Cerpen M Fudoli Zaini : Si Kakek dan Burung Dara

Burung Dara, Burung Merpati, Blog Dofollow


Si kakek berdiri di ambang pintu. Ia sedang menunggu menantunya datang dari pasar membeli kembang. Sudah dari tadi ia berdiri di situ dan menantunya belum juga datang-datang. Sekarang hari Jum’at, pagi sekira jam dan si kakek akan pergi ke kuburan. Di sebelah Utara di atas kaki sebuah bukit, di situ istrinya terbaring di dalam bumi. Itu satu setengah bulan yang lalu sebagai satu permulaan, dan permulaan itu tak akan berakhir hingga Tuhan membangkitkan kembali manusia-manusia dari liang kubur. Si kakek memang percaya pada Tuhan, sebab ia bahwa Ia-lah yang menghidupkan dan mematikan segenap manusia yang ada di alam ini. Sebab itu ia harus tidak menyesali atau setidak-tidaknya harus tidak teramat sedih atas kematian istrinya. Kehilangan adalah sesuatu yang mesti terjadi, dan setiap manusia memang harus benar-benar menyadarinya.

Si kakek memandang ke Timur. Matanya kini melampaui pagar halaman, melintasi ladang jagung dan melalui sela-sela rumpun bambu ia menampak seorang perempuan berjalan tergesa-gesa. Itu dia sudah datang, pikir si kakek. Kembang yang dibelinya tentulah kembang yang harum, dan biar cuma sedikit ia akan menaburkannya di atas pusara istrinya. Si kakek mengelus-elus jenggotnya yang sudah putih, lalu masuk sebentar ke dalam dan kemudian kembali berdiri lagi di ambang pintu itu.

Perempuan yang sedang berjalan di pematang ladang itu adalah menantunya. Perempuan itu adalah istri anak lelakinya. Adalah sesuatu yang memang merawankan hati, bahwa anaknya yang cuma satu itu telah pergi mendahuluinya. Setahun yang lalu perempuan itu harus menjadi seorang janda. Setahun yang lalu si kakek mesti mencatat dalam hatinya sebuah kehilangan yang sudah tidak dapat dielakkannya lagi. Anaknya yang laki-laki itu telah meninggal dalam suatu perlombaan karapan sapi, dan sekarang istrinya pun telah menyusulnya pula.

Si kakek masih berdiri di ambang pintu, lalu melangkah ke halaman dan tatkala dilihatnya perempuan itu muncul di stu, ia segera menyapanya.

─ Kenapa lama? ─

─ Penjualnya belum datang ─ sahut si perempuan. Perempuan itu membawa sebuah bungkusan daun, di dalamnya terdapat beraneka macam kembang dan bungkusan itu diberikannya kepada si kakek.

─ Si buyung kemana? ─ tanya si kakek. Si buyung adalah  cucunya yang laki-laki, anak perempuan itu.

─ Mungkin sedang pergi mengaji ─ jawab si perempuan.

─ Sekarang hari Jum’at. Anak-anak tidak mengaji ─

─ Mungkin sedang bermain ─ Perempuan itu masuk ke dalam rumah, dan si kakek memanggil-manggil:

─ Buyung! Buyung! ─

Tapi tak seorang pun yang ada menyahuti panggilannya itu. Si kakek merasa amat kesal. Pada hari Jum’at seperti ini ia biasanya membawa cucunya itu ikut bersama dia berziarah ke kuburan.

Tiba-tiba dari samping rumah muncul seorang anak kecil sambil tertawa-tawa. Si kakek membalikkan tubuhnya.

─ Dari mana sejak tadi? ─ tanyanya.

─ Dari ladang ─ jawab anak kecil itu.

─ Ladang mana? ─

Anak itu mengacungkan tangannya dan memperlihatkan beberapa tongkol buah jagung.

─ Dapat dari mana? ─ tanya si kakek.

─ Pak Gopar ─

─ Engkau minta? ─

─ Aku diberi ─

─ Awas, jangan engkau minta-minta ─

Anak itu mendekat sambil mengupas jagungnya sebuah, dan kulitnya dilemparkannya di pinggir halaman itu.

─ Buat apa? ─ tanya si kakek.

─ Buat makan burung dara ─ jawab anak itu.

─ Burung dara itu mungkin lapar ─

─ Tadi sudah kuberi makan semua ─

Sambil tersenyum-senyum dipegangnya bahu anak itu, lalu si kakek mengajaknya keluar halaman. Anak itu berbalik.

─ Aku ingin memberi makan burung dara itu dulu ─ katanya.

─ Burung itu tidak lapar ─ tukas si kakek.

─ Tapi si kelabu harus kuat. Harus bisa cepat terbang dan menukik. Nanti sore kakek akan  mengadunya. ─

─ Tidak nanti sore, tapi besok ─

Anak itu rupanya merasa agak tidak puas sebab kakeknya baru akan mengadu si kelabu ─ burung dara kesayangannya itu ─  besok. Padahal sudah beberapa hari burung itu tidak pernah diadu. Namun anak itu cuma diam saja. Dan ketika si kakek menyuruh ia menaruh jagungnya dulu di dalam, ia pun segera lari dan tak seberapa lama kemudian muncul lagi dengan wajah yang bersinar-sinar.

─ Ketepilmu jangan lupa! ─ seru si kakek.

─ Tidak! ─ anak itu menunjukkan ketepilnya.

Mereka berjalan keluar halaman, melewati pematang ladang jagung, lalu membelok ke Utara. Matahari sudah mulai meninggi. Langit cerah dan angin bertiup dari arah Timur. Sekarang mereka melewati dua petak ladang jagung dan si kakek menoleh pada cucunya.

─ Kita sudah akan memetik, buyung ─ katanya.

─ Pak Gopar sudah ─ kata anak itu.

─ Ia menanam duluan ─

Anak itu berjalan di samping kakeknya, tangan kanannya memegang ketepil dan tangan kirinya berpegangan pada lengan si kakek.

Tiba-tiba ia menyendal lengannya sedikit.

─ Aku ingin memetik jagung itu ─ katanya.

─ Untuk apa? ─ tanya si kakek.

─ Aku ingin jagung bakar ─

─ Tiap hari engkau minta jagung bakar ─

─ Jagung itu enak dan manis ─

Dilihatnya si kakek tersenyum-senyum sambil memandang ke arah ladangnya.

─ Ya kakek? ─

Si kakek mengangguk dan anak itu jadi kegirangan.

─ Sekarang? ─ tanyanya.

─ Nanti saja pulangnya ─

Mereka terus berjalan ke Utara. Di dekat sebatang pohon jambu anak itu melihat seekor burung kepodang. Segera ia mencari sebuah batu kecil, lalu cepat-cepat membidiknya. Tapi sebelum batu itu terlepas, dilihatnya burung kepodang itu sudah terbang dan anak itu merasa amat kecewa.

─ Burung mengerti ─ gerutunya.

─ Engkau terlalu tergesa-gesa ─ kata si kakek.

─ Burung itu licik! ─

Si kakek tersenyum lagi, lalu dielus-elus kepala anak itu dan katanya mengalih:

─ Besok kita pergi mengadu burung dara ─

Anak itu menoleh dan seketika kekecewaannya seperti menghilang.

─ Si kelabu pasti menang ─ katanya. ─ Si kelabu pintar terbang cepat dan menukik. Pasti yang lain kalah semua. ─

─ Kepunyaan Pak Carik? ─

─ Pasti kalah juga. Tempo hari dengan si kelabu kan sudah pernah dicoba? ─

Memang si kelabu ─ burung dara kesayangan si kakek ─ memang tidak ada yang bisa menandinginya di desa ini. Meskipun kepunyaan Pak Carik sekalipun yang sudah terkenal cepat terbangnya itu.

─ Tapi kenapa kakek tidak pernah bertaruh? ─ anak itu memegangi lengan kakeknya.

─ Bertaruh? ─ si kakek tersenyum.

─Ya. Si kelabu selalu menang, dan uang kakek nanti tentu banyak ─

─ Bertaruh tidak baik, buyung ─

─ Kenapa? ─

─ Merusak dan uangnya tidak halal ─

─ Aku tidak mengerti ─

─ Tanyakan pada Kiyai Mahmud. Tentu ia akan menerangkannya ─

Rupanya anak itu masih belum mengerti. Ia tertunduk dan mengerutkan dahinya beberapa lama.

─ Apa kakek diberitahu Kiyai Mahmud? ─ tanyanya kemudian.

─ Ya. Dulu kakek tidak tahu. Dulu ketika masih muda, kakek biasa juga bertaruh. Tapi sekarang tidak. Kiyai Mahmud bilang, bertaruh dan pekerjaan-pekerjaan merusak lainnya, adalah larangan Tuhan ─

─ Tapi banyak orang suka bertaruh ─

─ Apa Kiyai Mahmud tidak bilang itu padamu? ─ tanya si kakek.

─ Tidak ─ jawab anak itu.

─ Kapan-kapan tentu ia bilang. Ia gurumu. ─

─ Ia pernah memecutku dengan lidi ─

─ Karena engkau selalu salah jika mengaji. Engkau harus rajin dan sungguh-sungguh supaya Engkau lekas pinter ─

Sekarang anak itu sudah berumur enam tahun. Tahun depan ia mesti sudah masuk sekolah. Ia harus betul-betul rajin bersekolah, pikir si kakek, supaya kelak bisa menjadi seorang yang pandai. Ia pun harus pula rajin bekerja. Si kakek ingin agar cucunya tidak seperti dia sendiri yang telah banyak menyia-nyiakan masa mudanya. Cucunya harus dapat menjadi seorang yang dapat ia banggakan sebelum ia menutup matanya yang penghabisan. Ia telah gagal dengan anaknya sendiri, dan sekarang anaknya sudah tidak ada.

Si kakek melirik pada anak itu dan katanya:

─ Ajianmu sekarang sudah sampai di mana? ─

─ Bismillah ─ jawab anak itu.

─ Alhamdu belum? ─

─ Belum ─

─ Coba bacakan yang sudah ─

Anak itu membacakan keras-keras sambil memandang ke arah langit. Dan ketika sudah selesai ia berpaling sejurus pada kakeknya.

─ Usin sudah hampir hatam ─ katanya. ─ Sebentar lagi ia akan mengadakan selamatan di rumahnya dan menyembelih ayam ─

─ Engkau harus begitu ─

─ Usin besar, aku masih kecil ─

Mereka sudah dekat pada sebuah kali yang sudah hampir kering airnya. Di musim hujan air kali ini cukup banyak dan malah sering juga meluap. Di situ ada sebuah jembatan bambu, dan si kakek dan cucunya pelan-pelan lewat di atasnya. Tak seberapa jauh dari jembatan si kakek menoleh dan dilihatnya cucunya tidak ada. Ia bingung.

─ Buyung! Engkau di mana? ─ serunya tambah keras.

─ Di sini! ─ anak itu menyahut dari balik rumpun jagung.

Si kakek melihat rumpun jagung tak jauh dari tempatnya bergerak-gerak. Ia merasa lega.

─ Sedang apa engkau di situ! ─

─ Kencing ─ sahut anak itu.

Tiba-tiba si kakek tersenyum lebar sendirian.

─ Setan belang! ─ gerutunya ─ Lekas! ─

Anak itu muncul dari balik rumpun jagung sambil tertawa-tawa, lalu berlari-lari ke arah kakeknya.

Di sebelah Utara itu adalah sebuah bukit yang tidak begitu tinggi. Mereka sudah hampir sampai di sana. Tiga petak ladang lagi kaki bukit akan sudah mereka injaki. Si kakek memandang ke bukit itu. Jika ia memandang bukit itu dari jarak yang dekat, dadanya terasa ada bergoncang. Sekarang ia mulai menunduk. Ia tahu, di bukit itu terkubur anak lelakinya yang cuma satu-satunya ia miliki. Di bukit itu pula terkubur seorang perempuan yang telah mengisi seluruh hatinya. Marliah nama perempuan itu. Nama yang begitu merdu dan begitu nikmat jika ia menyebut-nyebutnya, terlbih-lebih di masa mudanya dulu.

Perempuan itu membantu ibunya berjualan kembang di pasar. Itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi jika mengenang sekarang, ia merasa bahwa itu baru saja kemarin sore. Ia berumur dua puluh tahun. Ketika suatu kali ia pergi ke pasar, di situ dengan tak tersangka-sangka ia beradu pandang dengan perempuan itu untuk pertama kalinya. Perempuan itu lembut, agak pemalu dan ayu. Ia ingat semua sifat-sifat perempuan itu biar sekarang.

Sejak itu ia sering pergi ke pasar, walau tak ada keperluan apa pun. Ia datang ke situ cuma karena ingin bertemu pandang dengan perempuan itu, kemudian untuk melihat dia tertunduk kemalu-maluan. Sekali pernah juga ia memberanikan diri pura-pura membeli kembang, dan dilihatnya perempuan itu gugup. Ia sendiri merasa sekujur badannya bergetar dan ia hampir tak dapat bersuara. Alangkah lucunya itu dan alangkah tololnya ia dulu.

Ia ingat juga tatkala suatu kali dengan resmi ia telah bertunangan dengan perempuan itu. Tatkala malam-malam ia tak dapat memejamkan mata karena selalu terkenang padanya. Juga ia ingat kepada lelaki tinggi besar itu yang suka menganggu perempuan-perempuan, termasuk juga istri orang lain, tapi tak ada seorang pun yang berani padanya di desa. Kepada lelaki itu ia memang ada menaruh dendam di dalam dadanya. Sejak ia tahu bahwa lelaki itulah yang pernah menghina dan menganiaya bapaknya.

Lalu suatu hari dilihatnya lelaki itu menganggu pula tunangannya di pasar. Bukan main panas hatinya kala itu. Dengan darah mudanya yang mendidih ia pulang, lalu mengambil pisaunya dan mengasah tajam-tajam. Ditungguinya lelaki itu di bawah pohon di sebuah jalan yang menanjak tak jauh dari rel kereta api. Biasanya jika pulang lelaki itu lewat jalan ini, jalan yang sepi di antara ladang-ladang jagung.

Lelaki itu datang dari jauh. Ia melihat, sebab waktu itu matanya masih muda dan tajam dan memang ia mengenal gaya lelaki itu berjalan. Ia tahu, badan lelaki itu lebih tinggi dari badannya sendiri, dan ia berpikir-pikir bagaimana caranya menikam nanti. Kepalanya mungkin belum mencapai bahu lelaki itu. Tapi ia sama sekali tak gentar. Ia tunggu lelaki itu sampai dekat. Lalu ia melompat dan secepat itu ia menikam lelaki itu pada lambung kirinya. Lelaki itu tidak sempat mengelak dan ia rubuh melintang jalan.

Waktu itu tengah hari. Ketika ia melihat lelaki itu rubuh, ia merasa amat puas. Sebab dendamnya telah tertumpah. Lalu pelan-pelan ia pulang dan pisaunya dibiarkannya di situ terletak di tanah. Kemudian waktu alat-alat negara mencari siapa yang menikam lelaki itu, ia pun datang mengatakan dialah yang menikamnya. Seluruh desa menjadi gempar dan orang sama kagum akan keberaniannya.

Itu beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi perempuan itu memang setia. Ya, perempuan itu memang setianya padanya. Meskipun beberapa tahun ia harus meringkuk di dalam penjara, namun akhirnya ia kawin juga dengan perempuan itu. Lama-lama ia dikarunia seorang anak perempuan, tapi meninggal waktu masih kecil. Lalu lahir seorang anak lelaki, anaknya yang kedua dan anaknya yang penghabisan. Sekarang ia sudah tua. Dan dalam ketuaannya ini ia merasa amat menyesal atas segala perbuatannya yang dulu-dulu. Ia merasa banyak berdosa dan ia akan selalu tobat kepada Tuhan.

─ Kita sudah sampai! ─ kata anak itu.
Si kakek seperti terpental dan memandang ke muka. Jalanan mulai mendaki dan di mukanya nampak sekelompok kuburan.

─ Ya, kita sudah sampai ─ kata si kakek.

─ Kakek mau berdo’a? ─ tanya anak itu.

─ Tentu saja, buyung ─

─ Jika mau berdo’a jangan panjang-panjang, biar kita bisa lekas pulang ─

Si kakek tersenyum sebentar, lalu menjongkok dan anak itu ikut menjongkok pula.

Sekarang aku datang padamu Marliah, bisik si kakek dalam hatinya. Aku datang padamu sekarang. Lalu ia komat-kamit membaca sesuatu, lalu ia mengangkat kedua belah tangannya dan ia mencoba mendo’a sebisa-bisanya. Di situ dikenangnya perempuan itu. Di situ dikenangnya anak lelakinya, penunggang sapi yang jatuh di dalam gelanggang. Waktu itu tiga pasang sapi sedang berlomba dalam babak terakhir, dan anaknya terpotong di tengah oleh sapi lawannya, lalu ia lepas terseret dan terlindas sapi yang satunya lagi. Ya, di situ ia mengenang segala-galanya.

Selesai mendo’a ia bangkit, dan kembang yang dibawanya tadi ditaburkannya di situ. Mula-mula di atas pusara istrinya. Ditaburkannya kembang kenanga dan ia berbisik dalam hatinya : inilah kembang kesayanganmu dulu, Marliah. Lalu ditaburkannya melati : inilah kembang kecintaanmu, wahai perempuan yang pemalu. Dan matanya sekarang mulai nampak berkilat-kilat, berkaca-kaca oleh air mata yang tergenang.

Cepat-cepat ia menaburkan sisa kembang itu pada kuburan anaknya, berdiri sebentar menundukkan kepala, lalu bergegas menuruni bukit itu. Tiba di ladang jagung yang tadi, dibiarkan cucunya memetik beberapa tongkol buah jagung. Pulangnya itu mereka hampir saja tidak bercakap-cakap. Sudah biasa jika pulang dari kuburan si kakek nampak murung dan anak itu rupanya mengerti.


Hari itu lepas Ashar si kakek memberi makan burung daranya di halaman. Sepasang burung itu amat disayanginya, dielus-elusnya setiap hari. Burung dara itu memang satu-satunya penghibur kakek dari dulu, terlebih-lebih pada hari-hari murung belakangan ini. Besok si kakek hendak mengadunya dan burung itu tentu tak terkalahkan.

Tapi betapa renyah hati si kakek tatkala esoknya selesai bersubuh ia pergi ke halaman menengok burung kesayangannya itu. Dilihatnya pintu rumah-rumahan burung itu telah terbuka dan di dalamnya cuma tinggal seekor dan yang betinanya pula. Di bawah situ dilihatnya bulu-bulu binatang itu ─ ya, bulu-bulu binatang jantannya ─ telah berserak-serak. Bulu-bulu itu juga berceceran satu-dua sampai di luar halaman.

─ Musang! ─ gerutu si kakek.

Tidak mungkin binatang itu bisa membuka pintu tempat burung dara, pikirnya. Kemarin aku telah menutupnya baik-baik. Si kakek merasa gemas, lalu ia berseru-seru memanggil menantunya. Perempuan datang terburu-buru dan tatkala ia melihat apa yang telah terjadi, ia pun jadi tertegun.

─ Siapa yang membuka pintu itu? ─ tanya si kakek.

─ Mungkin si buyung ─ kata perempuan agak gugup. ─ Kemarin hampir tenggelam matahari saya lihat dia memberi makan burung dara. Mungkin ia lupa menutup pintu itu kembali ─

Dipanggilnya si buyung dan anak itu datang, lalu tercengang melihat bulu-bulu berserakan dan akhirnya ia tertunduk.

─ Engkau yang memberi makan burung dara itu? ─ tanya si kakek.

─ Ya ─ jawab anak itu hampir tak terdengar.

─ Kenapa tidak kau tutup kembali pintunya? ─

─ Lupa ─

Hh engkau buyung, bisik si kakek dalam  hatinya. Sekiranya engkau bukan cucuku. Sekiranya engkau bukan cucuku...!

Lalu dicobanya untuk melunakkan kegemasannya sendiri, didekatinya anak itu dan katanya tidak lagi keras:

─ Ya sudahlah. Pergilah mengaji ─

Anak itu masih saja tertunduk ketika berjalan mengambil kitab sucinya. Juga ketika ia melangkah ke luar halaman dan berjalan ke arah selatan. Tidak, aku tidak marah padanya, pikir si kakek. Aku tidak harus marah padanya. Lalu pelan ia menjongkok. Diambilnya selembar bulu burung dar kesayangannya itu, lalu perlahan ia melangkah masuk ke dalam. Wajahnya kelihatan sedih dan murung. Di dalam ia duduk termangu di atas balai-balai.


Horison, Th. I,  No. 1, Juli 1966


Sumber dari : Cerpen Pilihan ─ Majalah Sastra Horison, No. XXXVIII / 1 / 2004

Ilustrasi dari Pencarian di Google