasa terpanggil kembali untuk mendengar saran Gerson. “Jangan pamerkan tubuh melalui jendela kaca. Bahaya mengintai setiap saat”.

Tapi peringatan itu pula yang mengantarkan Iros kembali ke sebuah peristiwa heroik yang dilakukannya beberapa dekade lalu. Ketika berjalan kaki di jalan raya sebuah kota bernama New York, ia mendengar jeritan seorang perempuan. Tanpa ada yang memerintah ia berlari ke arah suara itu. Seorang laki-laki berlari meninggalkan perempuan yang menjerit tersebut. Ia baru saja merampok perempuan tak berdaya itu.

Pada saat semua orang di sekitar terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa-apa, Iros terus mengejar perampok yang kecepatan langkahnya kalah dengan kecepatan langkah Iros. Begitu mendekat Iros segera melemparkan sebuah pukulan ke tubuh lelaki itu. Pukulan telak karate yang membuat sang perampok tak berkutik. Iros yang merasa tugasnya belum selesai segera membawa penjahat itu ke kantor polisi terdekat.

Perampok, pembegal atau mugger kata orang di sana segera ditahan polisi. Sebelum polisi mengetahui siapa Iros ia langsung meninggalkan kantor polisi. Tidak ada catatan sebaris pun catatan tentang dirinya. Polisi ternyata tidak diam. Mereka terus melacak siapa Iros. Lacakan itu berhasildua dasawarsa kemudian, setelah polisi memperoleh data-data tentang Iros. Namanya dicari dari semua mahasiswa asing yang pernah kuliah di kota itu. Polisi juga mencari semua data orang-orang asing, khususnya orang kulit berwarna yang bekerja di kota itu. Upaya tidak mengenal lelah yang akhirnya membuahkan hasil yang diinginkan. Iros mendapat penghargaan dari walikota kota metropolitan itu dan namanya disebutkan dalam berita setelah upacara pemberian penghargaan itu.

Mugger itu bersenjata dan Iros berhasil melumpuhkannya. Mengapa ketika itu ia tidak sedikit pun merasa takut kepada senjata yang setiap saat dapat merenggut nyawanya? Itu di luar perhitungan Iros. Iros tersenyum. Ia merasa peringatan Gerson yang disusul peringatan yang sama dari Suprapto dan Ali Lubis tidak harus dipertahankan dan menjadi miliknya seumur hidup.

Ketika membaca berita bahwa seorang petugas keamanan ditembak mati oleh rombongan perampok yang ingin menjarah sebuah mesin ATM, Iros tertegun. Lalu, ketika seorang hakim juga tewas karena berondongan senjata otomatis, Iros merasa tidak dapat membebaskan diri dari kegelisahan yang memuncak. Aku harus berbuat sesuatu. Begitu ia berjanji kepada dirinya. Ketika sahabatnya sendiri, Utoyo, seorang pelukis surealis, tertembak ia tidak tahan lagi.

Dari temannya yang hanya luka itu ia mendapat informasi bahwa penembak pelukis surealis itu adalah seorang berpakaian sipil, necis dan berdasi. Setelah menembak dengan tenang dan tepat sasaran ia naik ke mobilnya dan meneruskan perjalanan. Ia memang hanya menembak kaki teman Iros sebagai peringatan. Tidak tahu peringatan apa.

Seorang pelukis yang separuh hidupnya diabdikannya untuk seni rupa menjadi korban keganasan orang berdasi. Ini bukan penembak gelap atau penembak misterius, tetapi penembak terang benderang karena dilakukan pada siang hari. Utoyo yang lembut hati itu, sangat terpukul karena ada orang berbuat jahat terhadap dirinya. Karena itu Iros menjadi tumpuan pengaduannya. Iros dengan sabar menampung pengaduan itu.

Iros yang selama ini menggunakan tangannya sebagai senjata kini merasa perlu memiliki senjata api yang terlalu sering digunakan untuk membunuh orang itu. Bukan perlu tapi harus. Kejahatan penembakan tidak dapat ditoleransi lagi. Bagi Iros, tembakan untuk membunuh atau melukai tidak ada bedanya dengan ledakan bom bunuh diri yang beberapa kali terjadi. Ini tidak dapat dibiarkan apalagi kalau dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya tidak dapat ditembus hukum.

Senjata yang menghancurkan ketenangan dan kedamaian. Senjata yang selalu memuntahkan timah panas kepada sasaran yang dijadikan korban. Bisa saja suatu ketika nanti aku yang akan menjadi korban, pikir Iros. Peringatan Gerson, Suprapto dan Ali Lubis agar jangan memperlihatkan diri di balik jendela kaca, kini lebih mengerikan daripada itu. Kini bukan hanya di balik jendela, tetapi di segala tempat baik terbuka maupun tertutup. Mengerikan.

Iros merasa perlu waspada agar tidak menjadi korban tembakan. Tidak ada pilihan lain kecuali menjaga diri dengan memiliki senjata api. Ternyata tidak susah untuk memiliki senjata apalagi senjata api genggam rakitan seperti yang dipunyai Iros. Keinginan waspada dan menjaga diri ini belakangan berkembang menjadi hasrat untuk menjaga keamanan dan keselamatan orang lain, misalnya orang-orang yang disandera di suatu tempat.

Karena keinginan itu ia diantar kembali kepada situasi mencekam yang disaksikannya dalam film Dog Day Afternoon. Sang penyandera yang diperankan Al Pacino yang menjadi idolanya itu tampak sangat hati-hati, cermat dan tidak gentar menghadapi para petugas yang akan membebaskan sanderanya. Bagaimana jika nanti ia akan berhadapan dengan penyandera seperti yang diperankan Al Pacino itu? Dapatkah ia membebaskan sandera hanya dalam waktu 3 menit seperti yang pernah dialami pasukan keamanan di masa lampau itu?

Penyanderaan di dalam pesawat terbang atau di dalam bank sama saja. Menakutkan dan merampas habis semangat dan keberanian para sandera. Iros ingin tampil dan maju ke depan untuk menjadi juru selamat seandainya penyanderaan terjadi di sekitarnya. Ia menunggu dan terus menunggu. Selama penantian, penembakan terus berlangsung walaupun itu dilakukan secara resmi untuk membunuh penjahat atau karena salah paham. Ia tidak punya alasan untuk menjadi juru selamat. Penyanderaan tak pernah terdengar.

Iros menimang-nimang senjata api di tangannya. Pada saat tertentu ia merasa perlu memiliki senjata api itu untuk melindungi diri, jika dihadang mara bahaya. Pada ketika lain ia berpikir akan menggunakan senjata genggam itu untuk melukai seseorang yang tidak disukainya dan dibenci orang lain.

Pilihan dijatuhkannya kepada yang kedua. Ia pun menetapkan sasaran dan tinggal melaksanakan rencananya. Ia menunggu calon korban tidak jauh dari rumahnya. Begitu yang ditunggu pulang dan berjalan keluar dari mobilnya sebelum supir mematikan mesin Iros melepaskan tembakan dua kali di dada sang korban. Orang yang dijadikannya korban adalah seorang pemegang kekuasaan yang sering melukai hati masyarakat dan menipu rakyat. Orang itu adalah adik kandungnya sendiri.



* Sumber Koran Kompas Minggu, 13 Maret 2016
** Ilustrasi dari SINI


Puisi - puisi Joko Pinurbo

Penyair Joko Pinurbo bisa dibilang seorang penyair yang membumikan puisi dari tempatnya nun jauh di langit. Melalui karya-karya puisinya yang kerap menggunakan metafora sehari-hari, puisi ibarat seorang teman lama yang berkunjung ke rumah jiwa pembaca. Bagi Jokpin, puisi tak hanya endapan emosi meledak-ledak yang datang spontan dan butuh penyaluran, namun puisi lebih merupakan pencarian makna filosofis atas tiap pengalaman kemanusiawian yang disampaikan dengan bahasa komunikatif, akrab dan cepat dipahami khalayak penikmat sastra. Cermati saja petikan bait ke IV dari salah satu karya puisinya yang berjudul KENANGAN berikut ini:

Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang bencimu. Ia membencimu
dengan lebih untuk menunjukkan
bahwa ia mencintai dirinya sendiri dengan kurang.

Jokpin ingin menyampaikan pada pembaca kalau sebenarnya tiap orang sebagai individu sering dihasut oleh kebencian yang ditumbuhkannya dengan subur dalam hati. Membenci berakibat meresahkan jiwa, sebab orang akan dibuat cemas, gelisah, dan marah tanpa alasan yang masuk akal. Akibatnya, "si-tukang benci" lebih sibuk mengurusi orang yang dibencinya dan lalai memperbaiki diri sendiri. Dalam bahasa puitis Jokpin, orang yang dihasut dengan perasaan membenci menunjukkan bahwa ia mencintai dirinya sendiri dengan kurang.

Joko Pinurbo, Jokpin, puisi jokpin terbaru


Ada tujuh karya puisi Joko  Pinurbo terbaru, yang sebelum dimuat dalam rubrik AKHIR PEKAN PUISI, Harian KOMPAS, Sabtu 5 Maret 2016. Silakan dinikmati dan temukan makna filosofis yang terkandung dalam tiap karya puisi terbaru tersebut, semoga bisa memberikan manfaat dan menjadi bahan refleksi diri bagi pembaca.

Kenangan
Oleh JOKO PINURBO


Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang cukurmu. Ia memangkas
rambutmu dengan sangat hati-hati
agar gunting cukurnya tidak melukai keluguanmu.

Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang baksomu. Ia membuat
baksomu dengan sepenuh hati seakan-akan kau
mau menikmati jamuan terakhirmu.

Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang fotomu. Ia memotretmu
dengan sangat cermat dan teliti agar mendapatkan
gambar terbaik tentang bukan-dirimu.

Suatu saat kau akan jadi kenangan
bagi tukang bencimu. Ia membencimu
dengan lebih untuk menunjukkan
bahwa ia mencintai dirinya sendiri dengan kurang.

(Jokpin, 2016)


Yang
Oleh JOKO PINURBO


Perjalanan nasib saya tak dapat dilepaskan
dari pesan-pesan indah yang dinaungi kata yang.

Pesan ibu: Yang kauperlukan hanya tidur
yang cukup, pikiran yang jernih, dan hati yang pasrah.
Pesan hujan: Yang tumpah akan menjadi berkah.
Pesan jalan: Yang jauh akan tertempuh
asal kau sabar mengikutiku selangkah demi selangkah.

Dalam untung dan malang saya selalu teringat
pada kelembutan kata yang. Dan setiap memandang
kata yang, saya merindukan seorang ibu
yang sabar menuai hujan sepanjang jalan.

Berjalan bersama yang kadang memang
terasa lamban dan membosankan, lebih-lebih
jika hidupmu selalu diburu-buru oleh tujuan.
Kau dapat saja mengatakan, “Yang kauperlukan
hanya tidur cukup, pikiran jernih, dan hati pasrah.”

Kali lain, tanpa yang, perjalananmu terasa
garing dan tergesa. Karena itu, kau lebih suka bilang
“Aku berlindung pada matamu yang polos dan bibirmu
yang lugu dari godaan rindu yang menggebu”
ketimbang “Aku berlindung pada mata polos
dan bibir lugumu dari godaan rindu menggebu”.

Berjalanlah. Jika hatimu macet parah dan endasmu
mau pecah, berserahlah pada kelembutan kata yang.

Pesan ranjang: Yang dedel-duel dalam perjalanan
akan disembuhkan oleh tidur yang cantik dan ramah.

(Jokpin, 2016)


Pada Suatu
Oleh JOKO PINURBO


Guru Bahasa Indonesia saya pernah berkata,
“Kiamat tak akan ada selama kau masih dapat
mengucapkan pada suatu hari atau pada suatu ketika.”

Dengan pada suatu hari atau pada suatu ketika
engkau yang kacau dapat disusun kembali,
aku yang beku dapat mencair dan mengalir kembali.

Dalam pelajaran mengarang di sekolah
kau pasti pernah menggunakan pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Begitu pun saya.

“Hidupmu lebih luas dari pada suatu hari
dan pada suatu ketika. Carilah pada suatu yang lain,”
pesan guru saya saat saya lulus dan berpamitan.

Pada suatu cium surga samar-samar terbuka;
maut tersipu, silau oleh cahaya matamu.
Pada suatu tidur bantal terpental, guling terguling,

dan di atas ranjang yang runtuh doaku utuh.
Pada suatu kenyang piring bersabda, “Nikmat apa lagi
yang kauminta bila lidahmu tak pernah bisa bahagia?”

Pada suatu syukur ada suara burung trilili
yang gemar bermain tralala sepanjang waktu
dan tak pernah bertanya, “Apakah kebahagiaan itu?”

Pada suatu mandi tak ada sumuk yang abadi.

(Jokpin, 2016)


Keluarga Puisi
Oleh JOKO PINURBO


Aku mendapat tugas mengarang dengan tema keluarga
bahagia. Aku siap melaksanakan tugas. Semoga guruku
yang baik dan benar dapat menikmati karanganku.

Ibu sedang mekar di ranjang,
harumnya tersebar ke seluruh kamar.
Ayah sedang berembus di beranda
dan aku masih menyala di atas meja.

Pagi-pagi ibu sudah mengepul di dapur,
ayah berderai di halaman,
dan aku masih gemercik di tempat tidur.

Kakek sudah menguning,
tak lama lagi akan terlepas dari ranting
dan menggelepar di pekarangan.
Nenek sudah hampir matang,
sudah bersiap meninggalkan dahan
dan terhempas di rumputan.


Guruku tersenyum misterius membaca tulisanku.
Ia memanggilku hanya untuk mengatakan bahwa aku
telah membuat karangan bagus tentang keluarga gaib.

(Jokpin, 2016)


Dihadapan Rahasiapa
Oleh JOKO PINURBO


– untuk Adimas Immanuel

Seorang penyair muda meninggalkan kotanya
dan pergi jauh ke kota impiannya. Foto dirinya
tersenyum manis di dinding kamarnya: “Hati-hati
di jalan. Jalanmu adalah sajak terpanjangmu.”

Di manakah kota impiannya tersembunyi?
Di sebuah surga yang hampir cantik macetnya
atau di sebuah hati yang belum ia temukan kodenya?
Ia tak mengerti sebab pergi adalah mencari.

Kadang ia bertanya, di hadapan siapa ia menulis.
Di hadapan kata-kata, itu pasti. Di hadapan
yang tak terucapkan kata-kata, itu lebih pasti.
Ia curiga, jangan-jangan jawab terbaik terselip
di senyum manis foto dirinya di dinding kamarnya.

Kata-kata datang dan pergi, meninggalkan bunyi,
menyisakan sunyi. Ketika jam berdentang
memukul waktu, ia teringat sebuah lagu keroncong
yang dinyanyikan seorang penyanyi Solo:
“Engkau mengalir sampai jauh, akhirnya ke aku.”

(Jokpin, 2016)


Lubang Kopi
Oleh JOKO PINURBO


Jam tiga pagi Waktu Indonesia Bagian Kopi
lampu tidur di matanya menyala kembali.
Hujan tinggal bekas dan kopi sudah menjadi miras.

Ia sedang jatuh cinta pada kantuknya
ketika dilihatnya lubang besar di layar komputernya.
Lubang kopi yang hitam menganga.

Kata-kata berjatuhan ke dalam lubang
dan tak kembali. Dan kembali sebagai sunyi.

Dari dalam lubang muncul seekor kucing
bermata cerlang dan manis. Kucing biru yang dulu
hilang di balik hujan dan ia hampir menangis.

Kucing itu terbuat dari kata kangen yang keluar
dari kamus, lalu masuk ke lubang sunyi
jam tiga pagi Waktu Indonesia Bagian Kopi.

(Jokpin, 2016)


Misal
Oleh JOKO PINURBO


Misalkan Aku datang ke rumahmu
dan kau sedang khusyuk berdoa,
akankah kau keluar dari doamu
dan membukakan pintu untukKu?

(Jokpin, 2016)

* Gambar dari situs idwriters com