Beberapa Karya dari Para Cerpenis di Media Massa

Afrodit
Cerpen Wendoko
(Koran Tempo, 15 April 2012)



IA melihat cahaya kemerahan. Ia melihat cahaya bergoyang goyang cepat, seolah sambar an lampu pijar. Cahaya yang merobek gelap, dan meninggalkan jejak. Cahaya yang menyorot ke kanan, dan kadang menghantam ke mukanya, menyisakan selaput katarak dalam noda-noda hitam. Kadang cahaya itu melambat, dan tinggal pendar-pendar kuning-limau atau jingga-pudar.

Lalu ia mendengar suara mengentak-entak. Suara yang menendang-nendang jantung, dan memukuli gendang telinga. Ia lalu memejamkan mata. Selama beberapa jeda ruangan itu gelap, dan ia menunggu sisa-sisa cahaya itu pudar dan tubuhnya lambat-laun diam. Tapi suara-suara makin keras. Ia mulai merasakan tekanan di dadanya, seolah urat darahnya pecah. Paru-parunya mengerut dan membuka, dan sekejap tampak lagi warna-warna cahaya yang menyambar.

Lalu ia teringat jari-jari tangannya menyentuh lutut perempuan itu. Lutut yang putih, mungkin karena efek cahaya. Mula-mula ia hanya menyentuh, tapi kemudian jari-jarinya menelusuri lekuk lutut yang seolah pahatan. Bergerak maju-mundur, lalu melingkar—dan perempuan itu tersengal. Tapi sengal itu tak bisa ia bedakan dari denyut nadi di telinganya. Otaknya serasa meleleh. Lalu gerakan itu merayap naik. Lalu tarikan napas ringan, dan beberapa saat ruangan terasa lebih dingin.

Waktu ia terbangun, perempuan itu masih terlelap. Perempuan yang ia lihat di kafe semalam. Perempuan yang, entah bagaimana, tahu ke mana ia pergi mengusir penat. Perempuan yang tahu di mana selama ini ia mengendapkan malam atau sekadar minum kopi. Perempuan yang bahkan tahu apartemen ini…. Perempuan berparfum Black Pearls. Tubuhnya ramping, kulitnya sangat bening, mata setengah mengantuk, dengan bibir kering tapi merah.

Dan ia baru saja berselingkuh. Tetapi apakah bisa disebut berselingkuh, jika setiba di apartemennya perempuan itu langsung tertidur? Apakah bisa disebut berselingkuh jika istrinya pergi hampir dua bulan lalu karena berselingkuh?

Tapi ia tahu perempuan itu bernama Eta.


AKU juga pernah berselingkuh. Aku dinikahkan waktu masih muda, dengan lelaki paruh baya yang saban hari berkutat di bengkel lasnya. Lalu aku bertemu pengelana yang singgah dari bandar ke bandar. Suatu malam kami dipergoki, padahal waktu itu kami hanya berbaring di rerumputan bukit. Sejak itulah aku terusir….


HARI itu tiga kali ia bertemu dengan perempuan yang sama. Pertama, ketika ia menuruni jalan berundak-undak memotong perbukitan di tengah rumah-rumah beratap nyaris datar. Waktu itu perempuan itu keluar dari pintu di tembok pagar, menoleh sekilas ke arahnya, lalu menuruni jalan. Kedua, di pintu art shop dekat pantai di bawah perbukitan. Ketika itu angin menderap, dan pasir di trotoar gemerisik di bawah sepatunya. Ketiga, di teras kafe waktu senja, ketika ia menyesap secangkir kopi di tengah debur ombak dan koak camar.

Waktu itu perempuan itu berjalan ke arahnya.

“Maaf….” Perempuan itu duduk, begitu saja.

“Aku baru mendengar cerita yang aneh, dan ingin cepat bercerita,” kata perempuan itu.

“Kenapa memilih aku, untuk mendengar cerita?”

“Entahlah. Kau bukan penduduk pantai….”

“Bukan. Aku pelancong yang singgah,” katanya.

Ketika itu matahari hampir tergelincir ke dermaga. Ada bilah-bilah cahaya di langit, berwarna kuning-pudar dan jingga di celah segumpal warna merah. Lalu ada kerlip berlian di muka laut, dan bayang-bayang yang menggantung di dermaga. Samar-samar angin meruapkan bau asin laut.

Ia memandang perempuan itu. Perempuan bertubuh ramping, kulitnya sangat bening, dengan mata setengah mengantuk dan bibir kering tapi merah. Perempuan itu juga bersuara serak.

“Apa yang perlu kudengar?”

“Ada hutan di perbukitan,” kata perempuan itu, “di atas rumah-rumah beratap nyaris datar. Kabarnya bunga-bunga bermekaran di hutan itu, tapi hanya tiga puluh hari dalam setahun. Bunga-bunga putih, yang sewaktu-waktu berubah ke warna merah….”

“Kenapa begitu?”

“Kabarnya, dulu ada peri mendiami hutan itu bersama kekasihnya, seorang pemburu. Lalu suatu hari si pemburu mati tertusuk cula babirusa. Jasadnya tertelan ke bumi, menyatu dengan akar-akar myrtle. Si peri, yang mendapat firasat buruk hari itu, menjelajah seisi hutan sampai kakinya tergores dan berdarah-darah. Waktu ia menemukan lembing kekasihnya, dan darah yang tercecer, ia pun menangis. Dan ajaib, bunga-bunga yang semula putih tiba-tiba berubah merah. Sejak itu, tiap bulan pertama musim panas, banyak pasangan kekasih yang datang ke hutan. Bercanda, tertawa. Dan jika ada pasangan yang patah hati, bunga-bunga putih akan berubah merah.”

Ia tertawa. Perempuan itu juga tertawa.

“Kau tak percaya?” tanya perem puan itu. “Atau, kau mau mencoba?”

“Tidak…. Eh, kau tak pesan minum?”

Teras kafe itu kosong. Hanya meja bulat dan kursi-kursi berjajar di lantai batu koral. Dari teras itu ia melihat perahu-perahu tertambat di dermaga, naik-turun terantuk ombak. Lalu perahu-perahu dan sekunar di lepas laut, yang mulai mendekat ke dermaga. Ada juga potongan tebing di sisi kiri, seolah menyeruak dari kilau air. Lalu ada deretan bangunan tiga-empat lantai berwarna pasir.

Langit sudah berubah abu ketika ia bangkit dari kursinya.

“Kau sudah mau pergi dari pantai?” tanya perempuan itu. “Bisakah kita bertemu nanti malam?”

Ketika itu lampu-lampu di teras kafe mulai menyala. Lampu-lampu di dermaga juga menyala. Angin menderas dari laut, yang berangsur-angsur gelap.

Ia tak jadi pergi. Lalu mereka berjalan di sekitar dermaga. Pantai itu tenang, meski debur ombak seolah ketukan ribuan batu di telinganya. Jendela-jendela kedai dan art shop, yang berderet sepanjang pantai, melontarkan cahaya kekuningan ke trotoar. Ia melihat sosok-sosok di trotoar—dan ada seorang pelari di tepinya. Dari dermaga, kelihatan gelap merentang di perbukitan, dan ada bintik-bintik lampu dari rumah-rumah beratap nyaris datar. Langit bersih, tapi malam itu angin agak kencang.

Perempuan itu berkata, “Kau mengingatkanku pada seseorang.”

“Siapa?”

“Aku tak ingat….”

Tapi ia tak percaya perempuan itu tak ingat. Agak malam mereka baru menaiki jalan berundak-undak. Kabut mulai mengurai, dan bulan membakar lubang keabuan di langit. Malam itu, di kamar perempuan itu, mereka bergelut. Tapi setelah beberapa saat ia sadar mereka tak menutup gorden jendela. Atau mereka sengaja membiarkan gorden terbuka, hingga cahaya bulan jatuh ke dinding dan lantai. Ada senyap yang ganjil di kamar itu, yang mengalir—meski mereka terus berbisik.Ada kata atau suara, tapi terjerat senyap—dan perlahan ia mencium anemone menyelinap ke harum bantal.

Pagi, ia bangun ketika perempuan itu masih terlelap. Pagi itu ia mengitari kamar yang sebetulnya paviliun, sampai ia tiba di jendela bergorden. Dan ia melihat perempuan itu duduk di ranjang, dengan selimut menutupi pinggang.

Perempuan itu memberi kode, lalu melambai….

Ia kembali ke pantai itu. Hari ini, setahun kemudian. Tapi ia tak menemukan perempuan itu di paviliun, di salah satu rumah di perbukitan. Barulah ia tahu perempuan itu juga pelancong, seperti dirinya. Ia juga singgah ke art shop dekat pantai—yang sudah kosong berikut bangunan-bangunan tiga-empat lantai di kiri-kanannya. Tetapi kafe itu masih ada. Dan ia masih melihat perahu-perahu dan sekunar di lepas laut. Masih mendengar debur ombak, koak camar, atau angin yang menderas. Atau melihat gumpalan merah dan bilah-bilah cahaya di langit, berwarna kuning-pudar dan jingga.

Di sanalah ia sekarang. Duduk di kafe, dan memandang ke dermaga. Saat ini ada dorongan untuk berjalan-jalan ke dermaga, untuk sekadar menyimak keciprat air atau suara perahu mengetuk-ngetuk tepi dermaga. Atau sekadar memandang ke rumah-rumah beratap nyaris datar di perbukitan, dengan bintik-bintik dan pendar lampu. Tapi hujan baru saja reda.

Eh, apakah perempuan itu punya nama? Satu-satunya yang ia ingat, setahun lalu perempuan itu memberi kode: namaku Eta….

Tetapi ia berpikir, apakah malam ini bunga-bunga di perbukitan akan berubah ke warna merah?


AKU juga pernah punya kekasih, jauh hari sebelum aku dinikahkan. Kami tak direstui, dan terpaksa lari dan terasing di sebuah hutan. Kekasihku mati tertanduk babirusa waktu berburu. Aku bahkan tak menemukan jasadnya. Tetapi sekali ini, apakah aku akan mendapat kesempatan kedua….


WAKTU ia terbangun, di apartemen itu hanya lengang, lengang yang pejal. Ranjang yang acak. Langit-langit buram. Dinding buram. Cahaya buram. Lantai yang buram.

Tapi di bibirnya masih ada rasa bibir perempuan itu. Tubuhnya masih menyisakan bau kulit perempuan itu. Seperti bau kaktus, atau getah daun. Seperti embun, atau campuran aroma bunga, atau guyuran musim panas. Tetapi waktu ia terbangun, perempuan itu tak ada di ranjang.

Dan ia teringat ketika perempuan itu menyentuh rambut-rambut halus di tengkuknya. Lalu melingkarkan lengan, dan melekatkan tubuh padanya. Ia teringat ketika perempuan itu menggeliat, sedikit berguling, dan tersengal. Secara naluriah, ia meraih kaki perempuan itu. Ia tak menyentak, atau bergerak terlalu cepat, tapi diam pada beberapa jeda dan perlahan mulai menemukan arah. Dan mereka bergelut seakan waktu mengempas, dalam cahaya terpetak-petak di ranjang. Mereka bergelut seolah menguapkan ruang, kenangan buruk, atau mungkin sebentuk realitas.

Lalu mereka sedikit menjauh. Punggung perempuan itu melengkung, seolah menahan getaran yang menggumpal. Getaran yang sama membuat matanya mengabut. Ia lalu menengadah, dan merasakan suara hujan di bawah jendela. Ia menengadah, dan mendengar suara roda mencipratkan genangan air ke pinggir jalan di luar jendela.

Setelah itu…. Setelah itu waktu yang tak berbatas menyurut, dan garis-garis tegas terbentuk. Tapi ia tak mau bangun. Ia ingin berbaring lebih lama, sampai matahari menguak—karena malam yang lambat dan pagi masih jauh. Di sampingnya perempuan itu menggeliat. Perlahan mulai menyapukan lidah….

Baru ia sadar, semalam ada cahaya di atas ranjang. Ada pohon tak berdaun di luar jendela, dengan ranting-ranting serupa pembuluh darah. Ada bulan buram yang berkubang di langit hitam. Perempuan itukah yang telah menutup tirai?

Ia bangun, dengan melilitkan selimut ke pinggang. Lalu menarik tirai. Cahaya berebut menyerbu ke ruangan itu, dan ia melihat patung di tengah ruangan. Patung perempuan telanjang sebatas pinggul. Kepala patung itu menengok ke kanan. Sedikit menunduk, rambut terurai, dengan sorot mata yang lembut dan mulut mengatup. Punggung patung agak melengkung dan bahunya menekuk. Lalu satu tangan menutup dada dan tangan lain menutupi pinggul.

Patung itu adalah replika perempuan yang semalam tidur di ranjang.

Ia menatap lebih lama. Ada seorang perempuan yang lima hari terakhir datang ke apartemennya. Perempuan yang ia temui di teras kafe waktu senja. Ia masih mengingat dengan jelas. Ketika itu cahaya baru melepas selimut jingga ke langit kota. Awan menggantung rendah. Ketika itu di pelataran depan kafe, beberapa merpati terbang dan hinggap. Angin menggetarkan pohon, dan mengembuskan daun kering ke pergelangan kakinya. Sedan yang lewat mendentumkan conga dan timbal dari balik jendela. Tapi angin juga mengangkut daun-daun ke tengah pusaran di bawah lampu-lampu jalan, berputar dua kali sebelum menyeretnya pergi.

Senja itu ia melihat perempuan itu, yang duduk tiga meja di depannya dengan chocolate croissant. Perempuan bertubuh ramping, kulitnya sangat bening, matanya setengah mengantuk, bibirnya kering tapi merah.

Lalu setelah beberapa menit ia pindah ke meja perempuan itu, dan berkata bahwa ia pematung.

“Aku sedang mengerjakan patung yang tak kunjung selesai,” katanya. “Kau mau menengok ke studioku? Atau kau mau menjadi model?” Perempuan itu diam beberapa jenak, mengamati dua merpati yang hinggap di satu meja. Lalu ada getar halus pada suara itu, waktu perempuan itu mengangguk.

Esoknya perempuan itu datang ke apartemennya. Apartemen bergaya kuno, dengan jendela panjang berkotak-kotak dan ubin Gustavino yang juga merangkap studio. Selama lima hari perempuan itu datang pada jam yang sama, tapi hanya tinggal selama satu jam. Hari pertama ia menuntun perempuan itu pada beberapa pose, sambil membuat coretan-coretan di kertas. Hari kedua ia meminta pose-pose yang lain. Hari ketiga perempuan itu pulang agak larut, tapi ia mulai mengerjakan kerangka dasar dari coretan-coretan di kertas. Hari keempat, struktur patung mulai terbentuk, dan ia meminta perempuan itu duduk di kursi tanpa sandaran—dengan kepala menengok ke kanan, agak membungkuk, satu tangan menutupi pinggul dan tangan lain menutup dada.

Tetapi mereka melewatkan tiap pertemuan itu tanpa bicara. Ada keheningan yang lalu membuat tuli, yang membungkus atmosfer di apartemennya–dan hanya disela tarikan napas, bunyi batuk, atau pensil menggores-gores di kertas. Keheningan yang merayap, dan pada satu titik apartemen itu terasa lebih dingin, dan ia menangkap tetesan-tetesan air ke baskom dalam jeda yang ganjil. Perempuan itu tak pernah bicara, tapi mengangguk waktu ia menerangkan soal patung telanjang. Perempuan itu juga tak bicara ketika ia meminta beberapa pose, yang nyatanya terus berubah. Perempuan itu juga tak bicara ketika ia mulai menyentuh leher, pundak, dada, dan pinggang. Ia menyentuh dengan lembut, seolah meraba tiap respon ototnya sebelum meremas-remas adukan gips yang basah.

Kadang ia berpikir perempuan itu memang tak mau bicara. Ia hanya tahu perempuan itu bernama Eta. Lalu pada hari kelima, tiba-tiba perempuan itu menyentuh tengkuknya, melingkarkan lengan dan melekatkan tubuh padanya. Waktu mereka bergelut di ranjang, barulah ia tahu perempuan itu bersuara serak.

Ia masih di depan patung itu. Tapi patung itu belum selesai. Ia masih harus memoles beberapa bidang atau lekukan. Mulai dari garis rambut, lengkung hidung dan mulut, tekstur leher dan punggung, bentuk pundak, jari-jari tangan, bulatan dada, cekungan pinggang….

Tapi ia tak tahu apakah perempuan itu akan datang hari ini.


AKU mengenal seorang pematung yang jatuh cinta pada patung pahatannya. Patung dari batu pualam itu diberi nama: susu….


LALU ia seolah menembus warna putih yang pekat. Seperti kabut, yang menggumpal-gumpal. Kabut yang merayapi dan mengaburkan kaca. Kabut yang memadat dan berbulir, sebelum meninggalkan bercak. Ia mendengar angin mengepak. Detak jam yang keras, seperti tongkat mengetuk di trotoar. Lalu ia seolah menginjak permukaan yang tak rata, tersaruk-saruk melewati tonjolan atau lekukan. Kadang langkahnya tergagap, seperti berdiri di bidang yang basah. Matanya berkedut. Ia menarik napas, tapi gagal menetapkan arah. Beberapa kali ia menubruk sesuatu, yang mendadak muncul atau menyimpang di depannya. Ia tak bisa melihat, tapi sejak awal ia tak merasa tersesat. Lalu ia hanyut dalam keheningan, pada pendar cahaya halus yang bergoyang-goyang di tengah desau angin, atau napas terputus-putus yang berulang.

Mungkin keheningan, atau kekosongan, adalah semacam iluminasi dari kenyataan—baginya.

Lalu ia melihat nyala lilin. Cahaya kuning-pucat yang berderit. Lilin itu bergetar meredup dan menyala seolah mengusik gelap. Keheningan juga menyelusup ke bilah api, tapi bilah api terguncang dan lelehan lilin membelok ke dalam cawan. Ada suara meretih, seperti gerit pada lantai kayu papan. Ada kilasan angin, dan pada beberapa detik ia kehilangan satu-dua derajat suhu tubuhnya.

Terakhir, ia melihat badai pasir mengamuk di gelas bir. Lalu ia melihat buih mendesis pada gelas separuh terisi.

Pagi itu ia bangun di sebuah ruang yang putih-hitam, dalam gradasi hitam. Ada jendela memanjang ke samping, dengan kaca-kaca gelap dan bingkai hitam. Ada langit-langit putih mendatar, dan cermin yang memantulkan patahan dan isi ruang: dipan hitam, seprei putih yang acak, jambangan dengan bunga-bunga bergaris hitam, sisa kertas berserakan dari keranjang….

Tetapi waktu ia bangun, perempuan itu sedang mengusap-usap ujung rambutnya.

“Kau akan mengingat usapan ini, ruang ini, cermin itu… namaku Eta!” (*)


Tentang Pengarang : Wendoko telah menerbitkan, antara lain, buku-buku puisi Oratorio (edisi kedua, 2011) dan Selected Poems (2010).



Tiga Cerita tentang Lidah

Cerpen Guntur Alam
(Suara Merdeka, 8 April 2012)




1. Kematian si Pahit Lidah

Cerita ini tentang Mak Yun, perempuan berumur yang meninggal petang Sabtu kemarin. Perempuan tua nyinyir yang terkenal tukang ber-ghibah. Gosip apa yang hendak kau tanyakan? Perihal Mang Akem yang baru saja berbini dua? Atau tentang Bi Inar yang telah pisah ranjang selama tiga purnama dengan lakinya gara-gara cemburu buta. Mungkin pula kau hendak tahu desas-desus yang beredar mengenai Mang Mahmud yang kaya mendadak di Tanah Abang. Oi, tak ada berita yang tak diketahui Mak Yun. Bila kau dengar cerita darinya lengkap dengan rumor yang tak jelas benar atau salah, asli ataukah telah ditambah-tambah biar sedap, kau akan berkata penuh mufakat: alangkah rincak lidah perempuan tua ini menyusun cerita.

Tapi, bagaimana bila kini ia yang diceritakan orang-orang di Tanah Abang?

Inilah yang tengah ramai dibicarakan orang-orang sedusun laman. Tentang kematian Mak Yun akibat lidahnya. Konon, dari desas-desus yang beredar, sepekan sebelum meregang nyawa, Mak Yun mengeluh lidahnya mencecap rasa pahit yang bukan kepalang. Liurnya terasa seperti bratawali, tanaman obat yang rasa pahitnya Allahu rabbi. Pening alang perempuan tua itu mencari obatnya. Menegak bergelas air putih tak mentawarkan rasa pahit itu, bersedok gula pun tak dapat menghilangkannya.

Telah berpuluh rumah dukun kampung ia sambangi, sampai-sampai Mak Yun pun menanggalkan keyakinannya yang enggan menjejakkan kaki di Puskesmas lantaran ia tak percaya akan kemujaraban jarum suntik dan obat-obat pahit beraroma asing. Tapi, tak satu pun yang dapat membuat lidahnya kembali seperti semula.

Dan, petang Sabtu yang naas itu orang-orang dikejutkan oleh lolongan anak bujang bungsu Mak Yun yang menemukan perempuan tua nyinyir itu mati bersimbah darah dengan lidah telah terpotong oleh pisau. Desas-desus beredar, Mak Yun memotong lidahnya sendiri karena tak tahan. Ada pula yang mengatakan: Ini pastilah azab dari Allah karena Mak Yun senang meng-ghibah aib orang. Entahlah.


2. Lidah yang Bercerita tentang Jurai

“Ebak-mu telah mati.” Itulah kata-kata Emak yang ia ucapkan di pagi kelabu padaku, berpuluh tahun lalu itu. Kata-kata yang dulu tak mampu kuurai masalahnya. Kata-kata yang telah menobatkanku sebagai yatim sejak saat itu. Dan, pikiran kanak-kanakku tak peduli. Hingga kelak, aku membenci kematian itu. Kematian yang membuatku merasa lelaki itu seorang pengecut, seenaknya mati dan meninggalkan kami dalam belitan hidup yang rumit.

Kata orang-orang, Emak-lah penyebab kematian Ebak. Emak menyambangi dukun ilmu hitam di dusun seberang dan memintanya merajam lelaki pengecut itu dengan ilmu setan. Hah? Asal saja mulut orang-orang menganga! Tidak tahukah mereka kalau perempuan kampung berkulit legam itu sangat mencintai Ebak? Berkali ia bertaruh nyawa, memerahkan paha, mengejankan anak-anak si lelaki pengecut. Kalau bukan cinta, disebut apa itu? Pun ketika si lelaki pengecut itu menikam jantungnya dengan sebuah pengkhianatan. Pengkhianatan yang membuatnya tak bisa menangis lagi sejak itu sampai sekarang dan pun ketika lelaki itu mati di pagi kelabu.

“Lantaran Ebak-mu kawin lagi, itulah yang membuat emakmu merajamnya.”

Mungkin ada benar apa yang dikatakan orang-orang itu, tapi aku tetap tak percaya bila kematian Ebak disebabkan Emak. Emak (mungkin memang) membenci pengkhianatan yang dilakukan Ebak. Siapa pula tak perih ketika lelaki yang ia cintai tiba-tiba mengkhianatinya. Ebak tergoda janda dusun tetangga. Janda gatal, bermuka tak lebih elok dari Emak. Apa pula yang lelaki itu cari pada janda tak tahu diri itu? Hah, sudah pasti hanyalah masalah birahi!

Perihal Emak dan Ebak-ku inilah yang membuat orang-orang membicarakan jurai-ku. Tentang sebuah takdir keturunan yang pasti akan diturunkan secara temurun. Oi, memeningkan sekali orang-orang kampungku itu.Seenak perut mengangakan mulut, membacakan takdir hidupku seolah-olah mereka telah mengintip tulisan Tuhan terhadap hidupku di kitab Lauhul Mahfuz.

Mereka seolah telah berkongsi kalau mereka dapat menterakan takdir seseorang dari jurai-nya. Bisa jadi pula mereka telah membuat semacam kitab perihal ini.

Si Anu, bapaknya juragan getah karet. Berhidung mancung, kulit legam, tukang kawin, rambut keriting dengan bibir tebal. Emaknya perempuan nyinyir yang hobi berdandan, berhiasan seperti toko emas berjalan, tubuh gembrot, dan suara serak karena ngoceh tak berujung-pangkal. Pastilah, mereka akan bersepakat, si Anu ini akan jadi tukang kawin pula, hidup foya-foya, dan pemalas. Tentu tak akan jauh-jauh dari perempuan-perempuan nakal, arena judi, dan alkohol murahan. Begitulah mereka menebak-nebaknya dan mereka pula mengaminkannya.

Itu pulalah yang orang-orang dusun bacakan akan nasibku. Ebak-nya mati muda, berbini dua. Sedang emaknya perempuan berkulit legam yang keras hatinya. Pastilah, ia akan mati muda pula. Doyan perempuan. Nah, nah, tengoklah parasnya yang bulat sempurna seperti Ebak-nya, tak bersisa, tak berbeda. Caranya berjalan pun persis sama, berjinjit seperti jijik. Iih, pastilah ia akan mati muda dan berbini dua.

Sialnya, Ebak-nya Halimah, pacarku itu, mengaminkan pula omongan orang-orang dusun itu. Lantaran jurai ini pulalah, calon mertuaku itu menolak mentah-mentah niatku mempersunting anak perawannya.

Brengseknya, Halimah serupa gadis-gadis di dusunku. Tak berkutik akan apa yang Ebak-nya utarakan. Seolah hendak berbakti atau mungkin pula Halimah mendadak ngeri membayangkan akan kumadu, lalu menemukan diriku mati di pagi kelabu, lantas ia menjadi janda seperti yang orang-orang ceritakan akan jurai-ku. Gadis pujaanku itu pun, tiba-tiba tak mau aku temui. Berkurung di dalam bilik, menghindar bila hendak kujumpai.

Inilah yang membuat aku membenci Ebak-ku, membenci kematiannya, membenci perihal dirinya yang berbini dua. Lantaran semua itu, membuat lidah orang sedusun Tanah Abang menceritakan betapa buruk jurai-ku. Seolah-olah, lidah mereka yang menuliskan ceritakan tentang hidup dan matiku. Aku benci, benar-benar benci mendengar lidah-lidah itu bercerita tentang jurai-ku.


3. Perang Lidah Tukang Cerita

Perang lidah dua tukang cerita di kampungku ini telah berlangsung lama. Sangat lama malah. Orang-orang pun mulai lupa, kapan tepatnya perseteruan memuakkan itu dimulai? Siapa yang menabuh genderang duluan juga tak diingat orang-orang? Pertempuran itu kembali hangat diingatan orang-orang petang Ahad kemarin.

Duel lawas itu dihangatkan di toko kopi Mang Sahlan, antara Cik Lam dan Cik Mim, dua tukang cerita yang sesungguhnya begitu kami sukai. Muasalnya dimulai ketika Mang Han yang memuji-muji Cik Lam, lantaran tukang cerita bertubuh gempal dengan paras yang masih rupawan di usia menjelang senjanya itu, baru-baru ini diajak Kades Lamit ke Muara Enim, memenuhi undangan Pak Bupati untuk bercerita dan mengumpulkan kisah-kisah rakyat yang hendak diarsipkan. “Oi, Mang, mekar hidung orang Tanah Abang tengok Mang Lam ada di TVRI, duduk di kursi depan dan ditanya-tanyai.”

Cik Lam mengangkat sedikit dagunya begitu mendengar ucapan Mang Han, lanang-lanang yang mencaungkan kaki di bangku kayu panjang toko kopi Mang Sahlan itu pun berdengung-dengung. Menimpali kata-kata Mang Han, kian kempas-kempis saja hidung mancung Cik Lam mendengar semua itu.

“Ceritakan, Mang. Apa yang ditanya-tanya Pak Bupati dan orang-orang di Muara Enim, kita hendak dengar langsung dari Mamang,” pinta Mang Jamik, yang diaminkan lanang-lanang lainnya.

Cik Lam menegakkan dadanya, baru saja mulut lelaki itu hendak berucap, mendadak saja Cik Mim menyambarnya.

“Haii, baru ke Muara Enim diundang Bupati, lagaknya. Hhmm…,” dengus Cik Mim menarik sedikit bibir atasnya. Mata Cik Lam mendelik mendengar ucapan Cik Mim barusan. Lanang-lanang di toko kopi Mang Sahlan saling lempar pandang. Cari penyakit saja Mang Mim ini. Mungkin itu yang ada di batok kepala mereka.

“Rupa-rupanya, ada yang iri lantaran tak terpilih oleh Kades. Padahal, sudah berharap setengah mati. Bahkan kudengar, telah mengepak pakaian, meminjam tas dari Sanuri,” kata-kata Cik Lam barusan langsung mencabaikan muka Cik Mim. Hidung pesek lelaki kurus dengan rambut tak terurus itu mendengus. Beberapa lanang mengaruk-garuk rambut yang tak gatal melihat pertempuran yang pasti akan meledak.

“Oi, aku bukanlah tukang cerita yang suka pamer ke kiri-kanan, bermuka empat belas, berlidah sembilan. Macam orang santun saja, bermanis mulut di depan khalayak, di belakang ternyata suka mengumpat. Aku telah banyak mendengar cerita tentang tingkahmu yang mengatakan diriku di belakang. Sudahlah, Lam, tak usah sok suci kau di depan orang sedusun.”

“Apa kau cakap?” geram “Apa kau cakap?” geram Cik Lam. Muka lelaki itu pun telah berubah saga.

“Oi, kalau tak merasa, tak perlu marahlah. Bila marah, berarti benar apa yang kudengar,” Cik Lam tergagap mendengar kata-kata Cik Mim itu, ia yang tadi berdiri dari duduknya pelan-pelan mendudukkan kembali pantatnya. “Jaga lidahmu, Mim,” desis Cik Lam menahan geram yang menggorok-gorok batang lehernya, menusuk-nusuk jantung-hatinya.

Dengungan keributan itu terdengar ke seantora dusun, diterbangkan angin yang senang berbisik, dialirkan mulut-mulut yang tak dapat dikunci. Hingga, berita pertempuran lawas yang tak kenal juntrung itu pecah kembali hinggap di limas kami. “Kau dengarlah itu, Bujang,” ujar kajut-ku, emak dari bapakku, yang tengah mengunyah sirih, “Kelak, bila kau benar-benar telah jadi tukang cerita. Janganlah kau tiru tua-tua bangka bau tanah tak tahu diri di tengah dusun itu.”

Aku mengeryitkan kening mendengar ucapan kajut-ku itu, apa hubunganku dengan para tukang cerita yang tengah berduel lidah di toko kopi Mang Sahlan itu?

“Seorang suka mencari-cari kesalahan yang lainnya lantaran iri dengki, sebab merasa kalah sinar dengan yang lainnya. Seorang lagi suka pamer sana-sini, membuat yang lain merasa tersisih. Sama-sama tukang mengumpat di depan-belakang. Sayang saja, dua tua bangka itu tak bercermin bersama-sama. Kalaulah meraka berkaca bersama, dapatlah mereka tengok lidah keduanya sama saja, bercabang macam ular.” Aku senyap dibuatnya. Sejatinya, aku menyukai cerita keduanya.

“Ingatlah, Bujang,” Kajut membetulkan susuran sirihnya, “Bila ada perang dua tukang cerita. Tak usahlah kau jadi pendengar salah satu atau pun keduanya, bila itu kau lakukan, alamat kau akan terseret ke dalamnya. Lebih baik kau tulis saja cerita tentang mereka, biar mereka sadar: alangkah memalukan yang mereka lakukan, mereka tak tahu saja, lanang-lanang di toko kopi itu tengah mencibir mereka dan mengolok-olok di belakang.” Aku tercenung mendengarnya. (*)


Tentang Pengarang : Guntur Alam, lahir di Tanah Abang, Muara Enim, Sumatera Selatan, 20 November 1986. Belajar nulis di Bengkel Cerpen Nida, majalah Annida. Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media massa. Kini alumnus Teknik Sipil Universitas Islam ‘45 Bekasi ini menetap di Bekasi.



Jalan Lain

Cerpen Hisham Yusuf El Filistiny
(Republika, 8 April 2012)



JAM mendekati tujuh pagi, ketika ia berhenti di akhir antrean, dan mengamati dengan seksama barisan panjang orang-orang antre yang berkelok-kelok seperti ular. Segera ia tahu bahwa ia datang sangat terlambat. Wajah orang-orang yang antre tampak sendu, seolah mereka telah tua sebelum masanya. Sebagian mereka saling bertukar pembicaraan sehingga menggariskan guratan-guratan tertentu pada wajah mereka.

Semua memandang ke arah pintu yang dikunci dengan kawat berduri dari segala sisinya. Mereka menumpahkan kemarahan lewat sorot mata ke arah pintu laknat itu. Mereka berharap pintu itu cepat dibuka sehingga antrean yang terus bertambah panjang seiring bergeraknya jarum jam itu terkurangi.

Pada jam delapan, datang dua tentara berhenti di depan pintu. Wajah-wajah putus asa itu sedikit cerah, merasa jalan keluar itu mendekat. Dengan gerakan tanpa sadar, ia mengeluarkan sigaret dari sakunya. Ia menyalakan rokok kemudian mengembuskan asapnya, seolah ia berpesta dengan datangnya dua tentara Israel itu.

Suara-suara orang yang antre meninggi, setelah pintu dibuka dan mulai menelan antrean itu secara berurutan. Ia menata posisinya dari satu posisi ke posisi lain untuk merilekskan bagian tubuhnya yang pegal. Beberapa saat sebelum jarum jam menunjuk angka 10, satu truk tentara datang dari jalan yang tegak lurus dengan pintu itu. Truk itu berhenti kira-kira di tengah-tengah barisan orang-orang antre tersebut. Komandan tentara mengitarkan pandangannya pada mereka dengan penuh kebencian dan kecurigaan. Barisan itu segera merapikan diri, yang lepas dari barisan segera masuk kembali. Pemandangan ini menekan otaknya yang penat, dalam layar otaknya tergambar nomor 67.

Saat itu, Abdurrahman sedang berumur 10 tahun. Ia berlari telanjang kaki, berpindah-pindah dari satu antrean ke antrean yang lain. Ia bermain-main. Ia menganggap hal itu sekadar permainan yang diberikan takdir kepadanya, supaya ia beristirahat dan melepaskan kebosanan dari berbagai jenis permainan yang telah dilakukannya berkali-kali.

Ia juga berkeyakinan bahwa peluru-peluru yang berhamburan di atas kepala orang-orang Palestina tidak berbeda dengan peluru yang diberondong dalam pesta perkawinan. Ia membayangkan, ia menghela punggung seekor keledai yang membawa kakek-kakek dan nenek yang berusia lanjut. Keledai yang mendengus-dengus karena kepayahan dan kehausan melebihi orang yang di punggungnya. Jika ada kakek-kakek atau nenek-nenek terjatuh dari punggung keledainya. Ia tertawa terbahak-bahak ala anak-anak kecil yang polos. Ia akan semakin terpingkal-pingkal ketika melihat keledainya lari meloloskan diri dari beban yang berat itu dan menerobos tanah pasir dengan ringkikan suara yang tiada bandingnya.

Kemudian, Abdurahman ingat bahwa hal itu mungkin saja masih terjadi seandainya kampung halamannya tidak dihapus dari peta, sebagian dijadikan tempat hiburan dan sebagian lagi dijadikan kandang sapi orang-orang Yahudi yang baru datang.

Abdurrahman tersadar dari kepekatan hatinya setelah ia membuang kilatan keputusasaannya yang menekan di belakang punggungnya. Tiba-tiba, ia melihat ada tempat kosong antara dirinya dan orang yang berdiri di depannya. Ia segera bergerak mengisinya demi menjaga hak dan undang-undang. Kembali ia memandang ke barisan orang-orang antre, ia melihat puluhan orang berdesak-desakan di depan pintu.

Perhatiannya tertuju pada sosok yang rapi, pakaian baru membalut tubuhnya yang gemuk subur, memegangi salah satu tangannya, dan bibirnya ndomble agak memanjang. Sosok itu berdiri di samping barisan orang antre dan memperlihatkan pandangan memelas. Tak perlu lama menunggu, sosok rapi itu segera dipilih tentara Israel untuk memasuki pintu.

Abdurrahman memperolok suara-suara protes orang yang minta menjaga dan menghormati urutan. Kemudian ia mengulurkan telapak tangannya secara spontan pada mukanya tatkala ia merasakan ada tonjokan yang mendadak mendarat di pahanya. Seketika ia ingat tentara penjaga perbatasan yang menamparnya tiga kali, ia ingat dalam ingatan kilas balik ketiga.

Oh ya! Akhirnya, Abdurrahman ingat. Ia telah memetik buah zaitun yang ditanam oleh kakeknya di kampungnya yang telah diduduki Israel. Ia dituduh mencuri harta milik tanah Israel. Kemudian tentara-tentara itu menggelandang dirinya yang saat itu baru berusia 13 tahun ke penjara di garis hijau. Ia dijadikan bulan-bulanan oleh pukulan dan tendangan mereka. Ia mendekam di penjara itu selama satu minggu, lantas dikeluarkan setelah membayar denda karena didakwa mengambil harta milik negara.

Otaknya kembali lagi untuk ikut serta dalam antrean sebagaimana sosok-sosok yang lain. Kembali lagi untuk melihat bagaimana para tentara itu merusak barisan untuk kedua kalinya dan memasukkan teman-teman pejabat kota yang baru saja datang. Abdurrahman seketika merasakan musim panas yang tiba-tiba merusak sistem antrean dan membuyarkan harapan orang-orang yang berada pada posisi siap memasuki pintu.

Detik-detik yang berat dan lambat berlalu, berganti jam-jam yang sirna. Tetapi, ia belum juga sampai di tengah barisan. Ia mengajak bicara orang yang berada di depannya supaya tetap bisa melihat keadaan pintu.

“Apa kau kira hari ini kita bisa melewati pintu itu?”

“Aku khawatir hari ini berakhir seperti hari-hari kemarin dan kita pulang tanpa hasil dan kecewa.”

“Apakah kamu menghabiskan waktumu berhari-hari di depan pintu ini?”

“Tentu, apa kau kira urusannya mudah? Di sini tidak ada waktu yang berharga, Sobat!”

Tengah hari, barisan maju ke depan sedikit. Abdurrahman mandi keringat, kedua keningnya memerah karena sengatan matahari. Meskipun barisan orang-orang antre itu menyaksikan kembali adanya penyerobotan-penyerobotan lain, Abdurrahman berhasil mendekati pintu dengan posisi yang sulit ia percayai. Antara dirinya dan pintu hanya terpaut satu orang saja.

Ketika waktu mendekati pukul dua siang, barisan itu terdorong ke depan. Orang-orang yang berdiri di depan seakan tergencet di pintu dan menyebabkan salah satu tentara Yahudi itu marah dan menyerang orang-orang yang di depan barisan seperti banteng gila. Tentara itu memukuli orang-orang yang di depan bertubi-tubi. Abdurrahman tidak bisa menghitung berapa kali pukulan itu karena cepatnya.

Sebelum tentara itu menyelesaikan “tugas” nya, Abdurrahman berpikir tentang pesawat terbang yang meninggalkan Bandara Ben Goryon dalam waktu bersamaan saat ia bergabung dalam antrean itu. Ia berkhayal, mungkin saja pesawat itu telah mendarat di kota Beijing atau mungkin saat itu pramugarinya sedang berjalan di antara penumpang membagi-bagikan kue selamat datang dan berharap para penumpang menikmati saat-saat yang paling indah di negeri Tembok Raksasa itu.

Abdurrahman heran dengan kenyataan aneh dan pahit ini. Bagaimana mungkin jalan dari Ramallah ke al-Quds harus melewati pintu berduri ini. Bagaimana ia menghabiskan bagian penting dari hidupnya dengan masuk pintu dan melewati kawat-kawat berduri dan berdiri lama sekali dalam antrean panjang di depan pintu penghalang. Lalu, ia memutuskan untuk meninggalkan barisan itu setelah meyakinkan dirinya bahwa semestinya harus ada jalan lain. Harus ada jalan lain! (*)


Catatan : Judul asli cerpen ini: Thaariq ‘Aakhar karya Hisham Yusuf El Filistiny, seorang cerpenis berdarah Palestina asli. Lahir di Umawas, Palestina tahun 1956. Ia dan keluarganya digusur dari desanya tahun 1967, lalu tinggal di kota kecil Al Birah. Meraih gelar BA dalam sastra Inggris dari Universitas Aleppo, Suriah tahun 1979, dan master pendidikan dari Universitas Beirut tahun 1998. Selain mengajar di Universitas Al Quds, di kota Ramallah, ia aktif menulis cerpen dan makalah di berbagai koran dan majalah Palestina.

Diterjemahkan oleh Habiburrahman El Shirazy, sastrawan Indonesia peraih Penghargaan Sastra Nusantara 2009. Ia adalah penulis novel fenomenal Ayat Ayat Cinta, Bumi Cinta, dll. Wakil Ketua Komisi Seni Budaya MUI Pusat. Ketua Liga Sastra Islam Dunia, Maktab Indonesia.



Haji Syiah

Cerpen Ben Sohib
(Koran Tempo, 8 April 2012)



KAMPUNG Melayu Pulo tentulah bukan satu-satunya kampung di Jakarta yang dipenuhi haji dan pemabuk sekaligus. Tapi sangat mungkin hanya di sinilah dua pemuda mabuk dan seorang haji bisa duduk di balai-balai yang sama dalam sebuah majelis taklim. Sesungguhnya kata ini tak tepat menggambarkan kegiatan yang sebenarnya. Sebab, meski sesekali Sang Haji menyampaikan khotbah dan membahas hikmah, majelis itu lebih sering menjadi ajang bincang santai tentang banyak hal, tempat orang bertukar kata dan canda hingga larut malam. Tapi, sampai akhir kisah ini nanti, kegiatan itu akan tetap disebut demikian semata-mata demi memudahkan penceritaan.

Siapa saja yang sempat berjalan menyusuri kampung kami pada suatu siang yang cerah akan segera mafhum permukiman ini benar-benar dipenuhi haji. Begitu menyelesaikan langkahnya yang pertama, kemungkinan besar ia akan bertemu seorang haji yang sedang duduk di teras rumahnya, disusul dengan haji yang sedang berdiri membetulkan gulungan sarungnya pada langkah kedua, dan haji yang sedang berjalan sambil membuka peci putih dan menggaruk-garuk kepalanya pada langkah ketiga. Jika sedang beruntung, pada langkahnya yang keempat atau kelima, ia akan memergoki seorang haji sedang mencubit pinggul perempuan penjual gado-gado di dekat tikungan.

Menjelang senja, para haji itu akan terlihat berjalan––baik sendiri-sendiri maupun berombongan––menuju Musala Assalam untuk salat Magrib berjamaah. Seusai salat dan berdoa barang lima atau sepuluh menit, mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Salah seorang dari mereka dipanggil dengan sebutan Haji Syiah. Setelah salat Isya dan makan malam, para haji itu akan menguap berkali-kali sebelum akhirnya jatuh tertidur dan mendengkur dalam balutan sarungnya. Kecuali Haji Syiah.

Haji Syiah akan duduk di balai-balai di teras rumahnya, menyambut tamu-tamu yang hampir setiap malam bertandang meramaikan majelis taklimnya, termasuk Faruk dan Ketel, sepasang sahabat yang selalu datang dalam keadaan mabuk. Haji Syiah tak pernah membeda-bedakan tamunya, yang mabuk dan yang sadar diperlakukan serupa: kopi hitam sama dituangkan, keripik singkong dan kacang kulit sama diangsurkan, rokok kretek sama disodorkan. Alhasil, majelis taklim yang dihadiri belasan anak muda itu selalu berlangsung hangat.

Demikianlah, berita bergabungnya Faruk dan Ketel dalam majelis taklim di rumah Haji Syiah dengan lekas tersiar ke banyak telinga di kampung ini, termasuk ke telinga Haji Jamil, seorang haji yang paling disegani. Tak membuang tempo, sehari setelah mendengar berita itu, Haji Jamil sudah menegur Haji Syiah. Bakda salat Magrib dan menuntaskan doa di Musala Assalam, di hadapan jamaah musala, ia angkat bicara.

“Kagak pantes, Ji, orang mabok ente kumpulin di rumah ente.”

“Ane bukan ngumpulin orang mabok, tapi ane kagak bakalan nolak siape aje yang bertamu ke rumah ane. Orang mabok juga ane terime. Mabok tuh urusan die sama Allah, yang penting kagak ganggu tetangge. Kalau maboknye brengsek, jangan kate di pekarangan rumah ane, di mane aje di pojok kampung ini bakalan ane hajar!” jawab Haji Syiah sambil mengacungkan tinjunya yang sebesar kepalan tangan anak kecil. Sama sekali tak menakutkan.

Meski sudah dibekap, mulut Haji Sakur tetap meletupkan suara tawa tertahan. Demikian pula mulut Haji Sahrudin, mulut Haji Rozak, dan mulut sekian haji lainnya. Haji Munip yang paling parah, belum sempat membekap mulut, suara tawanya sudah terlepas begitu saja. Siapa yang tak ingin tertawa melihat Haji Syiah sesumbar hendak menghajar pemuda mabuk?

Sudah masyhur cerita Haji Syiah pernah terjatuh gara-gara diterpa angin dari sebuah sepeda motor bebek yang melaju kencang. Saat itu ia sedang berdiri di pinggir jalan di depan rumahnya ketika sepeda motor bebek yang dikemudikan seorang remaja berandal melaju kencang. Angin yang ditimbulkan dari kencangnya laju sepeda motor itu membuat tubuh tipis Haji Syiah terputar 180 derajat, kehilangan keseimbangan, dan jatuh terduduk menghadap rumahnya. Haji Syiah cepat berdiri. Lalu, sambil tangan kirinya berkacak pinggang dan tangan kanannya mengacungkan tinju ke arah mana sepeda motor tadi melesat, Haji Syiah berteriak, “Bagus ente kagak nyerempet ane. Kalau sampe nyerempet, ane lipet ente jadi tiga!”

Mau melipat tubuh pengendara sepeda motor berandal jadi tiga? Diterpa anginnya saja jatuh terduduk, apalagi diserempet. Begitu kira-kira yang ada dalam pikiran ketua RT. Maka ia segera mengerahkan warga membuat polisi tidur dari campuran pasir dan semen, agar kejadian serupa tak terulang. Itulah cerita yang dapat menjelaskan mengapa ada polisi tidur melintang tepat di depan rumah Haji Syiah hingga sekarang. Entah siapa yang pertama kali mengarang riwayat itu. Tentu saja tak seorang pun memercayai peristiwa itu benar-benar pernah terjadi, bagaimana pun kurusnya Haji Syiah. Namun yang jelas, kisah itu tersebar dan telah menggaungkan gelak tawa ke seluruh kampung.

Maka tak mengherankan jika malam itu Haji Sakur, Haji Sahrudin, Haji Rozak, dan Haji Munip (dia yang paling parah) gagal menahan tawa melihat Haji Syiah mengacungkan tinju dan mengancam hendak menghajar orang. Mereka teringat kisah Haji Syiah jatuh terduduk.


SELAMA lebih dari setahun Haji Syiah menerima Faruk dan Ketel di rumahnya, tak ada warga kampung ini yang imannya berkurang. Kehidupan berjalan seperti biasa, tidak ada yang kurang, tidak ada yang lebih. Dengan kata lain, selain Haji Jamil, tak ada warga yang menganggap perbuatan Haji Syiah itu tidak pantas. Justru, warga merasa senang. Sebab, sejak bergabung dalam majelis taklim Haji Syiah, Faruk dan Ketel tak pernah lagi membuat onar di kampung saat mereka mabuk.

Sebelumnya, di antara sekian banyak pemabuk di kampung ini, Faruk dan Ketel yang dikenal paling sering membuat perkara. Mereka tersohor sebagai peminum yang pantang pulang sebelum tumbang. Hampir setiap malam mereka membeli miras curah di Pisangan Lama, di belakang Stasiun Jatinegara. Konon, berdua mereka biasa menghabiskan sepuluh liter setiap malamnya. Pada satu liter pertama, mereka masih berbicara dengan “ane” dan “ente”, seperti biasa. Pada liter kedua, mereka berbincang-bincang dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dengan menggunakan “saya”dan “anda”. Pada liter ketiga, mereka berdebat hebat dalam bahasa Inggris, meski hanya setan dan mereka berdua sendiri yang paham artinya. Pada liter keempat dan seterusnya, mereka mulai berteriak-teriak keliling kampung.

Saat berteriak-teriak di tengah malam buta itulah, Haji Syiah yang sedang duduk sendirian di teras rumahnya, keluar menyongsong mereka. Ia menggulung sarungnya tinggi-tinggi, kemejanya yang tak dikancingkan memperlihatkan tonjolan tulang iga. Ia tak sempat memakai peci putihnya, membuat kepalanya yang hanya ditumbuhi sejumput uban itu berkilap-kilap ditimpa cahaya bulan.

“Ente berani besuare sekali lagi, ane putusin tenggorokan ente!”seru Haji Syiah.

Ia memasang kuda-kuda siap menyerang, kedua lutut kakinya agak ditekuk, tangan kanannya menadah seperti orang meminta sesuatu, tangan kirinya seperti hendak menopang kepala bagian belakang. Tak ada orang yang pernah mendengar Haji Syiah pandai bermain silat. Tapi, bahwa konon ia menguasai ilmu pedang ghoib, amalan yang sanggup merobohkan lawan dari jarak jauh, sempat sekian lama setengah dipercaya penduduk kampung kami––meski tak jelas siapa yang pertama kali merawikan kabar ini. Namun, kepercayaan yang hanya setengah itu pun rontok sama sekali saat kisah olok-olok tentang Haji Syiah jatuh terduduk akibat diterpa angin dari sebuah sepeda motor bebek yang melaju kencang, tersiar ke seantero kampung.

Meski begitu, melihat Haji Syiah dalam posisi siap menyerang disertai ancaman hendak memutus tenggorokan mereka, Faruk dan Ketel segera bereaksi. Mereka mengambil posisi siap tarung. Tapi, entah karena pengaruh alkohol atau karena belajar pada guru silat yang salah, kuda-kuda mereka terlihat aneh: kedua belah kaki dipentangkan lebar-lebar, kedua tangan diacungkan lurus ke depan.

Urusan kuda-kuda boleh menggelikan, tapi keadaan saat itu tetap saja menegangkan. Dalam keadaan mabuk berat, bukankah sangat mungkin seseorang akan melakukan hal-hal yang tak terduga? Benar saja! Faruk terlihat mulai meraba belakang pinggangnya, seperti mencari-cari sesuatu. Sebilah pisau? Sementara sahabatnya, Ketel, tetap dalam posisi semula. Tampaknya ia sedang berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya. Haji Syiah kian waspada.

Tak mau ambil risiko, Haji Syiah mulai mengeluarkan ilmu pedang ghoib, mulutnya komat-kamit melafalkan doa. Diyakini, setelah doa itu dibaca tiga kali, lawan akan ambruk dan bertekuk lutut hanya dengan meniup mukanya. Maka, tak membuang waktu, setelah selesai membacanya tiga kali, Haji Syiah langsung meniup ke arah wajah kedua begundal itu dengan keras. Saat itulah gigi palsu Haji Syiah terlepas dari mulutnya. Gigi itu melayang dan jatuh di dekat kaki lawan-lawannya. Hening sejenak, malam seperti ikut menahan napas.

Faruk dan Ketel saling berpandangan. Tiba-tiba kedua pria mabuk itu tertawa hingga terbungkuk-bungkuk. Mereka terpingkal-pingkal sambil memegangi perut mereka. Faruk dan Ketel terus tertawa, makin lama makin tergelak, dan perut mereka menjadi kaku. Akhirnya, masih sambil terpingkal, mereka terjatuh dengan lutut tertekuk di hadapan Haji Syiah.

Faruk dan Ketel menciumi tangan Haji Syiah. Dengan susah payah mereka berusaha meminta ampun, baru setengah kata berhasil diucapkan, yang setengahnya lagi tertelan oleh tawa mereka, air mata mereka berlinangan. Untunglah, setelah Haji Syiah mengusap kepala mereka, tawa kedua pemabuk itu reda. Dan mereka terhindar dari kram perut yang dapat membahayakan jiwa.

Sejak kejadian itu, Faruk dan Ketel insyaf, tak pernah lagi membuat onar di kampung, meski masih tetap menghabiskan sepuluh liter miras curah setiap malamnya. Dan mereka menjadi anggota majelis taklim Haji Syiah yang paling setia. Bahkan, kedua pemabuk itu menjadi murid––jika bisa disebut demikian––kesayangan Haji Syiah.

Pasangan biang kerok Faruk dan Ketel yang berhenti membuat onar dan menjadi murid kesayangan Haji Syiah adalah fakta. Tapi, cerita tentang urut-urutan kejadian yang menjadi musabab berubahnya kedua pengacau itu––terutama pada bagian kuda-kuda yang ganjil dan gigi palsu yang terlepas––tak bisa dibuktikan kebenarannya mengingat kisah itu dirangkai berdasarkan penuturan Ucup Bodong, penjual kue pancong yang pada malam terjadinya peristiwa itu baru saja menutup warungnya. Ia mengaku mengintip seluruh kejadian itu dari balik warungnya. Faruk dan Ketel sendiri memilih bungkam setiap kali ditanya soal itu. Sementara kepada Haji Syiah, tentu tak ada orang yang sampai hati meminta kejelasan.


HAJI Syiah berusia enam puluhan tahun. Nama aslinya Rohili. Ia dipanggil Haji Syiah bukan karena menganut mazhab ini. Tata cara ibadahnya tak pernah terlihat berbeda dari warga kampung lainnya. Kemungkinan terbesar, itu gara-gara ia memasang poster bergambar Ayatullah Khomeini di dinding ruang tamunya, bersebelahan dengan foto Habib Ali Kwitang. Konon, ketika ia baru pulang haji sekitar dua puluh tahun yang lalu, Haji Jamil berkunjung ke rumahnya. Pada kesempatan itulah Haji Jamil menasihati dan menganjurkan Haji Syiah menurunkan poster Sang Ayatullah.

“Ngapain ente pasang tu gambar? Die kan Syiah, beda ame kite,” itu yang dikatakan Haji Jamil sambil menunjuk poster Ayatullah Khomeini.

“Kagak ape-ape beda, ane demen aje ngeliat romannye,” Haji Syiah menjawab dengan tenang.

Maka sangat mungkin dari mulut Haji Jamillah panggilan Haji Syiah pertama kali berembus. Kemudian julukan itu menyebar ke seluruh penduduk kampung, dari mulut warga yang satu ke telinga warga yang lain. Meski tak ada orang yang berani memanggil “Haji Syiah” di hadapannya, tapi Sang Haji bukannya tak tahu di belakang dirinya orang-orang memanggil dengan cara demikian. Dan ia tak merasa keberatan.

Haji Syiah hanya hidup berdua dengan Nyak Mun, istrinya. Berdua, sudah lebih dari empat puluh tahun mereka dengan sabar dan ikhlas mengarungi lautan sepi kehidupan. Pada lima hingga sepuluh tahun pertama perkawinannya, mereka––terutama Haji Syiah––masih berharap hadirnya seorang anak (ia memimpikan anak lelaki) yang akan meramaikan suasana rumah. Namun, pada tahun-tahun selanjutnya, perlahan mereka mengubur mimpi itu, makin lama makin dalam. Entah pada tahun perkawinan yang ke berapa, akhirnya mereka menerima kenyataan sebagai pasangan suami-istri yang tak dikarunia anak.

“Tuhan kagak kasi,” selalu begitu jawaban Haji Syiah setiap kali ada yang bertanya berapa jumlah anaknya. Haji Syiah memang telah dengan ikhlas menerima takdirnya, tapi jauh di hati kecilnya, benih keinginan mempunyai keturunan tampaknya tak benar-benar mati terkubur. Benih itu tumbuh dan muncul dalam bentuk kecintaan kepada anak muda. Di tengah-tengah obrolan di majelis taklimnya, beberapa kali Haji Syiah pernah berkata, “Kalau dulu Tuhan kasi, udeh seumuran ente kali anak ane.”

Haji Syiah seperti melihat bayang-bayang anak lelaki impiannya pada anak-anak muda itu, yang mabuk sekalipun. Bahkan kepada yang mabuklah Haji Syiah makin merasa sayang. Ia memandang Faruk dan Ketel dengan mata kasih orangtua terhadap anaknya. Dengan cara sehalus mungkin, ia berusaha menarik kedua anak muda itu dari kubangan khomer, minuman keras yang menurutnya bisa merusak kesehatan dan masa depan mereka.

“Ente kalau minum yang kire-kire, jangan kelewatan. Kalau minum kagak pake takeran, ape enaknye? Lagian, mau sampe kapan ente begini? Tuhan sih kagak rugi ape-ape ente mau mabok saban hari, yang rugi ente sendiri, badan ente ancur, pikiran kusut. Ente musti pikirin masa depan ente,” nasihat Haji Syiah suatu kali.

Berbilang bulan setelah nasihat itu disampaikan, Faruk dan Ketel tetap datang ke rumah Haji Syiah dalam keadaan sempoyongan. Namun, benar belaka apa yang sering dikatakan orang, hidayah dari Tuhan bisa datang dengan cepat dan dari arah tak terduga. Siapa sangka, secepat itu Faruk dan Ketel berubah menjadi orang yang sama sekali berbeda. Hanya sekitar tujuh bulan setelah berpamitan kepada Haji Syiah hendak bekerja mengelola warnet milik Ustad Jaiz di Pandeglang, Faruk dan Ketel muncul kembali di kampung ini dengan penampilan berbeda. Mereka mengenakan kemeja lengan panjang, celana panjang sebatas mata kaki, dan ada tanda hitam di jidatnya, tanda sering bersujud. Kumis mereka dicukur habis, sementara janggutnya dibiarkan tak tercukur.

Menurut kabar yang beredar di antara warga, selama di Pandeglang mereka giat mengikuti pengajian di pondok pesantren Ustad Jaiz, tak jauh dari warnet yang mereka kelola. Ustad Jaiz, yang masih terhitung sepupu dengan Faruk itu, membangun pondok pesantren dan beberapa unit usaha seperti warnet dan agen beras di Pandeglang sekitar setahun yang lalu, saat ia baru saja pulang setelah menyelesaikan kuliah ilmu syariah di Mekah. Kabarnya, beberapa hari lagi Faruk dan Ketel akan kembali ke Pandeglang untuk mengikuti program pesantren intensif selama enam bulan, sebelum keberangkatan mereka ke Mekah. Di kota suci itu––dengan beasiswa yang diperoleh lantaran hubungan baik Ustad Jaiz dengan sebuah lembaga dakwah di Arab Saudi––mereka akan memperdalam ilmu agama.

Tentu saja Haji Syiah gembira mendengar berita itu. Ia ingin sekali bertemu Faruk dan Ketel. Sudah lebih dari seminggu ia mendengar kedua anak muda itu pulang dari Pandeglang, tapi mereka belum juga datang berkunjung ke rumahnya. Haji Syiah akhirnya memang bertemu Faruk dan Ketel pada suatu sore, tepat sepuluh hari setelah kedatangan mereka. Secara tak sengaja, Haji Syiah berpapasan dengan mereka di depan toko kelontong Yong Put. Awalnya ia sempat tak mengenali, hanya setelah mata mereka bersitatap selama dua atau tiga detik, dengan gembira Haji Syiah berteriak,“Faruk! Ketel!”

Para pemilik nama itu tak menyahut. Mereka memalingkan muka dan meneruskan perjalanannya, segera setelah salah seorang dari mereka, yaitu si Faruk, sempat menyemburkan ludah ke tanah. Haji Syiah terdiam seribu bahasa. Ia menghentikan langkahnya selama beberapa masa, menatap punggung mereka hingga menghilang dari pandangan. Seribu pertanyaan berpusar di benaknya, ia tak mengerti ada apa dengan ini semua.

Seribu tanya itu masih terus berpusar hingga malam tiba, saat ia duduk sendirian di balai-balai di teras rumahnya. Mengapa Faruk dan Ketel berbuat demikian terhadap dirinya? Apakah karena sekarang mereka merasa terlahir kembali sebagai orang suci dan karenanya merasa jijik dengan masa lalunya yang penuh najis? Atau ada sebab lain? Haji Syiah tak menemukan jawaban apa-apa.

Tiba-tiba Haji Syiah merasa begitu lelah. Ia sandarkan kepalanya ke dinding, kedua matanya ia pejamkan. Saat membuka matanya kembali selang beberapa menit kemudian, samar-samar Haji Syiah seperti melihat Faruk dan Ketel membuka pagar halaman, berjalan sempoyongan melintasi pekarangan rumahnya. Haji Syiah mengusap mata. Malam begitu sepi. Angin berembus cukup kencang, merundukkan sebatang pohon belimbing yang tumbuh di situ. (*)

Jakarta, Maret 2012


Nyai Sobir

Cerpen A Mustofa Bisri
(Kompas, 15 April 2012)



RIBUAN bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku.

Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.

Almarhum sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya milik mereka para pelayat diri sendiri itu. Mereka bawa almarhum ke mesjid yang sudah penuh sesak untuk mereka sembahyangi. Aku setengah sadar mengikuti upacara pelepasan jenazah. Kiai Salman, sahabat almarhum, yang memberi sambutan atas nama keluarga. Lalu beberapa kiai dari berbagai daerah memanjatkan doa; tapi aku tak tahu persis siapa-siapa mereka. Aku hanya asal mengamini.

Hari berikutnya dan berikutnya, banjir jama’ah laki-laki perempuan tak susut meluapi makam dan mesjid pesantren kami. Alunan tahlil dan doa seolah tak pernah putus dari pagi hingga malam hari. Mereka meratapi kepergian almarhum yang selama ini mereka anggap guru dan bapak. Sandaran mereka.

***

Kiai Sobir atau yang popular dipanggil Mbah Sobir adalah sesepuh dalam arti yang sebenarnya di wilayah kabupaten kami dan sekitarnya. Di samping mengasuh pesantren dengan ratusan santri laki-laki perempuan, beliau secara de facto juga mengasuh dan melayani ribuan ‘santri kalong’. Mereka yang tidak tinggal menetap di pesantren, tapi selalu datang untuk mengikuti pengajian rutin beliau atau yang sekadar sowan dengan berbagai keperluan. Belum lagi mereka yang datang dari tempat-tempat yang jauh. Bahkan banyak sekali pejabat dari tingkat provinsi dan pusat yang menyempatkan diri sowan kiai sepuh yang sederhana ini.

Dalam hal menerima tamu, pastilah tak ada yang dapat menandingi Kiai Sobir. Hampir setiap hari dari pagi hingga malam, ndalem [1] beliau tak pernah sepi dari tamu, baik yang datang perorangan atau—kebanyakan—berombongan. Bahkan tidak jarang rombongan tamu datang tengah malam. Dan ‘peraturannya’, setiap tamu yang datang harus makan.

Ruang tamu ndalem beliau yang sederhana, didominasi oleh dua bale-bale besar dari bambu dialasi tikar pandan. Ada bangku memanjang tempat Mbah Sobir duduk dan—biasanya dengan—kiai atau tamu sepuh yang diajak duduk bersama beliau. Di depannya ada meja kuno yang selalu penuh dengan makanan, dikelilingi beberapa kursi yang tidak seragam. Di atas dua bale-bale besar itulah biasanya santri-santri ndalem dengan sigap mengatur hidangan untuk makan para tamu.

Kiai Sobir tidak membedakan siapa-siapa yang datang kepada beliau. Siapa pun tamunya, pejabat tinggi atau rakyat jelata; laki-laki atau perempuan; dari kalangan santri atau tidak; beliau terima dengan gembira dan penuh penghormatan. Telinga beliau dengan sabar menampung segala keluhan, curahan hati, bahkan bualan tamu-tamunya yang beragam. Di hadapan beliau, semua orang merasa benar-benar menjadi manusia yang merdeka. Manusia yang dimanusiakan.

Maka mereka pun tak segan-segan mengutarakan keperluan-keperluan mereka. Mulai dari mengundang ceramah, hingga mengundang untuk peletakan batu pertama pembangunan mesjid atau madrasah. Mulai dari minta doa restu, hingga minta utangan. Dari minta air suwuk [2] untuk anak yang rewel, hingga minta nasihat perkawinan. Dari minta dicarikan jodoh, hingga minta dicarikan mantu. Dari minta arahan menggarap sawah, hingga minta dukungan untuk pilkada. Dari minta fatwa keagamaan, hingga minta bantuan kenaikan pangkat .

Maka tak heran bila kepergian Kiai Sobir mendapat perhatian yang begitu luas.

***

Semua perhatian hanya tertuju kepada almarhum bahkan sampai peringatan wafat beliau yang ke-40. Empati hanya tertuju kepada mereka sendiri yang merasa kehilangan Kiai Sobir. Aku terlupakan sama sekali. Aku adalah istri almarhum yang selama ini mereka panggil Nyai Sobir. Perempuan yang kemarin-kemarin juga mereka perhatikan dan hormati bersama almarhum. Perempuan yang mendampingi beliau sejak nyai sepuh wafat hingga akhir hayat beliau.

Akulah yang selama ini mengatur keperluan-keperluan pribadi abah (begitu aku selalu memanggil beliau) sehari-hari; mulai potong rambut hingga pakaian yang abah kenakan. Akulah yang mengatur jadwal abah; kapan mendatangi undangan-undangan dan kapan mesti istirahat. Akulah juga yang mengatur agar mereka yang sowan tidak ada yang terlantar. Semua harus disuguh makan seperti yang dikehendaki abah.

Peringatan 40 hari wafat almarhum abah, banjir manusia kembali meluapi kawasan pesantren kami. Setelah itu barulah pengunjung yang berziarah agak menyusut. Aku tidak tahu apakah orang-orang mulai mengingatku sebagai Nyai Sobir pendamping kiai mereka atau tidak; yang jelas aku sendiri teringat saat nyai sepuh, istri abah yang pertama wafat. Teringat beberapa bulan kemudian aku yang kala itu nyantri di pesantren abah dan baru berumur 20 tahun, dipinang abah melalui seorang tokoh masyarakat di desaku.

Ketika kemudian orangtuaku—yang juga termasuk santri kiai abah—menyampaikan pinangan itu, aku tak bisa berkata apa-apa. Perasaanku campur aduk tidak karuan. Kaget, tidak percaya, bangga, dan entah apa lagi. Tapi karena kedua orangtuaku sepertinya mendukung, aku pun akhirnya ikut saja seperti kerbau dicocok hidung. Walhasil jadilah aku Nyai Sobir. Istri seorang kiai besar yang dihormati tidak hanya di wilayah kota kami saja. Kiai yang bila ada pembesar datang dari ibu kota, tidak pernah terlewatkan dikunjungi dengan segala penghormatan.

Sebagai pendamping kiai sekaliber abah, aku mempunyai sedikit modal. Di samping berwajah lumayan, aku hafal Al-Quran dan di pesantren bagian puteri, aku menjabat sebagai pengurus inti. Ditambah lagi, berkat latihan setiap malam Selasa di pesantren, aku sedikit bisa berpidato. Maka tidak lama, aku sudah benar-benar bisa menyesuaikan diri. Masyarakat pun tampaknya sudah benar-benar memandangku sebagai nyai yang pantas mendampingi Kiai Sobir. Bahkan sesekali aku diminta panitia mewakili abah mengisi pengajian.

Dari sisi lain; perasaanku terhadap abah yang semula lebih kepada menghormati, berangsur menjadi menyintai beliau. Apalagi abah begitu baik dan bijaksana sikapnya terhadap diriku yang dari segi umur terpaut sangat jauh. Abah tahu bahwa aku masih muda dengan pikiran dan keinginan-keinginan anak muda. Abah tidak pernah melarangku misalnya melihat televisi atau mendengar lagu-lagu dari radio. Paling-paling beliau hanya mengingatkan supaya aku tidak melupakan tugas-tugas.

Peringatan 100 hari wafat abah, kemudian 1 tahun, kemudian peringatan haul beliau setiap tahun (sekarang sudah haul yang ke-7), terus ramai dibanjiri ribuan orang dari berbagai penjuru. Aku terlupakan atau tidak oleh mereka. Tapi aku benar-benar terus merasa sendirian.

***

Abah, apakah di sana abah masih memperhatikanku seperti dulu? Aku kini benar-benar sendirian, abah. Sendirian. Alangkah cepatnya waktu. Alangkah singkatnya kebersamaan kita. Kini tak ada laki-laki yang kuurus sehari-hari. Tidak ada orang yang selalu memperhatikanku, yang menasihati dan memarahiku. Dan persis seperti kata Titik Puspa dalam salah satu tembangnya. Tidak ada lagi tempat bermanja.

Aku mencoba sebisaku ikut mengurus pesantren tinggalan abah. Alhamdulillah ustadz-ustadz yang gede-gede masih setia mengajar di madrasah dan pesantren kita. Pengurus pesantren juga masih menganggap aku Nyai mereka dan mereka taati seperti saat abah masih hidup.

Ah, semuanya seperti berjalan biasa-biasa saja, abah. Hanya setiap malam ketika aku sendirian, aku selalu teringat abah. Pedih rasanya tak mempunyai kawan berbincang yang seperti abah; yang setia mendengarkan celotehku meski sepele, yang siap membantu memecahkan masalah yang aku lontarkan. Oh, abah. Kini aku mempunyai masalah besar dan abah tak ada di sampingku.

Orang mulai memperhatikanku. Tapi tidak seperti perhatian mereka saat abah masih ada. Kini mereka memperhatikanku sebagai janda muda. Baru setahun abah meninggalkan kami, sudah ada saja godaan yang harus aku hadapi. Seorang ustadz yang sudah mempunyai dua orang istri, terang-terangan melamar aku. Lalu seorang duda kaya mengirimkan proposal lamaran, lengkap dengan CV-nya. Belakangan seorang perwira polisi bujangan juga menyampaikan keinginannya yang serius mempersunting aku. Semuanya aku tolak dengan halus.

Kemudian kedua orangtuaku sendiri dengan hati-hati menanyakan kepadaku apakah aku memang sudah ingin menyudahi status jandaku. Ingin didampingi oleh seorang suami. Namun ketika aku tanya “Kawin dengan siapa?” kedua orangtuaku tidak bisa menjawab. Dan sejak itu mereka tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah itu lagi.

Sungguh, abah, bukan kebutuhan biologi benar yang membuat aku terpicu pertanyaan kedua orangtuaku dan berpikir tentang laki-laki lain untuk menjadi suami setelah abah. Meski tidak aku pungkiri faktor biologi itu ada. Tapi dengan memikul tanggung jawab memelihara pesantren tinggalan abah, aku sungguh memerlukan penopang. Belum banyak ilmu yang sempat aku serap dari abah. Aku perlu pengayom seperti abah dulu. Aku perlu orang dengan siapa aku dapat bertukar pikiran. Syukur dapat memberikan nasihat dan arahan bagi kelangsungan dan perkembangan pesantren kita.

Dalam pada itu, abah, telingaku yang tersebar di mana-mana, terus mendengar pembicaraan masyarakat. Beberapa tokoh masyarakat diam-diam membicarakan diriku dan pesantren kita. Mereka iba terhadap nasibku dan sekaligus memprihatinkan pesantren. Mereka sadar bahwa aku masih muda dan di sisi lain, pesantren kita butuh kiai laki-laki seperti umumnya pesantren-pesantren yang lain. Mereka, seperti juga aku, terbentur kepada pertanyaan: siapakah kiai laki-laki itu? Kemudian kudengar mereka menyepakati kriteria dan syarat-syarat siapa yang boleh mengawiniku.

Mereka tidak rela kalau aku dipersunting orang ‘biasa’ yang tidak selevel abah. Mana ada orang yang selevel abah mau mendampingiku? Masya Allah, abah. Apakah karena menjadi jandanya kiai seperti abah, lalu aku hanya dianggap obyek yang tidak berhak menentukan nasib sendiri?

Setiap malam aku menangis, abah. Menangis sebagai Nyai yang mendapat warisan tanggung jawab. Menangis sebagai perempuan dan janda muda yang kehilangan hak. Tapi aku tetap nyaimu, abah; aku tidak akan menyerah. Aku percaya kepada-Nya. (*)

17 Desember 2011


Catatan:
[1] ndalem = sebutan untuk rumah kediaman kiai pesantren,
[2] air suwuk = air yang didoa-i




Tikus dan Kucing

Cerpen Sam Edy Yuswanto
(Republika, 15 April 2012)



SEPULANG bertugas dari luar kota, Marni, istriku, menyambut kedatanganku di depan pintu rumah dengan wajah gemas. “Pokoknya Mas mesti nyari kucing, sore ini juga!”

Huft, badan penat begini, langsung disambut ceracau nyinyir istri. Hei, dia bilang aku harus nyari kucing? Buat apa?

“Kucing? Heh, bukannya kamu paling alergi dengan hewan berbulu itu?” kataku seraya tersenyum geli.

“Kalo bukan karena tikus-tikus sialan itu, pasti nggak bakalan aku mau miara kucing, Mas!” sahut Marni dengan bibir mengerucut.

“Apa? Tikus? Memangnya…,” tentu saja aku langsung terkejut mendengar saja aku langsung terkejut mendengar cerita tentang hewan yang juga tak begitu kusukai dari bibir istriku.

“Iya, Mas. Semalam aku sampai nggak bisa tidur gara-gara tikus itu berkeliaran di dapur, ruang tamu, dan juga plafon kamar kita. Heran aku, kok bisa rumah kita tiba-tiba didatangi tikus-tikus!” potong Marni dongkol.

“Wah, ini nggak bisa dibiarkan!” ujarku dalam hati.

“Hei, Mas! Mau ke mana?” seru Marni saat aku balik badan dan tergesa memacu langkah.

“Kamu bilang suruh nyari kucing!” seruku setengah teriak tanpa menoleh.

***

Untung saja, Pak Hendra, tetangga yang rumahnya berada di ujung gang, mau berbaik hati meminjami salah satu kucing peliharaannya. Beliau berpesan, aku hanya boleh meminjam kucingnya malam hari saja. Paginya, kucing itu mesti dikembalikan. Itu pun aku mesti berjanji akan memberi makan kucing kesayangannya itu. Jangan sampai si kucing mengeong-ngeong kelaparan. Aku juga dilarang keras berlaku kasar dengan kucing yang dinamai si belang itu. Aku menyepakatinya. Ah, kalau sekadar makanan buat kucing, itu hal yang sangat sepele.

Pak Hendra memang terkenal penyayang binatang. Salah satunya kucing. Ada enam ekor kucing yang ia pelihara di rumahnya. Kata lelaki paruh baya bertubuh tambun itu, kucing merupakan binatang kesayangan Nabi. Katanya, dulu, Nabi sering mewanti-wanti sahabatnya agar menyayangi kucing layaknya menyayangi keluarga sendiri. Saking sayangnya pada binatang berbulu lembut itu, Rasulullah bahkan pernah rela menyobek jubahnya yang pada waktu itu sedang dibuat alas tidur oleh seekor kucing.

Maka dari itulah, jangan sampai kita menganiaya apalagi membunuh kucing. Bisa kualat dan kena karma. Karena, menzalimi kucing sama artinya menyakiti hati baginda Nabi. Begitu pesan Pak Hendra, dengan raut wajah setengah hati sebelum akhirnya menyerahkan si belang kepadaku.

***

Huft! Akhirnya, aku dan Marni bisa bernapas lega. Sejak kehadiran si belang di rumah kami, tak seekor pun tikus yang berani nyelonong masuk ke rumah lagi. Lantas, tiga hari kemudian, aku dan Marni pun sepakat untuk tak meminjam kucing itu lagi. Aku yakin, tikus-tikus itu sudah benar-benar kapok menyambangi rumah kami yang dijagai teramat ketat oleh si belang yang bertubuh bongsor, bermata biru tajam mengilat, lumayan lulut (jinak), berbulu blasteran putih, dan kuning kunyit.

***

Tengah malam, tiba-tiba aku terjaga. Pun dengan Marni. Tepatnya saat kami mendengar ada benda seperti terjatuh. Sepertinya suara itu berasal dari dapur.

“Mas, ja…jangan-jangan, tikus itu datang lagi,” kata Marni seraya mengucek-ngucek kedua kelopak matanya.

Tanpa menjawab pertanyaan istriku, aku lekas melompat dari ranjang dan menuju ruang dapur. Setelah menghidupkan lampu, kuedar pandang ke sekeliling. Ada gelas pecah tepat di samping kiri meja makan. Huh, jangan-jangan benar apa kata Marni, tikus-tikus itu datang lagi ke rumah ini. Ah, tapi rasa-rasanya mustahil. Bukankah rumah ini terlalu rapat untuk dimasuki oleh hewan menyebalkan sekaligus menjijikkan itu?

Saat aku sedang memberesi pecahan gelas, istriku terpekik.

“Mas! Buruan sini! Ada tikus masuk kamar kita!” Aku langsung melesat ke dalam kamar setelah sebelumnya menyambar sapu lidi yang tersandar di sebelah pintu kamar.

“Mana? Mana tikusnya!” ucapku seraya mengacung-acungkan sapu lidi.

“Tadi di depan pintu, Mas!” telunjuk istriku menukik ke arah pintu kamar.

Namun, hingga nyaris setengah jam aku menggeledah seisi kamar, tak kutemukan binatang dekil yang tengah santer diserupakan dengan para anggota dewan terhormat yang punya hobi mengorup uang rakyat. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat uang fee yang tadi siang diberikan oleh Gunadi, rekan kerjaku yang membolos kerja selama dua hari, tapi aku disuruh menandatangani daftar absensinya.

Sudah jadi rahasia publik memang, jika para karyawan di kantor saling menutupi kebusukan karyawan lain. Setiap minggu, ada saja karyawan yang bolos kerja. Aku juga pernah, tapi tidak sesering kawan-kawanku. Untuk menutupinya, karyawan yang membolos tadi meminta kepada rekannya untuk mengisi absensinya. Tentu saja ada uang fee—sebagai balas jasa—yang akan diperoleh rekan yang mau menandatangani absensinya itu. Begitu seterusnya, hingga minggu berikutnya giliran si pengabsen yang membolos dan menyuruh kawannya untuk menandatangani daftar hadirnya.

“Pokoknya besok Mas mesti pinjem si belang lagi, kalau perlu kita beli saja, Mas!”

Suara kesal Marni memotong lamunanku. Hah? Be… beli kucing? Yang benar saja kau Marni! Ini gila! Benar-benar gila! Bayangkan, istriku yang sangat alergi dengan binatang berbulu itu sampai nekat menyuruhku membeli kucing? Hanya gara-gara tikus sialan itu? Untuk menenangkan pikiran, aku ngeloyor keluar kamar seraya geleng-geleng kepala.

***

“Tapi maaf Mas Anto, saya sama sekali tidak berminat untuk menjual kucing saya. Apalagi, si belang, dia kucing yang paling lulut dan sangat saya sayangi,” kata Pak Hendra kalem, tapi tegas saat sore yang gerimis itu kuutarakan niatku untuk membeli salah satu kucing miliknya.

“Tapi tenang saja, kalau sekadar meminjam kayak kemarin, boleh-boleh saja, kok,” terangnya sambil tersenyum. Hmm, selain terkenal ramah dan murah senyum, ternyata Pak Hendra orangnya sangat peka, bijaksana, dan baik hati.

Akhirnya, aku kembali meminjam si belang, dengan persyaratan yang masih sama seperti sebelumnya; hanya pinjam saat malam, paginya harus segera dikembalikan. Pun jangan sampai membiarkan si belang mengeong kelaparan dan jangan sekali-kali menzaliminya.

***

“Mas, besok pagi anterin aku ke dokter, ya? Beberapa hari ini perutku mual-mual terus,” kata istriku malam itu.

“Mual-mual? Hei, jangan-jangan kamu hamil?” wajahku langsung semburat sumringah. Berbeda dengan Marni. Wajahnya malah berlipat muram begitu mendengar perkataan dan kegembiraan yang langsung menghangatkan wajahku. Dan, aku langsung bisa memahami mengapa wajahnya langsung terlihat pucat. Maklum, saat ini ia memang belum siap mengandung.

“Sudahlah Mar, ini baru perkiraanku saja, lagian kemarin kamu udah pasang alat kontrasepsi, kan?” hiburku seraya mengelus lembut rambut lurus sebahunya.

“Tapi, kalo memang hamil beneran, gimana dong, Mas? Demi Tuhan, saat ini aku belum siap hamil,” katanya lirih seraya menggelayuti lenganku dengan manja.

“Ssst, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mau dikasih momongan sekarang ataupun tahun depan, bagiku itu sama saja. Mestinya kita wajib bersyukur karena yang nggak punya anak saja sampai kelimpungan berobat ke mana-mana biar lekas hamil,” bisikku lirih sembari mengecup lembut keningnya.

***

Pagi itu, aku menghubungi Hadi, rekan kerja sekaligus karibku di kantor. Kupinta padanya untuk mengisi daftar absensiku. Aku mau bolos dua hari. Sebenarnya hanya butuh satu hari saja demi menemani istriku periksa ke dokter spesialis kandungan. Tapi, aku lagi malas ngantor. Lagian, sudah lebih dari sebulan aku tak membolos kerja.

“Eh, kalau bolos dua hari, berarti fee-nya juga dobel loh, To,” itu suara renyah Hadi di ujung telepon.

“Beres, tenang sajalah kau, aku pasti bakal kasih lebih, kok,” sahutku sebelum menutup telepon pagi itu.

Usai memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan, Marni tak hentinya mengulas senyum kelegaan. Betapa tidak, kecemasan yang membuatnya tak enak makan dan tidur itu ternyata tak terbukti. Ia tidak hamil. Hanya masuk angin biasa, begitu kata pak dokter barusan. Aku pun merasa lega karena sejatinya aku juga belum siap diberi anugerah momongan saat ini.

***

Tengah malam, aku terjaga dari tidur lelapku. Tepatnya saat badanku terasa gerah luar biasa. Sekujur tubuhku terasa gatal. Saat jemari tanganku menggaruki pipi, aku langsung tersedak dan nyaris saja terpekik. Hei, seperti ada bulu-bulu tebal menempel di sana. Kuraba-raba seluruh wajahku dengan gusar. O, Tuhan! Seluruh wajahku ditumbuhi bulu-bulu?

Dalam keadaan panik alang kepalang, aku langsung meloncat dari ranjang dan setengah berlari menghidupkan sakelar yang menempel di dinding kamar. Setelah itu, aku menghambur menuju cermin yang menempel tepat di atas meja rias istriku.

Bola mataku nyaris mencelat begitu melihat duplikat tubuhku di dalam cermin. Wajahku dipenuhi bulu-bulu hitam lebat. Dengan gusar segera kulepas baju tidurku. Ya, Tuhan! Sekujur tubuhku telah rata dipenuhi bulu-bulu hitam. Sungguh menjijikan! Dan, aku langsung terpekik saat kurasakan tubuhku tiba-tiba mengerut, mengerut, dan akhirnya… mengecil. Saking kagetnya dengan perubahan ajaib ini, aku langsung terlompat spontan dan jatuh tepat di muka istriku yang tengah terlelap. Istriku sontak tergeragap dan menjerit histeris begitu melihat seekor tikus hitam tengah merembeti wajah putih mulusnya.

Aku melompat panik. Sementara istriku lekas menarik tubuhnya dan berlari menyambar sapu lidi yang ada di pojok kamar. Dadaku berdegup kencang seraya terbirit mencari celah agar bisa keluar dari kamar. Berkali kuteriaki Marni hingga suaraku serak, bahwa aku adalah Anto, suaminya. Tapi, sepertinya Marni tak bisa mendengar teriakanku.

Aku terus berlari mengitari kamar. Hingga, akhirnya dengan susah payah aku bisa menerobos lubang di bawah pintu kamar. Namun, aku langsung terpekik histeris dan lari kocar-kacir saat di luar kamar kulihat si belang dengan wajah garang bersiaga menerkamku. (*)

Tentang Pengarang : Penulis lahir di Kebumen, Jateng, 3 Oktober 1977. Cerpen-cerpennya telah banyak dimuat di media massa dan beberapa di antaranya memenangi lomba penulisan. Ia juga sudah menerbitkan sejumlah buku yang menampilkan karya-karya cerpennya.



Pelajaran Bercinta

Cerpen Benny Arnas
(Suara Merdeka, 15 April 2012)



Palung

Rinduku adalah dekap buku pada pembatas halaman, tepat pada bab perjumpaan paling dahsyat di dunia.

Aku sangat yakin kalau kau memiliki perasaan yang sama terhadapku walau mungkin kau memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkannya. Oh, jangan-jangan aku tengah tergores oleh tajamnya kata-kata penantian? Ya, aku masih ingat sekali kata-katamu dulu, tepat beberapa hari setelah kau menyatakan cinta kepadaku. Kau nyaris terluka oleh sebilah penantian yang kuasah. Kau juga tak cukup kuat diombang-ambing ketakpastian. Padahal aku hanya ingin menunjukkan, bahwa perjuangan memetik setangkai wijayakusuma yang mekar tak ada apa-apanya dibanding dengan ujian kesabaran menunggu kelopak-kelopaknya merekah di bawah bayang rembulan. Ah, rasanya aku terlalu berlebihan kala itu. Tapi, aku pikir, tidak apa-apa untuk mengetahui seberapa tangguhnya kamu—walau aku tak yakin kalau aku akan baik-baik saja bila kau meralat perasaanmu.

Kini, aku percaya kalau penantian dapat mengecambahkan rasa senang yang menyebalkan. Aku dapat memaklumi ketaknyamanan yang menghinggapimu; kau memang tidak memiliki cukup alasan untuk mencemburuiku kala itu, bukan? Ya, apalah hakmu melarang orang lain memetik bunga yang tumbuh di tanah yang bukan milikmu? Apalah hakmu mencemburui seorang perempuan yang belum menerima cintamu?

O, maafkan aku, Batang.

Untunglah ada Bunga! Ya, karib kita yang namanya secantik perangainya itu, tahu benar bahwa aku telah dipilih Tuhan untuk serentetan ujian yang tidak semua orang mendapat kesempatan untuk menjalaninya. Ya, kau mengabarkan perpisahan lewat Bunga tepat ketika Tuhan tak sabar lagi memeluk kedua orangtuaku selama-lamanya. Aku tahu, tidaklah mudah baginya untuk memegang rahasia yang meremukkan hati sahabatnya.

“Kita sama-sama wanita, Palung. Karena itu aku berusaha menjadi dirimu kala musibah itu menghantammu. Ponselmu yang berdering di atas meja ruang tengah, refleks kucangking ketika mengetahui Batang menghubungi. Tentu, aku tak sempat berpikir untuk mempersilakan Batang berbicara kepadamu pada saat kau meraung hebat di hadapan kedua orangtuamu yang terbaring kaku. Kau tahu, kala itu Batang mengira kaulah yang menjawab panggilannya. Nada suaranya sangat gembira saat mengabarkan penugasan yang baru diterima. Ia harus mendadak pergi ke beberapa negara Afrika untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, Lung. Aku belum sempat mengatakan apa-apa ketika Batang memintamu melepas kepergiannya di bandara malam itu. Bibirku seolah tak berdaya untuk mengatakan apa pun saat itu. Menurutku sangat tak mungkin kau pergi di malam orang-orang berkumpul mengirimkan doa untuk kedua orangtuamu. Aku hanya menangis saat itu. Aku pikir Batang menerjemahkan isakanku sebagai keterharuanmu atas kabar gembira itu. Maafkan aku, bila kaupikir aku lancang, Lung….”

Sungguh, aku bagai sakura yang menolak luruh di musim gugur. Nyaris saja aku muntab bila akal sehatku menolak bekerja. Kucerna lamat-lamat penjelasan Bunga. Aku mencoba tegar di tengah hantaman ujian yang bertubi-tubi. Bunga menyampaikan semuanya beberapa hari setelah kau pergi. Aku yakin ia belum tentu akan menceritakan semuanya bila tak mendapatiku merutuki ketakpedulianmu (aku tak habis pikir bagaimana bisa kau tak hadir ketika kekasihmu dirundung duka!).

Ah, sudahlah!

Kini aku bahkan sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Bunga. Kau tahu, ia bahkan sempat mengungkapkan kekesalannya terhadapmu. Ia menyebutmu keterlaluan karena mengabarkan perpisahan pada hari yang sama dengan kepergianmu. Ah, untung saja kujelaskan kepadanya bahwa sebenarnya kita sudah membincangkan bahkan mendebatkannya cukup lama. Tapi memang aku tak menyangka kalau penugasanmu begitu tiba-tiba, datang pada waktu yang salah… (walau aku tahu bahwa kau tak tahu apa-apa tentang musibah yang menimpaku hari itu).

Kini, Bunga seolah menjadi belahan jiwaku. Hmm, maksudku, sahabat yang mengerti kelebihan-kekuranganku. Bahkan kami sudah tinggal serumah. Beberapa waktu setelah peristiwa duka itu, ibunya menawariku tinggal di rumahnya. Kau tahu ‘kan kalau kami sama-sama anak tunggal? Maka sejak saat itu, ibu Bunga adalah ibuku juga. Aku tak membutuhkan waktu lama untuk menjadi bagian hidupnya. Bahkan hari-hariku kembali ceria seolah taman bunga yang selalu diciumi gerimis kala pagi dan sore menyambangi. O ya, di waktu-waktu tertentu, bila kerinduanku kepadamu memuncak, Bunga Raya sangat pandai membuat airmataku tak keluar dari peraduannya. Ia bahkan mengatakan, alangkah beruntungnya kau memiliki kekasih yang setia sepertiku. Hmm, maksudku keberuntungan itu sama seperti keberuntunganku mendapati kekasih tampan, gagah, dan bertanggungjawab sepertimu.

“Sekarang ini, tak banyak lelaki yang berminat jadi tentara, Lung. Bahkan ada yang menjadikannya pelarian terakhir ketika sejumlah pekerjaan gagal dilakoni. Jangan heran kalau jiwa nasionalisme dan patriotisme sudah jarang dimiliki warga negara karena tentara saja banyak yang menghindari tugas di daerah konflik. Nah, Batang adalah pengecualian. Kalau kepada Tanah Air-nya sendiri ia sudah sebegitu setianya, apalagi kepadamu, Lung?”

Nah, Kekasihku Batang, tentu lima tahun bukan waktu yang singkat untuk memelihara cinta agar tetap rekah dan semerbak wanginya, bukan? Tidakkah kita ingin membuktikan kesetiaan masing-masing? Ah, aku tak menyangka kalau di daerah konflik sana, kau masih memelihara kecakapanmu merangkai kata-kata indah. Sebuah puisi yang kaukirim lewat email pagi ini membuat kepalaku dipenuhi jutaan angan-angan tentangmu, Sayangku!

O, datanglah, Batang. Walaupun menikah di usia kepala tiga tak pernah masuk dalam perbincangan kita, tapi demi melihatmu bahagia—karena impian mengabdi atas nama negara tertunaikan, kupikir itu bukanlah hal yang layak dipermasalahkan.

Ah, Bunga harus segera tahu gembira ini!


Bunga

Perjumpaan adalah ciuman hujan pada tanah yang kerontang oleh kemarau penantian.

Dapat kubayangkan, pertemuanmu dengan Batang akan meluapkan kebahagiaanmu, Lung. Sungguh, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku pula. Bagiku cinta tanpa pengorbanan ibarat menggenggam air. Omong kosong belaka! Ah, tapi apakah orang yang berkorban demi cinta harus menyumbangkan semua kebahagiaannya untuk orang lain?

Dalamnya cintaku kepadamu umpama palung. Dan adalah bohong kalau saking dalamnya, palung tak memiliki dasar. Namun begitu, hanya kau yang tahu bagaimana menginjakkan kaki di lubuknya. Hanya kau. Hanya kau. Kau tahu, aku bagai lesap ke dasar kebahagiaan ketika dengan polosnya kaunyatakan aku sebagai belahan jiwamu. Sungguh, hampir saja aku mengira sebelah tanganku tak menepuk air di dulang bila kau tidak kerap membawa-bawa kerinduanmu kepada Batang dalam sejumlah pecakapan kita.

Sungguh, aku sangat iri (bila tak ingin dikatakan cemburu) ketika di sela-sela kehangatan kita, ingatanmu pada Batang serta-merta menguasai benakmu. Kauumpamakan kekasihmu itu sebagai pohon yang berkanopi lebar dan lebat. Pohon yang kerap kausandarkan untuk sekadar menyelonjorkan kaki sembari mecurahkan kekesalanmu pada suatu hari. Namun apakah kau tak pernah sadar, Lung. Kalau aku kerap bersembunyi di balik pohon besar itu. Aku tahu kau menganggap sepasang tangan yang memelukmu dari belakang adalah cecabangnya. O, tahukah kau, alangkah bungahnya aku ketika kerinduanmu kepada Batang kambuh, kau menjatuhkan kepalamu di bahu atau dadaku. Entah, apakah kau merasakan detak jantungku yang tergesa-gesa atau tidak, yang jelas kedua tanganku refleks menggamitmu dalam pelukanku seolah tak ingin kau cepat-cepat merenggangkan kehangatan.

Ya, aku sudah lama memendam perasaan terlarang ini kepadamu. Aku tahu teman-teman kita kerap memuji atau bahkan menyindir kesetiaanku pada kau dan Batang. Palung-Batang-Bunga memang tiga sahabat yang tak mungkin diceraikan, walau sebagian yang lain mencibirku sebagai gadis tua yang tak sadar diri. Begitulah yang sampai di mata-mata mereka. Begitulah yang kau dan Batang pikirkan. Oh, semua kulakukan karena aku tak sanggup jauh darimu, Palung Sayangku. Maka, ketika kabar penugasan Batang itu mengetuk gendang telingaku, sungguh bahagianya aku—apalagi belum ada kepastian (kapan) masa tugasnya berakhir.

Tuhan memang mencintai hamba-Nya yang pantang menyerah. Kepergian orangtua dan kekasihmu adalah momen yang paling tepat untuk mewujudkan semua mimpiku; memilikimu seutuhnya, Palungku!

Maafkanlah perasaan ini, wahai sahabat-sahabatku. Sungguh, aku tak tahu bagaimana kecenderungan ganjil ini tiba-tiba tumbuh di dalam diriku. Tentu aku tak ingin mengkambinghitamkan kekejaman Ayah kepada Ibu ketika aku masih kecil dulu. Hingga Ibu akhirnya meracuni Ayah di suatu pagi. Dan Ibu melakukan semuanya bukan karena ia membenci Ayah, tapi karena ia ingin membesarkanku tanpa bayang-bayang kebejatan Ayah. Aku tahu kalau saban Jumat petang, dengan alasan menghadiri arisan teman-teman lama di luar kota, Ibu kerap mengirim doa kepada Ayah di depan gundukan makamnya. Ibu adalah wanita yang sangat setia. Sungguh setia. Bagiku, tak ada perempuan yang mampu menyerupai kesetiaannya sebelum tiba-tiba kau hadir sebagai almamaterku, Lung.

Aku ingat sekali, kau menerima tawaran Batang untuk menjalin asmara dengannya di semester pertama. Menilik kegagalanku menjalin hubungan khusus dengan beberapa lelaki, aku tak yakin hubungan kalian akan bertahan lama. Aku bahkan mengira Batang akan mengkhianatimu sebagaimana sejumlah laki-laki brengsek yang mengecewakanku. Namun apa yang terjadi? Hingga kini, kesetiaanmu telah menginjak usia tiga belas tahun—termasuk lima tahun terakhir tanpa Batang di sampingmu. Ah, yang membuatku kesal adalah Batang tak kunjung mengabarimu setelah kepergiannya. Akun Facebook-nya serta merta menghilang, emailnya tidak valid lagi, hingga nomor ponsel yang tidak lagi digunakan. Ke mana akan kaulacak kebahagiaan itu, Lung?

O, tidakkah seharusnya kau bahagia dengan semua itu, Bunga? Bukankah itu artinya tidak ada lagi yang kuasa menghalangimu meraih hati Palung?

Tidak! Kini semua tidak sesederhana itu, tidak semudah itu, tidak sematematis itu! Kesetiaanmu kepada Batang telah memberiku pelajaran tentang arti mencinta. Cinta haruslah mengalirkan kebahagiaan ke samudera mana pun hingga sesiapa dapat merasakannya, termasuk kepada hatimu yang bersemayam di palung paling dalam di dunia ini. Ya, alangkah kejamnya bila harus kupaksakan ingatanmu tentang Batang menguap lalu menggantinya dengan segala hal yang berbau diriku. Ah, tentulah kebahagiaanku adalah nisbi apabila kau harus mati oleh tajamnya samurai penantian, wahai Palungku!

Rindukuku adalah getah yang merekatkan tangkai dengan bunga, tepat pada kelopak yang menguar aroma tubuhmu. Nantikan aku di hatimu, Sayang. Hanya dalam beberapa hari, aku akan memekarkan bunga warna-warni yang selalu kusiram dengan air paling jernih yang kuambil dari palung paling dalam di dunia ini.

Setelah kubuat email baru atas nama Batang, kugubah sekaligus kukirim puisi itu kepadamu. Aku tahu benar kalau Batang bukan sekadar gagah dan tampan. Ia juga romantis bahkan cenderung melankolis. Hmm, aku tak ingin kau mengendus tipu daya ini, Lung. Sungguh. Aku tak ingin melihatmu berlayar dalam kerinduan tak berujung, yang akan menenggelamkanmu dalam harapan yang tak menjanjikan kebahagiaan sedikit pun. Biarlah, biarlah kupikirkan bagaimana merangkai puisi baru yang akan segera kukirimkan kepadamu.

Puisi yang mengabarkan pengunduran waktu kedatangan Batang. (*)


Jakarta, 2011

Tentang Pengarang : Benny Arnas lahir di Lubuklinggau, 8 Mei 1983. Buku kumpulan cerpen terbarunya adalah Jatuh dari Cinta (Grafindo, 2011).