Puisi : Kita Semua Adalah Penyewa Rumah

lukisan rumah, puisi penyewa rumah, contoh puisi kontemporer, blog dofollow


kita semua sedang menyewa,
mungkin sebuah apartemen,
rumah bergaya semi permanen,
atau bahkan berdinding papan sederhana

mestikah diperindah?
dihiasi dengan warna-warni memukau,
digantung lampu kristal bercahaya kemilau,
untuk tempat tinggal sementara ─ sekedar pelepas lelah

sekian lama menyewa,
kelak tibalah masa kita berpamitan,
mengucapkan selamat tinggal
kepada tuan pemiliknya

si penyewa yang pandai
bisa jadi pergi membawa bekal,
telah bersusah-payah mengumpulkan simpanan,
menang melawan kehendak memperindah rumah sewaan

kini ia bangun rumahnya sendiri,
nyaman terasa, ia bisa tenangkan diri
di rumahnya ini ia penghuni dan pemilik sejati,
pun dihiasi rumahnya ia tak perlu merugi

si penyewa yang pandir
tampaknya berpisah dengan rasa getir:
gontai melangkah kehilangan arah ─ menggelandang
tak tahu kemana tujuan pulang

ia telah dihasut hasratnya sendiri,
mimpi berumah mewah berharga teramat tinggi,
tiada bersisa, lenyaplah semua yang dimiliki,
pembayar citra semu istimewa menipu diri

beginilah jadinya!
terlunta-lunta,
dirambah resah
ia melata-lata tak berumah

tahu setiap penyewa mesti berpindah,
baiknya jangan terlalu gegabah:
menghamburkan begitu banyak biaya
untuk sesuatu yang bukan milik kita sesungguhnya



Aku Adalah Diri

mungkin tubuh adalah penjara
baiknya kuketahui cara merawat kecantikan
selama masa tahanan

setidaknya waktu luang bisa terisi
menjelang pembebasan yang mungkin kutangisi
yakni mati

23122012




Mari Rayakan Kematian

kematian itu perpisahan yang dirayakan
hujan berbutir berat menderas
tumpah ─ semoga segala duka tuntas
kiranya dada terasa ringan

setelah itu panitia yang merayakan
berkumpul dan berfilatelis
mengoleksi prangko kesan
melayangkan surat do'a ke langit

lalu makan-makan
bukankah yang hidup harus makan?
mari jangan sungkan.
ini perayaan!

dan hidup berjalan seperti sediakala
sudah sah dilindungi hak cipta:
setiap yang ada lahir untuk tiada
begitu jelas hukumnya. mari rayakan!



Resep Panjang Umur

Yang baik biasanya cepat pergi.
Yang jahat betah bertahan.

"Pilar sorga masih dicor. Belum kelar!" alasannya.
Api neraka padam. Kekurangan kayu bakar!

Seringkali aktor mengulur waktu -
Monolog panjang berkhasiat menunda drama kematian.

Biar malaikat maut lagi asyik main lempar koin,
Bagaimanapun juga pilihan sudah ada di tangan.



Apostrofe

mungkin hanya puisi saja
bisa jelas terdengar suaranya,
bercerita yang tak terjangkau
atau bahkan yang tak pernah ada

lenyap kaku pada tubuh
telah ditiupkan kembali ruh
tampak gairah menyala-nyala
berkobar dalam benci atau cinta

o, cinta, di sini, ya di dalam puisi
serasa racun manis dicecap
kalap membuta di malam gelap
sembilu rindu meruang ilusi

o, benci di sini, ya di dalam puisi
perih kalbu yang terkoyak
melayari laut luka berombak
di langit kelam berhias cercah ironis ditangisi

mungkin hanya puisi saja
bisa jelas terdengar suaranya:
menumbuh asa atau memantul resah
menjadi wadah ketika tertumpah



Politik Godaan

sebelumnya pohon belimbing
di samping rumahku kalem,
ia lebih suka hening,
congornya lebih milih mingkem

mana berani ia protes
misalnya saat angin ngamuk,
daunan kuning, reranting lapuk
merontok pasrah, luruh tersuruk

entahlah sejak selembar poster
nempel, masang badan di batang
tiba-tiba ia membangkang,
mendadak berubah, perangainya keblinger!

katanya ia berani nentang
angin kencang yang datang
sangkanya ia punya daya
disihir slogan poster bergaya:

"Ayo, pilih Tuan Hantu -
abang kita yang baru,
di segala cuaca siap membantu."

kiranya rayuan kian hari
kian menjadi-jadi:
mengelabui, menutup akal budi
agar lupa diri sendiri



Tentang Memberi

memberi itu hati yang meluap,
sungai lembut melimpah rahmat,
juga air bah mengundang bahaya bagi mereka
yang berada di dataran rendah

ketika mau memberi, dimanakah dirimu?
carilah tempat yang tinggi,
ataukah engkau masih bergabung bersama mereka?
jangan lalai dalam permainan sulap prasangka:
dataran rendah tak pernah mampu menahan air bah

berada di tempat tinggi saat memberi
mulianya dirimu yang lupa pamrih
berbahagialah!

berada di tempat rendah saat memberi
malangnya dirimu ditenggelamkan air bah rindu
kidung puja-puji. hayatilah derita kemerosotanmu!

engkau ingin bercahaya kebajikan tinggi
pernahkah engkau curigai hatimu yang meluap itu?
berada di dataran rendah
tenggelam bersama mereka
yang terlena kidung puja-puji.


Berjuanglah, Bukan Memasrahkan Diri!

"Bersyukurlah.." kudengar nasehat ini.
"Tunjukkan kesopananmu. Demikianlah kebajikan!"

Sepiring nasi basi, lembek berair,
sepotong daging bangkai penuh belatung,
segelas nanah kuning keruh:
ya, memang elegan terhidang.

Akankah engkau mensyukuri?
Sementara lapar menggerus dinding perut,
dahaga membakar kerongkongan.

Nalar mengajarkan cara bertarung;
ia menghargai para pejuang.
Kiranya santapan raja terasa paling lezat,
anggurnya paling manis melekat.
Niscaya dirimu merasa terhormat.

Itu kebajikan sekaligus keunggulan;
yang pasti bukan kepasrahan.


Pilihlah Rotimu yang Baru

Engkau mau hidup. Makanlah!
Ada banyak larva lalat di roti kehidupanmu yang lama.
Lemparkan atau masih mau engkau makan?

Romantisme biasanya mengundang penyakit. Buktikanlah!


Lukisan Mimpi

mungkin agar mimpi mampir mendekat,
ia kuubah jadi warna-warni memikat,
garis, titik dan siluet kotaku
yang gelisah ─ aku tak tahu kenapa

jalanan resah ditinggal jejak kendaraan,
malam serupa perempuan beralis tajam,
menyeringai dan mencemooh
sesiapa yang lamban

orang-orang berpunggung besi
bawa beban duapuluh kali besar badannya
sebuah cerita yang mengalir
dari mimpi yang kulukis