Tips Menulis Cerita Perjalanan

tips menulis, tips menulis cerita, tips menulis cerita perjalanan


Melakukan perjalanan memang mengasyikkan. Kita bisa melihat beragam tempat yang menarik, lengkap dengan lanskap memikat dan adat - istiadat setempat. Tentunya sangat sayang bila hanya tinggal menjadi sebuah kenangan, tak dituangkan ke dalam sebuah tulisan kisah perjalanan, bukan? Berikut ini perkenankan saya berbagi tips menulis cerita perjalanan yang praktis.

1. Riset pendahuluan

Sebaiknya sebelum Anda mengunjungi suatu tempat wisata tertentu, kerjakanlah riset. Ini untuk mengetahui bagaimana kondisi dari lokasi wisata tujuan kita, apa saja tempat yang menarik untuk dikunjungi, dan adat-istiadat masyarakat setempat, dan tentunya berapa anggaran biaya perjalanan yang harus disiapkan.


2. Informasi daya tarik tempat wisata

Carilah informasi sebanyak mungkin tentang apa saja daya tarik dari tempat wisata yang mau kita sambangi. Ini bisa didapat melalui pemandu wisata lokal, biro wisata, brosur dan browsing internet.


3. Membuat headline yang menarik

Cerita perjalanan yang mau Anda tulis sebaiknya diperkenalkan kepada khalayak pembaca dengan perantara headline atau judul cerita yang memikat pembaca. Tentunya dengan judul yang memikat, pembaca akan merasa penasaran untuk meneruskan membaca, bahkan berniat untuk mengunjungi tempat wisata yang sedang kita deskripsikan.


4. Karakterisasi agar lebih humanis

Sajikan pula penggambaran tempat wisata yang kita tulis dengan memanfaatkan karakterisasi. Hadirnya seorang tokoh cerita yang menjadi juru bicara kisah perjalanan akan memberikan kesan humanis, dalam artian kita tak hanya membicarakan kondisi tempat wisata saja, tapi juga pengalaman 'hidup' dalam kisah perjalanan.


5. Deskripsi dengan seluruh panca indera

Ketika kita menceritakan kisah perjalanan, libatkan seluruh panca indera. Katakan apa yang dilihat, dicium, dirasakan, disentuh dan dialami langsung selama berada di tempat wisata yang dikunjungi. Pelibatan panca indera saat mengisahkan jalinan cerita tentu akan memikat pembaca seolah-olah ia sedang berada langsung di sana.


6. Memotret dengan 'rasa'

Selembar foto bisa mewakili seribu kata. Namun, tentunya foto yang kita ambil harus memiliki cerita yang kuat. Seringkali kita hanya memotret apa yang menarik saat dilihat, tapi belum tentu memiliki daya pikat tersendiri karena tak punya 'ruh' (baca: kisahnya yang tersendiri). Kepekaan sangat dibutuhkan saat memilih objek-objek fotografi yang mau kita jadikan foto cerita perjalanan.


Demikian tips praktis menulis cerita perjalanan ini, semoga bisa bermanfaat. (M.I) 

(*) Ilustrasi dari
SINI

Do'a Kopi Sore

Do'a Kopi Sore


puisi, do'a kopi sore

Usai desir seruput
ketiga kopi soreku,
terurai kini pikiran kusut.

Lurus. Kewarasan menjuntai
bagai sulur ubur-ubur,
sentuh hati bertafakur:

"Tuhan, kasihanilah dompetku,
yang kurus kuyu,
dan penyakitan itu!"

Engkau Maha Tahu..
Dari sebab yang tersembunyi,
nun jauh di lubuk hati.

"Bukankah benar sekali
di dalam dompet yang sakit,
kerap mengendap pikiran yang kusut?"

Jadikanlah ia gemuk,
montok dan sehat,
penuh cahaya semangat.

Aamiin..