Lucille Clifton's Poem

Dunia pengalaman manusia itu begitu kompleks. Semakin seseorang mengalami berbagai hal secara konkrit dalam kehidupannya, semakin rumit pengalaman batiniah yang bersemayam dalam jiwanya.

Tentu saja ada hal-hal yang berkesan dalam pengalaman nyata manusiawi sulit dilupakan dan sekaligus amat mendesak ingin dikemukakan. Maka, seni pun hadir memfasilitasi keinginan individu untuk mengekspresikan hal tersebut. Sebab, walaupun banyak sarana pengungkapan dan pemaknaan atas pengalaman, tetapi kiranya belum memadai untuk menampung secara lengkap seluruh kompleksitas pengalaman manusiawi itu.

Sastra sebagai sarana artistik terhadap ekspresi pemaknaan dunia pengalaman manusiawi kerap dimanfaatkan. Barangkali ia dipilih karena dipandang dapat membantu manusia membangun sebuah prasasti yang menandai bahwa ada hal-hal tertentu dalam pengalaman konkrit manusiawi yang ingin diabadikan secara indah, reflektif dan menjadi penajam ingatan.

Demikian yang dilakukan oleh penyair Amerika, Lucille Clifton. Ia memanfaatkan puisi sebagai salah satu jenre sastra yang sering digunakan untuk memadatkan dalam artian merangkum keseluruhan perasaan dan pikiran sang penyair atas sebuah peristiwa berkesan yang pernah dialaminya. The Lost Baby Poem adalah sebuah sajak yang amat menyentuh, indah dan berisi renungan mendalam tentang sebuah penyesalan akan kehilangan buah hati. Mari kita simak bersama.


The Lost Baby Poem
By LUCILLE CLIFTON


the time i dropped your almost body down
down to meet the waters under the city
and run one with the sewage to the sea
what did i know about waters rushing back
what did i know about drowning
or being drowned

you would have been born into winter
in the year of the disconnected gas
and no car we would have made the thin
walk over Genesee hill into Canada wind
to watch you slip like ice into stranger's hand
you would have fallen naked as snow into winter
if you were here i could tell you these
and some other things

if i am ever less than a mountain
for your definite brothers and sisters
let the rivers pour over my head
let the sea take me for spiller
of seas let black men call me a stranger
always for your never name sake


───►

Sajak Bayi yang Hilang
Oleh LUCILLE CLIFTON

sewaktu aku jatuhkan tubuhmu yang hampir jadi
ke bawah menemui air di bawah kota
dan mengalir menyatu dengan selokan ke laut
tahu apa aku tentang air yang balik menerjang
tahu apa aku tentang terbenam
atau dibenamkan

kau sedianya lahir di musim dingin
di tahun gas diputuskan
dan tiada mobil kita harus berjalan penuh bahaya
melewati bukit Genesee menjelang angin Kanada
untuk melihatmu meluncur ke tangan asing seperti es
kau akan jatuh telanjang seperti salju di musim dingin
andai kau ada di sini dapat kuceritakan itu
dan beberapa hal lain

bila aku pernah kurang daripada gunung
bagi saudaramu laki dan perempuan yang jadi
biarlah sungai membanjiri kepalaku
biarlah laut menganggap aku jatuh
ke laut biarlah lelaki hitam mengatakan aku orang asing
selalu demi kau yang tanpa nama

Filsafat dan Manfaatnya

ilmu filsafat, pengertian filsafat, manfaat filsafat, filsafat eksistensialisme



Apa itu filsafat?

Manusia berinteraksi dengan kehidupannya melalui pengalaman-pengalaman yang kompleks dan ambigu, yang sebagian besar tak terpikirkan olehnya. Meminjam bahasa fenomenologi Edmund Husserl, sebagai Lebenswelt – hidup yang dijalani/dihayati. Pelbagai pengalaman yang dihasilkan melalui “hidup yang dihayati” tersebut pada momen-momen tertentu barulah direfleksikan (direnungi guna menemukan apa gerangan makna terdalam dari sesuatu yang dijalani sebelumnya).

Sikap reflektif mempertanyakan makna-makna dari pengalaman hidup manusiawi itu akhirnya juga mencapai pada kedalaman tertentu, yakni pencarian jawaban dari sederet pertanyaan pokok atau yang paling mendasar. Mulailah manusia sebagai subjek diri yang berkesadaran merenungi tema-tema pokok yang ada dalam hidup dan kediriannya seperti dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan:

Siapa aku? Bagaimana aku ada? Apa itu hidup? Mengapa aku hidup? Untuk apa aku hidup? Bolehkah tidak menjalani hidup? Apa alam semesta ini? Bagaimana alam semesta ada? Siapa yang menciptakannya? Apakah alam semesta ada dengan sendirinya? Dan banyak lagi pertanyaan kemanusiawian yang bersifat reflektif dan mendasar lainnya.

Pencarian jawaban-jawabannya yang mungkin terus dilakukan manusia. Karena, nalarnya yang semakin kritis tak mau berhenti bila belum menemukan apa yang dicari. Pada tataran ini, filsafat adalah suatu refleksi rasional, kritis dan radikal atas hal-hal pokok dalam hidup manusia itu sendiri. Filsafat sebagai ilmu yang khas, berbeda dari ilmu-ilmu eksperimental lainnya, memfasilitasi manusia untuk memikirkan secara bebas (free – thinking) apapun dengan bersandarkan pada kekuatan nalar (bukan berpikir melalui panduan dogmatis, pedoman tertentu seperti agama, moral, theologi ataupun sains sebagai ilmu positif).

Dari sudut pandang manusia modern yang pragmatik, filsafat sering dipandang sebagai kesibukan yang aneh, tidak memberikan manfaat praktis yang bisa langsung digunakan. Ini boleh jadi karena filsafat memang tidak bertujuan untuk menelaah suatu soal, yang akan berhenti ketika telah menemukan nilai guna yang praktis, dan secara pragmatik dapat dimanfaatkan langsung sehingga dapat memberikan keuntungan yang cepat. Filsafat sifatnya tidak menyukai kedangkalan, malah filsafat sering menggali sesuatu hal yang telah dalam agar lebih dalam lagi terus-menerus. Tentunya aktifitas ganjil ini cukup menghabiskan waktu dalam pandangan orang-orang pragmatik yang menyukai segala sesuatu kalau perlu prosesnya harus secara instan, sekalipun amatlah artifisial makna dari apapun yang diperoleh melalui proses tersebut.

Jika ingin mengetahui bagaimana sebatang pohon berdiri tegak di atas tanah, filsafat biasanya menggali lubang tepat di bawah pohon tersebut sampai pohonnya tumbang akibat akarnya tercerabut. Pada tataran ini, maka filsafat menunjukkan perangai aslinya yakni suka mengguncang-guncang, mengobrak-abrik dan membongkar sampai ke bagian paling ujung akar pokok permasalahan yang sedang diselidikinya. Filsafat pun kemudian mendapat gelar kehormatan sebagai refleksi yang amat radikal atas apapun yang ditelaahnya. Ia bersifat dekonstruktif – membongkar yang sudah mapan, lalu membuat kebaruan melalui reruntuhan bangunan yang telah diporak-porandakan sebelumnya. Sungguh keputusan yang amat bijaksana bila seseorang yang berada dalam krisis kehidupan, misalnya kehilangan jati diri atau terpuruk akibat kebangkrutan perekonomiannya, untuk tidak mempelajari filsafat. Sebab, filsafat justru akan membuatnya menjadi bingung bukan kepalang, dan bintang-bintang mengelilingi kepalanya yang pusing kian banyak. Apabila nekat juga, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, orang itu akan mengakhiri hidupnya yang semakin absurd akibat racun filsafat dan hasutan keputus-asaan akibat keterpurukannya. Kemungkinan yang terakhir ia akan berubah menjadi mahluk yang paling bergaya eksentrik di permukaan bumi dalam artian tidak tahu lagi mana yang baik dan buruk bagi dirinya akibat kesehatan mental yang mengharukan.

Ketika filsafat dipandang sebagai renungan melalui pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kritis, ia seumpama seorang anak kecil yang tanpa lelahnya bertanya apapun pada ibunya. Ini pun menjadi ciri filsafat sebagai keluguan seorang anak yang baru saja terbuka nalarnya, dan dirundung rasa penasaran akan objek-objek yang dilihat nyala pikiran terangnya.Oleh karenanya, filsafat tampak pula seperti perpanjangan tangan dari naluri kekanak-kanakan. Di sinilah tampak kemurnian filsafat yang ingin mengembalikan entitas tanpa dibebani abstraksi apapun. Ia seperti ingin mengingatkan pada manusia tentang siklus kehidupan, yang akhirnya kembali kepada asal mula (kepolosan sering tampak jelas pada diri individu setelah menjelang usia senja).

Manakala filsafat disebut sebagai permainan yang menguras pikiran, ia memang olahraga bagi otak. Bila tubuh fisik agar tak mudah sakit, selain diberi asupan bergizi tubuh pun perlu dilatih melalui olahraga. Demikian pula dengan pikiran manusia. Supaya tidak cepat tumpul, pikun dan kehilangan kemampuan menalar secara jernih, menghindari kemandekan yang berakibat kemunduran kualitas hasil olah pikirnya, filsafat menjadi semacam latihan menyenangkan bagi kemaslahatan pikiran.

Kodrat manusia itu sebenarnya ingin memaknai segala pengalaman dalam rangkaian episode kehidupannya. Manusia adalah apa yang dijalaninya dalam kehidupan. Ia bebas menentukan apapun yang direncanakan untuk hidupnya sekaligus dirinya. Manusia, oleh karena itu, adalah proyek pribadinya yang tak pernah selesai. Dan filsafat memberikannya petunjuk secara terang dan lugas dalam hal ini.


Apa saja manfaat yang dapat diberikan filsafat pada diri manusia?

Selayang pandang kita telah mengetahui apa itu filsafat. Sekilas juga kita dapat mengerti manfaat yang diberikan olehnya. Namun, untuk lebih memahaminya lagi tentu ada baiknya kita pun mencari tahu kegunaan dari filsafat, lebih tepatnya mempelajari filsafat.

Dunia modern sebenarnya menantang segala batas. Batasan-batasan dipandang sebagai ilusi ujung kaki langit di tengah bentangan lautan yang amat luas. Ketika orang melampaui sebuah batasan, pada saat itu juga ia tersentak bahwa masih ada tantangan baru lagi untuk melampaui batasan yang baru saja diarunginya. Batasan seperti bergerak mundur yang menjauhi. Dulu sekali orang berpikir bahwa manusia tak mungkin bisa terbang. Mengandaikan manusia bisa melayang bebas di udara seperti burung dipandang sebagai kenaifan. Baru ketika ada ilmuwan yang melakukan percobaan dengan membuat alat supaya manusia bisa terbang, orang-orang yang naif pun terkejut bukan kepalang. Manusia pun tersadar, atau lebih tepatnya digigit gemas oleh kesadarannya sendiri. Konsepsi usang yang naif dimana mengukung kebebasannya untuk ”memanusiawikan” diri sendiri pun akhirnya ditinggalkan. Ia lalu bangkit karena sadar akan kediriannya yang merupakan penentu nilai-nilai dan batasan-batasan. Ia insyaf akan hal-ihwal apapun bisa dilampauinya tanpa batasan.

There’s no limit. Except man created it! Bagaimana sikap progresif revolusioner yang demikian bisa muncul dalam kedirian manusia? Sehingga dapat mengubah pola pikir yang sebelumnya mengikuti pendapat umum yang naif, menjadi sikap mandiri yang yakin dengan kemampuannya sendiri? Jawabannya adalah filsafat! Salah satu manfaat mempelajari filsafat yaitu membuat manusia mempunyai kemandirian dalam sikap dan pemikiran. Filsafat menerangkan padanya sisi-sisi tersembunyi dalam diri manusia, seperti pemikirannya yang mampu melewati segala tantangan dan rintangan yang membuat diri manusia terkondisi.

Filsafat menganjurkan manusia untuk menentukan siapa dirinya sendiri sebagai subjek yang berkesadaran. Manusia sebagai subjek diri yang mandiri dalam berpikir dan bersikap, bukan manusia yang dikendalikan kecenderungan pendapat umum yang belum tentu benar. Anti-mainstream tidak ikut arus saja dimana orang kebanyakan menyukainya. Para Nabi, tokoh-tokoh dunia adalah mereka yang melawan arus. Tidak sepenuhnya meyakini adagium: Vox populi vox Dei. Belum tentu suara mayoritas mengandung nilai kebenaran yang hakiki. Tak jarang suara minoritas lebih memancarkan kilauan cahaya kebenaran yang sedang dicari. Siapapun yang mempelajari filsafat memiliki kemandirian yang dianugerahkan padanya sebagai hadiah yang tak ternilai berkat jerih payahnya mengenal kedirian yang otonom. Mandiri tanpa bisa digoyahkan oleh apapun di lingkungannya, mengubah haluan dari tradisi budaya komunal kepada sikap pribadi yang bertanggung-jawab terhadap identitas diri yang otentik.

Hal penting lainnya dan bermanfaat yang diberikan filsafat pada manusia adalah ketajaman berpikir kritis. Ini berarti filsafat melatih manusia untuk memilah-milah mana yang artifisial (remeh-temeh), dan mana saja yang esensial (penting, inti, utama). Tentunya kemampuan pisau tajam pemikiran kritis yang didapat siapapun setelah mempelajari filsafat ini sangat berguna baginya. Contoh kecil saja, orang dengan ketajaman pemikirannya akan menghindari diri untuk memikirkan masalah-masalah sepele yang menghabiskan waktunya sia-sia. Ia lebih memilih mengembangkan kemampuan dirinya agar apa yang dicita-citakan tercapai. Mengapa? Karena, nilai kedirian manusia adalah tergantung pada apa yang dialaminya selama hidup. Dirinya adalah kebenaran eksistensial. Aku adalah tubuh diri yang utuh, sadar akan dunia yang kubentuk sendiri!

Karena terbiasa menganalisa suatu persoalan secara tuntas betapapun peliknya, filsafat memberi kemampuan pada siapa pun agar dapat mengatasi tiap persoalan secara holistik, tidak setengah-setengah apalagi lari daripadanya. Di sini peran filsafat melatih diri untuk mahir menggunakan problem solving dalam rangka menemukan solusi cerdas terhadap persoalan yang dihadapi. Sesuatu hal didekati dengan cara menganalisa mulai dari unsur terkecil penyebabnya, lalu menelusuri keterkaitan sebab-akibat yang memunculkan masalah tersebut. Pemecahan masalah yang ditawarkan filsafat murni dengan cara penalaran yang bebas tanpa dibebani perspektif dogmatis apapun. Ini berarti filsafat tidaklah begitu kaku melihat suatu masalah dari sudut pandang tertentu yang tak jarang justru merumitkannya. Orang yang mempelajari filsafat biasanya mampu menelisik akar persoalan sampai dengan menemukan solusi dengan segala kemungkinan pemecahan yang diterima akal sehat.