Fungsi Dialog dalam Teks Fiksi

Setiap kali membaca teks cerita fiksi kita selalu menemukan adanya orang-orang tertentu yang sedang bercakap-cakap, berdebat atau bahkan meluapkan kemarahan. Kita langsung merasa bahwa itu seolah-olah sebuah peristiwa sebenarnya, bukan lagi kisah rekaan. Perasaan dan pikiran kita terbawa hanyut masuk ke dalam cerita. Karena, kita telah menanggapi dunia yang disajikan dalam teks fiksi sebagai peristiwa faktual. Hal ini disebabkan kehadiran tokoh-tokoh yang sedang berinteraksi yang menghidupkan cerita melalui serangkaian dialog mereka.

Bayangkan apa jadinya sebuah teks cerita fiksi yang tidak memuat secuil dialog pun di antara tokoh cerita? Barangkali ketika kita membacanya muncul perasaan bosan. Sebab, kita hanya diberi ’gambaran bisu’ yang monoton, minim adegan dan terasa hambar.

Oleh karenanya, dialog mau tak mau mesti termuat dalam teks cerita fiksi apapun jenisnya. Dialog memang berperan penting. Apa fungsinya? Mari kita selidiki bersama.


dialog, cara menulis dialog, dialog dalam teks, fungsi dialog, dialog dalam cerita, teks fiksi dan dialog


1. Dialog memungkinkan pembaca untuk terlibat aktif dalam penceritaan. Melalui dialog, pembaca teks cerita fiksi akan diarahkan masuk ke dalam posisi percakapan interaktif. Ia akan menanggapi cerita dengan pikiran dan perasaannya untuk mencari tahu apa yang tersirat, maksud dan tujuan di balik ekspresi verbal tiap tokoh cerita yang sedang terlibat dalam satu percakapan.

2. Dialog bersifat mengungkapkan kondisi psikis tokoh dan peranannya dalam perkembangan cerita. Pembaca dapat memahami bagaimana sifat-sifat tiap tokoh, menemukan posisinya dalam cerita apakah sebagai protagonis atau malah antagonis.

3. Dialog dapat menciptakan krisis atau menimbulkan konflik cerita. Ketika disajikan perdebatan sengit antara dua tokoh cerita terhadap suatu soal, ini secara langsung memunculkan ketegangan yang menggerakkan cerita.

4. Dialog mengubah status fiksional dari teks cerita fiksi menjadi faktual. Hal ini disebabkan adanya penggambaran suasana dari peristiwa tertentu dalam cerita yang ’seolah-olah terjadi’ sebagaimana kenyataan faktual sehari-hari. Ada orang-orang yang sedang bercakap-cakap dalam waktu dan tempat tertentu, yang memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi di dunia nyata.

5. Dialog mampu menyajikan kesan sinematik pada teks cerita fiksi. Cerita tersaji ke hadapan pembaca sebagai rangkaian peristiwa hidup yang menarik perhatian, bukan seperti sedang didiktekan oleh pengarang sebagai penjelasan ulang secara naratif. 

Jadi kalau kita hendak mengarang sebuah cerita fiksi yang hidup, penyajian dialog yang menggerakkan cerita melalui krisis dan penyelesaian, mengungkapkan keterlibatan aktif tiap tokoh amat berperan penting guna menopang cerita. Sebuah cerita akan terkesan hidup dengan adanya dialog, dan menawarkan pada pembaca untuk terlibat masuk ke dalam dunia fiksi dengan sukarela. 

Gemilang Berprestasi Ala Angga

“The good life is one inspired by love and guided by knowledge.” BERTRAND RUSSELL

Orang boleh saja lahir dari sebuah keluarga berlatar-belakang ekonomi amat sederhana. Sehari-hari hidup pas-pasan bahkan kekurangan. Namun, selagi masih menyala semangat untuk menjadikan dirinya istimewa dan gemilang dengan berbagai prestasi, kemampuan ekonomi yang terbatas bukanlah penghalang berarti untuk merealisasikan mimpinya itu.


Angga Dwituti Lestari, Kick Andy Show, Miskin Tapi Cumlaude


Gambaran di atas secara nyata dialami oleh Angga Dwituti Lestari, Sarjana Sains yang lulus cumlaude dengan IPK 3,98 dari Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret dalam masa studi yang ditempuh 3,5 tahun. Ia putri dari pasangan buruh tani yang sangat sederhana tinggal di bawah Gunung Merapi, Sleman – Yogyakarta. Penghasilan orang-tuanya didapat dari menggarap sawah orang lain. Dari pekerjaan itu, sang ayah yang hanya lulus SMP membiayai kebutuhan keluarga dengan uang 500 ribu – 750 ribu rupiah, yang digunakan untuk belanja selama sebulan. Ibunya yang drop-out kelas 2 SD bekerja menjadi kuli angkut padi dan beras. Perekonomian keluarganya tentu amat pas-pasan. Tak jarang untuk kebutuhan makan sehari-hari tak terpenuhi dengan layak.

”Dulu pernah kami makan hanya dengan garam dan kerupuk. Itu pernah,” tutur Angga dalam sebuah dialog di acara Kick Andy Show. ”Karena memang tidak cukup penghasilan dari jadi buruh tani di desa.”

Dengan kondisi ekonomi yang seperti itu, siapa saja akan bertanya-tanya bagaimana cara seorang Angga mampu berprestasi gemilang dari sejak SD hingga Perguruan Tinggi. Ia mengisahkan pengalaman hidupnya yang luar-biasa dengan senyum manis yang senantiasa terlukis di wajah. Seolah menjadi sebuah isyarat yang ditujukan pada kita bahwa terbebas dari kesusahan hidup dengan gigih berjuang akan terasa begitu manis buahnya.

Kehidupan sulit yang selalu dirasakan keluarga bukannya membuat Angga mengeluh, tetapi telah menggembleng dirinya untuk tetap berani meraih mimpi. Sejak kecil si-bungsu dari dua bersaudara ini tekun belajar dan berbakti pada orang-tuanya. Ia tak sungkan membantu ayahnya ikut ’matun’(menyiangi gulma dan rerumputan) di sawah, menggembala dan mencari pakan ternak. Dari sejak kelas 5 SD hingga SMP, pekerjaan ini sudi dilakukannya karena kesadaran akan peran sebagai seorang anak dari keluarga buruh tani. Ia tahu bantuan sekecil apapun untuk meringankan beban orang-tuanya amatlah berarti, dan dari sanalah pembelajaran tentang arti kehidupan yang bermanfaat mulai ia dapatkan.

Baru ketika Angga diterima masuk di SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta, ia tidak lagi berkubang di sawah ataupun menggembala kambing. Orang-tuanya tahu ia butuh cukup waktu untuk belajar dengan serius. Ia diperbolehkan tidak lagi membantu mereka sebagaimana biasa. Orang-tuanya telah berbesar hati, menurut Angga.

”Kamu harus sekolah saja. Belajar saja. Jangan bantu orang-tua. Biar kamu menjadi anak yang pintar, tapi biar kami yang menderita,” ia masih mengenang ucapan orang-tuanya waktu itu.

Dimotivasi sedemikian rupa, Angga merasa mendapat kekuatan tersendiri. Pengorbanan orang-tua yang rela menderita akibat menanggung beban berat kehidupan demi prestasi gemilangnya amat tak ternilai. Ia begitu menghargai. Ini dibuktikan dengan prestasinya yang berhasil menembus masuk Universitas Sebelas Maret pada program studi ilmu Biologi Fakultas MIPA. Dari sejak awal menjadi mahasiswi di universitas tersebut, Angga mendapat biaya pendidikan dari pemerintah melalui beasiswa bidikmisi.

Angga juga berwirausaha dengan menjual minuman jus buah semasa kuliah. Ada sebuah cerita menarik soal awal mula ia berjualan. Katanya saat itu ada tetangga yang membutuhkan bantuan. Seorang ibu ingin meminjam uang tabungannya untuk suatu keperluan mendesak. Ia tak tega menampik permohonan si-ibu. Akan tetapi, ia tak ingin bantuan yang diberikan tidak memecahkan persoalan sebenarnya – himpitan kesulitan ekonomi yang berkepanjangan.

Angga lalu berpikir kalau si-ibu langsung diberinya pinjaman uang, itu berarti pertolongan sebenarnya agar terlepas dari kesulitan belumlah diberikan. Pendapatnya mengatakan bahwa si-ibu hanya dibantu supaya ’bisa makan’, tetapi tidak dibantu dengan diberitahu ’cara mencari makan’.

Selanjutnya, ia mengajak ibu itu untuk berjualan jus buah bersamanya secara kecil-kecilan. Pengetahuan yang didapat di bangku kuliah cukup mendalam tentang manfaat buah. Ini menunjang kelancaran usahanya. Selain itu, Angga berkeyakinan jalannya dipermudah karena niat mulia ingin membantu orang lain. Ia menuturkan selama niat kita tulus mau menolong orang, Tuhan tidak tidur. Pasti ada jalan yang memudahkannya. Sekalipun kuliah sambil berjualan minuman jus begitu, prestasi akademiknya tetap cemerlang. Ia pernah mencapai nilai IPK 4,0 sempurna ketika berada di semester IV. 

Kita pantas berdecak kagum pada kegigihan perjuangan gadis yang lahir pada 20 Februari 1992 ini dalam usahanya meraih prestasi dalam pendidikan. Anugerah kecerdasan yang diberikan Tuhan, ia syukuri dengan cara tekun dan bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Kemampuan ekonomi keluarga yang rendah untuk membiayai pendidikan bukanlah penghalangnya untuk mengukir prestasi. Angga mematahkan asumsi bahwa pendidikan tinggi hanya layak dimiliki anak-anak kaum berada. Ia mampu menginspirasi anak-anak lain dari keluarga sangat sederhana agar jangan takut bermimpi meraih prestasi setinggi-tingginya. Ia telah membuka mata kaum pinggiran di Indonesia bahwa hanya pendidikan yang layak dapat membebaskan mereka dari himpitan penderitaan hidup. Untuk itu layak diperjuangkan.

Setelah lulus S1 dengan predikat cumlaude, Angga masih bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Lalu pulang karena ingin membangun desanya. Sebuah dusun yang dihuni masyarakat dengan tingkat kemampuan ekonomi level menengah ke bawah. Ia bertekad bahwa desanya harus terbebas dari kemiskinan. Apabila ia berhasil melakukan itu, baru ia merasa dirinya berarti bagi orang banyak.

”Jadilah anak yang pintar karena itu akan berarti untuk orang lain,” inilah motivasi terbesar, yang tertanam dalam dirinya sejak dulu. ”Jadilah orang yang baik budinya, pekertinya dan bermanfaat untuk masyarakat.”

Kita belajar dari Angga. Kini kita dapat memahami bahwa daya juang yang besar untuk mengubah nasib, keinginan untuk membuat diri berarti bagi orang banyak bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Selama di dalam diri masih ada keyakinan yang kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpi selalu ada jalan yang memudahkannya. Tuhan hanya akan mengubah kondisi memprihatinkan yang dialami seseorang bila orang itu mau tergerak melakukannya. [M.I

Inspirasi dari Kick Andy Show


Kick Andy Show, Berniaga di Dunia Maya, Cara Jualan di Internet, Dialog Interaktif Cara berdagang melalui jaringan internet
Andy F. Noya bersama Narasumber Kick Andy Show

Bagi pemirsa Indonesia, acara dialog interaktif Kick Andy Show terasa sangat akrab. Program hiburan edukatif yang biasa tayang di stasiun Metro TV ini cukup menarik. Acara ini menyajikan perbincangan ringan yang membahas hal-hal tertentu yang dipandang bermanfaat bagi penonton di studio dan pemirsa di seluruh tanah air. Biasanya dalam Kick Andy Show diundang tokoh-tokoh baik yang menjadi public figure, maupun tokoh pendobrak yang dianggap bisa memberikan inspirasi untuk perubahan. Tema-tema yang kerapkali diangkat dalam acara ini sifatnya selalu kontekstual - yang lagi hangat di tengah masyarakat.

Kick Andy Show demikian nama acara tersebut, diambil dari nama depan pembawa acaranya Andy F. Noya. Ia seorang host yang cukup eksentrik, cerdas sekaligus humoris. Sewaktu acara ini berlangsung, tak jarang ada selingan-selingan segar melalui leluconnya yang mampu menghangatkan suasana, membuat penonton meledak tawa. Namun, sesungguhnya dalam tiap leluconnya itu terselip sesuatu yang memang sengaja untuk membuka wawasan pemikiran ditawarkan dengan cara segar khas humor. Sehingga penonton tak hanya merasa terhibur tetapi juga tercerahkan tanpa mereka sadari. Selain itu, biasanya juga di penghujung acara Andy akan membagi-bagikan buku pada para penonton yang hadir. Ini juga yang menjadi daya tarik tersendiri program dialog interaktif yang tayang sekitar pukul 20.00 WIB tersebut.

Sekarang mari kita simak Kick Andy Show dari salah satu episodenya yang bertema Berniaga di Dunia Maya, tayang pada 29 Juli 2016 lalu. Narasumber yang diundang dalam episode kali ini adalah anak-anak muda, Carlene Darjanto dan Ria Suwarno, yang telah sukses memanfaatkan internet untuk memasarkan produknya kepada konsumen. Berikut ringkasan dialognya..


Andy    : "Ternyata Anda berdua, ya, pemilik cottonink yang terkenal itu.. Tapi sebelum sampai ke sana, berapa sih umur Anda berdua?"

Ria       : "Tahun ini kita 29."

Carlene: "Beda berapa hari kita lahir, ya?"

Ria       : "Dua minggu.."

Andy    : "29.. Sama?"

Carlene: "Iya, kita berdua umurnya sama."

Andy    : "O, begitu. Jadi kalau mau bisnis, cari partner yang umurnya sama, ya?"

(Penonton dan narasumber di studio tertawa mendengar candaan Andy.)

Carlene: "Shio-nya juga sama."

Ria    : "Horoscope-nya juga sama."

Andy    : "O, shio-nya juga sama?"

Ria      : "Iya, sama."

Andy    : "Suaminya sama?"

Carlene: "Untung tidak, ya.."

(Sahut Carlene dan Ria tersenyum merasa tergelitik dengan candaan nakal host).

Andy    : "O, untung tidak ya.. OK, deh.. Latar belakang pendidikan?"

Carlene: "Kalau saya memang dari (jurusan) Fashion Design, sih."
.
Andy    : "Kalau Ria?"

Ria      : "Graphic Design."

Andy    : "Ok, menarik. Nanti ceritakan. Nah, ketika mulai bisnis dengan merk cottonink yang hebat ini, berapa tahun yang lalu?"

Ria      : "Delapan tahun yang lalu."

Carlene: "Di umur dua puluh satu tahun."

Andy    : "O, berarti umur dua puluh satu tahun sudah mulai terjun ke bisnis, ya? Dan berhasil.."

(Ria dan Carlene mengangguk.)

Carlene: "Aamiinn.."

(Applause dari penonton.)

Andy    : "Ketika memulai mendirikan cottonink ini, modalnya berapa ya?"

Ria       : "Kita berdua satu juta, sih.."

Andy    : "US Dollar? Satu juta apa, nih?"

(Lagi gemuruh tawa mewarnai suasana.)

Ria       : "Satu juta Rupiah."

Andy    : "Sedikit amat?

Ria      : "Ya, karena dulu kan produknya belum banyak seperti sekarang."

Andy    : "Dulu mulai dengan jualan apa?"

Carlene: "Jadi dulu kita mulai dengan iseng-iseng berhadiah begitu.. Kita berdua buat produk kayak printed t-shirt. Dan jualnya juga lewat facebook. Yang jualnya Ria, karena dia temannya banyak. Kira-kira begitu."

Andy    : "Yang dijual waktu itu t-shirt apa? T-shirt ajaib apa?"

Ria    : "Waktu itu kita bikin t-shirt bergambar Obama. Karena 2008 bertepatan dengan pemilihan presiden Amerika. T-shirt yang simpel, sih.. Jadi t-shirt putih yang ada frame mukanya Obama."

Andy    : "Itulah kesalahan saya. Saya dulu mulai jualan baju yang gambarnya wajah saya. Makanya tidak laku."

(Penonton di studio tergelak.)


Andy     : "Jadi ternyata laku, ya?"

Ria       : "Ternyata laku."

Andy    : "Ini dimulainya dulu melalui online begitu, ya?"

Ria       : "Iya, betul."

Andy    : "Jadi waktu itu tidak punya toko, punya tempat untuk jualan?"

Carlene: "Tidak. Tidak terpikirkan. Baru sekarang saja punya toko."

Andy    : "Bagaimana kalian berdua sampai terpikirkan untuk berjualan online?  Padahal dulu tahun 2008 belum banyak yang jualan dengan cara begitu? Dan ketika memutuskan masuk ke industri fashion, itu bagaimana ceritanya?"

Carlene: "Waktu itu setelah kita memulai cottonink ini, saya dan Ria akhirnya memutuskan dulu untuk bekerja di sebuah perusahaan. Jadi cottonink itu seperti awalnya hanya kerja sambilan. Saya waktu itu ingat ngomong ke Ria.. Ini chance yang tidak bakal datang dua kali. Brand kita ini lagi naik daun, dibicarakan di sosial media dan forum. Jadi kita berdua memutuskan untuk fokus. Kayaknya awal 2010 itu kita mulai benar-benar bekerja full-time untuk cottonink."

Andy    : "Kok, kalian berdua bisa jadi partner?"

Ria       : "Kita teman di sekolah dari SMP."

Andy    : "O, teman SMP. Ketika memutuskan untuk terjun, apa yang pertama kali dilakukan?"

Carlene: "Saya langsung membuat koleksi. Maksudnya saya mendesain baju."

Andy    : "Bagi tugasnya bagaimana?"

Carlene: "Kalau partner-an jangan dua-duanya mengerjakan hal yang sama. Pasti berantem."

Andy    : "O, begitu. Jadi tugas-tugasnya apa? Kalau Carlene tugasnya apa? Ria tugasnya apa?"

Carlene: "Saya adalah direktur PT kami. Saya lebih melakukan strategic planning. Kemudian saya tetap melihat desain-desain saya. Dan lebih ke arah operasional."

Ria     : "Saya in-charge lebih ke branding and marketing. Jualan.."

Andy    : "Jadi Carlene yang bikin, Ria yang jualan. Begitu sederhananya, kan?"

(Mereka berdua mengiyakan.)

Andy    : "Kenapa namanya cottonink, ya?"


Kick Andy Show, Berniaga di Dunia Maya, Cara Jualan di Internet, Dialog Interaktif Cara berdagang melalui jaringan internet
Carlene dan Ria dalam Kick Andy Show

Carlene: "Produk pertama kami, kan kaos dengan bergambar Obama. Dan waktu itu biar keren harus ada label. Kalau mau jualan mesti ada nama. Tapi apa namanya? Saya nanya ke Ria.. Telepon-an sama dia. Dia bilang produk kita itu bahannya cotton. Ada ink tintanya. Ya, kasih nama cottonink saja. Jadi memang tidak dipikirkan juga (merk-nya). Iseng-iseng berhadiah juga.."

Andy    : "Apa keunggulan cottonink dibanding produk-produk fashion lainnya?"

Ria    : "Yang pertama adalah produk kita itu desain sendiri. Kita memproduksi sendiri. Selain itu kita juga menggunakan bahan-bahan Indonesia jenis batik untuk salah satu berlabel cottonink. Jadi kita juga mengangkat ke-Indonesia-an."

Andy    : "Harganya kisaran berapa, ya?"

Carlene: "Range nya dari 199 ribu sampai 400 ribu."

Andy    : "Itu artinya mahal, sedang atau murah?"

Carlene: "Untuk target market kita, itu pas.."

Andy    : "Harus bilang 'pas' ya.. Kalau tidak, orang lari tidak mau beli. Segmen pasar yang dituju? Siapa yang dituju?"

(Penonton dan narasumber lagi tertawa mendengar gurauan host eksentrik ini.)

Carlene: "Tujuan kami yang utama adalah wanita Indonesia umur 21 – 25 tahun. Itu adalah core market kita. Yang mungkin mengerti teknologi, suka menggunakan handphone. Karena toko kita kan adanya online. Ada di website kita www.cottonink.co.id. Jadi orang ini harus punya akses ke internet yang bisa mem-browsing begitu.."

Andy    : "Berapa persen produknya terjual melalui online berbanding offline?"

Carlene: "Sekarang 70% online, dan 30% offline."

Andy    : "Itu pembelinya darimana saja? Dan siapa saja?"

Carlene: "Kebanyakan dari Indonesia."

Andy    : "Dari luar negeri ada?"

Ria       : "Dari luar negeri ada."

Carlene: "Dari luar negeri.. Itu dari Singapura, Malaysia dan Australia."

Andy    : "Apa enaknya, sih.. Jadi enterpreneurs (pelaku wirausaha) ini?"

Carlene: "Hmm, bisa menentukan nasib sendiri dan lebih flexible dengan waktu."

Andy    : "Banyak anak muda, saya dengar ingin sekali terjun berbisnis online juga. Boleh kasih tips.. Apa hal yang harus diperhatikan agar tidak cenderung gagal?"

Carlene: "Yang paling penting adalah orang (yang mau berbisnis online) ini tahu apa yang berbeda dan unik dari produknya. Dan harus selalu menonjolkan itu kepada customers. Karena begitu banyak saingan, orang bisa saja beli ke tempat lain. Jadi kalau dari saya yang paling penting itu adalah produknya."

Andy    : "Kalau dari Ria apa? Mungkin ada tambahan?"
   
Ria    : "Kita harus fokus saja. Ke depannya mau bagaimana (bisnis yang dijalankan) ini? Fokus untuk mengerjakannya.. Fokus untuk mengejar target ke depannya. Kita melihat ke hasil akhirnya."


Inspirasi dari Dialog

Hampir bisa dipastikan penonton dan pemirsa yang menyaksikan Kick Andy Show akan terinspirasi. Dalam tayangan yang mengangkat tema Berniaga di Dunia Maya ini, wawasan kita menjadi terbuka mengenai cara berdagang memanfaatkan internet. Dan tips yang barangkali bisa berguna untuk kita adalah sebagai berikut:

1. Jual-beli barang melalui sistem daring pada konsumen harus mengerti sistem perdagangan online. Ini artinya produk yang ditawarkan ditampilkan dalam bentuk data digital (image) lengkap. Tampilan foto produk mesti menarik (eye-catching), harga tertera cukup terjangkau kantong konsumen dan barangnya mudah didapat (available).

2. Produk yang hendak ditawarkan kepada konsumen sebaiknya memiliki kelebihan tersendiri, unik dan tidak merupakan barang yang telah beredar cukup banyak di masyarakat. Konsumen memiliki logikanya sendiri. Ia akan tertarik membeli apabila barang tersebut sesuai dengan kriterianya - sesuatu yang eksklusif sehingga layak dimiliki dan belum dipakai luas publik. Agaknya daya pesona dari keunikan suatu produk berperan besar dalam hal kelancaran pemasaran dan penetapan harga jual.

3. Produk itu mesti memiliki target pasar yang jelas memiliki segmentasi – ditujukan untuk siapa saja produk tersebut. Siapa saja konsumen yang disasar, terukur atau tidak daya belinya terhadap produk kita.

4. Jika ingin berbisnis, tidak mesti selalu dengan modal yang besar. Modal yang kecil pun bisa dijadikan untuk memulai usaha asal pelaku usaha tersebut memiliki ketekunan mengembangkan bisnis, dan berupaya menjalin kerja-sama yang baik - saling menjaga kepercayaan. Jika konsumen merasa 'nyaman' berbisnis dengan kita (karena dia percaya barang yang dibeli memuaskan dan murah), bisnis kita akan mereka promosikan sendiri dari mulut ke mulut menjadi 'buah bibir'. Alhasil, produk dagangan kita menjadi dikenal luas di masyarakat.

5. Berwirausaha dengan sistem partnership sebaiknya memiliki pembagian tugas yang jelas. Job description  ini berguna untuk memperlancar kegiatan usaha. Tidak dianjurkan bagi masing-masing pelaku usaha yang ber-partner untuk mengerjakan 'hal yang sama' bersamaan. Tentunya ini akan menghambat kegiatan usaha, memboroskan tenaga dan waktu. Adalah lebih baik menyerahkan tugas kepada partner bisnis kita, yang mana dia memang menguasai bidang pekerjaannya. Itu amat efisien lagi efektif. 

6. Branding atau nama merk dagang. Barang apa pun yang ditawarkan supaya mudah diingat konsumen, sebaiknya memiliki label. Ini ternyata amat penting sebagaimana yang dikatakan narasumber dalam dialog interaktif di atas.

Demikian secarik catatan dari menyimak salah satu episode dalam acara Kick Andy Show. Saya berharap semoga artikel sederhana ini bermanfaat untuk Anda. Salam. [M.I]


Download tayangan - Berniaga di Dunia Maya Part 1

Download tayangan - Berniaga di Dunia Maya Part 2

Film The Skin I Live In, Potret Kerumitan Kejiwaan Manusia

review the skin i live in


The Skin I Live In (2011), sebuah film yang berjenre psychological thriller arahan sutradara Pedro Almodovar. Judul asli film ini La Piel Que Habito, menceritakan dunia pengalaman konkret manusia yang kompleks dan ambigu. Betapa pengalaman hidup menyakitkan seperti kehilangan orang-orang terdekat dapat memicu sebuah obsesi, dendam yang tersembunyi, kegamangan dalam konflik identitas diri, dan bahkan perasaan cinta yang ganjil.

review the skin i live in

Di bagian awal, film ini menampilkan sosok perempuan muda cantik, Vera Cruz (Elena Anaya). Ia tinggal dalam sebuah kamar di rumah mewah. Kebutuhan sehari-harinya diantar naik dengan lift khusus dari lantai bawah oleh pembantu yang mengurus rumah itu, Marilia (Marisa Paredes). Vera dalam kesehariannya berlatih yoga, membaca dan berkreasi lain untuk menghilangkan kejenuhan. Siapa sebenarnya Vera yang ruang geraknya amat dibatasi itu?

Adegan selanjutnya terlihat Dr. Robert Ledgard (Antonio Banderas) pulang dari tempat kerjanya. Turun dari mobil, ia langsung ke laboratorium pribadi di basement. Suasana berkesan ilmiah amat terasa. Ruangan steril nan sejuk berdinding kaca tebal transparan, dan tampak alat-alat canggih dunia kedokteran tertata rapi. Robert melakukan riset di sini. Ia seorang dokter ahli bedah plastik.

review the skin i live in


Suatu ketika dalam satu forum ilmuwan, Robert memaparkan orasi ilmiahnya. Ia melakukan penelitian dan menemukan satu jenis kulit sintetis anti panas dan tahan serangan penyakit. Gal nama temuannya itu. Diadopsi dari nama panggilan mendiang istrinya yang tewas terbakar dalam sebuah kecelakaan mobil. Hadirin terpana menyimak penjelasannya. Mereka sangsi apa bisa temuannya digunakan ke tubuh manusia, mengingat terdapat persoalan gen yang cukup pelik. Kulit, jaringan tubuh yang tidak mudah diganti bagai menempelkan prangko. Mereka memahaminya. Presiden dari komunitas ilmuwan dalam forum tersebut juga bertanya-tanya.

Robert meyakinkan itu bisa dilakukan. Metode transgenetik – memindahkan informasi genetik dari jaringan tertentu yang lebih kuat – akan membantu proses transplantasi kulit ke tubuh manusia. Presiden komunitas ilmuwan tak setuju. Baginya tindakan Robert telah melanggar bioethics. Ia mengancam akan melaporkan ini ke dewan ilmuwan. Namun, Robert bersikeras melanjutkan penelitian dengan alasan tersendiri. Pengalaman traumatik merawat istrinya yang luka bakar sulit dilupakan – ini manjadi motivasi utamanya. Ia berpikir kelak temuannya dapat digunakan untuk menolong korban kecelakaan, khususnya untuk korban dengan luka bakar permanen sepertinya istrinya dulu. Tentu saja sang ahli bedah plastik ini harus bereksperimen – setidaknya untuk membuktikan keyakinannya itu.

Sampai batas ini, kita mulai bisa menemukan benang merah antara profesi Robert dan Vera – pasien istimewa di rumah pribadinya. Namun, identitas jelas tentang diri Vera masih samar. Skenario The Skin I Live In agaknya dirancang Almodovar dengan alur cerita yang tidak langsung. Kita harus menghubungkan sendiri bagian demi bagian hingga bisa melihat arah cerita dalam film ini.

Misteri siapa gerangan Vera sedikit terkuak. Sejak dihadirkannya tokoh bernama Vicente (Jan Cornet) terlihat dalam sebuah pesta pernikahan Casilda Efraiz, anak kolega Robert. Dalam satu kesempatan, Vicente berhasil membawa keluar Norma (Blanca Suarez), putri semata wayangnya. Saat itu Vicente sedang mabuk akibat pengaruh obat-obatan. Ia memperkosa Norma di bawah pohon dalam keremangan di halaman kebun rumah tempat pesta. Robert terlambat menyelamatkan putri lugunya. Tetapi, ia sempat melihat Vicente melarikan diri, melaju kencang di atas sepeda motornya.

Akibat peristiwa tragis itu, Norma mengalami trauma. Ia ketakutan bertemu dengan lelaki, sekalipun itu ayahnya sendiri. Robert membawanya ke sebuah lembaga psikoterapi. Malang bagi Norma justru di tempat itulah hidupnya berakhir. Lompat dari jendela di ruang atas perawatannya, ia tewas mengenaskan.

Kehilangan putri kesayangan yang mati tragis, Robert amat marah dan dendam terhadap Vicente. Suatu malam ia mengintainya. Di sebuah ruas jalan membelah hutan sunyi, ia menyerempet Vicente sampai terpental jatuh. Robert lalu bergegas menembaknya dengan senjata pembius, dan menculiknya.  

Vicente lalu disekap dalam ruang bawah tanah di rumah Robert. Ia diperlakukan layaknya tahanan berbahaya. Kurang diberi cukup makan, dan pakaiannya pun dilucuti. Perlakuan kejam ini layak didapatkan si pemerkosa putrinya, pikir Robert. Penderitaan setimpal, harga yang pantas dibayarnya.


review the skin i live in

Marilia, pembantu setia sang dokter, sebenarnya mengetahui. Namun, tak berbuat apapun. Mungkin ia tak mau majikannya berurusan dengan polisi. Barangkali ia juga marah terhadap pemuda itu. Atau, ada alasan khusus lain, hanya ia sendiri yang tahu. Mengapa Marilia bersikap begitu? Benarkah ia cuma seorang pembantu?      

Suspensi agaknya dijaga baik oleh sutradara. Tiap tokoh utama terselubung misteri dalam kepribadiannya. Seperti Robert yang diam-diam akhirnya memutuskan untuk ”mem-vermak” tubuh Vicente dalam sebuah operasi. Bersama rekannya, Fulgencio (Eduard Fernandez), ia merombak total tubuh pasien istimewanya itu. Fulgencio sebelumnya dibohongi. Robert meyakinkan bahwa si pasien dengan sadar memang telah meminta dia untuk mengoperasinya – menjadi perempuan utuh. Vicente lalu diganti kelamin, dipasangi ’onderdil’ pelengkap, dan kulitnya pun berubah halus layaknya kaum hawa.

Semua tahap operasi bedah telah selesai, kini Vicente jelmaan perempuan jadi-jadian bernama Vera. Ia gamang. Ia terperangkap dalam tubuh baru. Ia mengalami shock, tak bisa menerima dirinya sendiri. Namun, ia tak kuasa menolak kenyataan getir ini. Ia hanya tahanan special bagi tuannya – sang ahli bedah plastik yang kelewatan kreatif terhadap tubuhnya. Sekalipun nampak molek, namun ia cantik yang luka. Dalam luka menganganya itu, masih mendidih darah pemberontakan. Kelak Vicente menemukan cara.

review the skin i live in

Kalau Vicente – Vera terlihat amat menderita, sebaliknya Dr. Robert Ledgard merasa amat puas dan bangga dengan hasil kreativitas ilmiahnya. Melihat tubuh menawan Vera sepulang kerja menjadi kebiasaan baru baginya. Itu bagai obat penghilang penat amat mujarab. Apalagi ia cukup lama menyendiri. Bisa jadi Robert telah jatuh hati pula. Bukankah cinta punya caranya sendiri menemukan objeknya? Begitulah realitanya. Vera tahu ia sering diperhatikan. Seketika ia terinspirasi. Mungkin solusi cerdas terbebas dari penjara mewahnya itu, berpura-pura menjadi pendamping hidup bagi Robert. Terkadang kepalsuan dibutuhkan demi mewujudkan keinginan. Baginya ini sepadan.

Cerita dalam film ini mulai memasuki ketegangan. Tokoh Seca (Roberto Alamo) perampok berangasan, adik seibu dengan Robert muncul dalam sebuah adegan. Ia mendapat alamat rumah sang dokter setelah membaca sebuah artikel koran lokal. Tiba di kediaman Robert, ia disambut Marilia yang tersentuh kata-katanya – rindu bertemu ibu. Dipersilakan masuk dan dihidangkan makanan. Ketika Seca hendak mengambil sebotol minuman, di layar monitor dilihatnya seorang perempuan cantik berada dalam satu kamar. Ia bertanya pada Marilia. Ibunya berbohong. Katanya itu hanya tampilan film saja, tidak ada siapa-siapa. Seca bersikeras ingin menemui, tetapi ibunya malah mengusir keluar di bawah ancaman sepucuk pistol. Saat Marilia lengah, ia berhasil merebut senjata dan mengikatnya. Lalu mencari perempuan cantik dalam kamar. Vera merasa amat cemas. Ia tahu ada yang tak beres setelah mendengar suara tembakan. Akhirnya, Seca berhasil merengkuh dan memperkosanya setelah pintu kamar dibuka. Tiba-tiba Robert pulang dan menemukan pembantunya terikat. Ia juga melihat Vera yang sedang digagahi. Ia lalu menembak mati Seca dan membuang mayatnya.

Peristiwa pemerkosaan itu rupanya menjadi jalan pembuka kebebasan Vera. Ia mulai merayu Robert agar mau hidup bersama bagai sepasang kekasih kasmaran. Sang dokter bersedia. Mereka mulai tidur seranjang, mereguk kehangatan di malam dingin. Bagi Vera memang terasa absurd. Namun, ia mesti apik melakoni peran sandiwaranya. Peluang emas akhirnya datang juga menghampiri Vera. Ia segera memanfaatkan dengan cekatan. Di dalam kamar, Robert dan Marilia, ibu kandung sang dokter yang selama ini berpura-pura menjadi pembantu setia, terkulai setelah mereka ditembaknya.
        
Film produksi El Deseo S.A dengan musik yang ditangani Alberto Iglesias ini cukup menarik, bukan? Kita seperti diberi sebuah persepsi mengenai tubuh, konflik identitas diri, absurditas cinta, dan pemahaman soal kehidupan emosional individu yang amat pelik.

Pedro Almodovar bekerja sama dengan produser Agustin Almodovar sepertinya ingin mewacanakan betapa tubuh dipandang amat privat. Tubuh memuat makna tertentu bagi tiap pribadi. Melalui tokoh Vera, tersirat bahwa tubuh seseorang yang berubah secara terpaksa rentan menimbulkan distorsi psikologis. Kegamangan melihat diri sendiri yang ganjil dari biasanya. Siapakah aku dengan tubuh baruku kini? Masihkah dapat kukenali lagi? Penyimpangan prilaku, penuh kepalsuan yang terbungkus keinginan tersembunyi cepat sekali dipicu oleh tubuh yang termodifikasi.

Dalam pada itu, Tokoh Dr. Robert Ledgard seolah hendak mengingatkan kita kembali. Betapa ilmu pengetahuan yang berada dalam jiwa yang sakit, dipengaruhi ambisi dan kebencian sungguh tidak akan pernah memberikan kebaikan. Sebaliknya, ilmu tersebut akan menjadi senjata berbahaya yang membuat orang lain menderita, dan memberikan kesombongan diri semata bagi pemiliknya.  [M.I]


Nonton Online dan Download Film


Film Wild Tales : Kegilaan Tak Terduga

Pelampiasan emosi negatif pada tingkat yang ekstrim sungguh tak bisa dibayangkan. Orang bisa kehilangan kontrol diri, bahkan nyawa sekalipun ketika terseret terlalu dalam oleh perasaan menyakitkan sedemikian rupa.

Adalah Wild Tales (2014), sebuah film komedi satir yang mencoba untuk mengungkapkan ancaman sisi gelap tersembunyi dalam jiwa tiap individu. Berwujud kekuatan misterius yang mampu merusak diri dan menghancurkan kehidupannya.

Film ini menyajikan kisah-kisah liar yang amat dramatis dalam kenyataan sehari-hari. Kegilaan tak terduga yang menyebabkan orang sinting seketika akibat hasutan kemarahan, kebencian, dendam yang rumit, cemburu buta dengan perasaan sakit akibat kesetiaan yang dikhianati.    

Disutradarai oleh  Damián Szifron, Wild Tales mengemas enam film pendek yang berbeda menjadi satu dengan tetap menjaga daya pikatnya masing-masing melalui dramatisasi yang kian memuncak.

Film berbahasa Spanyol dengan durasi 122 menit ini judul aslinya adalah Relatos Salvajes. Hasil kerja kreatif dari Rumah Produksi El Deseo S.A dan mulai bisa disaksikan sejak tahun 2014. Pembuatan film Wild Tales hingga menjadi sebuah karya sinematografi bertendensi humor tragedi dramatik agaknya melibatkan andil nama-nama besar. Seperti Pedro Almodóvar yang juga dikenal sebagai sutradara Spanyol kawakan sebagai produser. Bintang-bintang utamanya antara lain Ricardo Darín, Oscar Martínez, Leonardo Sbaraglia, Erica Rivas, Rita Cortese, dan Julieta Zylberberg. Sedangkan Gustavo Santaolalla bertanggung-jawab pada penyajian musik yang menghidupkan suasana dalam film ini.


Berbeda Tapi Satu Tema

Wild Tales (2014) dibagi menjadi enam segmen dengan masing-masing judul yang berbeda. Sekalipun memuat cerita yang berlainan, tema dari tiap segmennya tetap mengusung tema menyoal prilaku ekstrim individu (maniak) akibat tekanan besar emosi negatif. Mari simak deskripsi naratif singkat merangkum masing-masing segmen yang ada dalam film tersebut.


1. Pasternak

Boris Pasternak telah begitu banyak mengalami kekecewaan dalam kehidupannya. Didikan keras orang-tua mengakibatkannya menderita di masa kecil. Teman-temannya yang melecehkan, dan sang kekasih yang selingkuh justru dengan teman dekatnya sendiri. Ia mengalami depresi dan meminta bantuan pada seorang psikiater. Malangnya, Pasternak tidak menemukan jalan keluar dari belitan permasalahannya. Sang psikiater yang ’mata duitan’ malah menaikkan biaya konsultasi bagi dirinya sekalipun belum mampu memberi bimbingan konseling terbaik. Ia semakin kalut. Ketika telah mencapai puncak kegamangan jiwa akibat segenap kesulitan tak terpecahkan, justru pada saat itulah ia menemukan solusi fantastis – mengajak semua orang yang telah menyakitinya agar sudi pergi bersama-sama menuju alam kematian.


Film Wild Tales

Paternak lalu mengirimkan sejumlah tiket pesawat untuk mereka agar bisa terbang bersama, mengunjungi sebuah ’tempat’ yang telah dipilihnya – tanah kematian. Ia sendiri berperan sebagai pilot dalam pesawat itu. Mereka pun mengangkasa. Ketika telah sampai pada ketinggian memadai, tiba-tiba Pasternak dengan kecepatan tinggi mulai menukikkan pesawat ke bawah menuju daratan.


Film Wild Tales


Hebatnya lagi ia tak lupa untuk mampir ke rumah orang-tuanya. Barangkali ia tak hendak bila kedua orang-tuanya ketinggalan ikut plesiran. Sungguh anak yang berbakti. Jatuhlah pesawat itu tepat di hadapan ayah dan ibunya yang sedang santai menikmati minuman hangat sambil membaca. Byaaarrr.. Semua menyerpih terserak. Tak ada yang tersisa. Selamat, Pasternak.. Anda telah berhasil!


2. Racun Tikus

Di luar restoran hujan begitu deras. Pekat malam riuh. Guruh menggelegar. Jalanan basah dan licin. Amat berbahaya menyusurinya dalam satu perjalanan. Singgah sekadar menikmati makanan hangat hingga hujan reda tentu keputusan bijak. Seorang pengendara mengarahkan mobilnya untuk mampir.


Film Wild Tales


Di bagian dapur, pelayan muda yang cantik baru saja mau menghirup minumannya. Cahaya lampu depan mobil menembus pintu kaca restoran, menerpa ke arah matanya. Ditinggalkan minumannya di meja dapur. Di luar tamu itu turun dari mobil. Pelayan itu bergegas menghampiri. Ia tahu sang tamu pasti membutuhkan bantuannya. Menolong orang dalam kondisi begini tentu mulia, hatinya berkata. Bukankah kita mesti saling membantu? Itu kebajikan. Ia lalu mempersilakan lelaki paruh baya itu masuk. Ketika bertatap-tatapan di depan pintu masuk, ia terkejut sekali. Ternyata sang tamu adalah orang yang menghancurkan keluarganya dulu.


Film Wild Tales


Di bagian dapur, pelayan muda yang cantik baru saja mau menghirup minumannya. Cahaya lampu depan mobil menembus pintu kaca restoran, menerpa ke arah matanya. Ditinggalkan minumannya di meja dapur. Di luar tamu itu turun dari mobil. Pelayan itu bergegas menghampiri. Ia tahu sang tamu pasti membutuhkan bantuannya. Menolong orang dalam kondisi begini tentu mulia, hatinya berkata. Bukankah kita mesti saling membantu? Itu kebajikan. Ia lalu mempersilakan lelaki paruh baya itu masuk. Ketika bertatap-tatapan di depan pintu masuk, ia terkejut sekali. Ternyata sang tamu adalah orang yang menghancurkan keluarganya dulu.

Setelah kembali ke dapur restoran, ia ceritakan pengalaman pahitnya pada koki wanita yang lebih tua darinya. Siapa tahu dengan usia dewasa teman kerjanya itu, bisa didapat mutiara kebijaksanaan untuk dirinya. Namun, ternyata lamanya hidup dan kebesaran jiwa adalah dua hal yang amat berbeda bagi sang koki. Tak dinyana teman kerjanya adalah seorang petualang yang amat mengejutkan. Sang koki menawarkan jalan keluar permasalahannya itu – balas dendam yang rapi lagi memuaskan daripada sekadar mengomeli lelaki perusak keluarganya dulu selagi masih ada kesempatan. Ia berkata bahwa dengan meracuni makanan yang dipesan lelaki itu, dalam dosis yang tepat lima menit kemudian, jantungnya pasti meledak. Semua beres. Tak ada yang perlu ditakutkan.

Sang koki meyakinkan lagi. Hanya satu kesempatan seumur hidup, orang mesti melakukan sesuatu yang bermanfaat – membalas semua perlakuan buruk yang pernah dialami. Pelayan muda itu bergidik mendengarnya. Ia tak setuju dengan rencana pembunuhan yang ditawarkan teman kerjanya. Mereka berdebat sengit. Tapi, sang koki diam-diam telah membuat keputusan.

Beberapa saat setelah pesanan kentang goreng dan minuman ringan diantar, pelayan itu menemukan sisa-sisa racun tikus terserak. Ia curiga dan langsung mengejar temannya. Sambil mengepulkan asap rokok, sang koki malah santai saja. Ia meminta pelayan supaya jangan resah. Lihat saja ending-nya, begitu mungkin maksud sang algojo restoran itu. Mereka lalu memperhatikan si lelaki calon korban ’dosis yang tepat’ melahap makanannya. Sepertinya tak ada reaksi? Apa mungkin racun tikusnya sudah kadaluarsa? Sang koki dan pelayan kini gelisah. Tapi, kegelisahan mereka berbeda.

Tiba-tiba dari luar masuk seorang remaja laki-laki. Putranya tamu restoran. Duduk, dan mencicipi kentang goreng bumbu istimewa racikan sang koki. Tak berapa lama, perutnya melilit. Racun tikus agaknya efektif bekerja. Pelayan restoran berlari keluar. Ia mengambil sisa makanan di piring. Sang tamu tidak terima. Namun, ketika dilihat anaknya tampak mulai kesakitan, ia pun naik pitam karena curiga.

Pada saat tamu restoran melampiaskan kemarahannya, tiba-tiba sang koki menghampiri dan dengan pisau dapur menikamnya berkali-kali. Lelaki malang itu roboh bersimbah darah, dan anaknya meringkuk kesakitan serta muntah-muntah.


3. Duel

Siang yang cukup terik. Hanya terlihat dua pengendara mobil yang sama-sama melintas di jalan raya membelah padang gurun. Yang satu mengenakan mercedes mewah hitam, pengendara lainnya berada dalam sedan tua lagi butut.

Suasana lengang. Dan tak perlu terburu-buru di tengah udara yang gerah. Namun, agaknya lelaki parlente dalam mercedes harus segera tiba di tujuannya. Diego Iturallde tak suka membuang waktu. Berlama-lama di tengah gurun gersang begini. Lain cerita dengan lelaki dalam sedan butut di depannya. Ia merasa perlu ada hiburan dalam suasana yang cukup panas. Ia lalu meledek pengendara mobil di belakangnya. Dihalang-halanginya laju mercedes. Usahanya pun sukses. Cukup menjengkelkan pengendara itu.

Beberapa saat kemudian, Diego bisa mengejarnya. Berusaha mensejajarkan mobil mereka. Dongkolnya belum hilang, dimakinya pengendara sedan butut itu dengan sebutan ’bajingan tolol’. Lalu melaju jauh meninggalkannya di belakang. Ia amat puas.


Film Wild Tales


Cukup jauh dari tempat pertengkaran kecil mereka, tiba-tiba Diego merasa ban belakang mobilnya pecah. Ia pun menghentikan mobil tepat di ujung jembatan kecil yang mengalir sungai. Sewaktu ia berusaha melepas bannya itu, di kejauhan tampak sedan butut mendekat ke arahnya. Bergegas ia masuk ke mobil. Padahal ban yang baru dipasangnya belum terkunci sempurna. Ia berharap semoga semua baik-baik saja.

Sedan butut berhenti tepat di depan, sengaja menutupi jalan. Pengendaranya turun, sepertinya menemukan peluang, mau membalas penghinaan menyakitkan tadi. Ia tak bereaksi selayaknya. Melihat ini, pengendara sedan butut kian berani. Kaca depan mobilnya dihantam dengan kunci besi roda. Kata-kata kasarnya pun tersembur keluar. Ia merasa tak perlu menanggapi, lebih baik menelepon polisi, meminta bantuan segera.

Petugas belum juga tiba. Mungkin jarak tempuh yang cukup jauh. Ini membuat pengendara sedan butut mulai mengggila. Sungguh tak disangka mercedes yang cukup rusak malah dibombardir lagi dengan kotorannya. Setengah menjongkok di atas kap mobil, ia menggelindingkan beberapa potongan kuning kepucatan keluar langsung melalui saluran pembuangan alaminya. Barangkali maksudnya untuk melengkapi, dikencinginya pula kap mercedes itu. Ini baru mantap, begitu pikir pengendara sedan butut. Diego tampak terhenyak. Roman wajahnya menegang menahan amarah.

Ketika rival satu-satunya baru saja masuk ke sedan butut, ia tak membuang waktu. Pedal gas mercedesnya diinjak sekuat mungkin. Mobilnya mulai mendorong sedan butut itu, dan terperosok jatuh. Susah-payah lelaki dalam sedan butut keluar. Mobilnya nyungsep di dasar sungai dangkal. Diego pun bergegas. Lalu mulai menjalankan mobilnya. Hanya beberapa puluh meter melaju, lelaki pengedara sedan butut meneriaki dan mengancam akan membunuhnya bila bertemu lagi. Masalah yang belum tuntas, begitu pikir Diego. Ia membanting stir, berbalik ke arah lawannya itu. Beruntung bagi pengendara sedan butut, ia tak tertabrak. Malang bagi Diego, ban mobilnya seketika terlepas dan menyusul sedan butut ke sungai.


Film Wild Tales


Akhir cerita setelah mereka berdua baku hantam, mobil masing masing meledak terbakar. Mereka terjebak dan terpanggang mati di dalamnya.

”Oh, Tuhan.. Berikanlah aku kesabaran.” Begitu diucapkan Diego sebelum ia terlibat duel maut yang berawal dari persoalan sepele – iseng saling meledek.


4. Bom Kecil

Simon Fischer memiliki keahlian dalam urusan bahan peledak. Suatu ketika ia berjanji akan menghadiri pesta ulang tahun putri satu-satunya. Istrinya mewanti-wanti dia tidak boleh terlambat pulang. Ia pun menyetujui, selepas kerja akan langsung menuju ke rumah mereka dengan membawa kue ulang-tahun.


Film Wild Tales

Simon lalu mampir ke sebuah toko. Segera masuk dan membeli kue. Ketika ia keluar toko, mobilnya telah raib. Di atas tempat mobilnya terparkir, ia menemukan secarik kertas. Rupanya mobilnya telah diparkirkan pada tempat yang salah, dan diderek paksa dipindahkan ke lokasi parkir sementara milik perusahaan penderek. Ia lalu segera ke alamat perusahaan swasta yang ditunjuk pemerintah setempat untuk mengambil mobilnya.

Tiba di tempat tersebut tak pernah terpikirkan olehnya, biaya tilang yang mesti dikeluarkan cukup besar. Tapi, ia mengalah yang penting bisa cepat pulang. Malang tak bisa ditolak, dalam perjalanan ia terjebak macet. Sampai di rumah acara ulang-tahun baru saja usai. Istrinya marah dan mengomelinya.

Kali kedua mobilnya ditilang lagi. Ia kembali mengunjungi perusahaan penderek itu. Simon berdebat dengan petugas loket yang menurutnya bersikap arogan. Puncak emosinya, ia mengambil tabung pemadam dan memecahkan kaca loket tersebut. Buntut dari hal ini, ia ditangkap polisi. Beruntung rekan utusan perusahaannya menebus agar ia bisa keluar. Akan tetapi, perusahaan memecat dirinya karena perbuatannya yang telah mencemarkan nama baik. Masalah tak berhenti sampai di sini, komisi perlindungan keluarga turut bereaksi. Simon diharuskan berpisah dengan keluarganya. Kekerasan yang ia lakukan dipandang berbahaya bagi keselamatan istri dan putrinya.     

Kehilangan pekerjaan, sendiri karena terpisah paksa dengan keluarga tercinta amat menekan jiwa. Ia merasa ini semua karena perusahaan penderek korup yang telah menghancurkan kehidupan bahagianya. Simon Fischer, insinyur ahli bahan peledak, merasa tak bisa membiarkannya begitu saja. Pembalasan setimpal mesti dirancang.

Dengan cermat, ia memasang bom berdaya ledak sedang, diletakkan dalam bagasi mobilnya. Berharap setelah diparkirkan di zona larangan parkir, mobilnya akan diderek ke perusahaan yang menjengkel hatinya itu. Harapannya terwujud.

Ketika mobilnya baru saja diletakkan di tempat parkir perusahaan penderek, bom meledak. Loket penebusan turut porak-poranda walaupun tak menelan korban jiwa.


Film Wild Tales


Singkat cerita, Simon ditangkap dan dipenjara. Namun di dalam penjara, para pesakitan menyukai apa yang sudah dilakukannya – memberi pelajaran berharga terhadap perusahaan swasta korup ’tukang peras’ masyarakat. Keluarganya kembali padanya, bersama para narapidana merayakan hari ulang-tahunnya dengan meriah.


5. Pengajuan

Santiago, anak pengusaha kaya Mauricio, suatu malam di Utara Buenos Aires tepatnya di Libertador Avenue, menabrak seorang wanita hamil hingga tewas. Ia ketakutan dan langsung pulang ke rumah ayahnya. Melaporkan peristiwa tersebut pada kedua orang-tuanya dengan perasaan amat tertekan.

Berita tabrak lari itu dengan cepat menyebar-luas. Masyarakat mengecam pengemudi mobil yang tidak bertanggung-jawab terhadap korbannya. Mauricio melihat ini akan mengancam reputasinya. Ia harus bertindak cepat mengatasi masalah tersebut. Ia tak ingin anaknya masuk penjara. Ia tak mau nama baiknya tercemar karena ulah Santiago. Ia harus menemukan solusi yang tepat sesegera mungkin. Bersama pengacaranya ia mengatur segala upaya yang memungkinkannya keluar dari permasalahan.


Film Wild Tales


Ketika Mauricio sedang menghibur istrinya yang begitu tertekan karena masalah ini, tiba-tiba melintas ide dalam benaknya. Di halaman luar ia melihat Jose, tukang kebun yang telah bekerja 15 tahun pada keluarganya. Ia langsung menemuinya. Menawarkan uang 500 ribu dollar dengan syarat Jose mau masuk penjara menggantikan Santiago. Pengacara Mauricio pun mendukung idenya. Mereka berdua mengatur cara-cara efektif agar semuanya berjalan mulus. Setelah diskusi yang cukup alot, akhirnya Jose bersedia. Mauricio boleh sedikit merasa  lega. Polisi lalu dihubungi agar segera membawanya untuk diperiksa. Pada saat Jose akan dibawa keluar rumah, di gerbang depan masyarakat berdemo menuntut keadilan terhadap pelaku tabrak lari itu. Tiba-tiba menyeruak keluar suami sang wanita dengan membawa palu dan langsung memukuli Jose hingga terjatuh.

Korban kini bertambah. Dua orang tak berdosa mati sia-sia. Yang pertama akibat kelalaian mengemudi Santiago anak manjanya Mauricio, dan si-miskin Jose adalah korban konspirasi. Ayah dan anak sama-sama telah berbuat kriminal tanpa mereka sadari. Dan sang suami dari wanita hamil korban tabrak lari pun tak mau ketinggalan. Langsung menghakimi tanpa tahu siapa penabrak istrinya nan malang sesungguhnya.


6. Hingga Kematian Memisahkan Kita

Malam pesta pernikahan Romina dan Ariel berlangsung amat meriah. Semua sahabat dan kerabat mereka hadir. Suasana terkesan begitu mewah dan semarak. Semua bergembira termasuk teman wanita selingkuhan Ariel yang juga ikut nimbrung, duduk santai di antara para tamu sambil menikmati champaigne.

Dari kejauhan terlihat Ariel menghampiri selingkuhannya. Berbasa-basi seperlunya tentu baik dilakukan. Bukankah mereka pernah menikmati indahnya berahi asmara dalam keremangan? Kenangan itu masih terasa amat manis bagi satu sama lain. Membekas, butuh waktu melupakannya. Romina melihat ini. Dadanya berdebar. Ia dibakar perasaan cemburu. Diteguknya segelas minuman, berusaha menenangkan diri. Tapi, itu tak berhasil. Ia makin resah melihat selingkuhan suaminya itu. Bayangan pengkhianatan sang suami terhadap dirinya, hasutan kemarahan karena telah dibohongi, melukai hatinya, dan terasa amat perih. Ia tak bisa menerima. Tunggu pembalasanku, desis bisikan dari dalam diri Romina.

Romina merasa muak terhadap Ariel dan selingkuhannya. Ia menembus dapur restoran, berlari menuju atap bangunan. Apa maunya? Terjun ke aspal? Bunuh diri? Seorang koki paruh baya menyaksikannya. Ia lihat perempuan muda itu dirundung masalah. Siapa tahu ia bisa membantu. Bukankah pengalaman hidupnya banyak? Siapa yang tahu keadaan berubah menguntungkan, bukan? Bergegas disusulnya Romina ke atas.

Di pinggir tembok pembatas atap bangunan, Romina sesunggukan. Ia begitu terluka. Sang koki amat iba melihatnya. Ia lalu mendekati mempelai wanita nan malang itu. Mencegahnya agar jangan melakukan perbuatan nekat. Lalu begitu lembut dan bijak ia menasehati. Hidup kadang tak sesuai harapan kita. Namun, kita harus mampu menjalaninya dengan semburan gairah dari dalam.


Film Wild Tales


Romina yang gamang merasa mendapat pegangan. Ia merasa sang koki memberikan penyelesaian efektif untuk kesulitan yang dialaminya. Ia harus berterima kasih. Amat mulia, bukan? Dipeluknya koki itu. Dengan lembut dikecup bibirnya. Tapi, kecupannya mendadak menjadi pagutan liar. Astaga! Ini lain jalan ceritanya. Mungkinkah karena udara dingin di atap bangunan? Barangkali Romina ingin mendapat kehangatan yang layak dirasakan di malam pesta pernikahannya. Siapa yang tahu? Hanya kerlip bintang-gemintang nakal puas mengintip. Agak bergeser, keduanya lalu bersandar di dinding. Bukankah berbahaya bila terus dilanjutkan di pinggir pembatas atap itu? Mereka butuh tempat memadai. Perlu penuntasan sesegera mungkin. Hmm, semoga berjalan lancar. Tak ada gangguan berarti. 

Sementara itu, Ariel mencari-carinya. Ia bertanya pada siapapun di ruangan pesta. Akhirnya ia tahu Romina berlari naik ke atap beberapa saat yang lalu. Ditemani dengan seorang tamu, ia menyusul. Segera setelah tiba di atas, ia melihat sebelah sepatu Romina terlepas. Penuh selidik, tatapannya menyapu tiap sudut di atas bangunan.

Tiba-tiba ia menyaksikan sepasang manusia sedang bercinta. Betapa terkejutnya Ariel. Seorang dari mereka adalah istrinya, sedangkan laki-laki pasangannya tak lain si koki restoran. Mereka berdua tak menyadari sedang diperhatikan. Baru ketika mendengar namanya dipanggil, Romina tahu ada orang lain selain mereka berdua. Koki pun buru-buru melepaskan diri dari pelukan ketat istri Ariel. Agak kerepotan juga dia menaikkan celananya yang setengah melorot. Lalu cepat berlari menuruni tangga dalam gedung.

Romina puas. Berhasil membalas pengkhianatan suaminya. Padahal itu hanya dalam prasangkanya saja. Sama sekali belum pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sesungguhnya hanya cemburu buta. Ariel lemas. Padahal yang bercinta barusan dengan bernafsu bukan dirinya. Tapi, karena ia menyaksikan sendiri, itu sudah cukup melemaskan seluruh sendi dalam tubuhnya. Bukankah melihat kerapkali lebih dahsyat dari mengalami? Ia diserang shock seketika. Kedudukan saat ini 1:1. Sebuah pertandingan ego kedirian yang sungguh menguras tenaga. Amat melelahkan. Akankah ada perpanjangan waktu? Ternyata tidak. Masing-masing butuh rehat yang cukup.


Film Wild Tales


Lihatlah kini! Ariel dan Romina mesra berpelukan. Diiringi musik lembut mereka berdansa. Sepertinya tak ada yang perlu diresahkan. Mereka mampu melupakan apa yang telah terjadi. Pasangan pengantin baru ini tahu. Pesta akan segera usai. Esok pagi hari baru merekah, menawarkan segala kesenangan hidup. Setiap orang punya bagiannya masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan koki di atap gedung tadi, nikmati hidupmu dengan penuh gairah. Muncratkan ke segala arah.

Para tamu menganga tercengang. Takjub bukan kepalang.

Demikian sinopsis film Wild Tales (2014) ini. Saya kira menontonnya langsung lebih baik lagi jika Anda merasa tertarik. Banyak hal yang bisa pelajari dari dalam film ini, terutama bagaimana tekanan emosi negatif yang tak terkendali dapat menyebabkan orang bertindak tanpa akal sehat. [M.I]

Tulus, Musisi Pemotivator Nan-Puitis

Jangan lakukan apapun setengah hati. Bersungguhlah dan kuatkan diri. Optimisme adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberhasilan. Sikap optimis akan menjadi powerful drives yang mampu membuat tegar seseorang ketika terpuruk dalam kegagalan.


Lagu Tulus Manusia Kuat
Musisi Indie - Tulus


Adalah Muhammad Tulus, musisi kelahiran 1987 dan besar di Bumi Pasundan ini, yang secara puitis menyebarkan spirit untuk terus maju dan tidak cepat patah semangat dalam mengejar cita-cita. Ini bisa dilihat melalui lirik lagu-lagunya. Simak saja salah satu lagunya dari Album Monokrom (2016) berjudul Manusia Kuat.

Manusia Kuat
Oleh TULUS

Kau bisa Patahkan kakiku
Tapi tidak Mimpi-mimpiku
Kau bisa Lumpuhkan tanganku
Tapi tidak Mimpi-mimpiku

Kau bisa Merebut senyumku
Tapi sungguh Tak akan lama
Kau bisa Merobek hatiku
Tapi aku tahu obatnya

Manusia-manusia kuat Itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita
Manusia-manusia kuat Itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita

Kau bisa Hitamkan putihku
Kau takkan gelapkan apapun
Kau bisa Runtuhkan jalanku
Kan ku temukan jalan yang lain

Manusia-manusia kuat Itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita
Manusia-manusia kuat Itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita

Bila bukan KehendakNya uhuuuu
Tidak satupun [?] akan dapat bahagia


Manusia-manusia kuat Itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita
Manusia-manusia kuat Itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita

Manusia-manusia kuat Itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita
Manusia-manusia kuat Itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita

Kau bisa Patahkan kakiku
Patah tangan Rebut senyumku
Hitamkan Putihnya hatiku
Tapi tidak mimpi-mimpiku

Jelas sekali kekuatan semangat optimisme disuarakan oleh musisi ini. Pada larik awal, Tulus seakan ingin mengatakan pada pecinta musik bahwa rintangan yang berbentuk berbagai kesulitan tak jarang melumpuhkan kita. Diri bisa menjadi terpuruk dan menyerah kalah.

//Kau bisa patahkan kakiku /
//Kau bisa lumpuhkan tanganku/

Namun, ketika kita yakin itu semua adalah batu ujian yang justru akan menguatkan tekad untuk maju, segalanya akan teratasi. Ini secara langsung terungkap dalam baris: //Tapi tidak mimpi-mimpiku/ .

Terkadang hidup memang tak sesuai dengan apa yang diangankan. Kenyataan bisa bertolak belakang dengan keinginan. Akan tetapi, manakala kita mampu bangkit dari beban perasaan kecewa yang menindih jiwa, segalanya akan normal kembali. Hati yang sebelumnya terasa perih, perlahan terobati. Roman wajah yang tampak kecut, mulai melukiskan senyum kembali. Dalam lagu ini, Tulus dengan gaya puitik nan lugas mengatakan:

//Kau bisa Merebut senyumku/
//Tapi sungguh Tak akan lama/
//Kau bisa Merobek hatiku/
//Tapi aku tahu obatnya/

Ada kesan filosofi eksistensialisme yang termuat dalam lagunya ini. Seolah hendak menguraikan rumusan tentang nilai guna dari keberadaan diri individu dalam kehidupannya. ”Jika ingin hidup dalam diri hidup itu sendiri, berarti sebuah pertimbangan nilai,” demikian dikatakan filsuf Albert Camus. Dan musisi seperti Tulus menggambarkannya dengan lebih gamblang dalam lagu Manusia Kuat. Ia uraikan bahwa orang akan lebih menghargai nilai diriya ketika dia mampu berdiri lagi setelah berkali-kali jatuh terpuruk dalam kegagalan. Baginya justru karena pernah gagal, orang akan menjadi invididu kuat dan berjiwa teguh – diri yang bernilai.

//Manusia-manusia kuat Itu kita/
//Jiwa-jiwa yang kuat Itu kita/

Seseorang akan merefleksi dirinya melalui kegagalan dan mulai menemukan jalan lain untuk ditempuh demi impiannya. Derita akibat kegagalan tak akan mampu melenyapkan terangnya pandangan terhadap diri dan dunianya – demikian kiranya kesimpulan Tulus.

//Kau bisa Hitamkan putihku/
//Kau takkan gelapkan apapun/
//Kau bisa Runtuhkan jalanku/
//Kan ku temukan jalan yang lain/

Akhirnya, untuk mengingatkan kita kembali tentang kebesaran Tuhan, musisi Indie ini menambahkan nuansa pikiran eksistenliasme relijius ala filsuf  Soren Kierkegard. Manusia dengan segala hal tak pasti yang dialaminya dalam hidup, mengakui ketidakberdayaannya. Tepat secara bersamaan, ia akan menuju lebih dekat lagi pada Tuhan. Sebab, ia menyadari ada Zat Tunggal yang menentukan segala sesuatu dalam kehidupan duniawi. Karenanya, bila ia hendak hidup bahagia dan terhindar dari keputus-asaan akibat kegagalan, berserah diri secara total merupakan jalan satu-satunya. Menurut Tulus kebahagiaan itu atas izin Yang Maha Pemberi.

//Bila bukan KehendakNya uhuuuu/
//Tidak satupun [?] akan dapat bahagia/

Sungguh kita butuh seniman seperti Tulus. Ia tak hanya mengejar popularitas dan materi semata dalam berkarya. Musisi ini amat menyadari peran pentingnya sebagai penggerak, membantu kita bangkit bukan menyerah kalah saat langkah terhambat karena kesulitan hidup yang merintangi. Manusia yang kuat adalah dia yang tahu bahwa dirinya lebih bernilai daripada satu-dua kegagalan yang dialami. Manusia yang kuat adalah dia yang mampu menyingkirkan segala aral-melintang demi kebahagiaan hidupnya atas pemberian Tuhan. Selalu optimis. [M.I]







**Sumber gambar dari situs pongkimeetsthestars.com

Film The Pianist : Diskriminasi Politik Identitas

Kiranya identitas diri yang melekat tidak begitu menguntungkan bagi seseorang. Identitas yang menjadi penanda eksistensi individual atau komunal itu ternyata memuat berbagai benturan kultural dan politis - sarat kekerasan. Identitas diri yang disubordinasikan dapat merampas kebahagiaan apapun dari kehidupan seseorang.

Identitas dapat memuat makna diskriminatif dengan segala ekses negatif, demikianlah tafsirnya bagi penulis buku Wladyslaw Szpilman. Dalam memoir yang ia tulis pada masa NAZI mencaplok Polandia di awal Perang Dunia ke-II, terungkap pengalaman pribadi nan pahit menyoal dirinya yang berbangsa Yahudi. Catatan pribadinya itu lalu disinemakan dengan tajuk The Pianist (2002), sebuah film yang memang bukan baru lagi. Film ini mendapat penghargaan Oscar dan dianugerahi Palme d'Or dalam festival film Cannes 2002.

Film The Pianist



Film yang berdurasi 150 menit ini disutradarai oleh Roman Polanski. Aktor utamanya Adrien Brody berperan sebagai Wladyslaw Szpilman. Bintang-bintang lainnya seperti Emilia Fox sebagai Dorota, Michal Zebrowski sebagai Jurek, dan Ed Stoppard sebagai Henryk adik kandungnya Szpilman.

Skenario film yang diinspirasi dari catatan Szpilman itu ditulis Ronald Harwood. The Pianist dibuka dengan sajian suasana kota Warsawa di tahun 1939 dan adegan Szpilman sedang bermain piano di sebuah stasiun radio Polandia.

Tiba-tiba terdengar ledakan bom, dan disusul kaca jendela yang pecah dengan serpihan yang melukai sang pianis. Kepanikan pun mulai terlihat. Orang-orang sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing di tengah suasana kacau akibat bombardir yang dilakukan pasukan Jerman.

Pada saat Szpilman hendak keluar gedung, ia berjumpa Dorota adik sahabatnya Jurek yang mengaku sebagai penggemar permainan pianonya. Sang pianis lalu pulang. Di rumah ia melihat keluarganya sedang sibuk berkemas untuk menyelamatkan diri. Dalam suasana kalut, di rumah Szpilman dan keluarganya mendengar siaran radio BBC London Sepotong informasi penting memberitakan Inggris dan Perancis menyatakan perang terhadap Jerman. Ini berarti Polandia tidak sendiri lagi menghadapi kebrutalan tentara Jerman. Keluarga sang pianis merayakan berita gembira itu dengan makan malam bersama. Niscaya itu akan menjadi jamuan terakhir bagi mereka semua, karena harapan mendapat bantuan yang datang dari kedua negara tersebut rupanya kalah cepat dengan pergerakan pasukan Der Fuhrer yang mulai menguasai kota.

Diskriminasi Rasial

Jerman telah menguasai kota Warsawa. Dr. Fischer, Gubernur Warsawa mengeluarkan maklumat yang bagi kaum Yahudi di sana. Mereka diwajibkan mengenakan ban lengan bertanda bintang Daud biru berlatar putih ketika keluar rumah. Selain itu, Yahudi dilarang berada di fasilitas umum seperti taman, restoran dan kafe.

Szpillman yang sedang berjalan berdua Dorota terkejut dengan peringatan yang tertera di pintu sebuah kafe ketika mereka bermaksud minum kopi di sana – Yahudi dilarang masuk. Di lain tempat, ayah Szpilman dipukul salah seorang perwira NAZI yang berpapasan dengannya saat berjalan di trotoar karena alasan lupa menyapa mereka. Perwira itu juga mengingatkan ayah sang pianis agar jangan berjalan di atas trotoar. Pembatasan demi pembatasan dikeluarkan sebagai aturan yang wajib dipatuhi kaum Yahudi. Kepemilikan uang bagi masing-masing keluarga dibatasi sampai 2000 Zloty saja.

Ketika hampir setahun sudah pendudukan Jerman tepatnya pada 31 Oktober 1940, ratusan ribu Yahudi di Warsawa diwajibkan menempati pemukiman khusus bagi mereka - Ghetto. Di tempat ini, kaum Yahudi tinggal di dalamnya dengan berbagai kekurangan. Mereka hidup menderita, dan melakukan kerja paksa. Kelangkaan bahan makanan membuat mereka ringkih dan kelaparan.


Film The Pianist


Sebuah adegan dalam film ini memperlihatkan seorang Yahudi lansia menjilati bubur yang tertumpah di tanah setelah secara paksa ia rebut dari tangan wanita tua. Pemandangan mengerikan lainnya juga tampak di sepanjang jalan. Tubuh-tubuh yang bersimbah darah, tergeletak mengenaskan setelah menerima eksekusi mati.

Dalam film berlatar-belakang sejarah Perang Dunia ke-II ini terlihat jelas betapa kemanusiaan jatuh pada titik terendahnya. Kedirian manusia dipandang amat hina, lebih rendah dari derajat hewan kuda yang masih diperlakukan selayaknya. Pembunuhan dan penyiksaan terhadap orang-orang Yahudi berdasarkan konsepsi pembedaan ras begitu lugas. Film ini sendiri digarap dengan teknik sinematografi berkesan hitam-putih, biografis historik tentang kenyataan getir penuh kekejaman yang sengaja ingin dihadirkan ke ruang kesadaran penonton. Ini bisa disaksikan terutama pada adegan tentara Jerman yang menembak orang Yahudi hanya karena kesalahan sepele, penjemputan paksa dari kediaman mereka untuk dideportasi dengan kereta api ke kamp konsentrasi Triblinka – fasilitas pembakaran hidup-hidup ratusan ribu Yahudi Polandia yang dibangun NAZI.

Szpilman melihat langsung semua hal mengerikan tersebut. Namun, ia beruntung karena diselamatkan polisi Polandia ketika akan diberangkatkan ke kamp konsentrasi sekalipun harus berpisah dan kehilangan semua anggota keluarganya. Sang pianis disuruh berlari menyelamatkan dirinya.

Identitas dan Eksistensi Manusia

Bagaimana kemalangan dapat menimpa orang hanya karena ia menjadi bagian kelompok sosial yang terkalahkan? Benarkah identitas diri adalah penanda abadi dari keberadaan seorang individu di kehidupan yang serba tak menentu?

Sesungguhnya identitas yang berasal dari kata Yunani itu berarti ”dia yang membeku”. Itu mengungkapkan bahwa hanya orang mati yang memiliki identitas pasti. Orang dalam kehidupannya tak mungkin punya identitas tetap, sejak ia selalu aktif melakoni berbagai peran dalam dunia pengalaman konkret. Secara filosofis, semua identitas adalah upaya pelabelan yang diciptakan demi hierarki kekuasaan politis. Sebuah label yang menandakan pemisahan ras, kebudayaan, latar-belakang sosial dan banyak lagi aspek eksternal lainnya yang dipaksakan dari luar eksistensi kemanusiawian.

Hitler memahami ini. Sang kopral yang karirnya melonjak secara spektakuler tersebut mempropagandakan gagasan gilanya tentang keunggulan ras Arya - identitas historis bangsa Jerman. Ia mewajibkan semua anak bangsa Jerman agar berjuang dengan segala cara demi kemegahan identitas diri mereka. Ini menimbulkan ekses genosida kaum Yahudi. Bagi dia, Yahudi adalah ras rendah penyebab segala kekalahan dan kejatuhan Jerman pada Perang Dunia ke-I. Selanjutnya, ide sinting Der Fuhrer ini dalam skala massif berhasil memicu Perang Dunia ke-II. Kehancuran, penderitaan korban perang, kemanusiaan yang merosot jauh sebagai akibatnya tak terelakkan lagi. Inilah juga yang secara tersirat ingin dikemukakan film The Pianist. Sebuah gambaran nyata dari politik identitas yang sarat dengan penyingkiran bahkan pemusnahan eksistensi kemanusiawian.

Musik yang Menetralisir

Selain mengisahkan tragedi kemanusiaan akibat politik identitas, The Pianist adalah juga karya seni sinematografi yang seakan begitu gamblang menerangkan rumusan mengenai musik dan kemanusiaan dari Filsuf Nietszche – Without music life would be a mistake. Di tengah upaya dominasi politik identitas yang secara kejam melenyapkan seluruh aspek kemanusiawian, musik hadir mengembalikannya lagi ke dalam diri manusia.

Szpilman dalam pelarian dan perjuangan mempertahankan hidupnya, dikisahkan dalam sebuah adegan berjumpa seorang perwira NAZI. Ia ditemukan sedang bersembunyi di dalam loteng bangunan setengah hancur oleh Kapten Wilm Hosenfeld. Keadaannya sungguh mengenaskan saat itu. Ia berada di ambang keputus-asaan. Szpilman mengira kalau saat itu sang perwira akan membunuhnya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Setelah diketahui bahwa ia seorang pianis, Hosenfeld lalu memintanya untuk memainkan sebuah lagu dengan piano yang ditemukan di dalam salah satu ruang bangunan. Szpilman pun membawakan salah lagu ciptaan Chopin - Ballade in G minor. Perwira ini merasa amat menikmati permainan piano Szpilman. Alunan nada yang didengarnya menerbitkan perasaan iba terhadap keadaan sang pianis. Ada sebuah maksud yang ingin disampaikan melalui peristiwa dalam adegan ini. Musik menetralisir kedirian mereka yang telah dicerai-beraikan kepongahan identitas.


Film The Pianist, Film Humanisme

Ini terbukti beberapa hari kemudian, Hosenfeld yang kembali mengunjunginya. Szpilman dibawakan makanan dan juga diberi mantel oleh perwira Hosenfeld – sebuah gambaran simbolik tentang aspek-aspek kemanusiaan, cinta kasih yang kembali hadir mengisi ruang kalbu manusia.

Dalam sebuah dialog, perwira NAZI ini menanyakan apa yang dilakukan sang pianis jika perang usai. Ia menjawab akan kembali bermain piano di stasiun radio Polandia. Hosenfeld berjanji akan mendengarkan permainan indah pianonya kelak. Mungkin ia ingin mengutarakan maksud hatinya bahwa hanya musik yang akan memanusiakan kita kembali di tengah reruntuhan perang.

Ya, musik memang mampu berkomunikasi dengan batin manusia tanpa dipengaruhi suasana yang melingkupinya. Musik mengembalikan semua aspek kemanusiawian sekalipun di tengah kecamuk perang dengan kekejaman tanpa prikemanusiaan.

Barangkali inilah salah satu pesan yang hendak disampaikan film The Pianist. Orang harus menyuburkan segala aspek kemanusiawian dalam dirinya ketika berelasi dengan dunianya yang inter-subyektif. Dengan demikian, manusia diharapkan akan tetap dapat mengada secara ideal, bisa menangkal pengaruh apapun yang dipaksakan dari luar dirinya – sebagaimana yang dilakukan diskriminasi politik identitas nan kejam. Sebab jika orang hidup tanpa cinta-kasih, jauh dari toleransi terhadap perbedaan yang ada, cenderung merasa megah dengan identitas komunalnya, niscaya hidupnya akan menjadi sebuah kesalahan di segala zaman. [M.I]


Nonton Online Film


Tips Mudah Menulis Resensi Film

Tips Mudah Menulis Resensi Film


Resensi film merupakan cara untuk menilai sebuah film dari kelebihan atau kekurangannya. Aktivitas penulisan kreatif ini tentunya berhubungan dengan kesan, dan pendapat seseorang ketika mengeksplorasi apa saja hal-hal menarik dari sebuah film sehingga layak untuk ditonton/direkomendasikan kepada para pembaca resensi. Juga menjadi sarana untuk mengevaluasi secara objektif terhadap kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam elemen-elemen formal film tersebut. Misalnya, alur ceritanya yang mudah ditebak, karakterisasi yang stereotif atau klise, tema yang diusung tidak begitu penting, atau hal apapun yang menjadikan film tersebut kurang berkualitas.

Resensi film bukanlah tulisan yang ketat dengan tata cara penulisan ilmiah, atau terlalu banyak memuat berbagai opini personal yang tak relevan. Biasanya sebuah resensi ditulis dengan jumlah 600 – 1200 kata. Namun biarpun cukup ringkas, idealnya resensi film mesti memuat penilaian pada dua kategori dasarnya, yakni pertama berhubungan dengan teknik formal pembuatannya seperti sinematografi, tata cahaya dan suara, jenre dan penceritaan (narratology). Yang kedua yaitu penilaian kontekstual tematik yang berhubungan dengan apa saja hal-hal yang menjadi latar-belakang film tersebut, meresonansi isu-isu tertentu seperti yang berkaitan dengan sejarah, ras, jender, kelas-kelas sosial dan lain sebagainya.

Adapun elemen-elemen mendasar yang biasanya terdapat dalam sebuah resensi, yaitu:

1. Pendahuluan
Dalam bagian awal resensi, sejumlah informasi mendasar mengenai film tersebut sebaiknya dimuat yakni judul film, tahun pembuatan, sutradara, penulis skenario, dan para aktor/aktris utama. Informasi ini akan membuat pembaca tahu gambaran umum mengenai film yang sedang diresensi.

2. Ringkasan Cerita
Penulis resensi harus memahami bahwa para pembaca tulisannya itu sebagian besar belum menonton film tersebut. Karenanya, sangatlah bijaksana bila ada ringkasan cerita yang mengilustrasikan secara garis besar (general sense) mengenai film. Dengan demikian, pembaca mengetahui, merasa tertarik, mempertimbangkan apakah bagus atau tidak film yang sedang diresensikan.

3. Deskripsi Impressif
Setelah pembaca mendapat pemahaman umum mengenai film melalui ringkasan cerita, resensi mengizinkan penulisnya untuk mengungkapkan kesan-kesan khusus yang dirasakan ketika ia menyaksikan sendiri film tersebut. Ungkapan perasaan subjektif atau emosi-emosi tertentu yang dialami, pikiran atau pendapat pribadi penulis mengenai bagaimana film yang telah ditontonnya itu justru membuat sebuah resensi film terkesan menarik (particularly attractive). Oleh sebab itu, mendeskripsikan perasaan dan interpretasi pribadi dalam meresensi film juga sebaiknya diuraikan penulis.

4. Analisis
Supaya penulis bisa menjelaskan kesan-kesan yang didapat dan penafsiran pribadinya tentang film yang sedang diresensikan, disarankan ia juga menerangkan seberapa efektif film tersebut telah mendayagunakan dengan baik teknik-teknik formal pembuatan seperti sinematografi, pencahayaan, tata suara, editing, jenre dan penceritaan. Relevansinya untuk menunjukkan kepada pembaca seberapa jauh formal techniques tersebut mempengaruhi kualitas sebuah film. Selain itu, penulis resensi sebaiknya juga menguraikan analisisnya yang berhubungan dengan thematic content dalam film seperti apa saja latar belakang historis yang ingin diungkapkan. Atau, Hal-hal yang berkaitan dengan soal jender, ras, agama, kemanusiaan, seksualitas, kelas sosial, dan lingkungan tertentu. Uraian yang demikian untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca bahwa sebuah film adalah karya seni yang secara imaji visual sedang mengisahkan dunia pengalaman konkret manusiawi yang kompleks dan ambigu, dimana manusia berupaya melakukan interaksi secara aktif dalam rangka memaknai kediriannya. Tentunya dengan memuat penilaian yang demikian sebuah resensi film akan menambah nilai bermanfaat dari dalamnya, sekaligus para pembaca dapat mempertimbangkan secara tepat layak atau tidak film dimaksud untuk ditonton.

5. Kesimpulan
Pada bagian ini, penulis sebaiknya menggambarkan secara umum pendapat dan kesan-kesan pribadinya (general thoughts and impressions) mengenai film yang diresensi. Ia dibolehkan untuk menjelaskannya secara gamblang atau tersirat kepada para pembaca resensi (explain explicitly or implicitly to the audience). Upaya ini untuk memastikan sarannya kepada pembaca mengapa film yang sedang dievaluasi ini layak ditonton atau malah sebaliknya.

Demikian tips ringkas menulis resensi film yang bisa saya terangkan. Walau bagaimanapun juga, menulis adalah aktivitas kreatif yang butuh latihan. Tema apapun yang ingin kita kemukakan secara tertulis tentu akan mengalami kesempurnaan setelah banyak berlatih menguraikannya. Oleh karena itu, izinkan saya untuk menyarankan Anda agar tetaplah konsisten dalam melatih kemampuan menulis. Siapa tahu kelak di antara kita akan menjadi penulis resensi yang handal dan bisa mendapat penghasilan tambahan dari situ. Semoga bermanfaat. [M.I]