Puisi-puisi Koran Tempo Minggu, 14 Oktober 2012

PUISI-PUISI ZELFENI WIMRA


TARWIH AKAL

sehabis menarwihkan mata
kau ajak aku mengimami akal yang lusuh
digerus pergesekan dada kiri dan dada kanan
rongga ini lebih hiruk dari segala macam peperangan
dan akal kita lebih sibuk dari mesin pesawat tempur, bisikmu

setelah merapal sujud sahwi
kau ajak aku membenarkan letak setiap anggota tubuh yang berdetak
di dada atau di kepala
lupa juga, dimana kelak ia kita makamkan

2012


 JANTUNG HARI RAYA

rindu masih berperkara di jantungku
menggugat perpisahan yang dititahkan kekasih
berhektar kesunyian menghampar hijau
telaga bening di tengahnya

aku tak pernah jera meminta
berkenanlah menanam mawar di sini
menjelang kiamat berjaya di kepala musim hujan
dan hari raya membasuh berabad keletihan

di bawah sebatang pohon, telah kusediakan bangku panjang
tempat melepas jengah, menghisap kesejukan
embusan cerita pori-pori daun yang bertunas di seluruh persendianku
padatkan kerinduan dan segala sakit jadi kerikil
lempar ke tengah telaga itu satu-satu

tiada guna terjebak berlama-lama menanggung gemuruh masa lalu
sebelum perpisahan diazankan
semasa jantung ini masih berupa gunung api sebesar telur itik

kuburkan kerinduan di setiap rumpun mawar
atau alihkan ke dasar terdalam telaga ini
hingga ia tidak lagi bisa berbunyi

2012


JEJAK CINCIN PERTUNANGAN

jejak pertemuan kita melekat pada kerut sebuah bibir tua
di celahnya, gusi tumpul sudah lama tak bergigi
juga lidah yang telah menggetarkan tak berhingga kata-kata
selebihnya menyisa pada jari manis sebelah kiri

sebagai siapa kau datang pada hari raya ini?
sebagai pelukan badut ulang tahun
sebagai ciuman nenek di dahi?
atau sebagai bujang latah yang datang menawarkan perundingan;
pergunjingan tentang jejak cincin pertunangan di sela jari

2012


JENJANG BERKELUH PADA PINTU

mulanya hanya kerbau yang berani bertanya pada pedati
"masih jauhkah perjalanan?"
diikuti iga mengeluh pada jantung:
"berapa denyut lagi kau bergayut padaku?"
pisau penjagal membentak sarung:
"berapa leher lagi mesti kusayat?"
umpan memaki kail:
"masih lamakah pemancingan?"

sekarang jenjang ikut pula berkeluh pada pintu:
"siapa lagi yang kita tunggu? para perantau itu
sekawanan malin kundang yang melata di muka bumi
raungan mereka lagu yang sumbang!"

setiap kali terdengar ketukan
hanya bayang-bayang yang memanjang
di depan berdiri seorang lebai malang
padahal, setiap kali kepergian dirayakan
kaulah yang pertama kali berderit
sebelum yang lain menyembunyikan punggung tangan
berair-air

2012


TENTANG PENYAIR:

Zelfeni Wimra


Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Lima Puluh Koto, Minangkabau, Sumatera Barat. Peneliti di Kelompok Kajian Magistra Indonesia, Padang. Buku puisinya: Air Tulang Ibu (Pusakata Publishing, 2012)



Sumber : Koran Tempo, Minggu, 14 Oktober 2012 ─ Rubrik Sastra, Halaman C3

Sumber Foto : rumahteduh.wordpress.com