Waspada Terhadap Kejahatan Pengendalian Pikiran

Pendekatan antar-pribadi sering dipakai pelaku dalam melancarkan aksi penipuan ala “Mind Control Crimes”

“To love is to admire with your feelings; to admire is to love with your thoughts.” ─ Theophile Gautier

(Mencintai itu mengagumi dengan perasaan; mengagumi itu mencintai dengan pikiran.)

Ada benarnya kalimat bijak ini. Ketika pucuk hijaunya cinta merimbun tumbuh di dahan kalbu, sungguh ada cahaya menyuburkan tumbuhnya laksana sinar mentari yang membantu fotosintesis. Tetapi, manakala cinta yang tumbuh oleh kekaguman tak logis tersebut berasal dari pengendalian pikiran terselubung; sungguh cinta cenderung membutakan logika. Kebanyakan bermaksud menipu melalui sandiwara romantis nan berbahaya; tentunya senantiasa mengarahkan pada berbagai jebakan yang sengaja dipasang.

Ini mungkin juga telah menginspirasi para pelaku kejahatan memakai pendekatan personal. Termasuk penggunaan modus operandi “mengendalikan pikiran korban” (Mind Control Crimes) yang belakangan marak dengan menjalin hubungan pribadi. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kasus yang terjadi. Sebagaimana yang dialami Bunga (nama samaran), perempuan 20 tahun yang berstatus mahasiswi yang telah tertipu ini. Warga Kecamatan Bulian, Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi ini melalui akunnya di facebook berkenalan dengan Abeng. Dari perkenalan ini, mereka berdua akhirnya sepakat menjalin hubungan asmara. Hampir setahun mereka berpacaran melalui situs jejaring sosial.

Abeng ternyata piawai menggenggam hati Bunga, sang pacar mayanya ini. Serbuan lesat anak panah rayuan beracunnya beberapa kali membuat Bunga ”klepek-klepek”. Melihat ini Abeng tambah jadi. Tuturan kisah kegetiran hidup yang fiktif; ia paparkan dengan penghayatan penuh. Akibatnya, Bunga trenyuh. Hatinya iba dan tergerak untuk membantu seketika. Yang terjadi selanjutnya Abeng mulai mengarahkan Bunga agar mau mengirimkan uang sesuai nominal yang ia minta beberapa kali. Pacarnya yang mudah dilarutkan oleh kisah pilu karangannya pun tak keberatan. Bahkan, Bunga pernah mengirimkan pula pakaian untuk Abeng. Yang namanya orang sedang mabuk asmara jangan heran kalau dirinya ”stokun” mengawang dalam dunia baru nan indah. Apa pun akan dilakukan agar sang pujaan hati tetap mau berkasih-mesra dengannya. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah yang dilakukannya sudah benar dan rasional, atau hanya suatu petualangan maya akibat alam pikiran bawah sadar tengah dikendalikan rayuan ”sang kekasih tak nyata”, yang hanya bisa ditemuinya di facebook. Demikian yang terjadi dengan Bunga. Suatu ketika ia ingin mengajak Abeng ”kopdar”, ketemuan langsung untuk menumpahkan sesak rindunya yang kian menggelegak tak tertahankan. Namun, Abeng dengan lihai menampik secara halus keinginan Bunga. Masih dengan sugesti kalimatnya yang memabukkan, Abeng mengatakan bahwa ada saat yang telah ditentukan kelak bagi mereka berdua untuk saling menumpahkan ber-ember-ember kerinduan yang dirasakan kian meluber itu. Ia menjanjikan pada Bunga akan datang khusus untuk mereka berdua ”moment in love” yang dinantikan. Beberapa kali cara ini berhasil meredam dan mendinginkan didih rindu Bunga padanya.

Mungkin karena cara ini terlalu sering dipakai Abeng hingga hilang daya ampuhnya, Bunga pun curiga dan si gadis yan merasa tertipu akhirnya melaporkan kasus ini ke Mapolres Batanghari. Mendapat laporan dari si korban, polisi bertindak cepat. Melakukan penelusuran dengan menelepon Abeng melalui nomor ponsel yang diberikan Bunga. Mencermati suara orang yang ditelepon dari seberang sana, polisi mendapati fakta bahwa Abeng adalah seorang perempuan. Pencarian pelaku pun dilaksanakan dengan seksama dan membuahkan hasil.

”Sekitar pukul 04.00 tadi kami temukan yang mengaku bernama Abeng itu di sebuah hotel di Jambi. Dia sedang menginap di sana. Orang yang mengaku bernama Abeng kepada korbannya itu ternyata bukan laki-laki, tapi dia perempuan, ” demikian penjelasan yang diberikan oleh AKP Soekamto, Kasat Reskrim Polres Batanghari.

Lalu, dikatakan pula bahwa Abeng bernama asli YS (20 tahun) mahasiswi yang baru pulang dari praktek kerja lapangan di Bandung. YS adalah mahasiswi di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Saat ditemukan oleh polisi ia hanya seorang diri di kamar hotel tempatnya menginap, dan berdasarkan hal ini YS sementara diduga pelaku tunggal kejahatan penipuan terhadap korbannya, Bunga. Polisi pun masih secara intensif melakukan pemeriksaan padanya.

( Ilustrasi ini berdasarkan berita dari koran Tribun Jambi tanggal 19 Maret 2012, berjudul : Tak Sadar Pacarnya Perempuan)

Mencermati ilustrasi berdasarkan peristiwa faktual di atas, saya tertarik untuk mengajak Anda mencari tahu bagaimana bisa orang sampai tertipu, pikirannya terhalang menganalisa kebenaran dari apa yang dialami dan tertidur layaknya sedang terhipnotis sehingga bisa diarahkan pelaku penipuan ala ”mind control” untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Kita mungkin bisa mulai membahasnya dari dua hal penting yang tersirat dari berita yang diilustrasikan kembali tersebut. Pertama, dari cara pelaku penipuan dengan mengendalikan pikiran bawah sadar si korban. Kedua, dari kondisi psikologis korban yang sepertinya terlena oleh anak panah sugesti yang dilesatkan si pelaku.

Relevansi yang paling kuat untuk menganalisa hal ini adalah hypnosis yang dikombinasikan pelaku dengan teknik sosial engineering (mendekatkan dirinya kepada korban dengan menjalin hubungan pribadi melalui perkenalan di jejaring sosial facebook). Untuk itu mari lihat gambaran cara kerja hypnosis di bawah ini:


Kejahatan pengendalian pikiran bawah sadar yang dilancarkan pelaku awalnya dengan mempengaruhi alam pikiran bawah sadar (subconscious mind) korbannya, Bunga. Pelaku memulai perkenalan dengan korban sebagai tahap memasuki dunia pribadi Bunga (social-engineering). Mempersepsikan dirinya kepada korban bahwa ia seorang lelaki yang baik. Lalu, tahap selanjutnya pelaku mendekatkan diri lebih akrab lagi yakni saling menumpahkan isi hati (curhat), membumbui kisah-kisahnya dengan peristiwa memilukan yang membangkitkan rasa iba korban pada dirinya (mempengaruhi suasana emosi dalam diri korban). Pada diri korbannya, Bunga, terjadi semacam keadaan terbuai dan hanyut (trance) oleh cara pelaku mengisahkan diri dan perjalanan kehidupannya tersebut. Timbullah rasa kepedulian yang kian lama kian besar akibat kepiawaian pelaku penipuan ”mind control” ini menciptakan persepsi melalui kesan-kesan yang ingin ia tanamkan ke bawah sadar korbannya. Tahap ini disebut sebagai induksi sugesti yang merobohkan pagar pikiran logis korban (Critical factors). Korban penipuan tak berdaya untuk mendayagunakan kekritisan pemikirannya, yakni meragukan kebenaran cerita yang dipaparkan atau menganalisa arah dari tiap obrolan akrab yang sengaja diciptakan pelaku. Mudahnya, begini saja saya yakin bukan hanya diri saya yang pernah mengalami bagaimana seorang sales yang pandai membujuk calon pembeli agar mau membeli barang yang ditawarkan; tiba-tiba membuat kita masuk ke kamar dan mengambil dompet seketika. Atau, ketika kita melihat iklan sebuah produk yang bertubi-tubi ditayangkan; mendadak kita tergerak besok akan mencari barang yang sebelumnya kita lihat dalam iklan. Demikian juga dengan korban, Bunga, yang dikendalikan pikirannya setelah ia tak mampu lagi mengkritisi kebenaran ucapan pelakunya. Akibatnya, tiap ucapan yang dituturkan pelaku melalui obrolan dan pemaparan kisah penuh nuansa emosional yang sebelumnya masuk ke dalam diri korban direkam dalam memori jangka panjang (long-term memory) korban. Secara otomatis ini mempengaruhi korban. Pelaku setelah mengetahui bahwa korbannya bisa ”distir” pikirannya, maka ia dengan leluasa mulai mengarahkan korban untuk memenuhi keinginannya (mengirimkan sejumlah uang beberapa kali sesuai dengan yang diminta dan mengirimkan pakaian).

Selanjutnya, mengapa korban sempat tersadar oleh buaian pelaku sehingga merasa selama ini ia tertipu? Hal ini disebabkan kesalahan pelaku yang tak kreatif, mungkin kebiasaan mengulang-ulang kisah pilunya, ibaratnya pelaku adalah seekor tupai yang lagi lagi hamil tapi masih sok lincah lompat sana-sini mengikuti kebiasaan dan akhirnya terjatuh. Ditambah lagi karena pelaku tak mampu memperkuat penanaman sugesti bahwa dirinya adalah benar kekasih yang sangat menyayanginya dan hendak bertemu dengannya sesegera mungkin. Malah pelaku mengulur-ngulur waktu untuk bertemu yang mengakibatkan kesadaran diri Bunga pulih. Dengan diri yang tersadar tentunya pikiran Bunga rasional (conscious mind) menyala, ia pun meragukan kekasih mayanya yang hampir setahun puas sekali mengerjai dirinya. Ia curiga terhadap gelagat pelakukarena pikiran kritis-logisnya hidup kembali. Akhirnya, Bunga sebagai korban berani melaporkan kasus penipuan ala pengendalian pikiran yang ia alami ke pihak berwajib. Syukurlah pelaku tertangkap. Korbannya pun akhirnya mengetahui bahwa ia selama ini berhubungan asmara dengan sesama jenisnya.

Apa yang bisa kita petik sebagai pelajaran dari peristiwa yang dialami Bunga ini? Yang paling penting tentulah berhubungan dengan kewaspadaan diri kita untuk tak mudah percaya terhadap orang yang baru dikenal, memberikan kesempatan terhadap orang baru dikenal menciptakan upaya penanaman kesan-kesan tertentu demi mengendalikan pikiran (mind control) kita. Mengapa? Sebab, sudah terbukti pendekatan dengan menjalin hubungan personal lebih dipandang efektif oleh pelaku penipuan pengendalian pikiran ini, ada sebuah pribahasa orang Sisilia di Italia yang mengatakan begini:

”Anggur akan mengungkapkan segalanya.”

Keakraban yang sengaja diciptakan pelaku penipuan pengendalian pikiran demi memperlancar aksinya (social-engineering); ini adalah upaya untuk melihat sisi-sisi kelemahan diri korbannya. Ketika telah ditemukan, maka dengan mudah korban akan diarahkan sesuai dengan keinginannya.