Menelusuri Makna Puisi Ala Michael Riffaterre

Menelusuri Makna Puisi Ala Michael Riffaterre, semiotika puisi


Puisi memang salah satu ragam sastra yang amat menarik, namun cukup rumit untuk dimengerti secara langsung dengan pembacaan sekilas. Mengapa demikian? Puisi sering menyimpan suatu maksud tersembunyi dari apa yang tertera dalam bentuknya sebagai teks.

Michael Riffaterre, seorang ahli semiotika pernah berpendapat dalam bukunya yang berjudul Semiotics of Poetry bahwa puisi menjadi sukar dipahami karena maknanya dinyatakan tidak secara langsung. Menurutnya, ketidaklangsungan dalam pernyataan puisi ini disebabkan oleh tiga hal: penggantian arti,     penyimpangan arti, dan penciptaan arti.


1. Penggantian arti (displacing of meaning)

Teks puisi selalu kaya dengan kandungan kata-kata kiasan yaitu metafora. Bahasa kiasan ini kerapkali digunakan untuk menyatakan sesuatu seharga dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. Dan, biasanya dimanfaatkan untuk mengekspresikan perbandingan, personifikasi, sinekdok, metonimi, kesimpulan induktif dan lainnya. Intinya bahasa kiasan ini melihat sesuatu dengan perantaraan hal lain, sehingga kata-kata yang terdapat dalam sebuah karya puisi lebih cenderung merujuk pada sesuatu yang berada di balik teks (baca: puisi) itu sendiri. Akibatnya, tiap kata sebagai petanda dalam puisi cenderung tidak menunjuk langsung penandanya (benda, tindakan ataupun peristiwa yang dimaksudkan sebagaimana penggunaan kata dalam komunikasi biasa). Mari lihat contoh penggantian arti yang disebabkan penggunaan bahasa kiasan berikut ini:

Sampanku yang terombang-ambing,
Rindu pantaimu yang damai


Apakah ada sebuah ’sampan yang terombang-ambing’ bisa merasakan kerinduan seperti yang dirasakan manusia biasa? Tentu tidak demikian maksudnya. Subjek lirik dalam puisi ingin mengungkapkan ’kegelisahan yang dirasakan jiwanya yang bimbang’ (Sampanku yang terombang-ambing), dan sangat membutuhkan ’bimbingan seseorang untuk melenyapkan gundah-gulananya’ itu (Rindu pantaimu yang damai). Personifikasi ’sampan’ yang bisa merindu seperti manusia sebenarnya menunjuk pada bentuk perbandingan langsung yang sengaja diletakkan dalam teks.


2.  Penyimpangan arti (distorting of meaning)

Sebuah karya puisi sering sulit dipahami karena terjadinya penyimpangan arti dari aturan (konvensi) pemakaian bahasa sehari-hari. Konsekuensinya dalam puisi sering terdapat ambiguitas (makna ambigu/ganda), kontradiksi (pertentangan dengan makna yang lazim), dan nonsense (ketiadaan arti).

Sampanku yang terombang-ambing,/ 

Bermakna ambigu dan cenderung merujuk pada arti yang menerangkan keadaan psikis dari subjek lirik.

Aku percaya kemenangan ada padamu yang duka/  

- Lagu Perempuan, Sitor Situmorang


Bertentangan dengan makna yang lazim: duka atau kesedihan jarang sekali dirasakan oleh siapapun yang mengalami kemenangan. Tentunya, larik ini ingin mengungkapkan keadaan diri subjek lirik yang pasrah – suatu ketidakberdayaan.

Rang… Rang… Rangkup/
Sim…sim… sim sala bim…/
Terbuka, kuak seketika yang tersembunyi/

  
Dalam komunikasi biasa frasa ‘Rang… Rang… Rangkup’ dan ‘Sim… sim… sim sala bim…’ tentu tidak memiliki arti yang definitif (nonsense). Namun, di dalam teks (puisi), kata-kata yang demikian muncul untuk mengungkapkan suasana tertentu yang cenderung bersifat realitas magis. Dan, biasanya dikaitkan dengan larik ataupun bait tertentu dalam puisi. Dalam budaya timur, penggunaan kata-kata yang sedemikian mudah ditemukan dalam ragam sastra lisan seperti mantra atau jampi-jampi.


3. Penciptaan arti (creating of meaning)

Sebagai teks, puisi seringkali mempunyai sintaksis (susunan ketatabahasaan) yang tersendiri. Ini terjadi bila ruang teks ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kode-kode makna baru, di luar arti ketatabahasaan. Mari cermati larik-larik berikut ini:

Bulan mencopot bajunya yang keperakan/
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat/
menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri/
rela telanjang di langit, atap paling rindang/
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang./


- Baju Bulan, JokoPinurbo

Perhatikan enjambemen (pemenggalan) kata-kata tertentu pada larik-larik di atas: keperakan – mengenakannya, lihat – menangis, bulan sendiri – rela,

Cermati pula kata ’rindang’ yang berima dengan ’pulang’.

Penataan teks yang sedemikian menciptakan ’kode-kode sastra’ yang menciptakan makna baru di luar aspek ketatabahasaan. Tujuannya bisa mengarah untuk penguatan arti (intensitas), simitri (kesejajaran arti antar larik ataupun bait demi melukiskan urutan tindakan subjek lirik), persamaan bunyi akhir (rima) antar larik, dan lainnya.


Puisi bagi Riffaterre, dengan maksud pengungkapannya yang berbeda dengan bahasa komunikasi biasa itu, dipahami ibarat sebuah donat. Bentuk teks yang tampak adalah sesuatu yang hadir dalam puisi diumpamakan sebagai ’daging donat’. Sedangkan ruang kosong (the empty spaces) yang ada di tengah donat merupakan ’sesuatu yang tidak hadir’, namun berfungsi amat penting karena turut menopang dan membentuk daging donat secara keseluruhan.

Oleh sebab itu, bila ingin memahami sebuah karya puisi secara utuh, diperlukan pembacaan teks yang melewati empat tahapan berikut ini:


1. Pembacaan Heuristik

Membaca puisi dengan didasarkan  pada konvensi bahasa. Hal ini karena bahasa teks puisi awalnya juga memiliki arti referensial, dan pembaca dituntut memiliki kompetensi linguistik agar dapat mengerti makna, termasuk peyimpangan sintaksis puisi yang berada di luar ketatabahasaan (ungrammaticalities of text).


2. Pembacaan hermeneutik

Membaca puisi yang didasarkan pada konvensi sastra. Pada tahap ini pembaca disarankan meninjau ulang pembacaan heuristik, dan bersedia memperbaiki penafsirannya.


3. Penentuan hipogram

Tujuan dari upaya ini untuk memahami ruang ruang kosong (the empty spaces) yang tidak ada secara tekstual itu. Cara termudah melakukannya  adalah dengan mengisi ruang-ruang kosong dengan penafsiran secara kontekstual (parafrasa). Dengan demikian didapat gambaran rujukan makna puisi yang sebelumnya belum lengkap.


4. Penentuan matriks, model, dan makna.

Upaya ini adalah kelanjutan dari tahap ketiga, yang difokuskan pada penemuan pusat makna dari puisi. Dalam melakukannya digunakan ’matriks’ yaitu tuturan minimal dan harfiah dalam bentuk kata-kata kunci. Sebab, matriks berfungsi untuk meringkas teks puisi dalam bentuknya yang paling singkat. Aktualitas pertama dari matriks adalah "model" yakni kata atau kalimat tertentu yang juga sebuah tuturan minimal, biasanya sangat puitis menjadi inti/tema puisi. Dari matriks dan model itulah pembaca dapat merumuskan sebuah kesatuan makna puisi tersebut.

Semoga memberikan manfaat dan salam sastra. [M.I]


* gambar dari SINI

Baju Bulan, Himbauan Kepedulian Sosial Ala Joko Pinurbo

baju bulan puisi joko pinurbo


Tampaknya paradoks adalah bagian yang tak bisa dihindari dalam setiap aspek kehidupan manusia. Demikian kiranya pesan tersirat dari narasi puitik peristiwa lebaran yang paradoksal dalam puisi Baju Bulan karya Joko Pinurbo. Mari kita simak bersama.


Baju Bulan
Oleh JOKO PINURBO


Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni
baju buatan.
Bulan mencopot bajunya yang keperakan
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat
menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri
rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.


Dalam puisi di atas, penyair Jokpin sedang berkisah tentang kepiluan yang hadir di tengah-tengah malam kemenangan. Tema ini disajikan penyair dengan memanfaatkan teknik pengisahan melalui dua subjek lirik puisi – gadis kecil dan bulan sebagai juru bicaranya.

Melalui subjek lirik ’gadis kecil’, Jokpin ingin mengutarakan pendapatnya bahwa ada kebahagiaan yang masih tetap tak bisa dirasakan oleh sebagian golongan masyarakat (orang-orang miskin) ketika yang lain bersuka-cita merayakan kemeriahan peristiwa budaya lebaran.

Bulan, aku mau Lebaran./ Aku ingin baju baru,/ tapi tak punya uang./ Ibuku entah di mana sekarang,/ sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan./ Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?/

Penyair mengamati kehadiran sebuah paradoks tajam tentang ketimpangan sosial yang ada di dalam realitas sehari-hari. Pada peristiwa lebaran, yang baginya sebagai ’mitos kemenangan’ di dalam benak kolektif masyarakat, ternyata belum cukup mampu membagikan rata ’kue kebahagian’ bagi setiap insan. Melalui subjek lirik ’gadis kecil’ yang secara simbolik mewakili golongan ’wong cilik’ ini, Jokpin mengemukakan pendapatnya tentang pertentangan antara kesedihan dan kebahagiaan – kesengsaraan belum mau belum menghilang di saat perayaan kemenangan yang gilang-gemilang. Kemiskinan masih tetap menjadi penghalang bagi ’orang tak berpunya’ untuk mengecap kebahagiaan, dan keinginan untuk turut berbahagia walaupun hanya sebentar saja di hari kemenangan terasa sulit diwujudkan – cenderung bagai impian yang melambung tinggi hingga ke bulan.

Bulan, aku mau Lebaran./ Aku ingin baju baru,/ tapi tak punya uang./
....
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?/


Di lain sisi, Jokpin sebenarnya juga ingin menghimbau ke masyarakat luas tentang kepedulian sosial terhadap sesama. Hal ini secara implisit dikomunikasikan melalui larik-larik berikut:

Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan/
bajunya yang kuno di antara warna-warni baju buatan/
Bulan mencopot bajunya yang keperakan/
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat/
menangis di persimpangan jalan/

Jika kita memiliki empati sosial yang mau peduli (Bulan yang terharu) semampunya membantu saudara-saudara kita  (memberikan bajunya yang kuno), tanpa mengharap meriahnya warna sanjung puja-puji dari apa yang dilakukan (bajunya yang kuno di antara warna-warni baju buatan), perbuatan baik kita itu sungguh telah memuliakan diri kita sendiri (baju bulan yang keperakan) sekaligus juga membebaskan penderitaan sesama dari kemiskinan (mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat menangis di persimpangan jalan).

Inti dari himbauan penyair yang mahir bermain dengan metafora keseharian yang digalinya dari pengalaman nyata dalam puisinya ini adalah keharmonisan hidup itulah makna sebenarnya yang ditunjuk frasa ’hari kemenangan’, dan ini bisa dicapai melalui kesalehan sosial. Hati yang tulus dan peka terhadap penderitaan sesama (Bulan sendiri rela telanjang di langit) akan menciptakan kedamaian yang meneduhi kehidupan kita sesungguhnya bagaikan langit ’atap paling rindang’ itu.

Akhirnya, paradoks apapun yang menemani kehidupan tiap orang dalam segala kondisi tak lagi bersifat sebagai ironi dramatik. Tentunya hal ini terwujud bila kita tak terlalu mementingkan diri sendiri dan terlelap dalam perayaan arfisial semu semata. Semoga bermanfaat. [M.I]



* ilustrasi dari ludefa

Don't Go Far Off, Puisi Sendu Pablo Neruda

puisi pablo neruda, do not go far off, Blog Dofollow


Tampaknya mustahil hidup tanpa cinta walau hanya sedetik saja. Ada kesunyian yang begitu menyiksa diri, merajam kejam dengan kesenduan nan lirih. Demikian kesan pertama yang tertangkap ketika Anda mencermati puisi Don’t Go Far Off karya penyair Pablo Neruda. Apa sebabnya demikian? Mari kita simak bersama secara lengkap. 


Don’t Go Far Off
By Pablo Neruda

Don't go far off, not even for a day, because -
Because -  I don't know how to say it: a day is long
and I will be waiting for you, as in an empty station
when the trains are parked off somewhere else, asleep.

Janganlah pergi menjauh (dari sisiku), walaupun hanya sehari (saja), karena
Karena – Ku tak tahu bagaimana harus mengatakannya: (tanpamu) hari (penantian yang kulewati menjadi) panjang. Dan (ini berarti) aku akan (terpaku) menunggumu (dalam siksa sepi sendiri bagaikan) berada di sebuah stasiun yang lengang manakala kereta-keretanya terparkir terpisah (berjarak) di suatu tempat yang lain, (bersamaku yang membeku di sini) tertidur.

Don't leave me, even for an hour, because
Then the little drops of anguish will all run together,
The smoke that roams looking for a home will drift
Into me, choking my lost heart.

Janganlah (kau) tinggalkan aku walaupun satu jam saja, karena
dengan begitu bulir kecil (air mata dari) kesedihanku yang mendalam (ini) akan menyatu
(bersama) kabut (duka) yang mengembara mencari rumah (persinggahan), menyelinap masuk ke dalam diriku, (lalu menyesak ke dalam untuk) mencengkeram hatiku yang lara.

Oh, may your silhouette never dissolve on the beach;
May your eyelids never flutter into the empty distance.
Don't leave me for a second, my dearest,

Oh, mungkinkah bayanganmu (masih membekas dalam anganku bagaikan) tak pernah lenyap (dibawa lalu ombak) di pantai;
mungkinkah (masih dapat kuharapkan) kelopak matamu tak pernah (berisyarat) tergetar (menuju pada) kehampaan di sana
Janganlah tinggalkan aku walaupun sedetik saja, sayangku,

Because in that moment you’ll have gone so far
I’ll wander mazily over all the earth, asking,
Will you come back? Will you leave me here, dying?

Sebab di saat kau (bersama kepergianmu) telah begitu menjauh (dariku)
Aku berkelana tak menentu (ke seluruh penjuru) di bumi (ini), (dalam kedukaan aku) bertanya,
Akankah kau kembali (padaku)? Akankah kau (tega) tinggalkan diriku (sendiri) di sini, (meregang) sekarat? 


***


Dalam puisi ini, Neruda agaknya ingin mengungkapkan betapa besarnya daya cinta merengkuh diri si aku-lirik. Cinta telah menjadi napas kehidupan, daya utama yang menggerakkan segala laku perbuatan persona ”I” yang ditunjuk oleh penyair. Tanpa cinta tiada gairah yang tersisa untuk menjalani hidup. Sehingga, akibatnya secara simultan muncul perasaan cemas, harap dan takut akan kehilangan ’seseorang’ yang menjadi tumpuan segenap curahan perasaan mencintai. Ada ketergantungan yang teramat kuat pada diri aku-lirik dengan orang yang dicintainya itu. Di sini tampak digambarkan sebagai keadaan sepi menekan bila sedetik saja berpisah jauh dengan sang kekasih. Penggunaan metafora ’stasiun yang lengang’ disandingkan dengan durasi penantiannya yang penuh duka lara seakan sedang mengungkapkan betapa tersiksanya batin aku-lirik bila ia sendirian tanpa kehadiran sang kekasih – tiada gairah diri membeku.

Dalam stanza kedua, masih mendeskripsikan tekanan perasaan sedih aku-lirik melalui beberapa penekanan suasana mencekam. Bayangan perpisahan dengan kekasih yang amat dicintai kian menakutkan dengan digambarkan sebagai hunjaman nestapa yang menyelinap masuk, menyesaki dan menggerogoti jiwa.

Stanza ketiga mengungkapkan kekhawatiran si aku-lirik kehilangan kekasihnya yang makin menjadi-jadi. Ia membayangkan dirinya yang lara, hidup hampa tanpa arti dan mulai berprasangka bahwa dirinya sudah terabaikan. Sekalipun demikian, di baris terakhir masih tersirat suatu permohonan yang diungkapkan oleh aku-lirik agar dirinya jangan dibiarkan dalam keadaan demikian – sendiri ditinggal pergi.

Permohonan yang sangat mengharap belas-kasihan ini kian jelas pada stanza keempat. Tetapi, diekspresikan dengan memberikan gambaran keadaan ’tanpa daya, kebingungan tanpa tujuan hidup’ yang mungkin akan dialami si aku-lirik bila kekasihnya memutuskan untuk tetap berpisah dengannya, dan perpisahan telah menjadi keniscayaan untuk dirinya.

Astaga! Kenapa bisa sampai segitunya? Dilanda keputus-asaan yang mengambangkan jiwa.

Will you come back? Will you leave me here, dying?

Haruskah begini jadinya? Akankah orang meregang sekarat akibat kuku runcing cinta yang melumat tubuh jiwa? Benarkah perpisahan terasa amat berat, sedangkan kehidupan itu sendiri tak pernah berada dalam kondisi tetap sebagaimana adanya karena sifat dinamis perubahan? Pertemuan berjalan mantap ke ujung perpisahan, bukan?

Tetapi, hal paling penting yang dapat diambil sebagai pelajaran dari puisi sendu ini adalah cinta memang sebuah kekuatan misterius, bisa menguatkan jiwa ataupun melemahkannya tanpa daya sama sekali. Aduhai! [M.I]



* ilustrasi dari situs favim

Bernostalgia Bersama MLTR

download michael learns to rock songs mp3, Blog Dofollow


Lagu-lagu favorit selalu bisa melayangkan benak ke pengalaman manis di masa lalu. Apalagi kalau liriknya terasa begitu romantis, dijamin pasti mendadak hadir kembali kenangan indah ketika menyanyikannya bersama dengan orang-orang terdekat kita.

Bagi saya pribadi, lagu-lagu dari group musik Denmark, Michael Learns To Rock (MLTR) ini banyak sekali menyimpan kisah-kisah indah bersama teman-teman akrab dulu. Biasanya kami menyanyikannya bersama dengan iringan gitar. Selain itu, ada beberapa lagu dari MLTR ini yang pernah menjadi media belajar bahasa Inggris semasa saya di Sekolah Menengah Atas dulu.

Masih tergambar jelas dalam benak ketika guru bahasa Inggris saya membagikan lembaran handout listening yang berisi lirik lagu MLTR - Paint My Love. Kami lalu dibawa ke ruangan audio-visual. Ada kejadian lucu di tengah berlangsungnya kegiatan belajar kami saat itu, seorang teman setelah melihat judul lagu dalam lembaran handout, iseng bertanya, “Pakai kuas nomor berapa, Pak, yang bisa untuk melukis cinta?” Kami spontan tergelak mendengarnya. Ya, ada kisah lucu dan banyak lagi hal-hal lain yang berhubungan dengan masa lalu indah terasa segar kehadirannya di depan mata saya ketika mendengar lagu-lagu MLTR ini.

Bagaimana dengan Anda? Barangkali juga punya kenangan romantis dengan lagu-lagu MLTR. Mari simak salah satu lagu karya MLTR di bawah ini:

Paint My Love
By Michael Learns To Rock


From my youngest years
till this moment here
I've never seen
such a lovely queen

From the skies above
to the deepest love
I've never felt
crazy like this before

Chorus:

Paint my love
you should paint my love
it's the picture of a thousand sunsets
it's the freedom of a thousand doves
Baby you should paint my love


Been around the world
then I met you girl
It's like coming home
to a place I've known

Back to Chorus:

Paint my love
you should paint my love
it's the picture of a thousand sunsets
it's the freedom of a thousand doves
Baby you should paint my love


Since you came into my life
the days before all fade to black and white
Since you came into my life
Everything has changed

Back to Chorus:

Paint my love
you should paint my love
it's the picture of a thousand sunsets
it's the freedom of a thousand doves
Baby you should paint my love

Bagaimana? Indah dan romantis bukan, lirik lagunya? Ya, Michael Learns To Rock agaknya piawai menulis lirik-lirik lagu yang manis. Group musik yang terbentuk pada tahun 1988 ini awalnya terdiri dari 4 personil, yakni Jascha Richter (vokal & keyboard), Kare Wanscher (drum), Mikkel Lentz (gitar) dan Soren Madsen (bass). Musiknya mulai mendapatkan tempat khusus di hati penggemarnya sejak mereka merilis album pertama pada 1991 yang bertajuk  "Michael Learns to Rock". Salah satu tembang dalam album ini, The Actor, pernah merajai puncak tangga lagu di Denmark setahun kemudian. Lalu, mulai meluas ke berbagai negara kepopulerannya. Lagu Paint My Love di atas berasal dari sebuah album kompilasi yang dirilis tahun 1996 dan sempat laku terjual sebanyak 3,4 juta kopi. Luarbiasa bukan? Tentu saja karena memang indah dan mampu menawan hati para penggemarnya di seluruh dunia. Banyak lagi lagu-lagu MLTR yang cantik dan enak didengar. Bila Anda suka, silakan unduh pada sejumlah tautan berikut ini:


  1. Michael Learns To Rock - Paint My Love

  2. Michael Learns To Rock - Take Me To Your Heart

  3. Michael Learns To Rock - 25 Minutes

  4. Michael Learns To Rock - That's Why (You Go Away)

  5. Michael Learns To Rock - The Actor

  6. Michael Learns To Rock - Betrayal

  7. Michael Learns To Rock - Blue Night

  8. Michael Learns To Rock - You Took My Heart Away

  9. Michael Learns To Rock - Nothing To Lose

  10. Michael Learns To Rock - Sleeping Child

  11. Michael Learns To Rock - Breaking My Heart

  12. Michael Learns To Rock - Complicated Heart

  13. Michael Learns To Rock - Forever and a Day

  14. Michael Learns To Rock - More than a Friend

  15. Michael Learns To Rock - Out Of the Blue

  16. Michael Learns To Rock - Any Way You Want It

  17. Michael Learns To Rock - Walk with Me

  18. Michael Learns To Rock - I'm Gonna Be Around

  19. Michael Learns To Rock - You'll Never Know

  20. Michael Learns To Rock - Love Will Never Lie

  21. Michael Learns To Rock - If You Leave My World



*Gambar dari blog boniew

Love in Vain, Senandung Indah Kegetiran Cinta

love in vain, the rolling stones, blues music


Setiap orang memiliki tafsir tersendiri mengenai musik. Ada yang memaknai kehadirannya sebagai penyemangat diri yang lelah, dan berharap setelah mendengarkan musik semangat akan muncul kembali, sehingga berbagai tekanan hidup yang membebani akan ringan saja terasa. Kehadiran musik di sini dipandang sebagai tamasya jiwa yang menyenangkan, menghibur bagi diri yang membutuhkan rehat barang sejenak.

Ada juga yang menafsirkan musik sebagai media penampung beragam kenangan yang sulit terlupakan. Di sini orang lalu mulai berupaya membuat simbolisasi akan tiap peristiwa berkesan yang telah lewat itu melalui baris demi baris kata terpilih yang menjadi lirik lagu, mengaransemennya sedemikian rupa sehingga layak diungkapkan kembali seindah mungkin dengan sentuhan bercita rasa tertentu. Dan, jadilah memori yang amat lekat di dinding jiwanya itu sebaris puisi yang didendangkan dengan alunan melodius atas nama ‘memanggil kembali’ masa lalu yang masih enggan melampau – betapapun pedihnya.

Dalam konteks ini, Love in Vain adalah sebuah lagu lawas yang diaransemen ulang oleh The Rolling Stones (pertama kali ditulis oleh seorang musisi blues kenamaan Robert Johnson pada 1937) agaknya ingin menyuarakan kembali kenangan tentang betapa getirnya kehilangan kekasih yang dicintai, namun kenangan bersamanya tetap rapi tersimpan di dalam hati: “Well I followed her to the station with a suitcase in my hand.”

Apa yang dicecap lidah jiwa ketika seseorang mengalami keadaan getir begini rupa? Tentu sangat sukar mengungkapkannya. Mungkin sepertinya tak ada satu kata pun yang dapat mewakili lirih erang kesakitan saat mengalami nestapa cinta sia-sia yang menyakitkan itu: “Whoa, it's hard to tell. It's hard to tell when all your love's in vain.”

Akan tetapi, di dalam kondisi yang demikian, sungguh cinta merupakan ujian tentang daya tahan, kegigihan yang mungkin dipaksakan hingga di ujung perpisahan. Tegar melihat bayangan dambaan hati yang hendak melintas pergi: “When the train come in the station, I looked her in the eye.” Selain itu, cinta yang memerihkan begini rupa sepertinya juga ingin memberi pelajaran dalam suasana kesepian yang amat menekan – walaupun ini berarti bukan pelajaran yang menyenangkan karena hanya menghasilkan kesedihan yang memilukan dengan linangan air mata: “Whoa, I felt so sad, so lonesome that I could not help but cry.”

Sesal. Itulah akhirnya yang tersisa ketika mengalami keadaan dalam kesia-siaan mencintai. Sesal itu mengendap dalam hati dan benak. Kehadirannya adalah wakil dari cahaya pengharapan cinta yang pupus, bagaikan sinar lampu di belakang kereta berlalu menjauh yang perlahan redup.

“When the train left the station, It had two lights on behind. Whoa, the blue light was my baby. And the red light was my mind. All my love was in vain.”

Sekalipun demikian, haruskah orang memelihara lirih kesakitan nestapa cinta yang lampau? Bisa ya, bisa tidak. Sebab ini tergantung pada pandangan pribadi seseorang dalam memaknai pengalaman pahit dalam mencintai, yang mungkin akan dijadikan panduan berguna supaya kelak tidak mengalami hal demikian lagi. Ya, semacam "standard operational procedure for loving in the future," hehehe… Dan pelajaran yang terpenting dari senandung indah erangan lirih tembang Love in Vain ini adalah pilihlah bersikap kreatif meskipun hati terasa pilu karena hal yang menyakitkan, tentu ekspresi yang disuarakan lebih menyentuh daripada sekadar meraung-raung dengan air mata yang membanjiri ruang hidup, yang mengakibatkan memudarnya semangat dalam diri. Sungguh sepahit apapun peristiwa yang terjadi di masa lampau, ia bukanlah rantai yang membelenggu jiwa. Sebaliknya, dengan melalui renungan yang penuh kesadaran, ia bisa menjadi guru nan bijaksana menuntun langkah manusia menuju kebahagiaan.[M.I]


* gambar dari situs discogs