Sifat Personal Versus Klise dalam Pengekspresian Pokok Persoalan pada Karya

Suatu karya yang baik (menurut pendapat saya pribadi) harus bisa merefleksikan kembali penguasaan pokok persoalan yang dikemukakan di dalamnya secara personal dan khusus, khas milik pribadi yang mengkreasikannya.

Apa ini artinya?

Hindarilah klise! Jangan sekali-kali memberikan ruang di dalam karya untuk pengertian yang sudah diketahui umum. Berikan sifat personal dan tipikal.

Baiklah akan saya coba paparkan. Pokok persoalan yang ingin saya sampaikan dalam sajak saya yakni tentang 'kemarahan'. Saya memandang 'kemarahan' sama seperti 'berak'. Mungkin, orang lain akan memandang 'kemarahan' sebagai emosi negatif yang tak bisa dikendalikan dan bersifat ekspresif langsung (klise).


MARAH

Ketika kau luapkan marah,
sebenarnya kau sedang berak.

Tahimu lungsur, eksotis tertidur di mangkuk perak.
Dimana? Tepat di bawah dubur mekarmu memerah.

Kau pun tiba-tiba muak,
mual perutmu mau muntah.
Tapi, tahi kemurkaanmu baru saja tumpah
bau busuk menari-nari, hawa iblis belum juga sudah.
Masih ingin terus keluar, biar pun tak lagi berwadah.
Hah! Kau terperangah!
Rupanya jiwamu telah remuk buruk rusak!

Masih juga kau anggap marah itu baik?
Kau lihatlah, mata melototmu terbelesak!
Kemurkaanmu tahi bertumpuk unik!
Kekuning-kuningan berasap, ah, sungguh tak apik,
Dan kau pertahankan sambil menahan sesak.