Puisi - puisi Ramoun Afta (Koran Tempo, Minggu, 24 Juni 2012 ─ Rubrik Sastra)

shallow river


DI PERMUKAAN SUNGAI



menjadi seperti cermin
tak membuat ia takut dikutuk
jadi permukaan yang tak mahir
menyembunyikan kedalaman:

pada sajak yang tipis itu
ia coba memasang gelombang
mengaburi riak yang tak kunjung
jatuh ke kedalaman itu.



SAJAK PATAH



di hari yang paling puncak
balok-balok sajak patah
bahasa merupa cinta yang kehilangan makna

sebagaimana puncak yang tak bertonggak
ingatanku tentangmu hablur
serupa bayang yang kehilangan jenazah



AYAM ADUAN KEHILANGAN ARENA



ketika bertengger di atas pohon
aku melihatmu tergopoh-gopoh:
ayam aduan dengan ekor yang rontok
dan jengger di kepala biru-memutih
seakan menghimpun warna
bagi seluruh penjuru langit

hutan dari ujung kulon
sampai belukar di ujung pandang
gosong akibat kehadiran matahari
yang tak dinanti-nanti di atas kepalamu
kau tampak takut seperti dihantui maut

dari pantau sinar matahari itu
sejumput bayangan asing memencar
seakan hendak mengubahmu
menjadi tugu batu dengan kepala
dipenuhi kobaran api
tetapi, di tanah hitam itu
tanduk di kakimu pendek menumpul
seperti bambu luntur sembilu
paruh di moncongmu gerutul mengeriput
seperti besi yang keropos
bulu di kepakmu merah murung
kau tampak seperti kalah diadu

dari atas pohon, aku melihatmu:
ayam aduan dengan bulu yang rontok
sedang mematuk-matuk biji sisa tahi,
kau seperti bayi yang tak pantas disusu.



TERPAKSA MENULIS PUISI



aku terlalu memaksakan diri dalam menulis puisi
aku terlalu kerajinan mencari kata-kata
dan menyusunnya menjadi kalimat yang tujuannya
dan maksudnya aku sendiri tak mengerti

setiapkali membuka kamus
mendengar pertengkaran lapau
menguping pembicaraan orang-orang di beranda
aku selalu penasaran, ingin segera menemukan
mana kiranya kata-kata yang terasa nyinyir memberi sakit
maka aku paksakan diri bersegera menulis puisi

ketika kata-kata selesai
rindu dan dendam pun terangkai
puisi malah menimbulkan makna lain
bait per baitnya malah merumpangkan maksud puisi

maka aku putuskan untuk membenci puisi
kusadari bahwa aku memang terlalu memaksakan diri
dalam menulis puisi.



BUNGA JANTUNG



aku ingin menjadi jantungmu
namun enggan menggugurkan kelopak
enggan menjadi buah, dan enggan
berkompromi dengan waktu

sebab aku bukanlah jantung
yang akan memberikanmu bunga
sebagaimana batang pisang itu

tetapi aku adalah bunga
yang akan memberikanmu
hidup jantung itu



KANGKUNG SELOKAN



kami ini lelaki sayur, lelaki busuk, lelaki yang tumbuh keliru
di sepanjang lekuk dan ceruk, dan di sepanjang comberanmu.
kolam dan ladang dalam riwayat para leluhur, hanyalah
dongeng di sepanjang malam kosong,
tak menumbuhkan mimpi, tak berbuah impian.
kami tercampak di bandar-bandar, serupa kaleng sarden
bekas makan siang  terbiar, kemudian tumbuh, menjadi sampah,
memuakkan setiap mata bila terkenang sarapan kemarin pagi.

kami tak berdaya. serupa layunya sekuntum bunga.
kembang dan batang yang meratapi kekalahan kami,
mendadak layu, terbayang akan hari esok, serupa
buah busuk yang tersisih dari timbangan.

kami ini lelaki sayur, lelaki busuk, serupa tomat
yang tercampak ke dalam sampah. kuali dan kelaci,
serta mangkuk dan piring bagi nasib kami, hanyalah
sepenggal takdir yang tertidur, ── takdir yang mendepak kami
keluar dari mimpi sendiri.


Catatan :

1. Tentang Penyair : Ramoun Afta lahir di Sungai Binjai, Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Sedang belajar di Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang.

2. ilustrasi dari : www deviantart com ── Shallow River painted by Cocoris

3. Sumber : Koran Tempo, Minggu, 24 Juni 2012 pada Rubrik Sastra, Halaman A11