Lentera : Termakan Stiker


Sebuah perempatan jalan yang ramai. Lampu lalu lintas menyala merah. Sedan Jepang mungil dengan pengemudi wanita berhenti paling depan. Di belakangnya jip Eropa mewah. 

Saat lampu hijau menyala, sedan di depan tidak bergerak sedikit pun. Seperti yang biasa ditemui di Jakarta, pengemudi di belakangnya serta merta mengklakson keras-keras, sampai akhirnya sedan di depan menyalakan lampu hazard

Alih-alih membantu wanita malang itu menepikan mobilnya yang mogok, pengemudi jip malah buka jendela, mengumpat, dan menggedor pintu. Tiba-tiba polisi patroli datang mendekat, lalu mengetuk pintu jip.

"Ada masalah apa, Pak? Apakah mengklakson dan mengumpat itu tindak kriminal?" kata sopir jip dengan pongahnya.

"Kami hanya menjalankan tugas, Pak. Bisa melihat SIM dan STNK Anda?"

Setelah bercakap-cakap dengan rekannya, ia mengembalikan surat-surat tersebut kepada si empunya.

"Apakah saya layak ditilang?" tanya pengemudi jip.

"Oh, tidak. Saya kira ini mobil curian sehingga saya perlu mengecek," ujar polisi.

"Jangan sembarang menuduh, Pak!"

"Anda bertengkar dengan wanita tadi, sementara saya membaca stiker yang ada di kaca belakang mobil Anda; Warga Negara Teladan. Sopan berlalu-lintas. Nah, kalau benar ini mobil Anda, pasti pemiliknya akan berprilaku sesuai kalimat yang tertera di stiker itu."

"Saya 'kan lagi buru-buru, Pak. Mobil di depan menghalangi," ujarnya ketus.

"Makanya kalau pasang slogan itu harus dilaksanakan. Jangan hanya buat hiasan saja!" ujar polisi tak kalah ketus.

Peristiwa lampu merah tadi, ibarat potret bangsa ini. Bangsa yang piawai mencipta beragam slogan indah dan mulia, tapi tidak demikian dalam tingkah lakunya.

Benar kata Aldous Huxley, sastrawan Inggris pengarang Brave New World (1931), slogan biasanya berisi kata-kata basi sampai suatu saat kita termakan sendiri olehnya. (*/djs)


(*) Sumber dari Majalah Intisari No.517, Agustus 2006