Lentera : Memberi dengan Hati



Hari ini saya mendapat pelajaran berharga dari e-mail yang dikirim AurSar. Ceritanya, si pengirim e-mail tergugah hatinya dengan sebuah tayangan televisi. Dalam acara itu, ada seorang aktor yang akan "ngerjain" orang-orang tertentu secara acak. Apabila "korban" mau melaksanakan kegiatan yang diminta oleh si aktor, dia akan mendapatkan hadiah. Kegiatan ini direkam oleh hidden camera.

Pada segmen terakhir, si aktor dengan pakaian keren dan mewah mengaku kehilangan dompet. Uang di sakunya tinggal Rp 300,-. Padahal dia ingin membeli teh botol seharga Rp 800,-. Dia berkeliling mencari mangsa yang mau dimintai uang Rp 500,-. Malang, banyak orang menolaknya. Bahkan mereka memandang dengan rasa curiga. Sampai pada suatu saat si aktor menghampiri seorang pengemis di pinggir jalan. Dibalut pakaian yang sangat lusuh, kedua kakinya tampak cacat.

Sang aktor kemudia menceritakan masalahnya kepada si pengemis. Di luar dugaan, tanpa pikir panjang si pengemis langsung menyerahkan uang yang diminta. Bayangkan, betapa berharganya uang Rp 500,- bagi si pengemis, namun dengan sukarela ia mau memberikannya kepada orang asing.

Akhirnya, si aktor menjelaskan bahwa sebenarnya acara tersebut adalah reality show, dan si pengemis mendapat hadiah. Ketika ditanya mengapa ia rela memberikan uang kepada orang asing, sang pengemis menjawab, "Saya ini sudah bertahun-tahun hidup dari pertolongan orang lain. Orang mungkin sudah menganggap saya sampah masyarakat. Tapi hari ini, saya bangga karena masih diberi kesempatan menolong orang lain yang membutuhkan."

Menurut pengakuannya, sejak kecil ia bercita-cita menjadi guru. Tak salah, hari itu cita-citanya tercapai. Sebagai "guru" , ia telah mengajarkan kepada kita apa arti menolong dengan hati, tanpa pamrih. Seorang yang dianggap sampah masyarakat ternyata masih punya impian membantu orang lain. Terima kasih, Pak. Engkau telah mengejewantahkan arti ketulusan, yang telah lama terbenam di hati kami. (*djs)



(*) Sumber dari Majalah Intisari, Desember 2004

(**) Ilustrasi dari http://bisabangkit.wordpress.com