Menelusuri Makna Puisi Ala Michael Riffaterre

Menelusuri Makna Puisi Ala Michael Riffaterre, semiotika puisi


Puisi memang salah satu ragam sastra yang amat menarik, namun cukup rumit untuk dimengerti secara langsung dengan pembacaan sekilas. Mengapa demikian? Puisi sering menyimpan suatu maksud tersembunyi dari apa yang tertera dalam bentuknya sebagai teks.

Michael Riffaterre, seorang ahli semiotika pernah berpendapat dalam bukunya yang berjudul Semiotics of Poetry bahwa puisi menjadi sukar dipahami karena maknanya dinyatakan tidak secara langsung. Menurutnya, ketidaklangsungan dalam pernyataan puisi ini disebabkan oleh tiga hal: penggantian arti,     penyimpangan arti, dan penciptaan arti.


1. Penggantian arti (displacing of meaning)

Teks puisi selalu kaya dengan kandungan kata-kata kiasan yaitu metafora. Bahasa kiasan ini kerapkali digunakan untuk menyatakan sesuatu seharga dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. Dan, biasanya dimanfaatkan untuk mengekspresikan perbandingan, personifikasi, sinekdok, metonimi, kesimpulan induktif dan lainnya. Intinya bahasa kiasan ini melihat sesuatu dengan perantaraan hal lain, sehingga kata-kata yang terdapat dalam sebuah karya puisi lebih cenderung merujuk pada sesuatu yang berada di balik teks (baca: puisi) itu sendiri. Akibatnya, tiap kata sebagai petanda dalam puisi cenderung tidak menunjuk langsung penandanya (benda, tindakan ataupun peristiwa yang dimaksudkan sebagaimana penggunaan kata dalam komunikasi biasa). Mari lihat contoh penggantian arti yang disebabkan penggunaan bahasa kiasan berikut ini:

Sampanku yang terombang-ambing,
Rindu pantaimu yang damai


Apakah ada sebuah ’sampan yang terombang-ambing’ bisa merasakan kerinduan seperti yang dirasakan manusia biasa? Tentu tidak demikian maksudnya. Subjek lirik dalam puisi ingin mengungkapkan ’kegelisahan yang dirasakan jiwanya yang bimbang’ (Sampanku yang terombang-ambing), dan sangat membutuhkan ’bimbingan seseorang untuk melenyapkan gundah-gulananya’ itu (Rindu pantaimu yang damai). Personifikasi ’sampan’ yang bisa merindu seperti manusia sebenarnya menunjuk pada bentuk perbandingan langsung yang sengaja diletakkan dalam teks.


2.  Penyimpangan arti (distorting of meaning)

Sebuah karya puisi sering sulit dipahami karena terjadinya penyimpangan arti dari aturan (konvensi) pemakaian bahasa sehari-hari. Konsekuensinya dalam puisi sering terdapat ambiguitas (makna ambigu/ganda), kontradiksi (pertentangan dengan makna yang lazim), dan nonsense (ketiadaan arti).

Sampanku yang terombang-ambing,/ 

Bermakna ambigu dan cenderung merujuk pada arti yang menerangkan keadaan psikis dari subjek lirik.

Aku percaya kemenangan ada padamu yang duka/  

- Lagu Perempuan, Sitor Situmorang


Bertentangan dengan makna yang lazim: duka atau kesedihan jarang sekali dirasakan oleh siapapun yang mengalami kemenangan. Tentunya, larik ini ingin mengungkapkan keadaan diri subjek lirik yang pasrah – suatu ketidakberdayaan.

Rang… Rang… Rangkup/
Sim…sim… sim sala bim…/
Terbuka, kuak seketika yang tersembunyi/

  
Dalam komunikasi biasa frasa ‘Rang… Rang… Rangkup’ dan ‘Sim… sim… sim sala bim…’ tentu tidak memiliki arti yang definitif (nonsense). Namun, di dalam teks (puisi), kata-kata yang demikian muncul untuk mengungkapkan suasana tertentu yang cenderung bersifat realitas magis. Dan, biasanya dikaitkan dengan larik ataupun bait tertentu dalam puisi. Dalam budaya timur, penggunaan kata-kata yang sedemikian mudah ditemukan dalam ragam sastra lisan seperti mantra atau jampi-jampi.


3. Penciptaan arti (creating of meaning)

Sebagai teks, puisi seringkali mempunyai sintaksis (susunan ketatabahasaan) yang tersendiri. Ini terjadi bila ruang teks ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kode-kode makna baru, di luar arti ketatabahasaan. Mari cermati larik-larik berikut ini:

Bulan mencopot bajunya yang keperakan/
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat/
menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri/
rela telanjang di langit, atap paling rindang/
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang./


- Baju Bulan, JokoPinurbo

Perhatikan enjambemen (pemenggalan) kata-kata tertentu pada larik-larik di atas: keperakan – mengenakannya, lihat – menangis, bulan sendiri – rela,

Cermati pula kata ’rindang’ yang berima dengan ’pulang’.

Penataan teks yang sedemikian menciptakan ’kode-kode sastra’ yang menciptakan makna baru di luar aspek ketatabahasaan. Tujuannya bisa mengarah untuk penguatan arti (intensitas), simitri (kesejajaran arti antar larik ataupun bait demi melukiskan urutan tindakan subjek lirik), persamaan bunyi akhir (rima) antar larik, dan lainnya.


Puisi bagi Riffaterre, dengan maksud pengungkapannya yang berbeda dengan bahasa komunikasi biasa itu, dipahami ibarat sebuah donat. Bentuk teks yang tampak adalah sesuatu yang hadir dalam puisi diumpamakan sebagai ’daging donat’. Sedangkan ruang kosong (the empty spaces) yang ada di tengah donat merupakan ’sesuatu yang tidak hadir’, namun berfungsi amat penting karena turut menopang dan membentuk daging donat secara keseluruhan.

Oleh sebab itu, bila ingin memahami sebuah karya puisi secara utuh, diperlukan pembacaan teks yang melewati empat tahapan berikut ini:


1. Pembacaan Heuristik

Membaca puisi dengan didasarkan  pada konvensi bahasa. Hal ini karena bahasa teks puisi awalnya juga memiliki arti referensial, dan pembaca dituntut memiliki kompetensi linguistik agar dapat mengerti makna, termasuk peyimpangan sintaksis puisi yang berada di luar ketatabahasaan (ungrammaticalities of text).


2. Pembacaan hermeneutik

Membaca puisi yang didasarkan pada konvensi sastra. Pada tahap ini pembaca disarankan meninjau ulang pembacaan heuristik, dan bersedia memperbaiki penafsirannya.


3. Penentuan hipogram

Tujuan dari upaya ini untuk memahami ruang ruang kosong (the empty spaces) yang tidak ada secara tekstual itu. Cara termudah melakukannya  adalah dengan mengisi ruang-ruang kosong dengan penafsiran secara kontekstual (parafrasa). Dengan demikian didapat gambaran rujukan makna puisi yang sebelumnya belum lengkap.


4. Penentuan matriks, model, dan makna.

Upaya ini adalah kelanjutan dari tahap ketiga, yang difokuskan pada penemuan pusat makna dari puisi. Dalam melakukannya digunakan ’matriks’ yaitu tuturan minimal dan harfiah dalam bentuk kata-kata kunci. Sebab, matriks berfungsi untuk meringkas teks puisi dalam bentuknya yang paling singkat. Aktualitas pertama dari matriks adalah "model" yakni kata atau kalimat tertentu yang juga sebuah tuturan minimal, biasanya sangat puitis menjadi inti/tema puisi. Dari matriks dan model itulah pembaca dapat merumuskan sebuah kesatuan makna puisi tersebut.

Semoga memberikan manfaat dan salam sastra. [M.I]


* gambar dari SINI