Nasehat Buya Hamka: Latihlah Diri Berbuat Baik

nasehat buya hamka, cara melatih diri berbuat baik


Di lubuk hatinya yang terdalam manusia sebenarnya rindu berbuat kebaikan dan enggan atau malu berbuat jahat.

Bila suatu ketika orang tergelincir jatuh dalam perbuatan buruk, ia akan tertunduk malu dan merasa amat menyesal. Mengapa demikian? Tentunya sebagai mahluk yang berakal tiap orang akan mengakui bahwa yang baik tetap baik dan yang jahat tetaplah jahat. Lagipula fitrah insani (kesucian asli) dalam diri manusia lebih cenderung menyukai kebaikan semata daripada keburukan. Ini terbukti dengan penyesalan yang selalu datang menghampiri diri insan apabila ia telah melakukan suatu kejahatan. Kesadaran akan kesalahan yang telah diperbuat biasanya menjadi semacam koreksi diri bagi tiap insan. Maka dapat dikatakan bahwa kedurjanaan atau kesalahan bukanlah kehendak manusia yang asli.

Lantas apa yang mendorong manusia mau melakukan perbuatan buruk atau jahat itu? Tak lain adalah hasutan hawa nafsunya sendiri yang telah mengalahkan pertimbangan akal-budi. Ia menjadi lalai dan terlena dalam satu kesalahan menuju ke yang lainnya lagi. Sampai akhirnya manusia tersadarkan seketika melihat dirinya yang telah tenggelam dalam lumpur pekat kesalahannya. Di saat inilah baru timbul penyesalan diri yang amat dalam.

Buya Hamka, seorang cendekiawan dan ulama besar, pernah menjelaskan penyebab bagaimana insan telah terhalangi dalam melakukan kebaikan, yakni takshir (kelalaian). Kelalaian ini telah menghambat orang untuk membuat pertimbangan akal-budinya sehingga tak mampu lagi membuat perbedaan mana yang baik dan buruk, lalu menanamkan kebiasaan agar terus berbuat jahat. Dalam pengertian ini, beliau mengkategorikan kelalaian tersebut ke dalam empat perkara, sebagaimana yang dipaparkan berikut ini:


1. Kelalaian yang mengakibatkan pandangan seseorang melihat kebaikan dan keburukan itu sama saja.
“Pertama lantaran tidak dapat memperbedakan mana yang haq dengan mana yang bathil, atau di antara yang baik dengan yang buruk. Obatnya mudah saja, yaitu belajar.”
Tergelincirnya seorang insan disebabkan kelalaian jenis ini bersumber dari kemasabodohan, sikap tak mau ambil pusing untuk mempelajari apa saja yang baik dikerjakan, dan apa yang termasuk keburukan yang mengakibatkannya tenggelam dalam kesalahan. Sebagaimana yang dijelaskan Buya Hamka, jalan keluar dari melakukan kelalaian jenis ini adalah memotivasi diri agar mau belajar, baik dari kesalahan yang telah dilakukan maupun langsung meminta bimbingan dari seorang guru yang bijaksana. Jika tidak mau belajar, maka orang yang melakukan kelalaian jenis ini sangat mungkin termasuk ke dalam golongan “orang bodoh”.


2. Kelalaian yang sengaja dilakukan padahal sudah mengetahui.
“Kedua, sudah tahu, tapi tidak dibiasakan mengerjakan yang baik, sehingga dirasai bahwa mengerjakan yang jahat itu baik juga. Menghilangkannya tidak semudah yang pertama, berkehendak kepada latihan.”

Kelalaian jenis ini, menurut Buya Hamka, hanya dilakukan oleh ”orang bodoh dan sesat”. Hal ini disebabkan adanya kesengajaan untuk melakukan perbuatan buruk, dan bahkan berupaya untuk menjadikannya sebagai kebiasaan. Mungkin apabila sehari saja tidak berbuat jahat, orang tersebut merasa seperti ada yang kurang lengkap untuk mengisi kesehariannya. Sulit mengubahnya, tapi bukan berarti tidak bisa. Hanya butuh tekad yang kuat dan seorang pembimbing yang bijak lagi sangat sabar untuk melatih diri insan tersebut agar tak lagi melakukan kesalahan demi kesalahan.


3. Kelalaian yang dibiasakan untuk cenderung hanya pada berbuat keburukan.
“Ketiga, telah disangka bahwa yang jahat itu baik, dan yang baik itu jahat. Karena telah terdidik dari kecil dalam perasaan yang demikian. Lebih sukar mengobatinya daripada yang kedua. Ini harus mendapat pendidik atau guru yang lapang dada, yang sabar.”
Dalam pandangan Buya Hamka, kelalaian jenis ini khas dilakukan oleh orang yang bodoh, sesat dan fasik (sudah tahu tapi ingkar). Penyebabnya bisa bermacam-macam kondisi, salah satunya adalah lingkungan buruk tempat orang tersebut tumbuh berkembang sebagai pribadi, yang mengarahkannya agar senantiasa berbuat jahat. Solusi yang ditawarkan ulama besar Buya Hamka adalah dengan cara mencarikan seorang pembimbing yang mampu membuang segala keburukan yang tertanam dalam diri orang tersebut, dilatih untuk berbuat baik meskipun sukar secara terus-menerus.


4. Kelalaian untuk senantiasa berbuat keburukan karena telah menjadi bagian diri pribadi.
“Keempat, di dalam kejahilannya dan kerusakan didikan itu, hatinya busuk pula. Dia berpendapat bahwa mengerjakan kebaikan itu sia-sia saja, dan bekerja jahat itulah yang utama. Inipun lebih sukar memperbaikinya dari yang ketiga.”
Kelalaian yang keempat ini biasanya dikerjakan oleh orang yang bodoh, sesat, fasik dan jahat (durjana). Membenahi pribadi orang yang demikian, amat banyak kendala dan kesulitannya. Karena kecenderungan dari dalam jiwanya telah sejak lama menganjurkan dirinya bahwa kejahatan itu merupakan perangai utama, memberikan keuntungan lebih banyak daripada berbuat baik. Sungguh sangat mulia bila ada seorang pendidik yang faham berkenan sudi membimbing orang tersebut. Pada dirinya, si orang itu hendaknya juga mau diberi bimbingan tanpa memiliki prasangka buruk terhadap pembimbingnya. Sebab, jika tidak demikian tentu insan yang tergelincir itu akan kian dalam tenggelam masuk kubangan perbuatan dosa hingga akhir hayatnya. Sungguh sia-sia hidupnya dan sangat bertentangan dengan kesucian asli (fitrah) insani yang didapatkannya dari Tuhan Yang Maha Mengasihi Lagi Penyayang yang menginginkan dia menjadi manusia yang mulia.

Kesimpulannya, empat jenis kelalaian yang menghambat manusia berbuat kebaikan,  sebagaimana yang dijelaskan Buya Hamka ini, bersumber dari awalnya yakni memperturutkan kehendak hawa nafsunya lepas kendali laksana seekor kuda tanpa tali pengekang. Akal-budi menjadi mati, tidak berdaya untuk membuat timbangan tingkah-laku. Semoga kita menjadi insan yang senantiasa mampu berbuat kebaikan sepanjang hayat dengan sikap yang selalu “awas” mengamati gerak-gerik nafsu yang cenderung menggelincirkan diri sendiri ke dalam perbuatan buruk. Melatih diri untuk tetap berbuat kebajikan baik kepada diri sendiri, maupun terhadap sesama demi kembali pada fitrah insani dalam tiap diri kita.