Kebenaran dalam Karya Sastra: Faktual Atau Fiksional?

Truth or Fiction?

Kenyataan atau hanya khayalan belaka? Gambaran realitas yang dideskripsikan dan terproyeksi dalam tindak-tanduk tokoh cerita sebuah karya sastra selalu menimbulkan tanya.


Ketika kita membaca suatu karya sastra sepertinya kita tengah berada di tempat cerita itu berlangsung dan seolah-olah ikut secara aktif mengalami atau setidaknya menyaksikan peristiwa-peristiwa yang dinarasikan oleh penulisnya.

Kenyataan-kenyataan yang digambarkan berhasil menyedot perhatian kita untuk tetap menyimak jalan cerita. Seakan-akan kita tak mau ketinggalan barang sedetik pun kejadian-kejadian yang sedang diceritakan. Kita menyaksikan peristiwa-peristiwa, tingkah-laku para tokoh cerita yang sepertinya benar-benar hidup dan terjadi.

Bagaimana ini tampak sedemikian nyata dalam gambaran benak kita? Mengapa sepertinya ada sebuah dunia, orang-orang yang hidup melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang mana kita sebagai pembaca terserap ke dalamnya? Apakah peristiwa-peristiwa yang disajikan dalam cerita benar-benar faktual? Ataukah hanya rekayasa pengarangnya saja? Mari kita selidiki untuk menemukan jawaban-jawaban yang dapat memuaskan keingintahuan kita tersebut.

Sastra sebagai karya seni sesungguhnya tidak terlepas dari imajinasi. Suatu karya sastra adalah hasil olah imajinasi penulisnya, biar pun kisah yang disajikan mungkin saja berasal dari pengalaman yang benar-benar dialami, pernah disaksikan orang-orang tertentu, singkatnya cerita-cerita yang kita kenal sebagai ”True Story” atau yang diangkat dari peristiwa khusus yang pernah terjadi dalam kehidupan pribadi orang-orang tertentu. Bahkan, sebuah biografi yang berisi catatan kehidupan tokoh tertentu sekali pun, tak akan bisa terlepas dari peran imajinasi pengarangnya. Apa artinya ini? Apakah semua yang dikisahkan kembali berarti sebuah kebohongan artistik hasil olah imajinasi penulis semata? Apa nama jenis kenyataan dalam karya-karya sastra itu? Mari kita cermati penjelasan ”Paus Sastra Indonesia” sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan ini.

Masing-masing kita mempunyai imajinasi. Kelebihan seniman adalah bahwa seniman menuangkan imajinasinya dalam suatu hasil karya, berupa lukisan, pahatan, musik, tari, sastra, sandiwara.

Imajinasi berbeda dengan ilmu yang berisi gagasan-gagasan. Imajinasi lebih daripada gagasan; ia adalah keseluruhan kombinasi dari gagasan-gagasan, perasaan-perasaan, kenangan pengalaman, dan intuisi manusia. Imajinasi adalah sesuatu yang hidup, suatu proses dan suatu kegiatan jiwa. Dengan demikian imajinasi yang dituangkan ke dalam sesuatu karya seni, tidak identik sama dengan kenyataan sejarah, pengalaman atau pun ilmu pengetahuan. Suatu karya seni mempunyai kenyataan artistik yang tidak identik sama dengan kenyataan obyektif atau kenyataan sejarah atau kenyataan ilmu pengetahuan.

(*) H.B. Jassin, SASTRA INDONESIA SEBAGAI WARGA SASTRA DUNIA, Hal: 81, PT.Gramedia, Jakarta


Pernyataan H.B. Jassin di atas sangat jelas menerangkan bahwa seorang penulis adalah juga seorang seniman kata-kata. Kenyataan-kenyataan artistik adalah sifat dan ciri khas dari fakta-fakta yang tersaji dalam cerita fiksi. Sebagai seorang seniman, ia memanfaatkan imajinasinya untuk merangkai cerita, dan dengan cita rasa, pandangan pribadi nilai-nilai estetika, penulis karya fiksi membangun sifat keartistikan cerita fiksinya. Cerita tersebut kemudian memiliki tokohnya. Lagi-lagi penulis yang seniman tadi memberdayakan imajinasinya untuk membuat tiruan tingkah-laku (mimesis) seolah-olah tokoh cerita dalam karyanya adalah ”orang yang hidup” sebagaimana yang lazim ditemukan di kenyataan faktual sehari-hari.

Penulis berimajinasi tentang rangkaian kalimat-kalimat yang akan diucapkan tokoh ceritanya. Ia kemudian menggunakan kutipan-kutipan langsung dengan tujuan agar tokoh ceritanya tampak sebagai ”orang hidup yang bisa berbicara” dan ”berinteraksi dengan lingkungan sosialnya melalui penjelasan ilustratif.” Bagaimana dengan tempat, suasana dan kejadian dalam cerita sepertinya hal yang nyata terjadi? Penulis melalui pengaturan tahap-tahap berjalannya peristiwa fiksi (plot / alur cerita) dalam ceritanya telah menentukan secara sepihak sehubungan dengan setting of place and time, nuance of fictional incidents, maka kita bisa melihat bahwa tokoh cerita menunjukkan perbuatan tertentu yang dilakukannya ada dalam suasana, waktu dan tempat yang tertentu pula.

Lalu, bagaimana bila sebuah cerita yang tersaji dalam cerpen, novel atau drama yang diangkat atau mengambil sumber dari pengalaman pribadi seseorang?

Tetap saja penulis yang menuliskan cerita-cerita yang dipandang sebagai ”Kisah-Kisah Nyata” sebenarnya telah merubahnya menjadi cerita fiksi disebabkan oleh pemanfaatan daya imajinasinya. Bila cerita-cerita itu hampir mirip dengan kejadian-kejadian tertentu yang telah terjadi, penulis cerita melakukan suatu upaya kembali ke masa lalu untuk menjadikan pengalaman-pengalaman tertentu yang dialami sebagai rujuk acuan penulisan cerita. Kemudian, dengan bahan kenangan pengalaman masa lalu tersebut, penulis cerita berimajinasi dalam rangka penyusunan kembali peristiwa-peristiwa masa lalu ke dalam bentuk sebuah kisah fiksi yang meniru kenyataan sebenarnya yang disajikan kembali dalam bentuk baru yaitu ”Kisah-Kisah Nyata”.


untuk melanjutkan membaca pada halaman yang tersedia.