Ironi Cinta Buta


aku baru tahu sekarang
ketika cinta itu buta,
ada simpati total diberikan.

seiring penyerahan itu pula
terdengar alarm meraung-raung,
memenuhi udara dengan bising suara:

"Jangan terburu-buru, bahaya!
Tenang dan pelan-pelan saja."

aku jadi teringat sebuah kisah
seseorang yang begitu agung,
memuja kebaikan dan dalam jiwanya bersahaja
suatu prinsip yang begitu tinggi.

namun orang-orang sekarang
suka sekali dengan kerendahan,
kenistaan tanpa segala budi-pekerti,
cinta buta terhadap kepercayaan yang gelap,
mengamuk-amuk dengan nyala amarah yang kalap.

sang pengagum kebaikan pun tak tahan.
ia menyingkir, melipir ke arah lembah,
membangun sebuah pondok sederhana,
sesederhana keyakinannya akan kemuliaan insan,
di ambang pintu pondok kayunya,
ia menulis beberapa kalimat ramah:

"Kebaikan ada di hati kalian.
Masuklah ke pondokku ini.
Ada makanan dan minuman
untuk hatimu yang baik."

siapa yang tak tergiur?
undangannya yang terkesan ramah,
terdengar seperti ingin menghibur.

para penggemar perang pun
bergegas, tak menunda-nunda kedatangan.
mereka makan dan minum sampai kenyang,
sang pengagum kebaikan tercengang,
selesai makan dan dengan santai
kepalanya kutung dibantai.

aku baru tahu sekarang
ketika cinta itu buta,
ada peringatan hendak berkata:

"Hati-hatilah! Tak ada kemulian
dalam mata hati yang buta."

mengapa? para penggemar perang
tak sudi mencicipi hidangan kebaikan,
enggan mengasihi setiap orang,
dan kemuliaan jiwa hanyalah lamunan,
sebuah lamunan emas berasap,
tentu mereka tak ingin lesap,
gara-gara terpesona kemilau, diri menguap.