Dokumentasi Tulisan : Orang-Orang Berkerudung dan Negara Berkabung (Puisi)


Orang-Orang Berkerudung dan Negara Berkabung



I

Ketika negara sedang berkabung,
orang-orang menyemut, kepalanya berkerudung
dalam kain sarung berhari-hari belum diganti.

Mereka berjalan kaki, merangsek ke Istana kosong.
Di sana dilihatnya peringatan mewanti-wanti:

”Pemimpin negara ini;
Tak ambil pusing lagi
dan sudah jadi harga mati!”

Kerumunan tadi diam. Bengong.
Ada yang melamun kosong, berjalan gontai
dan akhirnya merangkak ke dalam gorong-gorong,
dalam tanah halaman luar Istana. Di rumah baru tiduran santai.

Sebagian lagi memilih bermalam. Berkemah menunggu pagi.
Mungkin tak tahu kemana mau pergi,
mungkin wajah kusam anak istri jadi cerita elegi,
mungkin lebih betah rebahan di rerumputan berembun pagi.

”Buat apa kita jauh-jauh jalan ke Istana kosong;
bela sungkawa terhadap negara yang murung berkabung?”
tanya seorang dari gerombolan berkerudung sarung.
”Iya, kenapa kita berbuat bodoh gini?”
Menyesal, seorang lainnya lagi menimpali.
”Mana itu sudah jelas tertulis wanti-wanti.”
”Kita sedih melihat negara!”
Sela seorang patriot di antara mereka.
Dia tak setuju. Kawan-kawannya menyesali diri.
”Lho? Kenapa pula sedih?” balas konconya lagi.
”Negara ini sudah tak ada matahari.
Sihir sakti pemimpinnya menyelubungi.
Negara dan kita dipaksa hidup dalam gelap,
tanpa cahaya menyinari pasti selalu ada ratap.”

II

Di belakang Istana tepat dekat pohon Angsana,
sang pemimpin negara siap-siap pergi.
Sebatang sapu lidi dari penyihir sakti,
ya ampun, rupanya itu pesawat jet ia tumpangi.

”Tralala, tralala, trilili, trilili..”
Depan abdi setia girang hatinya: ia bernyanyi.

”Dengar!” suaranya berat menasehati.
”Jangan pernah ragu memutuskan.
Saya tukar matahari negara,
alihkan semua subsidi rakyat
untuk plesiran ke negeri mimpi
dengan sapu lidi penyihir sakti.”
Para kroni setia mengikuti.
Siapa tahu ada jatah ditinggali.
”Kalian juga jangan ragu!” lanjutnya lagi.
Segera tanam benih-benih korupsi.
Supaya jadi tumbuhan rambat menutupi,
penyamar beton pagar tinggi
gudang timbunan harta pribadi.”
”Baik, Pak. Akan segera direalisasi.”
Para kroni patuh sekali.
”Jangan lupa, ya? Hihihi…”
Pemimpin negara terbang menyenangkan hati.

III

Di halaman Istana hijau nan lapang,
karena pagi terlalu lama datang,
karena perut lapar semakin meradang,
karena wajah suram anak-istri ditinggal pergi terbayang-bayang,
karena jerit pilu mereka mulai terngiang-ngiang,
negara yang sedang berkabung
dan orang-orang berkerudung sarung,
Mereka kompak bernyanyi. Menghibur diri. Mereka nembang:

”Kenapa harus takut pada matahari?
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya.
”Kenapa harus takut pada malam hari?
Nyalakan api dalam hati usir segala kelamnya.” (1)

Angin puting beliung musim peralihan terlalu kencang.
Api dari tembang orang-orang berkerudung sarung dan resah negara berkabung:
membesar dan melahap habis. Istana negara terpanggang.
Para kroni dan pemimpin negara yang tiada berhati: mati.
Sapu lidinya nyangkut di dahan pohon Angsana yang mutung.

Vox populi, vox Dei!


(*) Catatan:

1. Lirik lagu SERENADE karya Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) dan Iwan Fals