Tentang Dialog



Setiap orang suka bercerita. Tujuannya sangat beragam, mungkin untuk saling berbagi pengalaman, sekedar mengungkapkan resah hati, atau pun menghibur. Bercerita bisa secara langsung, dapat pula secara tertulis. Dalam konteks cerita ditulis (cerpen, novelet, novel) tentu saja ada kaidah-kaidah tersendiri yang mesti diikuti, terutama yang berhubungan dengan unsur cerita mewakili suatu percakapan atau dialog langsung antara tokoh-tokoh yang melakoninya.



1. Hendaknya menulis dialog dalam cerita tak mesti panjang dan berbelat-belit. Dialog harus singkat

2. Karena sebuah cerita ingin mengajak pembaca mengalami kejadian-kejadian yang diilustrasikannya, dialog cerita mesti menyajikan tambahan pengetahuan kepada pembaca.

3. Dialog sebuah cerita mesti saling menggantikan pemaparan atau ilustrasi biasa.

4. Dialog sebuah cerita mesti menyampaikan rasa spontanitas, atau memberikan kesan percakapan langsung para pelaku cerita satu-sama lain. Namun, mesti diingat pula bahwa dialog harus menghindari pengulangan yang kaku.

5. Dialog sebuah cerita mesti menjaga alur cerita terus bergerak maju, yaitu dapat memperkuat alur cerita memaparkan kejadian demi kejadian secara berurutan.

6. Dialog sebuah cerita mesti menggambarkan watak tokoh atau karakter si pembicara, baik secara langsung mau pun tak langsung (tersirat).

7. Dialog sebuah cerita harus menunjukkan adanya suatu hubungan antar orang per orang, atau merepresentasikan interaksi interpersonal.

Demikianlah mengenai tips penulisan dialog sebuah cerita yang bisa saya sampaikan dan semoga memberikan manfaat.

Kisah yang menarik memiliki karakter unik yang dilahirkan penulis cerita. Menciptakan karakter Anda hidup tentu membutuhkan wawasan yang mendalam, yakni memahami siapa karakter cerita dan apa yang membuat mereka dapat menggairahkan cerita.
Di bawah ini adalah daftar pertanyaan yang dapat membantu dan membimbing Anda sehubungan menciptakan karakter yang dapat menghidupkan sebuah cerita:
  1. Apa peran dan tujuan yang diberikan penulis untuk tiap karakter di dalam cerita?
  2. Siapa nama dan julukan (jika ada lebih baik) untuk tiap karakter di dalam cerita?
  3. Berapa usianya?
  4. Apa itu gender (pria/wanita/waria) untuk tiap karakter di dalam cerita?
  5. Bagaimana ciri fisik untuk tiap karakter di dalam cerita?
  6. Apa tujuan sadar untuk tiap karakter di dalam cerita?
  7. Apa motivasi, keinginan dan kebutuhan pribadi untuk tiap karakter di dalam cerita sehingga berperan dan melakukan perbuatan tertentu?
  8. Apa sifat dominan (watak yang khas) untuk tiap karakter di dalam cerita?
  9. Apa ciri-cirinya yang lain, baik atau buruk?
  10. Apa ketidaksempurnaan (bila ada) yang dimiliki tiap karakter di dalam cerita?
  11. Apa kebiasaannya?
  12. Apa keterampilan / skill tertentu yang dimiliki tiap karakter di dalam cerita?
  13. Bagaimana sudut pandang, sikap dan keadaan emosi tiap karakter di dalam cerita?
  14. Bagaimana ciri khas tiap dialog yang diekspresikan oleh tiap karakter di dalam cerita?
  15. Ada pekerjaan tertentu yang dilakukan sehubungan dengan status sosial yang disandang tiap karakter di dalam cerita?
  16. Kapan (di bagian cerita yang mana) karakter cerita menunjukkan diri secara emosional?
  17. Apa kondisi kehidupan yang dialami oleh tiap karakter di dalam cerita?
  18. Bagaimana responnya menanggapi realita tertentu di dalam kehidupan pribadi yang dijalani?
  19. Dimana kediamannya?
  20. Bagaimana lingkungan sosial karakter cerita sehingga ia menunjukkan pola interaksi sosial tertentu?



 Odi Shalahuddin (6 January 2012 04:42:49): ”Menyimak dan belajar, Bung…”

 Muhammad Ichsan (6 January 2012 22:42:42) : ”Makasih Mas Odi berkenan mampir… Senangnya bisa berbagi yang bermanfaat..”

 Ayy_lovciny Chaich (6 January 2012 06:04:41) : ”bermanfaat kak, salam”

 Muhammad Ichsan (6 January 2012 22:43:31) : ”Salam juga, Cha… Makasih ya, Cha, udah mau membacanya…”

 Empuss Miaww (6 January 2012 06:20:51) : “Wah, harus belajar lagi. Terima kasih sudah berbagi ilmu ^_^”

 Muhammad Ichsan (6 January 2012 22:44:10) : ”Terima kasih kembali Mas Dhani, senangnya bisa berbagi ilmu yang bermanfaat..”

 Auda Zaschkya (6 January 2012 09:03:31) : ”manfaat deh beb.. hihiii.. nnti pote dr lappy yh

 Muhammad Ichsan (6 January 2012 22:44:32) : ”Makasih, ya, beb…”

 Auda Zaschkya (6 January 2012 22:47:48) : ”beb,, tlponan YM yukkk... td udah bs dicoba”

 Muhammad Ichsan (6 January 2012 22:50:02) : ”Ok beb…”

 Ali Bukbrax (6 January 2012 10:04:19) : ”Menarik untuk disimak, trims telah berbagi”

 Muhammad Ichsan (6 January 2012 22:45:27) : ”Terima kasih kembali, Mas Ali.. Senang bisa berbagi hal yang bermanfaat.. Salam hangatku..”

 Nurulita Rachma Budi Utami (6 January 2012 22:57:54) : ”Aku berdialog sama mas Ichsan aja ah.”

 Muhammad Ichsan (7 January 2012 01:18:08) : ”nih udah saling berdialog, hehehe…”

 Andi Metta (7 January 2012 03:24:05) : ”makasih mas…berguna sekali infonya…tp kalau dikasih contoh lebih asik lagi kali yah heheheheeee”

 Muhammad Ichsan (7 January 2012 17:29:57) : "Wow, komentar kritis dan cerdas…

Hmm, aku harus bisa kasih contoh yang diminta nih… (hehehe, kapok kamu San… Hayo loh..)..

Mbak Metta, aku suka komentarnya, benar-benar kritis dan cerdas. Aku coba kasih contoh yang Mbak minta, yah..

Contoh dialog dalam karya fiksi banyak sekali. Tapi, aku kira contoh yang paling bermanfaat untuk Mbak Metta lihat, bisa dicermati dari karya Andrea Hirata ─ Edensor, yang memaparkan teknik “dialog imajiner” (karena kulihat karya Mbak Metta mengarah pada “permainan alam kesadaran”(Stream of Consciousness), contohnya cerpen “Sepucuk Surat untuk Kekasih”, tokoh utama cerita cerpen ini berdialog dengan kenangan yang sengaja dipanggil ulang melalui “benda” surat.). Dari cerpen ini, aku coba memaparkan contoh dialog yang kupikir bagus untuk pengembangan karya Mbak Metta.

“Aku menatapnya lama, lalu bisikan garau mendesis dari foto itu, ‘Engkau laki-laki zenit dan nadir….’ Bulu tengkukku meruap, seseorang seakan berdiri di belakangku, aku berbalik, sepi.” (Andrea Hirata ─ Edensor : 2)

Dari contoh dialog imajiner ini, mari kita sama-sama analisis. Dari kutipan dialog ini jelas sekali ditulis pendek-pendek (point 1) dengan pungtuasi fungsi tanda koma, tipikal pemakaian plastik bahasa. Penulis ingin memberikan pembacanya pengetahuan tentang penglihatan khusus mata bahin (point 2) yang bisa menguak peristiwa tertentu yang misterius. Ada suspense dalam dialog imajiner ini (point 3 sebenarnya untuk menimbulkan ketegangan plot cerita melalui dialog). Terjadi reaksi spontan antara tokoh cerita dan benda (point 4) yang sedang ia ajak berdialog (foto berkata, “….Engkau laki-laki zenit dan nadir.” Lalu, tokoh cerita merinding ketika mencermati ucapan yang khusus ia dengar dari foto). Tokoh cerita yang mengalami dialog imajiner dengan foto menjaga kronologi cerita (point 5) sampai pada klimaks dan ending dengan penyajian rasa penasaran pada pembacanya. Dialog secara langsung memaparkan watak asli si tokoh cerita (point 6) yang suka berimajinasi bebas (bahkan terhadap foto) dan memiliki sifat interaktif dengan kenangannya (ini dia ciri yang hampir sama dengan gaya penulisan Mbak Metta, kan?). Khusus untuk point 7, dialog cerita yang imajiner juga bisa menunjukkan “interaksi interpersonal” antara tokoh cerita dengan orang-orang tertentu yang melekat dalam kenangan pribadinya (bisa dilihat melalui penulis yang menyajikan logika sebab-akibat mengapa si tokoh cerita mau “menenggelamkan diri” dan “bergumam” dalam hati dengan benda kenangannya, tentu karena hubungan personal khusus.

Segini dulu ya, Mbak Metta, contoh dialog dan analisisnya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat buat Mbak Metta yang fokus menulis fiksi yang beraliran Stream of Consciousness. Tetap semangat berkarya. Salam hangatku."

 Granito Ibrahim (7 January 2012 03:31:54) : ”terima kasih mas Ichsan, sudah berbagi….hahaha jangan bosen2 buka rahasia ya….. oh ya terutama yg no 6: kadang dialog cewek dan cowok pada sebuah cerpen, sama emosinya. seolah kayak sama2 cowok atau sama2 cewek…… nah untung artikel ini sudah mengingatkan. Salam”

 Muhammad Ichsan (7 January 2012 17:45:25) : "Salam hangatku, Mas Nito…

Santai aja, Mas.. Selagi saya bisa berbagi pengetahuan untuk semua sahabat, saya buka rahasia-rahasia ilmu yang bermanfaat. Sebab, saya pikir lebih enak pintar bersama-sama.

Aniweibaswei, untuk point 6, dialog yang mewakili tokoh cewek, biasanya cenderung banyak “dramatisasi” perasaan yang dicetuskan melalui ucapan-ucapan langsung yang responsif. Sedangkan untuk tokoh cerita yang cowok dari ucapan yang bersifat rasional. Selain, itu kita bisa bedakan dengan paparan sebelumnya (abstraksi / fore grounding: pembayangan awal cerita)."