Puisi-puisi Joko Pinurbo Dimuat di Kompas Minggu, 15 April 2012

1. Ulang Tahun

Hari ini saya ulang tahun. Usia saya genap 50.
Saya duduk membaca di bawah jendela,
matahari sedang mekar berbunga.
Seorang bocah muncul tiba-tiba,
memetik kembang uban di kepala saya.

Ya, hari ini saya ulang tahun ke-50.
Tahun besok saya akan ulang tahun ke-49.
Tahun lusa saya akan ulang tahun ke-48.
Sekian tahun lagi usia saya akan genap 17.
Kemudian saya akan mencapai usia 9 tahun.

Pada hari ulang tahun saya yang ke-9
saya diajak ayah mengamen berkeliling kota.
“Hari ini kita akan dapat duit banyak.
Ayah mau kasih kamu sepatu baru.”


Karena kecapaian, saya diminta ayah
duduk menunggu di atas bangku
di samping tukang cukur kenalan ayah.
“Titip anakku, ya. Tolong jaga dia baik-baik.
Akan kujemput nanti sebelum magrib.”


Sebelum magrib ia pun datang.
Tukang cukur sudah pulang. Anaknya hilang.

“Ibu tahu anak saya pergi ke mana?”
tanyanya kepada seorang perempuan penjaga warung.
“Dia pakai baju warna apa?”
“Dia pakai celana merah.”
“Oh, dia dibawa kabur tukang cukur edan itu.”


Sampai di rumah, ia lihat anaknya
sedang duduk membaca di bawah jendela.
Kepalanya gundul dan klimis,
rambutnya yang subur dicukur habis.
“Ayah pangling dengan saya?” bocah itu menyapa.

Lama ia terpana sampai lupa bahwa uang
yang didapatnya tak cukup buat beli sepatu.
Gitar tua yang dicintanya terlepas dari tangannya.
“Anakku, ya anakku, siapa yang menggunduli nasibmu?”

(2011/2012)


2. Ibu Hujan

Ibu hujan dan anak-anak hujan
berkeliaran mencari ayah hujan
di perkampungan puisi hujan.

Anak-anak hujan berlarian
meninggalkan ibu hujan
menggigil sendirian di bawah pohon hujan.

Anak-anak hujan bersorak girang
menemukan ayah hujan
di semak-semak hujan.
Ayah hujan mengaduh kesakitan
tertimpa tiga kilogram hujan.

Ayah hujan dan anak-anak hujan
beramai-ramai menemui ibu hujan,
tapi ibu hujan sudah tak ada
di bawah pohon hujan.

“Kita tak akan menemukan ibu hujan di sini.
Ibu hujan sudah berada di luar hujan.”


(2011/2012)


3. Sajak Kacamata

Saya tahu, jika saatnya tiba, saya akan memakai kacamata.
Kacamata yang kacanya terbuat dari kaca kata
dan matanya dari mata bocah yang haus cinta.

Ada senja kecil yang sedang berdoa di mata saya
dan doa terbaik adalah sunyi.
Seseorang akan memberi saya kacamata
untuk memancarkan cahaya sunyi senja
ke jalan-jalan yang dilewati puisi.

Saya tahu, pada akhirnya saya akan berkacamata.
Kacamata yang bingkainya terbuat dari logam mimpi
dan gagangnya dari tangkai hujan yang liat sekali.

Malam itu, setelah semuanya selesai, saya berjalan
menuju rumah mandi di atas bukit. Saya memakai kacamata
untuk menerangi jalanan gelap yang harus saya lalui.

Di rumah mandi telah berkumpul para kekasih insomnia.
Mereka semua mengenakan kacamata.
Seorang bocah menyambut saya dan berkata,
“Pesta mandi siap dimulai. Tuan sudah dinanti-nanti.”

Ia anak yang lahir dalam puisi; yang menjaga
sajak-sajak saya, bahkan ketika saya tak lagi berada
di tempat di mana ia berada. Ia yang memberi saya kacamata.

(2012)


4. Rumah Boneka

: Raden Suyadi

Kota telah tidur. Kata-kata telah tidur.
Hanya seorang pendongeng tua di atas kursi roda
mondar-mandir mengitari dingin malam
yang baru saja ditinggalkan para peronda.

Tiga orang boneka menghampirinya:
“Pak Raden, angin makin jahat.
Pulanglah ke rumah kami biar hatimu hangat.”


Di rumah boneka ia lihat fotonya selagi muda
sedang tersenyum kepada matahari
yang selalu tertawa. Tiba-tiba ia berdiri
dan tiga orang boneka menemaninya menari.

Tiga orang boneka akan menyelamatkan kenangan
dari akhir yang hampa. Selamat malam.

(2012)


5. Ingatan

Hujan masih mengingat saya
walau saya tak punya lagi daun hijau
yang sering dicumbunya dengan gila
sampai saya terengah-engah
menahan beratnya cinta.

Hujan masih mengingat saya
walau saya tinggal ranting kering
yang akan dipatahkannya
dan dibawanya hanyut dan sirna.

(2012)


6. Tangan Kecil

Tangan kecil hujan
menjatuhkan embun
ke celah bibirmu,
meraba demam pada lehermu,
dan dengan takzim
membuka kancing bajumu.

Tangan kecil malam
menyusup pelan
ke dalam hangatmu,
menemukan aku
yang sedang bergila-gila
di suhu tubuhmu.

(2012)


────────────────────────────────────
(*) Sumber Koran Kompas, Seni, Minggu, 15 April 2012