Catatan Malam

1. Kebebasan Absurd


Saya mungkin terlalu cepat memutuskan. Saya begitu tergesa-gesa sampai pada penetapan. Namun, ini tentunya mengungkapkan diri saya sebagai bagian dari mahluk sehari-hari.

Sebagai manusia sehari-hari, apakah saya suka berlama-lama? Oh, tidak sama sekali! Sebaliknya, saya senantiasa suka mengejar-ngejar. Demi tujuan apa? Tak lain untuk "menjadi sesuatu".

"Menjadi sesuatu" tentu saja penegasan dari eksistensi. Maka, konsekuensi apa yang mesti saya tanggung? Saya menghapus diri sendiri selama beberapa jenak demi menemukan diri saya lagi.

"Menghapus diri" saya yang lama agar lahir diri saya yang baru. Bukankah ini sama saja saya menetapkan diri sebagai penggemar pertunjukan panggung? Di sana saya pun melihat diri sendiri memerankan berbagai tokoh. Peran demi peran saya lakoni. Ketika sampai pada peran saya yang keseratus, ada sebuah harapan menyembul seperti seekor kelinci yang kecut karena menghindar dari tatapan jalang anjing pemburu. Saya dipengaruhi perasaan cemas karena berharap pada peran yang keseratus itu; saya lebih mengenal diri sendiri. Saya bisa akrab lagi dengan diri sebagai kesatuan tubuh dan jiwa. Setelah saya melewatkan berbagai petualangan, ketika sederet tawaran hidup yang di dalamnya kegetiran atau pun kebahagian sulit dikenali sebab menyatu padu, yang pada akhirnya memaksa saya menerima puisinya tanpa melankolia.


2. Psychological Runaway

Pada suatu pagi yang sejuk ketika butiran embun tersasar gagal menghalau kepekatan malam masih saja berkilauan, seekor burung pagi liar tiba-tiba bersenandung merdu.

Saya kira bukan suatu kebetulan. Saya pikir bukan maksudnya menyapa hangat saya yang terkesima. Baiklah kalau begitu saya terima saja dalam suatu kondisi saya dan burung liar itu adalah dua mahluk yang sama-sama memuja pagi.

Saya biarkan diri saya terlena begitu lama oleh alunan kicaunya yang merdu. Seperti do'a tulus yang dipanjatkan ketika rasa syukur bersimaharaja dalam kerajaan hati karena anak-anak panah berkah langit melesat tepat ke jantung hidup, saya pun hanyut. Suatu tamasya psikis yang direncanakan.

Waktu pun berjalan seperti terburu-buru. Dan, saya terengah-engah menangkap kesadaran yang sejak tadi melayang. Saya mesti cepat dan tangkas memekarkan jemari saya serupa jaring agar kesadaran bisa membawa pulang kembali. Alhasil, rupanya saya mesti berusaha lebih keras lagi hanya agar dapat jelas melihat. Supaya saya bisa hidup lagi dengan segenap pengetahuan lengkap yang berseru lantang: "Inilah diri saya!"

Merangkum hikmah dari peristiwa ini saya berpendapat:

"Ketika menghayati alam cukup menghabiskan waktu, maka ada baiknya aktivitas pengganti yang jelas, yang dapat terindera tetapi tidak menghanyutkan, yang mana kesadaran melayang bisa ditangkap dengan cepat kembali, agaknya harus dihadirkan."


3. Apa yang Sudah Kau Temukan?

"Ceritakanlah padaku," kata seorang sahabat. Sebuah cerita yang mungkin bisa merekam hari ini telah diringkas menjadi citra yang menarik. Atau mungkin satu buntalan kesan dari pengalaman terbaru, yang tak bisa lagi kau bawa kemana-mana. Sudah tak sanggup mau kau pikul, dibawa berjalan terasa membebani. Dan kau agaknya sedang bermurah hati, berkenan berbagi denganku.

Bisa jadi nanti menerbitkan sebuah kisah, bila dituturkan akan membawa benak dan jiwa yang lelah berubah bergairah. Mungkin saja menunggu tak lagi membosankan dengan ceritamu. Sebab, ceritamu itu sebuah dunia yang sedang menawarkan selaksa peristiwa.

Ya, ceritakanlah padaku tentang apa yang menurutmu menarik, dapat menuntun kau dan aku menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini:

"Seberapa banyak kebaikan telah kau temukan dari upaya menerobos belukar peristiwa sepanjang waktu?

Seberapa tahan dirimu menanggung luka perjalanan itu?

Seberapa mampu kau tetap sadar ketika kau tiba di istana indah dengan segala kesenangan yang membuatmu lupa?"