Senin, 26 Maret 2012

 

Tumbal Suramadu

Tumbal Suramadu

Oleh MUNA MASYARI



KULIHAT di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa yang beringas dan bermata bengis. Ia akan meremukkan sesiapa yang dianggapnya lengah dan lemah. Matanya menyimpan bilah-bilah pedang. Siap menjagal leher-leher menonggak tegak. Tangan kekarnya menggenggam palu besi, siap dihantamkan pada batok kepala yang kokoh mendongak, hingga tekuk. Menunduk takluk. Tak berkutik. Sepasang kakinya akan menginjak apa saja yang dianggap menghadang, hingga menjadi remah-remah tak bernilai. Kuku-kuku tajam dan panjang siap mencakar.

Kulihat di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa titisan kanibal. Mulutnya menganga lebar. Berperut lapar. Maka, ketika ibu-ibu bercerita tentang kota pada anaknya menjelang tidur, si anak akan bertanya; besok pagi, giliran siapa dimakan siapa? Si ibu akan menjawab; menghindarlah, maka kau akan selamat!

Kulihat di kepala ibu, kota itu tak kurang dari kawanan perampok raksasa yang begitu amis. Darah membercak di kujur tubuhnya. Dari yang sudah mengental kering dengan warna kehitaman, hingga yang masih membasah berwarna merah segar.

Benar, di kepala ibu, kota hanyalah perampok. Merampok apa-apa yang dipunya orang kecil. Tanah, rumah, sawah, sungai, bahkan area pekuburan. Semua dirampas, lalu disulap menjadi gedung-gedung yang hanya boleh dimasuki orang-orang berbaju rapi dan wangi.

Maka, terbentangnya jembatan suramadu sepanjang kurang lebih 5,4 kilometer itu, di mata ibu, serupa lengan raksasa yang dijulurkan dari seberang. Siap meremas pulau terapung ini. Begitu mencemaskan dan mengancam. Tidak heran, ibu begitu khawatir tangan raksasa itu merampas apa-apa yang dimilikinya; termasuk aku. Ibu cemas, anak semata wayangnya ini direnggut dari pengkuannya, lalu ditelan mulut raksasa.

“Jangan pernah tinggalkan Ibu, Cong! Hanya kamu yang Ibu miliki,” desah ibu, risau.

Aku mengerti. Sangat mengerti. Begitupun ketika ibu lebih tenang mengirimku ke pondok pesantren daripada melanjutkan ke sekolah negeri. Ibu pikir, hanya di pondok pesantren yang sulit—bukan tak mungkin—dijamah tangan-tangan perampok raksasa.

Aku patuh. Sepatuh saat ibu memintaku menganga sewaktu dulu menyuapiku.

***

Gelap. Kata Nom Makmun, sambungan kabel listrik ke rumah tersangkut pohon bambu yang tumbang saat hujan dan angin mengamuk siang tadi. Terputus dan belum sempat disambung kembali.

Kami memang hanya menyambung listrik dari rumah Nom Makmun, tetangga sebelah yang terpisah dua petak ladang dengan rumah kami. Cukup diminta menyumbang bayaran rekening sebesar 10.000 rupiah tiap bulan olehnya. Toh, yang kami gunakan hanya dop-dop 5 watt di kamar, di serambi, dan pojok belakang rumah yang berdekatan dengan kandang ayam. Menjelang tidur, lampu kamar pun dimatikan.

Malam ini, ibu duduk menghadap dhamar talempek sambil menjahit sarungku yang lepas jahitannya. Sudah menjadi kebiasaan, setiap aku pulang karena liburan pesantren, ibu memeriksa sarung dan baju-bajuku yang lepas jahitannya atau robek tersangkut paku, untuk dijahit kembali. Baju yang tanggal kancingnya, diganti yang lain meski beda dengan warna baju, dan tampak mencolok.

Ujung benang dijilat supaya memudahkan perempuan sabar itu memasukkannya ke lubang jarum. Didekatkan ke dhamar yang menyala kewalahan dengan pandangan ditajamkan. Laron-laron berseliweran mencium dhamar yang terbuat dari bekas kaleng susu di depannya, berebutan mendahului tangan ibu.

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Ibu memintaku membukanya.

Agak sulit kukenali wajah gelap Pak Klebun yang berdiri di depan pintu. Untung pita suarannya yang berat masih tersimpan di kepala.

“Ibumu ada, Mad?”

Puntung rokok yang masih mengepulkan asap tipis langsung dibuangnya ke halaman.

Tanpa menjawab, kuajak Pak Klebun masuk dengan anggukan samar.

Raut muka ibu berubah keruh. Tak perlu mengangkat wajah, ibu sudah tahu siapa yang bertamu, dan maksud kedatangannya. Ia menyerahkan sarung yang selesai dijahit beserta gulungan benangnya padaku.

Aku mundur, masuk ke kamar. Bisa kutebak, sebentar lagi akan ada percakapan yang sama antara ibu dan Pak Klebun. Percakapan tentang pohon nangka besar di sudut depan halaman, yang terletak di pinggir jalan.

Dari bocoran carek yang kudengar, sebentar lagi ada pelebaran dan pengaspalan di jalan lintas depan rumah. Pak Klebun meminta agar pohon nangka yang rindang dan sering berbuah lebat itu ditebang, sekaligus mengikhlaskan 1,5 meter halaman rumah untuk pelebaran jalan.

Masih menurut yang aku dengar, tanah catoh di ujung desa bagian selatan yang terletak di pinggir jalan sana, sangat strategis untuk ditawarkan pada investor sebagai pembangunan industri garam. Selain tanahnya luas, tidak terlalu jauh dari kawasan tambak, desa ini juga masuk pinggir kota yang mudah dikembangkan. Maka, langkah awal tentu harus ada pelebaran dan pengaspalan jalan. Tanpa ada ruas jalan yang memadai sebagai sarana lalu-lintas, tentu investor akan berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di sini.

Namun ibu menolak keras ketika pohon nangkanya menjadi salah satu pohon yang harus ditumbangkan demi pelebaran jalan tersebut. Ia tidak mau pohon nangka berusia puluhan tahun itu ditebang.

“Sudah saya katakan, saya tidak akan menebang pohon itu, berapa pun Bapak akan memberi saya kerugian!”

“Tapi ini untuk kepentingan umum, Bu.” Bujuk Pak Klebun, beralasan. Sudah ketiga kalinya lelaki tambun itu datang untuk membujuk ibu.

“Bapak boleh meminta pohon apa saja di belakang rumah, asal jangan meminta saya menebang pohon yang di depan sana!”

“Masalahnya, pohon itulah yang mengganggu pelebaran jalan, Bu!”

“Terserah apa mau Bapak. Yang jelas, saya tidak akan pernah mengizinkan!”

Ibu tetap gigih. Ganti rugi sebesar tiga juta rupiah yang diiming-imingi Pak Klebun sejak pertama datang kemari, tidak menggoyahkan penolakannya. Bahkan, Pak Klebun berjanji akan membantu ibu jika uang tersebut mau digunakan untuk mendafarkan diri sebagai pelanggan PLN. Barangkali Pak Klebun menyangka ibu akan tergoda pada tawarannya di saat rumah gelap seperti ini.

Tidak. Pak Klebun belum tahu. Dulu, almarhum ayah sudah berniat menjual pohon nangka tersebut untuk biaya penyambungan PLN yang waktu itu masih seharga 2 juta rupiah. Namun ibu tidak setuju. Ia lebih suka menyambung dari rumah Nom Makmun, atau cukup menggunakan dhamar talempek daripada harus menjualnya.

Aku paham apa yang ibu pikirkan. Sangat paham.

Itu pohon nangka peninggalan kakek. Batang pohonnya lebih besar dari pelukan orang dewasa. Dahan-dahannya melebar rindang. Bila dilihat dari kejauhan, seperti pohon raksasa yang gelap oleh rerimbun daun. Bila kemarau, tetangga dekat berdatangan meminta daunnya untuk pakan kambing. Rantingnya pun sering dipinta untuk dijadikan kayu bakar. Ketika tetangga ada kifayah, ibu menyedekahkan buah nangkanya yang masih muda-muda agar dijadikan sayur lodeh pada ketiga atau ketujuh hari kematian.

Karena teduh, bawah pohon nangka itu juga sering dijadikan tempat istirahat oleh orang-orang yang melintas pulang dari sawah, tempat bermain anak-anak sepulang sekolah, dan menjadi tempat ibu-ibu menunggu penjaja ikan keliling saban pagi. Ibu sengaja menyediakan balai-balai bambu di sana.

Hanya dengan pohon nangka itu ibu bisa berbagi dengan tetangga. Tidak pernah mengeluh meski harus menyapu gugurnya daun-daun yang berserakan di halaman, sampai dua kali sehari; pagi dan sore. Bahkan bila musim hujan, daun-daun itu menempel ke tanah. Tak cukup menggunakan sapu lidi untuk membersihkannya. Harus mencomotnya satu-satu dengan tangan.

Aku paham. Betapa keberatannya perasaan ibu untuk menebangnya.

Bukan itu saja. Bayangan kota di kepala ibu sudah demikian menyeramkan. Aku tahu, ibu juga tidak menyukai adanya pelebaran jalan. Jalan semakin lebar, berarti jarak bersalipan sesama pengguna akan semakin renggang. Ibu khawatir, orang-orang akan malas untuk bertegur-sapa. Apalagi diaspal. Kendaraan-kendaraan tentu semakin berlaju kencang, dan orang-orang yang melintas akan semakin enggan untuk sekadar menyapa atau menoleh ke samping. Hanya meninggalkan kepulan asap.

Itu wajah sinis dan egois kota yang tergambar di kepala ibu. Bagi orang lain, mungkin gambaran yang terlalu naif untuk dijadikan alasan ketidaksetujuannya dilakukan pelebaran jalan. Tapi tidak bagiku. Wajah kota di kepala ibu memang begitu adanya. Sangat mencemaskan.

Di mata ibu, kesejahteraan kota hanya mampu dinikmati orang-orang berduit. Sementara orang-orang kecil dan awam seperti kami hanya dijadikan tumbal. Tidak heran, sejak suramadu diresmikan pengoperasiannya oleh presiden, 10 Juni silam, kecemasan di benak ibu semakin menggunduk saja. Mencipta gunung berapi yang siap memuntahkan ketakutan demi ketakutan yang melahar. Banyak bersinyalir, Madura akan mengalami kemajuan pesat dengan adanya jembatan yang ibarat lengan raksasa tersebut. Namun ibu tidak pernah rela Madura menjelma kota.

Sekarang, lambat-laun kecemasan ibu membayang nyata. Perampokan seolah tengah mengintai di dekatnya. Ibu geram mendengar bujukan Pak Klebun yang tak jera menerima penolakannya.

“Sebaiknya Bapak pulang saja!” ketus ibu. Muak.

“Jadi bagaimana? Apa ibu tetap tidak setuju?” desak Pak Klebun, masih meminta kepastian.

“Tidak!”

“Baik. Kalau begitu, jangan salahkan saya kalau nanti ada penebangan paksa.”

Selesai mengucapkan kalimat gusar itu, Pak Klebun beranjak pulang membawa kejengkelan yang bercokol di dadanya. Kekesalan mudah terbaca dari gerakan kasar dan cara ia pulang tanpa pamit.

“Ibu tidak suka ada pelebaran jalan.” Desah ibu, begitu aku keluar kamar. Hanya sepuluh detik dari kepergian Pak Klebun.

Ibu terduduk lemas di kursi kayu, selesai mengunci pintu. Kulihat, sosok Pak Klabun benar-benar menjelma perampok raksasa di kepala ibu. Tergambar nyata. Menggenggam gergaji berantai besi yang bunyinya meraung-raung memekakkan telinga. Wajahnya sangat mengerikan.

Aku terdiam. Apakah ibu akan mampu bersiteguh mempertahankan pohon nangkanya? (*)

Pamekasan, 04-02-2012


(*) Sumber cerpen dari Jawa Pos, 19 Februari 2012
Share:

0 komentar:

Posting Komentar