Tiga Fiksi Mini

1. Api Gelora Asmara

Jangankan bisa terlelap tidur, untuk memejamkan matanya barang sepicing pun ia tak mampu. Juar gelisah. Tubuhnya gerah bukan kepalang. Padahal malam sedang ramah dengan udara sejuknya yang membelai kulit.

Di pembaringannya, lelaki itu masih saja gelisah. Sebentar badannya berbalik ke samping kiri. Belum sampai semenit berbalik lagi ke samping kanan. Gelora asmara sedang memanggang dirinya saat itu. Susah payah ia redam gejolak nyalanya. Sia-sia. Ia tak berdaya!

Akhirnya, ia bangkit lagi dari tempat tidurnya. Melangkah keluar kamar, ia langsung ke belakang lagi. Ini sudah yang kesekian kalinya Juar ke kamar mandi. Di dalam bak mandi ia merendam diri.

Demikianlah akibat api gelora asmara yang sedang membakarnya, lelaki muda itu kini punya kebiasaan baru: bolak-balik masuk bak mandi paling sedikit sebelas kali. Ia suka berendam semalaman di dalam bak mandi!



2. Taklid Buta

Karena kekaguman pada diri tokoh pujaan, pelita akal budinya redup dan perlahan mulai padam.

”Betapa hebatnya engkau, Tuan! Aku salut dan sangat mengagumimu,” serunya bersemangat melayangkan pujian.

”Aku tak percaya pada ucapanmu!” sang Tuan yang dikagumi menuntut bukti, ”Tunjukkan padaku jika engkau memang mengagumiku. Berikan tanda yang menyatakan kekagumanmu itu saat ini juga.”

Merasa diragukan, ia seketika bangkit dan berkata, ”Ini keempat jempolku sebagai tanda aku sungguh mengagumi, Tuan..”

Setelah itu wajahnya tampak meringis. Rupanya ia sedang menahan rasa sakit. Bagaimana tidak? Kedua kakinya turut ia angkat pula tadi.  Sebab, ia mesti menggenapkan jumlah jempol sebagai simbol kekaguman.



3. Apes

Rambut Mang Ali kian kusut saja. Ia dari tadi sibuk mengaduk-aduk kepalanya yang merimbun bak dedaunan pohon beringin itu dengan jemari tangannya. Mang Ali rupanya lagi ”pengung”. Ia benar-benar sedang ”pening dan bingung”. Apa pasal?

Keluarganya enggan menjenguk dirinya. Sudah lebih seminggu dirinya mendekam di balik jeruji. Sejak ia bernasib sial kena ciduk para petugas di gelanggang adu ayam. Tak pelak lagi dirinya dan bersama lima orang kawanan penjudi harus pasrah berumah baru di sel kantor polisi.

”Ah, kalau saja aku tak terpengaruh bujukanmu itu, To?” sesalnya pada Yanto, salah seorang dari temannya yang juga lagi apes itu.

Temannya tak terima disalahkan, ”Siapa yang membujukmu, Mang Ali? Kan, Mang Ali sendiri yang mau minta ditunjukkan gelanggang baru ngadu ayam waktu itu.” Yanto berdalih, ”Aku hanya menunjukkan jalan yang benar ke sana, ya kan?”

”Iya, tapi petunjukmu mengantarku nyasar sampai ke kantor polisi, tahu!”

”Sudah… Jangan bertengkar lagi! Sama-sama orang kesasar aja, kalian bertengkar. Makanya, kalau kena gerebek, lari kalian ke arah yang benar. Ini malah nyasar ke kami. Kena tangkaplah kalian jadinya! Hahahaha….”

Mang Ali dan Yanto hanya bersungut-sungut mendengar guyonan garing petugas jaga yang meledek mereka berdua.