Puisi - puisi Dina Oktaviani


SEPERTI SEBUAH PERASAAN SEDIH

kebahagiaan, kalau masih ada
barangkali cuma pergeseran dingin di antara tubuh dan subuh
suara-suara yang tak jelas dari dalam perutmu atau udara
dunia lain yang mengunci pintu rapat-rapat
dan diam-diam menjebakmu di luar dirinya

orang-orang berjalan memasuki dirimu, seperti udara
rintihanmu seperti napas yang salah arah
dan sengaja

tetapi hujan pekat dan cinta bukanlah kawan dekat
yang biasa memaklumi kanak-kanakmu
dan menghadiahkan lebih dari sekedar kemuraman

mereka hanya kecurigaan unggas terhadap kemalangan
atau perasaan tua yang hinggap sebelum matahari dan padi-padi
ditemukan

kita berpisah entah dimana
tetapi di sebuah meja makan kau kembali sendirian
kesedihan melemparkan secarik kartu nama ke dalam barleys 1985
lalu the police, lalu times, lalu gemuruh perang dari lantai lima belas

lalu semuanya segera menjadi subuh
setelah semalaman orang-orang di dalam tubuhmu
nyaris menjelma saudara dan pacar lama

segalanya kembali berjarak, seperti kaktus
yang selalu kau sentuh dengan curiga
dan kau entah sudah di dalam kereta yang mana

dan kebahagiaan, kalau masih ada
akan membantumu menjadi lebih tidak ada

Yogyakarta, November 2003


SEBUAH FILM TENTANG BURUNG-BURUNG

saya melihatnya sekali saja
di dalam terang dan keramaian
dan itu cukup bagi kami untuk sama-sama
meragukan pernikahan

orang-orang sedang sibuk berpelukan
ketika dia bersikeras menggulung kecemasan
yang panjang seperti kabel kamera

saya mengulurkan tangan, ”apa yang sudah kau rekam?”
tetapi dia sudah terlalu terjebak dalam kemurungan tanpa batas
dia terus menggulung

di kepalanya yang botak saya tiba-tiba melihat
sebuah film tentang burung-burung yang datang dan pergi
tentu saja, burung-burung tak bisa diperistri atau suami
mereka sedih dan menghibur, tetapi bukan dari spesies kita
dan pada waktunya harus keluar rumah untuk menggenapi sejarahnya

dia merasa tak nyaman lantas meminjam kerudung saya
tapi terkesima melihat isi kepala saya lantas lekas-lekas
mengembalikannya dengan cemas

saya memilih pulang saja
kami tak saling kenal
tapi tak ada gunanya berlama-lama dalam ketegangan
dan tak pernah bisa saling menenangkan

saya melihatnya sekali saja, tanpa menatap mata
tetapi sampai sekarang, dia masih menggulung
surat-surat segel yang panjang dalam rekaman kamera saya
dan tak pernah bisa saya lupakan

Jakarta-Yogyakarta, Desember 2003


AGORAFOBIA

malam lebaran
aku melipat sprei-sprei yang lusuh
dan kau tak menyukai perayaan jenis ini

kau tak lagi terhibur dengan baju-baju kotor di gantungan
atau dongeng tentang tuhan dalam roman-roman asia;
semua yang tiba-tiba tampak begitu sederhana dan pribadi buatmu

tapi aku tak punya kendara menuju athena
dan telah jauh ketinggalan mode percakapan
kapal-kapal sudah lebih dulu tenggalam di kolam
tetangga, buku-buku panduan pergaulan tak terbeli

apakah kau ingin memasukkan kata radio, cogito
atau agorafobia ke dalam kamar kita yang cekung seperti kuburan?
anak-anak lebih setuju dengan bunga-bunga
dan berisik tokek di atap rumah
mereka bisa tidur di rahimku jika kantung matamu
tak cukup hangat untuk penderita malaria

kami, dengan segenap kemuraman yang riang
menyediakan ruang istirah yang tak pernah ditawarkan
adegan film aksi, lebih-lebih isme eksistensi

”pulanglah, papa
hujan deras, genting bocor dan kami tak bisa menangkap petir”

berhentilah menawarkan kami pada toko-toko buku
atau menggadaikan rumah untuk sejumlah perjudian pasca hastina:
kita butuh uang untuk tukang dan masak rendang

Yogyakarta, November 2003


DI SINI DAN BEGINI SAJA

maaf, aku yang berada dalam tragi sejak awalnya
tak bisa membawamu kemana-mana :
di sini dan begini saja

aku tak sedang memintamu pergi
tetapi kenyataan di luar sungguh terlampau jauh dan tak tersentuh
dan aku tak bisa menyanyikan yesterday pada musim beku

tidakkah kau bersedia menjadi lumpuh
sebelum seluruh sepatu sempat kau masuki

aku sedang berjalan-jalan sendirian
di jalan-jalan yang tak akan pernah menghadirkan engkau
di bekas-bekas hujan yang cepat sekali mengering di kakiku

agaknya aku akan sakit lagi
burung-burung itu sudah dibiarkan pergi
ke ladang-ladang, mencuri separuh angkasa
lalu terus terbang: semua yang kukira-kumiliki
adalah kepunyaan orang

luka setiap saat, wujudmu sekali waktu

Jakarta, Desember 2003


Tentang Penyair Dina Oktaviani : Penyair, pernah menjadi anggota komite sastra Dewan Kesenian Lampung, saat ini editor BlockNot Poetry. Sajak-sajaknya antara lain dimuat Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, serta beberapa antologi bersama.

Sumber dari : Majalah PANTAU, No.3 / Februari 2004

Ilustrasi dari SINI