Uang dan Mahalnya Kebutuhan Popularitas

Semua orang memang membutuhkan uang. Sebagai alat tukar yang "sakti mandraguna", uang memudahkan orang untuk mendapatkan apa saja yang dibutuhkannya. Jadi, uang berhubungan erat dengan upaya pemenuhan kebutuhan? Tentu saja sedemikian dekat kaitannya.

Persoalannya sekarang adalah tingkat dari kebutuhan itu sendiri yang selalu bergerak naik. Apa dampak dari hal ini? Orang pun kemudian "menyambi" pekerjaan lain dan tampak sangat agresif demi menciptakan sumber pemasukan lain, agar mendapatkan uang lebih dari pendapatan rutinnya. Nah itu dia!

Biasanya manusia sebagai individu berupaya memenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu. Uang di sini berperan sebagai sarana supaya dapat mencukupi kebutuhan makan, membeli pakaian untuk membungkus tubuh dari cuaca dan demi keetisan penampilan, juga membangun rumah tempat berlindung. Setelah semua kebutuhan ini tercukupi, manusia beralih kepada upaya untuk memenuhi kebutuhan lainnya, seperti pendidikan agar melek ilmu dan tak terlindas perkembangan zaman. Uang menjadi rel yang memuluskan gerak lokomotif kehendak dalam diri individu untuk membentuk diri sebagai pribadi intellektual.

Untuk makan sehari-hari sudah punya cukup uang. Untuk supaya enak dilihat orang banyak, ada pakaian pantas yang sebelumnya mampu dibeli. Kalau badan lelah, sudah ada rumah untuk beristirahat yang sebelumnya dibangun. Pengetahuan pun sudah ada di dalam benak karena sanggup membayar biaya pendidikan. Apa lagi kebutuhan yang lain? Kebutuhan yang membuat orang kelimpungan karena uang yang dimiliki tak pernah cukup mendukungnya. Tak lain adalah kebutuhan untuk dihargai. Wah, ini berkaitan dengan ego.

Kenyataan mempertontonkan betapa orang bersusah-payah, saling berlomba adu strategi demi memenuhi kebutuhan ingin meraih nama populer di lingkungan sosialnya. Ada yang tahan bekerja mati-matian karena uang hasil kerjanya direncanakan untuk membeli barang mewah tertentu, ya, apa lagi kalau tujuan akhirnya tak lain demi prestise. Kalau si A punya barang mewah tertentu yang mampu menggelembungkan pamornya di lingkungan sosial pergaulan, maka si B mau tak mau mesti memiliki barang yang lebih mewah lagi, seandainya dia bermaksud memudarkan ketenaran si A. Ada persaingan di sini!

Akhirnya, segala cara demi mendapatkan uang bukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan wajar manusia. Uang dicari melalui kerja membanting tulang, bahkan membanting-banting orang lain yang menghalangi jalan mendapatkan uang pun sudah lazim dilakukan. Ada budaya baru yang tercipta sejalan dengan kecenderungan ini, yakni "budaya kemaruk". Entah sampai kapan hal ini bisa berlangsung. Mungkin selagi orang bersedia merubah diri sebagai tubuh mekanistik yang tanpa hati nurani demi memenuhi kebutuhan ego; sifat serakah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang lebih akan eksis. Akankah dapat mencukupi kebutuhan "ego" yang kian membengkak itu?