Coretanku



Mungkin aku cepat melupakan,
akibatnya terlalu sering merindukan.

Sesungguhnya itu kedua keahlian
yang kupikir sangat sepadan.

Apa yang bisa tetap berada seperti apa adanya?
Segala sesuatu mengalami perubahan.

Ada yang hilang untuk diresapi,
ada yang datang untuk melengkapi.

Tapi, begitu naif bila harus dipertahankan
seperti sabda yang kehilangan wibawa
atau tahta yang kehilangan mahkota
semua jelas dalam keinginan
untuk dilupakan atau dirindukan
berkata-kata sebagai pilihan

Melupakan atau merindukan
keahlian paradoksal yang riuh minta dirayakan!




"Perhatikanlah denganmu!" serunya mengagetkanku, "Katakan pendapatmu..."

"Tentang apa ini?!"

"Ah, kau tak memperhatikan rupanya dari tadi! Dengarkan aku baik-baik... Mencintai apa pun sepenuh hatimu, percayalah itu sama seperti berak di waktu pagi."

"Hei, tunggu dulu... Bagaimana bisa kau berkata begitu?!" Aku tak menerima pernyataan konklusifnya ini. Bagiku tak ada hubungannya sama sekali.

"Coba kau ingat saat kau berak... Sewaktu kau berak di pagi hari, kau harus tahan tarian uap amonia yang menari-nari, melintas masuk ke dalam lubang hidungmu, bukan? Tapi, jujur saja padaku... Kau pasti merasakan kenikmatan pelepasan. Sisa-sisa yang menumpuk di ujung usus pelepasanmu, luwes meluncur seperti dua penari bersepatu es skating di danau beku tertutup salju."

"Hmm, ya, kuakui itu. Ada sensasi nikmat kurasakan di momentum itu. Tapi, apa hubungan dengan mencintai sepenuh hati?"

"Sabar..." ujarnya menenangkanku yang penasaran, "Berak di pagi hari tentu saja sama dengan mencintai sepenuh hati. Berak itu upaya pembebasan dari bibit penyakit. Kau tahu bukan? 30% kuman dan bakteri bersarang dalam tiap potongan tahi nan eksotis yang kau lepaskan. Berak membuatmu lega sama seperti ketika kau mencintai sepenuh hati. Itu membebaskan jiwamu akan kegersangan menyukai diri sendiri. Walaupun, ketika kau mencintai sepenuh hati, ada godaan uap prasangka yang mengalir masuk ke dalam hati dan benakmu. Ini tentu saja sama dengan uap yang menebar semerbak di depan hidungmu saat kau berak."

Aku diam dan tekun menyimak penjelasanya.




Kalau mendengar frasa seperti 'Operasi Pasar' atau 'Pasar Murah', aku yakin tiap orang pasti langsung mengerti. Ketika harga barang kebutuhan pokok naik mendadak dikarenakan momentum perayaan tertentu, diadakan Operasi Pasar yang menawarkan kepada masyarakat ekonomi lemah barang-barang yang dibutuhkan dengan harga sesuai bentuk kantong dan dompetnya yang lepet.

Pasar Murah demikian pula. Orang-orang paham tentang istilah ini, yang berarti mari berkeringatan antri, dan siap-siap kena copet hanya untuk membeli sembako dan barang-barang lain yang terjangkau.

Lalu, bagaimana dengan 'Pasar Bingung'? Pasar Bingung ini khusus diadakan ketika seseorang sedang dibelit kekalutan, kepanikan akan rongrongan kantong dan dompet yang sama sekali tak menyimpan uang barang sepeser budek pun. Tetapi, ia masih punya beberapa barang pribadi andalan yang bisa dibarter dengan barang yang ingin diperolehnya. Di Pasar Bingung, percayalah, orang-orang akan dibawa kembali mencintai sejarah tanpa rasa haru biru akan nasib tersuruk-suruk yang tengah dialami. Di Pasar Bingung terjadi pengulangan peristiwa bersejarah ketika tiga ekor ayam ditukar dengan seliter beras. Bahkan, hari ini Pasar Bingung tetap eksis ketika harga diri ditukar dengan hasrat berkuasa atau keinginan untuk menjadi orang terpandang.




Seperti biasa ia duduk di sana
di antara pusaran misteri malam
di atas bukit menjulang seperti juga rona
pada bengkak rindunya membiru lebam.

Ia bukan menatap langit hitam berlubang bulat putih
tetapi ia sedang menambah kedalaman
hingga bulan adalah lorong cahaya
dimana tertinggal jejak cinta yang merawan di ujung rintih.

Pernah ia bertanya pada awan menggantung:
"Benarkah di sana semua harapan berujung?"

"Melangkah lah ke sana. Temui dan bawa kembali.
Tiap penantian selalu menuntut penemuan yang pasti,
seperti keyakinan yang meneguhkan."
Awan kelabu menerangkan.

Ia belum yakin. Mungkin karena keyakinan adalah titian.
Dan, diujung undakan ke puncak teguh kepercayaan:
harapan meraih cinta yang tertinggal di lorong cahaya
seumpama memaksa bintang yang merajuk bersinar.

Kini tiba waktu mengambil keputusan
Menunggu ─ kukuh dalam penantian
ia pun tetap duduk di sana berdebar-debar,
berlama-lama direngkuh gusar.