Cerpen Mario Vargas Llosa : Ibu Tiri



Ibu Tiri

Oleh : Mario Vargas Llosa


SAAT menyabuni tubuhnya, ia membelai sepasang buah dadanya yang kencang, puting-puting susunya yang tegak, dan pinggangnya yang masih langsing—tempat lekuk pinggulnya melebar, bagaikan dua sisi buah apel. Lalu ia mengelus kedua pahanya, bokongnya, sepasang ketiaknya yang bulu-bulunya telah dicukur, dan leher jenjangnya yang berhiaskan sebiji tailalat. “Andai aku tak pernah menjadi tua,” doanya, seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi ketika mandi. “Biarpun karenanya aku harus menjual jiwaku. Aku tak mau jadi buruk rupa dan menyedihkan. Aku ingin mati saat cantik dan bahagia.”

Don Rigoberto meyakinkannya bahwa mengulang-ulang perkataan itu dan memercayainya akan membuat itu menjadi kenyataan. “Keajaiban yang menyenangkan, Sayangku.” Doña Lucrecia tersenyum: suaminya mungkin agak eksentrik, tapi sejujurnya seorang perempuan tak akan pernah bosan kepada lelaki seperti dia.

Sepanjang sisa hari itu, saat ia memberi perintah ini-itu kepada para pelayan, pergi berbelanja, mengunjungi seorang kawan perempuan, makan siang, menelepon dan menerima telepon, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya kepada anak tirinya. Jika ia membocorkan rahasia Alfonso kepada suaminya, bocah itu akan berubah menjadi musuhnya dan kepercayaan kuno tentang neraka rumah tangga akan menjadi kenyataan. Mungkin hal paling masuk akal yang bisa dilakukannya adalah melupakan rahasia yang dibisikkan Justiniana dan secara bertahap mengubur fantasi yang telah dibangkitkan pemuda itu di sekelilingnya. Ya, itulah yang harus dilakukannya: tak bicara apa pun dan perlahan-lahan menjauhkan diri darinya.

Siang itu, saat Alfonso pulang sekolah dan hendak menciumnya, ia berkelit memalingkan pipi dan membenamkan diri dalam majalah yang dibacanya tanpa bertanya kepadanya kabar tentang sekolahnya atau apakah ia punya PR untuk esok hari. Mengintip dengan ujung matanya, ia melihat wajah mungil itu seperti hendak menangis. Namun, ia tak mau luluh dan malam itu ia sengaja membiarkan Alfonso makan malam sendirian, tanpa turun ke lantai bawah untuk menemaninya seperti yang sering ia lakukan (ia sendiri jarang makan malam).

Suaminya menelepon tak lama kemudian dari Trujillo. Segala urusan bisnisnya berlangsung lancar dan ia amat merindukannya. Malam itu, lelaki itu lebih kangen lagi kepadanya di dalam kamarnya yang lengang di Hotel de Turistas. Tak ada kabar baru di rumah? Tidak, tak ada. Jaga dirimu baik-baik, Sayang. Doña Lucrecia lalu menyimak musik lembut sendirian di dalam kamarnya dan saat anak itu datang untuk mengucapkan selamat malam, ia menjawabnya dengan dingin. Tak lama setelah itu, ia menyuruh Justiniana menyiapkan air sabun untuk mandi yang selalu ia lakukan sebelum tidur.

Tatkala gadis pelayan itu menyiapkan air mandi dan ia mulai melepaskan pakaiannya, rasa sepi yang membayangi langkahnya seharian datang kembali, bahkan lebih kuat kini. Apakah ia telah melakukan hal yang benar dengan memperlakukan Alfonso seperti itu? Sejujurnya, ia sendiri merasa pedih saat teringat raut kaget dan terluka yang membayang di wajah mungil itu. Namun, bukankah itu satu-satunya cara untuk menghentikan perilaku kekanak-kanakan yang kelak bisa menjadi berbahaya?

Ia telah setengah tertidur di dalam bak mandi dengan menyisakan hanya bagian leher ke atas di atas permukaan air, sesekali menyibak buih sabun dengan sebelah tangan dan kakinya, ketika Justiniana mengetuk pintu: Boleh masuk, Señora? Doña Lucrecia menatapnya saat gadis itu mendekat, sebelah tangannya memegang handuk dan sehelai gaun malam tersampir di lengan satunya, raut wajahnya tampak agak takut-takut. Ia menyadari apa yang hendak dibisikkan oleh gadis itu padanya: Alfonso ada di atas sana, Señora. Ia mengangguk dan dengan kibasan lengannya memerintahkan Justiniana keluar ruangan.

Ia berbaring di dalam air tanpa bergerak begitu lama, berhati-hati untuk tak menatap. Mestikah ia menatapnya? Mestikah ia menunjuk kepadanya dengan ujung jemarinya? Berteriak, mengutuknya? Ia bisa mendengar suara gemeletuk gigi di balik kaca gelap di atas kepalanya. Ia bisa membayangkan bocah itu berlutut, dengan rasa takut bercampur jengah. Ia bisa membayangkannya menjerit, berlari lintang pukang. Ia akan terpeleset, jatuh ke kebun dengan pekikan sebuah roket yang meledak dan tubuh mungilnya menghajar semak belukar. “Kendalikan dirimu,” katanya kepada diri sendiri seraya menggertakkan geliginya. “Jangan buat skandal. Menghindarlah dari sesuatu yang mungkin berujung pada tragedi.”

Ia bergetar karena amarah dari kepala hingga ujung kaki dan gigi-giginya gemeletuk seolah-olah ia menggigil kedinginan hingga ke sumsum tulang. Tiba-tiba ia bangkit berdiri. Ia tak menutupi tubuhnya dengan handuk agar sepasang mata mungil yang tak tampak itu hanya bisa menjelajahi sebagian tubuhnya saja. Tidak. Sebaliknya, ia malah berdiri di ujung jemarinya, mengangkangkan sepasang kakinya, dan sebelum keluar dari bak mandi ia sengaja meregangkan tubuh, memperlihatkan sekujur tubuhnya dengan murah hati, dengan genit, seraya melepaskan tutup kepala plastik dan menggerai rambut panjangnya dengan kibasan kepala. Dan saat melangkah keluar dari bak mandi, alih-alih mengenakan gaun malamnya cepat-cepat, ia malah berdiri bugil.

Tubuhnya berkilat oleh bulir-bulir mungil tetesan air, tegak menantang. Ia mengeringkan tubuhnya perlahan-lahan, menggosokkan handuk ke seluruh permukaan kulitnya, berulang-ulang, menyamping ke satu sisi, lalu ke sisi lain, membungkuk, berhenti berkali-kali seolah-olah ia mendadak teringat sesuatu dalam pose yang tak senonoh, atau sesekali menekuri tubuhnya dengan saksama di depan cermin. Dan dengan gerakan genit yang sama ia menggosokkan krim pelembap ke sekujur tubuh indahnya. Saat memamerkan tubuhnya di hadapan si pengintip yang tak kelihatan itu jantungnya berdebar-debar oleh amarah. Apa yang sedang kau lakukan, Lucrecia? Apa maksud gerakan-gerakan merangsang ini, Lucrecia?

Namun, ia terus memamerkan tubuhnya dengan cara yang tak pernah ia lakukan di hadapan siapa pun, bahkan di depan Don Rigoberto sekalipun. Ia bergerak dari satu sisi ke sisi lain kamar mandi itu dengan langkah-langkah lambat, telanjang bugil, saat ia menyisir rambut panjangnya, menggosok giginya dan menyemprot tubuhnya dengan kolonye. Saat memainkan perannya di hadapan penonton gelap itu, ia merasa bahwa ia tengah memberikan hukuman bagi si pengintip yang tengah merunduk dalam kegelapan di atas kamar mandinya, dengan imaji-imaji intim yang akan mengoyak-moyak masa remajanya, sekali dan untuk selamanya.

Saat ia naik ke tempat tidur, dirasanya tubuhnya masih bergetar. Ia berbaring lama sekali, tak bisa tidur. Ia merindukan Rigoberto. Ia merasa tak nyaman dengan apa yang baru saja dilakukannya. Ia telah memusnahkan bocah itu dan memaksa dirinya untuk tak terbakar oleh gairah yang dari waktu ke waktu menyengat puting-puting susunya. Apa yang terjadi padamu, hai perempuan? Ia tak menyadari dirinya sendiri. Mungkinkah itu terjadi karena ia mulai menginjak usia empat puluh? Itu semua salah Alfonso. Bocah itu telah menggerogoti kesadaranku, pikirnya gemas.

Ketika pada akhirnya ia berhasil terlelap, ia bermimpi tengah berada dalam salah satu etsa koleksi rahasia Don Rigoberto. Di sana ia dan suaminya itu tengah merenungi malam bersama, mencari ilham bagi cinta mereka. (*)


───────────────────────────────────────────────────────────────
Tentang Pengarang : Mario Vargas Llosa berasal Peru, menulis dalam bahasa Spanyol. Ia baru saja memperoleh Nobel Sastra 2010. Cerita di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan Inggris Helen Lane.

Sumber : Koran Tempo, 7 November 2010
───────────────────────────────────────────────────────────────
Unduh PDF