Cerpen Sunaryono Basuki Ks : Gajah di Pelupuk Mata

GAJAH DI PELUPUK MATA

Oleh SUNARYONO BASUKI KS



Tubuh Gajah ternyata tak meraksasa, tetapi orang tuanya, Sanca, telanjur memberinya nama Gajah dengan harapan anak itu takkan ditelan oleh orang tuanya sendiri.

Tuan Sanca adalah pengusaha kaya, dan politikus terkenal. Perusahaannya ada di mana-mana. Ada hotel berbintang di Makasar, ada perusahaan konstruksi yang mengerjakan kondominium besar di Jakarta, ada pula keikutsertaan dalam proyek Lapindo Brantas.

Harapan Sanca, anaknya juga menjadi pengusaha besar, sebesar gajah, sehingga Sanca takkan menelannya. Dia rela dikalahkan oleh Gajah, apalagi dia anak satu-satunya, anak semata wayang golek. Sebab, wayang kulit tipis dan matanya tak sebulat mata wayang golek.

Walaupun Sanca bukan orang Sunda, dia sangat menyukai wayang golek, terutama yang dimainkan oleh dalang Asep Sunandar. Mula-mula tak sengaja dia saksikan dalang itu bermain di TV, kemudian dia memerintahkan stafnya untuk mengundang dalang Asep lengkap dengan timnya untuk bermain di halaman rumahnya.

Ikut menonton wayang golek, ternyata Gajah memilih jalan hidupnya untuk menjadi seniman. Memang dia berhasil masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Jayanegara. Selama menjadi mahasiswa bukannya dia aktif dalam mengelola koperasi atau toko mahasiswa, tetapi justru memimpin Unit Kegiatan Mahasiswa Teater.

Memang Gajah tamat dari Fakultas Ekonomi sesuai dengan keinginan ayahnya, dengan nilai sangat memuaskan. Ayahnya menganjurkan Gajah untuk melanjutkan studinya di School of Business Administration di University of London untuk gelar master dan kalau bisa akan tetap dibiayai sampai mencapai gelar PhD. Menerima pesan-pesan ayahnya sebelum berangkat, Gajah hanya mengatakan, "Ya, Ayah."

Dana tidak terbatas, bisa digunakan kapan saja dan untukl apa saja, tersedia dalam rekenuing banknya. Kalau perlu, tambahan dana bisa ditransfer melalui Western Union atau cabang Bank BNI di London. Di University of London Gajah menemukan lahan baru, kelompok baru, teman-teman baru dalam berkesenian. Selain bergabung dengan Islamic Society, dia juga menjadi anggota Film Society, dan tentu saja Drama Society.

Kepada ayanya selalu dilaporkan melalui telpon kegiatan belajarnya di kampus, juga Islamic Society dengan shalat Jumat bersama di Masjid Besar London, tetapi, dia sama sekali tak pernah memberi tahu ayahnya bahwa dia juga aktif dalam kegiatan teater dan film. Dalam kegiatan teater, dia tidak hanya ikut menonton, tetapi juga ikut terlibat dalam pementasan, sebagai penata artistik, sebagai penata musik, dan bahkan pada pementasan The Tempest, dia ikut berperan.

Setiap kesempatan dia menonton semua pertunjukan di West End. Dia menonton Ghost karya Henrik Ibsen, The House of Bernarda Alba karya Ferderico Garcia Lorca, dan juga The Mousetrap karya Agatha Christie. Dia juga langganan tetap menonton di The Royal Shakespeare Theatre di London, terkadang bila sedang musim pertunjukan juga menginap di Strtaford -- upon-Avon untuk menonton pertunjukan-pertunjukan drama di The Royal Shakespreare Theatre di kota kelahiran dramawan besar itu.

Dalam tempo duabelas bulan dia menyelesaikan gelar masternya, karena masa studinya memang 12 bulan, berbeda dengan program serupa di Indonesia yang bisa molor sampai tiga tahun. Karena hasilnya yang baik, menurut laporan Gajah, dia juga diterima melamar untuk program Master of Philosophy leading to PhD.

Bulan September saat dia lulus, Tuan Sanca mengundangnya untuk pulang sebab dia ingin merayakan keberhasilan studi anak semata wayang golek itu. Walau wisuda masih akan berlangsung bulan Desember, toh dengan bangga Tuan Sanca mengumumkan kepada para tamunya bahwa Gajah sudah menyandang gelar MBA dari London.

"Anak kami Gajah telah berhasil dalam studinya. Kami merasa bangga dan bersyukur, sebab dia tak meniru ayahnya yang bodoh ini, hanya suka bermalas-malasan dan tidur, terutama setelah makan."

Hadirin tertawa ketika Sanca juga ketawa.
"Dia kan barusan makan PT Kambing Gemuk," seorang tamu berbisik. "Tentu saja sekarang dia tidur sebab kekenyangan."

Gajah kelihatan gagah sekali berdiri di samping Tuan Sanca. Badannya masih tetap kurus juga walau dipasok gizi bagus di Inggris. Tiap pagi minum susu, tiap makan tak lupa makan buah anggur atau jeruk atau strawberry kalau sedang musim, atau buah apel, dan pear.

Dalam pesta itu dia mengenakan kemeja batik corak modern karya pebatik terkemuka Iwan Tirta. Tetapi yang paling menarik bagi Gajah ialah terhidangnya sejumlah makanan tradisional yang sengaja dimintanya untuk kesempatan itu. Jengkol kesayangannya terhidang dan juga buah mangga arum manis yang sedang musim.

Gajah segera kembali ke London, tergesa ingin memulai studinya lagi. Di asrama yang sama, di kamar yang sama, dia disambut oleh suasana yang sama. Minggu pertama bulan Oktober udara sudah mulai dingin, dan kuliah-kuliah dimulai. Gajah merasa bersalah kepada Tuan Sanca sebab dia telah berbohong. Memang dia menempuh program Master bidang Business Administration sesuai dengan kehendak ayahnya, tetapi, sekarang dia mendaftarkan diri untuk program Master bidang Theatre Studies yang nantinya akan dia lanjutkan dengan program PhD. Dia yakin dapat menyelesaikan kedua program itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Dia punya kecintaan luar biasa kepada seni terutama teater. Dia sudah menangani sejumlah pementasan bersama mahasiswa dari Malaysia dan Afrika yang mengambil program Master. Sekarang dia tahu lika-liku studi di program itu, dan resmi menjadi mahasiswa teater. Dia mulai dengan tekun belajar teori seni, sejarah dan teori teater.

Soal sejarah teater yang katanya berasal dari upacara sesuai dengan pendapat Sir James Frazer, Levi-Strauss, dan Malinosvki yang semuanya ahli anthropologi jagoan, dia tak punya masalah untuk memahaminya. Soal teater Yunani kuno dengan tiga menulis tragedi terkemuka dan penemuan mereka tentang jumlah aktor atau kemampuan suara yang terlibat juga dapat dipahaminya dengan mudah. Soalnya, dia juga paham mengenai teater Bali, ada topeng pajegan yang dipentaskan mirip saat jaman kuno di Yunani. Yang lebih modern ada topeng bondres, dengan tiga pemain tetapi memerankan banyak tokoh.

Ternyata dia bertemu kembali dengan Francis Katamba yang sudah menyelesaikan program master teaternya, dan sekarang justru kembali mau menulis disertasi tentang teater tradisional di negerinya. Setelah menyelesaikan kuliah-kuliah teori, dia yakin harus kembali ke Indonesia untuk melakukan penelitian di Bali tanpa singgah di Jakarta, bahkan tanpa melapor kepada Tuan Sanca. Kalau ayahnya tahu proyek besar yang digarapnya, pasti akan pingsan. Anak semata wayang golek akan menjadi doktor seniman atau seniman doktor. Apapula komentar anak buahnya? Tidak ada kata-kata: air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

Tapi, Gajah punya senjata ampuh, yakni kata-kata Gilbran, "Anakmu bukan anakmu," untuk mengelak.

Saat berada di Ubud, telpon Gajah berdering, "Papa besok akan ke London. Ada bisnis penting. Apa kita bisa bertemu? Sudah rindu."

Gajah gelagapan, tetapi, dasar dia seorang aktor, segera dia jawab, "Wah, Papa, saya sedang sibuk sekali melakukan penelitian jauh di Aberdeen, soal bisnis ikan laut utara."
"Tapi, kan kamu bisa terbang ke London. Tinggalkan saja proyek itu."
"Maaf, Papa, ini Inggris, bukan Indonesia. Appointment yang sudah dibikin tak bisa seenaknya diubah."

Tuan Sanca dapat diperdaya oleh Gajah, namun di London dia suruhan orang untuk menyelidiki anaknya sampai di asrama, dan menemukan informasi yang mengejutkan. Sudah enam bulan Gajah pulang ke Indonesia melakukan penelitian. Dan, dari penjaga asrama dia mendengar bahwa Gajah adalah mahasiswa teater, bukan mahasiswa bisnis.

"Kamu bohong sama Papa. Kamu di Indonesia, kan? Tak ada Gajah yang mahasiswa bisnis, tetapi ada Gajah mahasiswa teater. Kamu gila, ya!"

Dengan tersenyum dia menjawab, "Tidak, Pa. Aku tidak gila, sebab bila gajah gila, bisa mengamuk dan menginjak-injak ular sanca."
"Duh, Gajah. Gajah di pelupuk mata, kok aku tak tahu."

Tetapi, dia tidak pingsan sebab tahu bahwa Gajah mengambil program PhD, walaupun bidang teater. Kalau dia pulang, dia akan dibangunkan sebuah gedung pertunjukan modern dan megah, lebih megah dari Jakarta Convention Center.***


Sumber Cerpen : Surat Kabar Harian Republika, Minggu, 08 Juli 2007

Jadi Ilmuwan

1. JADI ILMUWAN

Ia sudah mampu membakar satu lapisan tipis yang menabir pandangan matanya selama ini. Kini semua tampak kian jelas baginya!

Saat kutanya, "Kau besar mau jadi apa?"

Langsung dijawabnya, "Jadi ilmuwan, pak!" katanya mantap.

"Kenapa mau jadi ilmuwan?" aku ingin tahu pendapatnya.

"Supaya kuman di seberang lautan nampak, pak!"

Aku terdiam mendengarnya.


2. LOVE

She whispered me secretly, "Sssttt.. I'm a little naive, honey.."

"Why?" I asked her curiously.

"When you hug me, I feel like being in Heavens!" said her.

"But we're still here! We live in our simple shelter anyway!"

"You know what, honey.. Love's changed this shelter into a beautiful palace.."

"Merci.. I see it, my love.."


3. KETIKA KAU MERANTAI JIWAKU

"Kaulah hidupku.. Saat sepotong hati ini kau curi, tawar semuanya terasa tanpamu," dua bulir bening menitik di kedua sudut matanya.

"Aku hilang dalam kilau cahayamu," kini ia sesunggukan. Lara mengiris, mencukai luka hatinya.

"Aduh, Mbak.. Jadi nggak belinya?! Kalung berlian ini emang mahal! Tapi jangan nangis gitu dong?!" seru penjual perhiasan itu dongkol.

Cerpen Benny Benke : B a p a k

Bapak
Oleh : Benny Benke

Sebagaimana nasib juga yang meminta bapak pulang, karena telah dinilai paripurna mengantarkan kami semua, ke rumah nasibnya masing-masing.

"If they ever tell my story, let them say I walked with giants. Men rise and fall like the winter wheat, but these names will never die. Let them say I lived in the time of Hector, tamer of horses. Let them say I lived in the time of Achilles." (Odysseus)

BAPAKKU bukan Achilles yang nyaris tak terkalahkan. Yang dengan gemilang menyungkurkan pangeran Hector demi membela kehormatan kerajaan Troya, hanya gara-gara Paris, adik terkasihnya, mencuri Helen dari Sparta. Tapi serupa dengan serdadu terpilih dari negeri para dewa, yang dikisahkan Homer dalam Illiad, bapakku adalah petarung yang siap menggadaikan apa saja yang dimilikinya, termasuk nyawa, demi apapun yang diyakininya.

Jangan tanyakan penderitaan macam dan seperti apa yang belum beliau tanggungkan. Sebagaimana Raja Priam dari Troya yang pecah hatinya mengetahui Hector, putra terkasih dan penerus tahta binasa di tangan Achilles, bapakku pun pernah dua kali hancur hatinya menyaksikan dua buah hatinya wafat, setelah bertarung dengan dengan el maut.

Adakah hati yang lebih perih selain perasaan seorang bapa ditinggalkan buah hatinya?

Tapi, sebagaimana kisah klasik tentang orang-orang yang berhasil melawan dirinya sendiri. Bapakku berhasil bangkit lagi menghadapi hidup, untuk kemudian hancur kembali hatinya, ketika istri terkasihnya harus mangkat ke alam baka, setelah ditelikung kanker rahim. Dengan meninggalkan tiga bocah, dua balita, dan seorang bayi pada 1978. Itu belum semua, karena sengkarut urusan keluga besar, bapakku terusir dari rumah almarhum ibu, bersama keenam mutiaranya. Bahkan ketika kuburan istri terkasihnya masih basah.

Aku tidak tahu persis sebab pengusiran yang diwarnai penghinaan itu. Nanti akan aku ceritakan muasalnya.

Yang pasti, dari situlah, drama bapak dalam mengasuh, membesarkan, mewarnai, memaknai sekaligus menjaga kehidupan enam mutiaranya dengan segala keberaniannya bermula. Dan penderitaan, pada titik itu juga, seperti karib yang senantiasa rajin bertandang di rumah nasib bapak. Dia, sang penderitaan itu, bisa datang dalam bentuk apa saja, dan kapan saja.

Sebutkan berbagai macam nama cobaan yang pernah dialami anak manusia dalam menjalani garis takdirnya. Atau nukilkan berbagai kisah tragedi yang sohor diceritakan raja dongeng seperti Homer, Shakespeare dan banyak nama sohor lainnya dari Rusia seperti Leo Tolstoy dan sebangsanya yang belum pernah dicobakan kepada bapak.

Atau jika kurang, tarungkan bapak dengan kondisi kehidupan yang paling muskil sekalipun, maka atas nama jaminan segala keberaniannya, akan dilawannya semua kondisi yang berjabatan erat dengan segala bentuk penderitaan itu. Aku jamin bapakku akan menjadi pemenangnya.

Pertarungan akan menjadi lebih heroik jika bapak dihadapkan pada kasus membela anak-anaknya. Maka, layaknya induk singa melindungi anak-anaknya, dilabraklah apapun dan semua yang ada di depannya. Tanpa terkecuali. Tembok kekuasaanpun akan dilawannya. Meski nyawa -sekali lagi- bayarannya.

Jika nyawa sudah dipertaruhkan di meja nasib, jangan tanyakan persoalan jabatan, harta benda, dan ihwal remeh temeh keduniawian lainnya. Semua menjadi nomor sekian. Dan tak penting lagi. Nothing else matter.

Seorang diri. Hanya seorang diri, bapak, sarjana lulusan perdana fakultas ilmu sosial dan kemasyarakatan, salah sebuah universitas negeri ternama di Jateng,- yang harus diundur wisudanya hanya lantaran Gestapu meletus pada tahun 65-, membesarkan kami semua.

Sesekali eyang putri, ibu dari pihak bapak mengulurkan pikiran dan tangan untuk mengawasi kami semua, karena bapak harus mengibarkan layar nafkah hingga ke luar kota. Bayangkanlah keadaan seekor induk singa yang terluka karena dihinakan keluarga besar dari pihak almarhum istrinya, dengan sejumlah kata melecehkan seperti, "Apa mampu membelikan susu (buat jabang bayinya)", dua jenak setelah sigaring nyawanya mangkat ke alam nirwana.

Dan yang melecehkan adalah ibu mertuanya sendiri -ibu dari pihak almarhum ibu-, dan dilakukan di depan ibu kandungnya, atau eyang putri kami.

Demikianlah bapak yang terluka, meradang, dan timpang emosinya mencoba membesarkan kami semua; anak-anaknya. Dengan segala kekurangkomplitannya sebagai orang tua tunggal, serta dendam yang terus berkesumat sebagai bara, bapak sekaligus merangkap peran sebagai ibu bagi kami semua; enam permata yang laki-laki semua.

Kadang dan seringkali, beliau malihrupa menjadi kawan sepermainan yang paling menyenangkan bagi kami. Layaknya malaikat yang menyaru jadi manusia. Tapi pada waktu yang berbeda, beliau juga sangat bisa menjadi penghukum yang tak tertawarkan karena otoritas mutlaknya. Sebab kami abai, lalai bahkan di luar kesadaran, memunggungi prinsip hidupnya, yang zakelijk itu.

Seperti norma-norma yang muda menghormati yang tua, dan yang tua melindungi yang muda. Dan berbagai norma budi pekerti standar lainnya.

Dalam kekerasan hatinya itulah, diam-diam kami tumbuh sebagai kanak-kanak yang tidak biasa, dan tidak mudah menyerah. Cenderung berani berkelahi dengan situasi yang tidak mudah. Saya katakan cenderung karena, tidak semua saudara-saudara saya gemar bertubrukan secara fisik.

Meski tentu saja secara esensi tetap berani berkelahi dengan nasibnya masing-masing. Dan secara tekad, saya meyakini, semua anak-anak bapak bermental kuat, sekaligus liat.

Ihwal intelektualitas...kami bukan segerombolan domba yang dungu dan hanya manut pada keadaan. Meski tentu saja tidak mudah berada pada posisi ideal seperti itu. Tapi dari bapaklah kami banyak belajar menimba kekuatan, ketabahan, keberanian, kejujuran, kemurahhatian, ketekunan, kesolehan, sekaligus berani menanggungkan kelaraan yang bisa datang kapan saja dalam rupa suka-suka, semaunya. Pelajaran tentang kepapaan juga tak ketinggalan diberikan. Maka jangan heran jika kami semua tidak ada yang gentar dengan ancaman laten kemiskinan.

Intinya, dari bapak kami ngaji urip. Dari bapak, kami sinau kedalaman.

Bapak, bagi kami anak-anaknya adalah sumur ilmu pengetahuan, yang menyimpan bergalon-galon air kecendekiaan yang tak terpermaknai. Dari sumur ilmu pengetahuan itulah, kami diberi sangu untuk menghadapi, mewarnai, memaknai juga merayakan hidup. Jadi bukan harta juga benda yang bapak wariskan, melainkan ilmu dan pengetahuan, juga iman yang sepadan. Di luar soal keberanian itu.

Bahwa bapak tidak atau jauh dari sempurna, itu benar adanya. Tapi, dari ketidaksempurnaannya itulah, bapak menjelma sempurna sebagai manusia yang berkekurangan.

Bahwa bapak mempunyai musuh dalam hidupnya, itu juga fakta yang tak terbantahkan kebenarannya. Kami juga sangat mafhum, musuh terbesar dan nomor wahid bapak adalah dirinya sendiri; kekerasan hatinya. Tapi dari kekerasan hatinya pula, kami anak-anaknya selamat semua -paling tidak hingga hari ini, hingga aku larikkan tulisan ini-, dan terhantarkan pada kunci nasib masa depannya masing-masing.

Meski kami juga tahu, diam-diam masih ada, dan banyak sisi lembut bapak.

Yang sebagaimana lelaki sejati, sebagaimana tabiat kebanyakan para ksatria galibnya, emoh atau tidak sudi mengumbar apalagi mempertontonkannya secara langsung di depan mata anak-anaknya, apalagi publik. Aku baru tahu maksud dibalik sikap bapak yang gemar menyembunyikan rasa sayang kepada anak-anaknya setelah besar nanti.

Supaya kami tidak menjelma pribadi yang cengeng, juga lemah ketika bersemuka secara langsung dengan kerasnya nasib yang tak tertawarkan. Sebagaimana nasib juga yang meminta bapak pulang, karena telah dinilai paripurna mengantarkan kami semua, ke rumah nasibnya masing-masing.

Selamat jalan bapak.

(Benny Benke, Mei setelah bapak pergi, tapi tak pernah mati)

Esei dari Abdul Hadi W. M : Sutardji dan Puitika Timur

SUTARDJI DAN PUITIKA TIMUR
oleh Abdul Hadi W.M
25 April 2011 jam 21:16


Sutardji adalah penyair Indonesia mutakhir yang paling banyak disorot dan dibicarakan sejak tiga dasawarsa lampau. Kalau bukan disebabkan oleh gebrakan kredo puisi dan sajak-sajaknya, sorotan pasti tertuju pada aksinya di pentas dalam membacakan sajak-sajaknya. Sejauh mengenai sajak-sajaknya, dan kaitan dengan kredo puisinya, tampak kecenderungan umum untuk hanya menyorot segi formal dan struktur lahir dari ungkapan estetiknya.

Struktur batin sajak-sajaknya, pandangannya tentang hakikat puisi dan kata dalam puisi, yang memberi corak tersendiri pada semangat kepenyairannya jarang sekali dibicarakan. Pembahasan berkenaan semangat keruhanian atau asas metafisika yang melapisi sajak-sajaknya di masa lalu dilakukan antara lain oleh Dami N. Toda dan Popo Iskandar. Dami N. Toda mencoba memahami lompatan yang dilakukan Sutardji dalam perpuisian Indonesia melalui wawasan estetik yang diduga melandasi penciptaan sajak-sajak mantranya. Popo Iskandar mengaitkan lompatan estetik yang dilakukan sang penyair dan topografi sajak-sajaknya yang jalin menjalin seperti pantun berkait.

Belakangan Donny Gahral Adian (2007) mencoba meneliti jiwa yang melandasi pembrontakan dan perlawanan Sutardji terhadap konvensi dan norma-norma sastra yang berlaku dalam persajakan Indonesia modern. Meurut Gahral Adian, puisi Sutardji membuat kita berpikir tentang hakikat puisi dan sekaligus merupakan esai panjang tentang puisi. Ia menantang persepsi kita tentang kata dan manusia, bahkan merupakan sebuah esai filsafat tentang bahasa, khususnya kata. Menurutnya lagi Sutardji ingin menghidupkan puisi yang mati suri di bawah bayangan bentuk–bentuk normalitas seperti filsafat, agama, ideology, dan seni, bahkan kebaikan, keindahan, dan lain sebagainya.

Tapi sayang, karena Donny Gahral bertolak dari asumsi posmodernisme yang skeptis terhadap kesanggupan bahasa dalam mengungkapkan makna, suatu hal yang sebenarnya ditolak oleh Sutardji sendiri (2006), maka pendapatnya itu menyisakan banyak pertanyaan baik tentang hakikat puisi maupun tentang peranan kata dalam penuturan puitik. Kecuali itu bahasannya cenderung ahistoris, padahal kredo puisi Sutardji paling mungkin dipahami jika dilihat dalam lingkait atau konteks perkembangan puisi Indonesia modern atau kecenderungan umumnya sejak awal 1950an hingga pertengahan 1960an. Ia menolak kecenderungan menjadikan bahasa dalam penuturan puitik hanya sebatas alat komunikasi, malahan juga menolak pendirian bahwa bahasa merupakan media ekspresi.

Pernyataan Sutardji dalam kredonya 1973 bahwa, ‘Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian’ melainkan ‘Pengertian itu sendiri dan dia bebas’ dapat dipahami dalam lingkait itu. Ia tidak lahir dari sikap skeptip atau sangsi terhadap bahasa, juga bukan dari keyakinan matinya ‘subyek’ (yakni penyair serta kewenangannya menafsirkan kebenaran) dan puisi. Melalui kredonya itu Sutardji menolak teori representasi (mimesis) kaum formalis yang memandang sastra sebagai tiruan kenyataan yang dilontarkan kembali oleh penyair menggunakan sarana imaginasi dan bahasa figurative. Ia juga tidak puas dengan teori ekspressi yang menyatakan bahwa puisi atau seni sekadar luahan perasaan individual sedalam-dalamnya. Apa yang dinyatakan penyair sepenuhnya subyektif, makna dan semangat yang disugestikan dalam sebuah puisi dapat dibagi kepada khalayak pembaca. Melalui proses pembacaan yang intens, bisikan-bisikan halus puisi dapat bergema kembali dan menggetarkan hati orang lain. Apa yang semula tampak subyektif, kini menjadi obyektif dan hidup dalam jiwa pembaca. Ketakhadiran digantikan dengan kehadiran (presence), yang berbeda (difference) berubah menjadi yang tak berbeda. ‘Aku’ penyair berubah menjadi ‘aku’ pembaca.

Pandangan Sutardji dalam hal ini saya kira dekat dengan teori presentasi Gadamer yang berpandapat bahwa puisi adalah penyajian pengalaman estetik penyair secara simbolik. Pendapat Gahral yang lain yang tidak kalah penting untuk dicatat karena tidak produktif bagi pemahaman ‘yang semestinya’. Menurut Gahral lagi, kehadiran kredo dan sajak-sajaknya Sutardji ingin menghidupkan puisi yang mati suri di bawah bayangan bentuk-bentuk normativitas seperti filsafat, agama, ideology, dan seni, bahkan kebaikan, keindahan, dan lain sebagainya. Ia ingin membawa kita melihat bahwa sajak-sajak Sutardji anti-filsafat, anti-agama, anti-ideologi, dan bahkan anti-seni. Dengan mudah pendirian ini dapat ditangkis, karena sajak-sajak Sutardji bukan saja mengandung dimensi religius dan sufistik, tetapi juga kaya dengan renungan falsafah dan hadir pula sebagai ragam seni yang bermutu.

Lagi pula pada hakikatnya, keindahan atau kebenaran sebagai nilai, tidak normatif selama masih menjadi penghuni jiwa dan atau hati nurani. Tetapi begitu dihadirkan menjadi teks, menjadi sukhan atau wacana, ia lantas menjadi normatif dalam arti membentuk normanya sendiri. Pendapat Harry Aveling membenarkan pendirian ini. Menurut Harry Aveling (2007) sebagai penyair Sutardji tidak menghancurkan norma-norma puitika lama. Dia hanya merubah kovensi sastra yang tumbuh dalam sejarah persajakan Indonesia modern dan berusaha meneroka bahasa, bentuk dan makna puisi dengan cara yang berbeda.

Bertolak dari dua pandangan yang berbeda itu, saya ingin menyajikan semacam testimoni terhadap arti kehadiran puisi Sutardji dalam sejarah persajakan Indonesia modern. Testimoni itu perlu saya lakukan karena banyak hal yang dikemukakan oleh dua kritikus yang telah disebutkan menyisakan banyak masalah, yang paling tidak – jika tidak bisa didialogkan, dapat diperdebatkan, asal saja produktif. Testimoni yang akan saya lakukan berhubungan dengan aspek batin puisi Sutardji. Pertanyaan apa hakikat puisi pada dasarnya bertalian dengan pernyataan apa kodrat puisi, dan peranan bahasa/kata dalam penuturan puitik. Selanjutnya pertanyaan tentang apa kodrat dan hakikat puisi bertalian pula dengan jiwa atau semangat tertentu yang mendasari lahirnya penuturan puitik dalam sejarah peradaban manusia.

Untuk menjawab persoalan ini saya akan mempertemukan, pertama-tama puisi Sutardji dengan puitik Hagiwara Sakutaro, penyair Jepang yang wafat pada tahun 1941 dan dipandang sebagai bapak puisi kontemporer (gendaishi) Jepang. Kemudian, oleh karena Sakutaro kurang meneroka hubungan kodrat puisi dengan hakikat bahasa puitik/tujuan penciptaan puisi, maka saya merasa perlu melengkapi pembahasan tentang sajak-sajak Sutardji dengan hermeneutika puitik Abhinavagupta, seorang filosof, mistikus, penyair, dan pendiri Tantrisme Siwa dari Kasymir, India, yang hidup pada abad ke-11 M.

Penyair dan Shiseishin

Karena itu tidak mengherankan jika keduanya tidak terlalu mempedulikan bentuk pengucapan yang teratur dan rapi, kecuali dalam beberapa saja dari puisi mereka. Persamaan lainnya keduanya menekankan pentingnya hakikat puisi, peranan bahasa dan penjelmaannya dalam penuturan puitik. Semua itu bertalian dengan aspek batin sastra, bukan semata dengan aspek lahir dan formal penuturan sebagaimana disangka banyak pengamat atau kritikus. Ada persamaan antara dua penyair yang telah disebutkan itu, di samping tentu saja ada pula perbedaan. Keduanya memiliki koitmen yang besar terhadap sajak-sajak bebas (dimaksudkan oleh Sakutaro sebagai semangat puitik yang dimiliki penyair pada umumnya. yang kerap diartikan sebagai semangat puitik yang dimiliki penyair tertentu. Sedangkan dan hakikat puisi sangat berakar dalam puitika Jepang dan Cina yang berkembang di kalangan penganut Chan Buddhisme atau Zen Buddhisme. Dalam puitika Zen Buddhisme dikenal istilah , yang oleh Makoto Ueda (1983) diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai ‘poetic spirit’. Walaupun Sakutaro menimba pengaruh bagi gagasannya dari beberapa filosof dan penyair Barat seperti Plato, Goethe, Schoupenhauer, Nietszche dan Edgar Allan Poe, namun pandangannya tentang Menurut Hagiwara Sakutaro puisi tidak pernah disebut puisi disebabkan bentuk lahirnya, tetapi karena semangat atau kekuatan batin yang menggerakkan hayatnya. Ia menyebut semangat yang tersembunyi di balik pengucapan puitik sebagai.)

Dalam wadah bahasa figuratif yang disebut puisi (Dalam sejarah puitika Cina hal yang sama dikemukakan oleh misalnya Wang Fu Chih, seorang filosof, penyair dan mistikus Chan Buddhisme abad ke-17 yang kesohor. Menurut Wang puisi tidak dapat dikatakan sebagai puisi semata-mata karena rangkaian kata-katanya yang disusun dengan aturan tertentu yang membuatnya berbeda dari prosa. Puisi juga tidak dapat dipandang sebagai perasaan yang disugestikan melalui kata-kata. Dalam puisinya seorang penyair ingin menjelmakan sebuah puisi tidak pernah dapat dijumpai dari ungkapan formalnya, sebab ia memang terletak di suatu tempat di mana tidak ada kata-kata. dapat diartikan sebagai renungan, perasaan, gagasan puitik, pemikiran, atau tanggapan terhadap hidup yang disampaikan dengan cara tertentu (Sui Kit Wong 1978). Di sebalik ungkakan puitik tersembunyi spirit tertentu yang diisyaratkan dan menggerakkan hidupnya sebuah puisi dari dalam. Karena itu makna (Sebagai istilah estetika) yang lahir dan berkembang di lingkungan penganut Zen Buddhisme dan juga puisi Sutardji sendiri. Haiku yang dimaksud ialah seperti berikut:Untuk menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Wang Fu Chih itu benar, saya cukup memberi contoh sebuah puisi Jepang:

Meigetsu ya
ike wo megurite
yo-mo-sugara

Bulan terang
di kolam, aku berkeliling
dan malam hilang

Subagio Sastrowardojo 1971)

Yang sederhana puisi ini mampu menghidupkan suasana hening yang memberikan semacam pencerahan. Puisi ini tidak pengertian atau idea apa pun apabila yang dimaksud dengan pengertian atau idea bukan idea puitik atau pengalaman estetik disebabkan tercerahkannya kalbu. Dengan perkataan lain suasana hening dan keriangan rohani dapat dihidupkan melalui citraan alam dan pengalaman lahir. Malam dan juga bulan hilang lenyap dalam kesadaran subyek (penyair) yang tercerahkan.Melalui citra penglihatan.

Sekarang marilah kita simak sajak “Kubur” Sutardji Calzoum Bachri seperti berikut:

di lapangan berlayar kubur-kubur
kau dengar denyarnya
membawa pelabuhan pergi
di luar kubur
orang orang tanpa pelabuhan
melambaikan tangan
para pelaut
tak memberikan lambaian kembali

Dengan serangkaian citra lihatan, penyair membawa pembaca ke suatu dunia atau peristiwa di luar bahasa yang mengatasi kenyataan keseharian. Di dalam berpadu dua dimensi penting dari kehidupan manusia, yaitu kesadaran batin dan dimensi keberadaan (eksistensial) yang kongkrit , yaitu kepiluan dan kesendirian. Kepiluan dan kesendirian yang terbayang dalam sajak ini bukan kepiluan dan kesendirian lahiriah, melainkan kepiluan dan kesendirian spiritual yang membawa seseorang paham makna hidup.

Sering Sutardji menulis sajak seolah bermain-main dengan bahasa begitu bebasnya, tetapi tetap sajaknya menyajikan makna atau pengalaman estetik tertentu. Misalnya sajak berikut ini:

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sesaupa sepisaupi
sepikul diri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi

(1973)


Dalam lingkait sejarah persajakan Indonesia modern, sajak Sutardji ini memang terkesan sebagai epskerimental. Pada dasarnya ia berusaha membangkang tertahadap aturan-aturan ketat yang memandang puisi harus ditulis dengan dahi berkerut, penuh tanggungjawab (STA), kata-kata dipilih dengan serius (Chairil Anwar), dan lain-lain. Tetapi betapa pun demikian, jika kita baca rekaman-rekaman puisi lama dari berbagai peradaban, termasuk mantra-mantra Melayu dan Nusantara, apa yang dilakukan Sutardji sebenarnya merupakan pembongkaran dan penggalian kembali khazanah puitika lama yang telah tertimbun dan sengaja ditimbun, misalnya karena dianggap sebagai tradisi lapuk seperti dinyatakan oleh para pencetus Surat Kepercayaan Gelanggang (1949).

Bermain dengan kata-kata, mengutak-atiknya untuk menemukan penuturan puitik yang unik dan memikat, dapat dijumpai dalam khazanah sastra lama. Seorang penyair India atau Sanskerta abad ke-3 M menulis seperti berikut ini:

samesamasamomasassamememassasamasama
yoyatayatayayatiyayatyayatayataya

Bagi pembaca sastra Sanskerta sendiri puisi tersebut terasa menggelikan dan menimbulkan tawa, oleh karena seakan main-main. Memang sajak itu menyimpang dilihat dari sudut gramatika dan konvensi persajakan Sanskerta ketika itu. Tetapi tidak berarti tidak punya makna. Secara agak kreatif sajak tersebut dapat diterjemahkan sebagai berikut:

jikakaujauhsatuharirasasatutahun
nanamunjikakaudisinisatutahunrasasatuhari

(metafora). Karena disampaikan melalui bahasa figuratif sastra, yang dalam dirinya penuh nuansa, maka komposisi puitik sebagai bangunan kerohanian yang kompleks dan terstruktur sedemikian rupa merupakan makna yang menurunkan makna-makna (Abdul Hadi W.M. 2004).(perumpamaan, simbol), dan (kias), yang kurang penting dibanding citraan atau image ialah merupakan komponen utamanya. Komponen lain dari ) yang di dalamnya citra atau citraan (Marilah kita kembali pada pokok bahasan kita, yaitu masalah penempatan citraan lihatan dalam kedudukan sentral dalam puitika Timur. Penempatan seperti itu ternyata tidak hanya berkembang dalam kesusastraan Cina dan Jepang, tetapi juga ditemui dalam puitika Arab Persia dan India. Estetikus Arab Persia terkemuka abad ke-11 M Abdul Qahir al-Jurjani juga telah mengatakannya. Menurut al-Jurjani, penuturan puitik berbeda dari penuturan diskursif prosa bukan disebabkan aturan formal cara penulisannya, melainkan disebabkan bangunan batinnya yang dijelmakan dalam bahasa figuratif sastra (

Semangat puitik, kata al-Jurjani, pada hakikatnya berada dalam cara penyair memandang sesuatu yang berbeda dari cara pandang biasa sehingga puisinya selalu tampak segar atau baru. Atau seperti dikatakan penyair Sanskerta abad ke-4 M, “Tujuan penyair menulis bukan hanya untuk menunjukkan bahwa bulan seperti wajah seorang gadis jelita, melainkan untuk menyampaikan dengan cara berbeda dan pesona tertentu” (Brough 1982).

setidak-tidaknya ada delapan yang dapat dikesan: Pertama, puisi berusaha melampaui kenyataan. Di sini semangat puitik secara esensial ialah romantik (baca: adventurir); kedua, puisi senantiasa mencari yang ideal. Di sini semangat puitik secara esensial ialah personal; ketiga, puisi memperbaiki bahasa. Di sini semangat puitik secara esensial bersifat retorik; keempat, puisi mengangkat keindahan setara dengan kebenaran. Di sini semangat puitik secara esensial ialah estetis; kelima, puisi mengeritik kenyataan. Di sini semangat puitik secara esensial menyampaikan hikmah secara halus atau tersirat; keenam, puisi mengangankan dunia yang transendental. Di sini semangat puitik secara esensial ialah metafisik; ketujuh, puisi menuntut bentuk. Di sini semangat puitik secara esensial ialah normative; kedelapan, puisi menuntut kebangsawanan jiwa dan keunikan. Di sini semangat puitik secara esensial mengunggulkan yang spritual di atas yang fisikal.Ciri-ciri dalam bukunya Kembali ke Sakutaro. Untuk memahami apa yang dimaksud semangat puitik kita harus membaca uraiannya tentang cirri-ciri.

Dalam hubungannya dengan sajak Sutardji barangkali yang penting ialah yang pertama, kedua, ketiga, keempat dan keenam.

Rumah Metafisik Penyair

atas kenyataan secara intelektual dengan memasukkan perasaan ke dalamnya dan menggunakan imaginasi. Pandangan tersebut secara tersirat ditolak oleh Sakutaro. Dia memandang hakikat puisi pada umumnya bersifat spiritual, karena ia dihasilkan melalui proses kejiwaan yang berbeda dari penuturan biasa. Penyair terutama sekali menggunakan peralatan intuisi dalam memandang dan menanggapi dunia dan keberadaannya, dan membangun ungkapan puitiknya dengan menggunakan imaginasi. Ciri pertama dari semangat puitik yang diuraikan Sakutaro berkaitan dengan pertanyaan yang sering dilontarkan orang tentang hubungan puisi dengan kenyataan, khususnya kenyataan sosial dan kenyataan keseharian pada umumnya. Kaum realis dan naturalis sangat menekankan hubungan antara puisi/sastra dan kenyataan. Mereka memandang sastra sebagai representasi atau tiruan (yang pertama ini berkaitan dengan ciri keenam, yaitu kecenderungan penyair untuk mengeritik kenyataan keseharian yang cenderung distortif karena tampak putus hubungannya dengan alam metafisik di atasnya di mana ia sebenarnya berakar. Kenyataan lahir dari kehidupan ini sesungguhnya juga bersifat temporal, tidak langgeng. Penyair menginginkan yang kekal atau yang trasendental, artinya yang mengatasi ruang dan waktu atau alam fisik yang merupakan kediamannya. Seperti dikatakan Sakutaro, sifat ungkapan puitik pada dasarnya melambung tinggi mengatasi kenyataan fenomenal dalam ruang dan waktu.

Ciri

Seperti Sutardji, Sakutaro berbeda dari penulis realis atau naturalis yang mencari tempat berteduh bagi kegelisahan jiwanya dalam tatanan kehidupan sosial tertentu yang dicitakan. Penyair sejati menurut Sakutaro mencari tempat berteduh di alam idea atau alam metafisik, sebab hanya di alam seperti itu ia melihat kenyataan dalam kehidupan lebih jernih dan dapat pula mempertanyakan apa hakikat kehidupan sebenarnya. Penyair dilahirkan, bukan dibuat. Demikian keyakinan Sakutaro. Jiwanya ditakdirkan untuk tidak betah dan risau tinggal di alam fisik dan sadar betul bahwa rumah sejati bagi jiwanya tidak berada di alam fisik melainkan di alam metafisik. Pernyataan Sakutaro ini menunjukkan benarnya pandangan Dilthey, ahli hermeneutika Jerman abad ke-19 M, yang berpendapat bahwa sastra, dan khususnya lagi, merupakan ekspresi keruhanian yang berkembang tanpa terpengaruh oleh faktor-faktor sosial, politik, dan ekonomi, sebagaimana filsafat dan pemikiran keagamaan.

membuat puisi melambung mengatasi kenyataan, maka pada saat bersamaan ia cenderung kritis terhadap kenyataan. Oleh karena itu tak mengherankan pula apabila penyair lebih memberi tempat pada kenyataan atau pengalaman batin dalam penulisan puisinya dibanding kenyataan atau pengalaman lahir. Dunia yang aktual bagi penyair adalah superficial apabila hanya dicerap secara inderawi, serta tidak utuh apabila tidak menyertakan intuisi atau penglihatan batin. Dengan intuisi, pengalaman yang diperoleh dari kenyataan keseharian yang bertimbun-timbun dan berserak-serak dapat dipadukan menjadi kesatuan yang saling terkait. Sakutaro tiba pada pandangan yang sukar digoyahkan dan sekaligus pandangannya melahirkan banyak pertanyaan yang sukar dijawab. Karena menurut Sakutaro, apabila dalam memandang gejala aktual kehidupan seorang penyair mampu menggunakan intuisinya, maka melalui yang aktual ia akan mampu melihat kenyataan lain yang tidak kalah aktual dalam tatanan kewujudan yang lebih tinggi, yaitu tatanan kewujudan di alam ideaa atau keruhanian. Karena hadir dalam jiwa dan pikirannya secara obyektif dan hidup, gambaran-gambaran tersebut menjadi karib.

Pada hakikatnya bersifat romantik, kata-kata romantik digunakan di sini untuk menerangkan tujuan penyair melahirkan puisi. Menurut Sakutaro, tujuan penyair melahirkan puisi ialah untuk mencapai dan menghadirkan sebuah visi keruhanian yang terabaikan dalam kehidupan normal sehari-hari. Tidak peduli apakah visi yang dicapai dan dihadirkan itu mendatangkan rasa pilu, seperti dijumpai dalam sajak-sajak Sutardji dan Sakutaro sendiri. Ataukah visi itu menerbitkan keriangan spiritual. Puisi menurut Sakutaro adalah ungkapan kerinduan penyair terhadap rumah spiritualnya yang berada di alam metafisik, dan alam ini mengambil tempat bukan di luar diri penyair melainkan di dalam kesadarannya. Kerinduan terhadap rumah spiritualnya itulah yang menyebabkan

Apa yang dikatakan Sakutaro itu terdengar gaungnya dalam sajak Sutardji. Misalnya dalam sajak “Berdarah” yang menggunakan citraan utama kapak seperti berikut:

hari ini aku berdarah. kapak hitam menakik almanakku.
pecahlah rabuku mengalirlah pecahlah seninku mengalirlah
pecahlah selasaku mengalirlah pecahlah jumatku mengalirlah
darah mengalir dalam denyut dalam debar. darah nyerbu dalam
kamus diriku dalam rongga pustakaku. segalanya terdedah untuk
darah segalanya terbuka untuk luka

yang di dalamnya sajak “Berdarah” berada, Sutardji mengatakan: “Kenapa kapak? Imaji kapak memecahkan kemampatan. Sekali orang jatuh dalam kerutinan, itu waktu dia termasuk dalam kemampatan. Batin jadi mampat. Untuk itu dibutuhkan kapak guna memecahkannya sehingga hari-hari akan mengalir dengan deras menantang kita untuk kreatif. Hidup menjadi lebih gairah karena ditantang dan dirangsang untuk kreatif. Setiap saat.” Dalam pengantar antologinya

Sebaliknya dalam sajak “Gajah dan Semut” visi yang dihadirkan berupa keriangan spiritual. Penyair membandingkan antara jiwa yang terbelenggu oleh masalah keseharian dan jiwa yang bebas dari beban dunia melalui citraan simbolik gajah dan semut.

tujuh gajah
cemas
meniti jembut
serambut
tujuh semut
turun gunung
terkekeh
kekeh


Perjalanan kalbu dalam tasawuf dalam sajak “Peminum”. Puisi ini menghadirkan visi keriangan spiritual yang diabaikan dalam kehidupan kita keseharian yang terseok-seok bergelut dengan masalah dunia. Visi semacam itu melahirkan hasrat pentingnya perawatan dan pemeliharaan kehidupan ruhani: Jiwa yang terbebas dari beban dunia dan keseharian digambarkan sebagai seorang peminum yang mendaki gunung mabuk (baca ekstase).

di lereng-lereng
para peminum
mendaki gunung mabuk
kadang mereka terpeleset
jatuh
dan mendaki lagi
memetik bulan
di puncak
di puncak gunung mabuk
mereka berhasil memetik bulan
mereka menyimpan bulan
dan bulan menyimpan mereka
di puncak
semuanya diam dan tersimpan

Tidak ada yang istimewa dalam sajak ini berkaitan dengan diksi atau pilihan kata-katanya. Dilihat dari sudut kebahasaan, khususnya sintaksis, juga tidak ada yang istimewa. Kekuatan sajak ini sudah pasti terletak pada citra-citra lihatan (imaji visual) yang dibangun sedemikian rupa sehingga mampu menyajikan gambaran yang hidup. Penyair sanggup menghadirkan sebuah dunia yang hidup dalam imaginasi pembacanya. Keriangan spiritual yang dihadirkan memberikan visi tersendiri kepada pembaca yang jiwanya peka, yaitu visi keruhanian yang mendatangkan pencerahan batin. Tak ubahnya seperti haiku Jepang seperti dikutip pada bagian awal esai ini.

antara alam nyata dan alam transcendental atau metafisik. , yaitu alam imaginal yang merupakan badan halus seseorang dan berperan sebagai perantara (menurut Sakutaro mengangankan yang ideal, dan juga oleh karena yang ideal tidak dijumpai dalam kehidupan rutin keseharian, maka tidak mengherankan jika penyair merindukan rumah di alam yang menempati tatanan kewujudan lebih tinggi. Berdasarkan ini puisi dapat dipandang sebagai ekspresi kerinduan penyair pada kampung halamannya yang abadi di alam keruhanian. Dalam psikologi Jung, alam seperti itu disebut alam arketipal, sedangkan Ibn `Arabi (abad ke12 M) menyebutnya sebagai alam misal ( Telah dikemukakan bahwa karena ciri utama dirujuk pada konsep Plato tentang tatanan wujud atau keberadaan di atas tatanan wujud fisik. lebih kerap diartikan sebagai ‘mimpi’. Sedangkan kata-kata ini kemudian dirangkai dengan kata idea. Dalam bahasa Cina atau Mandarin, ideograf yang menunjuk pada kata untuk menyebut kerinduan yang dimaksud dan Ueda menerjemahkannya menjadi nostalgia. Kata-kata Alam seperti itu hanya dapat dibayangkan melalui citraan-citraan kosmologis dan anthromorfis yang dapat menghidupkan persepsi indera sekaligus imaginasi. Hanya dengan itu alam yang diangankan itu dapat dihadirkan, yaitu melalui puisi. Sakutaro menggunakan kata-kata Cina.

Melalui penjelasannya itu kita lantas paham mengapa Sakutaro, seperti juga Sutardji dalam sastra Indonesia modern dan Abdul Qadir al-Jurjani (abad ke-12 M) dalam sastra Arab Persia, menempatkan citraan puitik dalam kedudukan sentral dalam penuturan puitik. Hampir semua sajak Sutardji, seperti sajak Hagiwara Sakutaro, mengandalkan pada citraan puitik dalam mensugestikan rumah metafisik atau rumah spiritual yang mereka rindukan. Pada sajak-sajaknya yang awal tampak bahwa Sutardji baru dalam pencarian, tetapi pada akhirnya toh ia menjumpainya. Ini dapat dilihat dalam sajak yang benar-benar sufistik seperti “Para Peminum” sebagaimana telah ditunjukkan. Begitu pula dalam “Sampai”:Seorang filosof, kata Sakutaro, membangun dunia idea atau yang dicitakan melalui pemikiran diskursif yang cenderung abstrak. Sedangkan penyair membangun dunia yang dimimpikan dengan gambaran tentang obyek-obyek yang dapat diindera dan itu tidak lain adalah citraan puitik (

Hafiz ketemu Tuhan semalam
tapi kini di mana Hafiz
Rumi menari bersama Dia
tapi kini di mana Rumi
Hamzah jumpa Dia di rumah
tapi kini di mana Fansuri
Tardji menggapai Dia di puncak
tapi kini di mana Tardji
kami tak di mana mana
kami mengatas meninggi
kami dekat

Apa yang telah dipaparkan menunjukkan bahwa dalam perjalanan kepenyairannya Sutardji Calzoum Bachri mulai dengan menentang konvensi dan norma-norma sastra yang berlaku sebelumnya dan berakhir dengan penciptaan kovensi dan norma yang baru. Seninya bukan anti-seni, tetapi menciptakan seni baru yang unik dan berbeda dari sebelumnya. Pembaruan yang ia lakukan bertolak dari yang telah ada dalam kebudayaan bangsanya, namun sebegitu lama diabaikan atau dilupakan oleh penyair Indonesia modern sebelum sang pendekar muncul. Itulah sebabnya dia selalu mengatakan bahwa apa yang dilakukan adalah menggali akar tradisi.

Puisiku : Apa Gerangan?

Apa Gerangan?

Aku bergetar merasakan hadir
yang menelusup pelan-pelan
hingga tengkurap pun aku enggan.

Lama kutelusuri gerangan apa
yang misterius tampil menyapa
bukan rupa, namun selarik rasa.

Entah kenapa?
Tiap kali ia datang;
selalu kutolak, ingin menentang.

Tapi ini bukan tentang perang;
kalah atau menang di medan juang.
Hanya sebuah rasa yang begitu merangsang:

- ingin tahuku,
- sadar jiwaku
- warna perasaanku
- nalarku

Dan di sini
aku hanya sendiri
seperti monyet kehilangan koloni.

Majenun : Esei dari Goenawan Mohamad

Majenun
Oleh : Goenawan Mohamad

DI sana-sini, dunia perlu orang majenun. Atau penyair. Atau kedua-duanya.

”Kenapa kalian, para penyair, begitu terpesona kepada orang gila?”
”Kami punya banyak kesamaan.”

Dialog ini, dalam film Man from La Mancha, berlangsung dalam sebuah penjara bawah tanah di Spanyol abad ke-17. Si penyair yang menjawab pertanyaan itu adalah Miguel de Cervantes. Dalam catatan sejarah dialah penulis El ingenioso hidalgo don Quijote de la Mancha yang lebih dikenal sebagai Don Quixote: dua jilid panjang yang berkisah tentang seorang majenun. Dalam film ini, diproduksi di tahun 1972, kisah itu diadaptasi dengan pendekatan yang ingin berbicara untuk zaman kita—zaman yang tak mau menerima kegilaan.

Adapun bagian pertama novel ini terbit di tahun 1605 di Madrid. Ia sebuah satire: Don Quixote tampil sebagai tokoh yang ditertawakan. Tapi berangsur-angsur dalam Cervantes terasa tumbuh rasa sayang kepada si majenun ciptaannya.

Jika dibaca dengan jilid keduanya yang terbit di tahun 1615, ada yang sayu dalam kegilaan itu: Alonso Quijana, seorang tua yang terlalu banyak membaca buku tentang ksatria, tiba-tiba meninggalkan rumahnya, berkeliling naik kuda dan menganggap dirinya seorang caballero. Seakan-akan Spanyol masih di zaman dongeng lama ketika para ksatria bertempur untuk hal-hal yang luhur. Alonso Quijana menyebut diri ”Don Quixote de la Mancha”.

Film Man from La Mancha merupakan adaptasi musikal atas kisah yang sudah beredar 300 tahun itu. Saya tak pernah menyukai musikal, tapi karya sutradara Arthur Hiller dengan skenario Dale Wasserman ini bagi saya sebuah perkecualian yang tak terlupakan. Terutama karena Peter O’Toole bermain dengan cemerlang sebagai Cervantes dan sekaligus Don Quixote—dan terutama karena mise-en-scène yang bisa menggabungkan teater gaya Brecht dengan layar putih á la Hollywood.

Syahdan, adegan dimulai dengan Miguel de Cervantes, penyair, pemungut pajak, dan prajurit, yang ditangkap bersama bujangnya yang setia. Jawatan Inkuisisi, lembaga Gereja Katolik Spanyol yang dengan tangan besi menjaga keutuhan umat dan iman, menjebloskan mereka ke dalam kurungan di bawah tanah. Tak ayal, dalam calabozo yang seram itu mereka dikerubuti para tahanan lain: semua milik yang mereka bawa harus diserahkan.

Cervantes mencoba mempertahankan satu naskah dan satu peti yang dibawanya. Ia siap membela diri di depan mahkamah kurungan itu. Ia minta diizinkan menyajikan satu lakon.

Pemimpin para tahanan itu setuju. Dengan cepat, sang penyair membuka petinya. Ia kenakan kostum dan tata rias, dan muncul sebagai Alonso Quijana, pak tua yang terkena delusi berat dan membayangkan diri sebagai Don Quixote.

Ruang sempit yang pengap itu jadi pentas. Ksatria imajiner itu, dengan diiringi pelayannya, kini disebut Sancho Panza, naik kuda imajiner. Pada detik-detik berikutnya, kamera memindahkan adegan itu ke alam luas: kedua orang itu tampak menempuh plateau sunyi La Mancha. Don Quixote tegak di atas pelana di punggung Rocinante.

Perjalanan mereka tentu saja tak sepanjang yang dikisahkan novel. Teks Wasserman (penulis lakon yang juga membuat adaptasi karya Brecht, Die Dreigroschenoper) hanya menampilkan beberapa bab yang penting dari narasi Cervantes.

Yang paling penting: pertemuan Don Quixote dengan pelacur Aldonza, di sebuah losmen. Kita ingat sang majenun membayangkan losmen buruk itu sebuah kastil dan si pelacur sebagai Dulcenia—seorang putri bangsawan kepada siapa ia akan mempersembahkan hidup dan cintanya.

Di sini kisah Don Quixote berhenti sebagai cemooh. Ia jadi sebuah alegori. Kita menyaksikan wajah kegilaan yang luhur dan sosok bloon yang baik hati. Dalam kemajenunannya, orang dari La Mancha itu ingin menyelamatkan dunia dari putus asa dan sinisme. ”I hope to add some measure of grace to the world,” katanya agak malu-malu, sambil memandang Aldonza dengan lembut, mesra, tapi dengan sinar mata seorang gila.

Aldonza (diperankan Sophia Loren) tak mengerti semua itu. Ia selama itu jadi obyek nafsu lelaki. Ia merasa nista dan tak pernah punya keyakinan bahwa berkah serta kelembutan bisa tumbuh dari hidup. ”Dunia adalah seonggok tahi sapi,” katanya ketus dan pahit, ”dan kita belatung yang merayap di atasnya.”

Don Quixote dengan halus membantah. ”Dalam hati, tuan putri tahu bahwa tak begitu sebenarnya.”

Aldonza meludah. Baginya, Don Quixote manusia sia-sia yang akan dihajar nasib. Tapi laki-laki tua yang kurus dan linglung itu menjawab: ”Akan kalah atau menangkah hamba, itu tak penting.”

Apa yang penting? Yang penting adalah perjuangan itu sendiri, bukan hasilnya: perjuangan untuk membubuhkan yang mulia di dunia yang bobrok. Itu berharga. Sebab, bagi seorang ksatria, itu sebuah privilese.

To dream the impossible dream,
To fight the unbeatable foe,
To bear with unbearable sorrow
To run where the brave dare not go
To right the unrightable wrong

Dengan itu, berbeda dari novel Cervantes, Man from La Mancha menampilkan Don Quixote sebagai seorang yang tulus dan militan—yang tergetar oleh sesuatu yang tak terhingga, tampak sebagai seorang majenun yang tak punya kalkulasi praktis, seperti halnya seorang penyair yang masuk menemui malam entah untuk apa.

Gila, tentu. Tapi seperti diucapkan tokoh Cervantes dalam film ini, ”barangkali yang terlalu praktis, itulah kegilaan”. Barangkali terlalu kuatnya akal sehat—yang melepaskan mimpi—itulah kegilaan.

Berjuang dengan setia bagi mimpi, untuk memberikan yang baik bagi dunia meskipun mustahil, adalah kegilaan yang memberi harga kepada manusia. Aldonza akan bisa menemukan yang luhur dalam hidup. Ia bisa terbebas dari jepitan akal praktis dari zaman yang hanya mau menghitung laba-rugi. Ia bisa tahu, ia bukan belatung di atas onggokan tahi.

(23 Agustus 2010)

Ampun : Esei dari Goenawan Mohamad

Ampun
Oleh : Goenawan Mohamad

TAHUN 1815. Dari penjara Bagne de Tulon, setelah 19 tahun dikurung, terpidana dengan No. 24601 itu dibebaskan. Tak punya lagi tempat kembali, ia berjalan tanpa arah, lama dan sendirian.

Ia sebenarnya belum bebas. Hukum mengharuskannya membawa paspor kuning, tanda ia bekas orang rantai. Tapi sebab itu ia tak diterima menginap di losmen mana pun. Maka putus asa, bromocorah itu hanya bisa membaringkan tubuhnya di tepi jalan. Dengan rasa marah dan pahit.

Tapi ini bukan kisah seorang yang marah dan pahit. Les Miserables yang termasyhur itu oleh Victor Hugo dirangkai jadi cerita kehidupan Jean Valjean, si No. 24601 yang berubah.

Kita ingat bagaimana kejadiannya: tiba di Digne, kota kecil di Prancis Selatan, Valjean ditampung menginap oleh Uskup Myriel. Ia diberi makan malam dan tempat tidur—dan dibiarkan bersendiri.

Malam itu, tanpa ada orang yang mengawasinya, Valjean mendapatkan kesempatan. Ia ambil pisau, sendok, garpu, dan alat-alat perak buat jamuan yang ada di kamar itu. Ia pun melarikan diri.

Tapi tak bisa jauh. Polisi menggeledah bekas terpidana yang berjalan mencurigakan di dinihari itu. Pada bromocorah itu mereka temukan benda-benda milik keuskupan.

Valjean pun dibawa menghadap Uskup Myriel. Saya bayangkan bagaimana ketakutan dan putus asanya Valjean. Ia tahu, kini ia akan dikurung seumur hidup. Dulu, di kota kecil kelahirannya, Faverolles, di musim dingin tahun 1795 ia mencuri roti dari sebuah kedai karena kelaparan. Tapi hanya karena itu ia dipenjarakan lima tahun. Hukuman itu diperpanjang sampai 19 tahun karena Valjean beberapa kali tertangkap mau melarikan diri. Kini nasib lebih buruk menantinya.

Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Kepada polisi, Uskup Myriel mengatakan bahwa Valjean tak mencuri apa pun. Barang-barang perak itu diberikan kepada tamunya yang kelaparan untuk bekal, kata Uskup. Bahkan pagi itu, di hadapan polisi, padri yang baik hati itu menyerahkan lagi sebatang penyangga kandil dari perak, seraya mengingatkan Valjean akan janjinya—meskipun laki-laki itu tak pernah berjanji apa-apa—bahwa ia akan jadi orang baik.

Valjean pun bebas. Kejadian itu mengguncang hatinya. Tapi tak hanya itu. Hari itu ia—seorang lelaki perkasa—merampas uang 50 sous dari seorang anak. Tapi kali ini ia menyesal. Ia cari anak itu di seantero kota, untuk mengembalikan uang itu. Tapi tak ketemu….

Kisah Jean Valjean adalah kisah pertobatan. Sejak hari itu ia jadi orang baik yang penolong. Tapi yang luar biasa di sini ialah bahwa sebenarnya Uskup Myriel tak mengharapkan itu. ”Janji” yang disebutnya pagi itu hanya fiktif: sang uskup berbohong agar Valjean bebas dari hukuman.

Katakanlah dengan itu ia juga memaafkan, tapi maafnya bukan sejenis barter. Dalam barter, X memberi sesuatu kepada Y karena ia mengharap Y memberikan sesuatu sebagai imbalan. Maaf sang uskup adalah maaf yang ikhlas, tanpa syarat.

Tapi keikhlasan adalah perkara yang pelik. Memberi maaf tanpa syarat juga bisa menyembunyikan sebuah supremasi: aku memberi kau sebagai isyarat bahwa aku lebih dari kau. Bila demikian halnya, maaf itu bukanlah berarti hilang atau dilupakannya sebuah perbuatan yang membuat sang pelaku nista. Malah maaf itu menegaskan nista itu.

Maaf tanpa syarat, maaf tanpa supremasi, mungkin lebih pas disebut pengampunan yang murni. Tapi akhirnya, bila kita ikuti Derrida, ”pengampunan”, dalam arti semurni-murninya, adalah ”mengampuni hanya apa yang tak dapat diampuni”, le pardon pardonne seulement l’impardonnable.

Dalam acuan seperti itu, bahkan maaf yang tanpa syarat dari Uskup Myriel kepada Jean Valjean bukanlah pengampunan yang dibayangkan Derrida, sebab kejahatan yang terjadi pada dasarnya bisa diampuni: pelakunya seorang yang takut mati kelaparan.

Persoalannya: adakah kekejian yang demikian rupa hingga sama sekali tak dapat diampuni, hingga pengampunan kepadanya sebuah perbuatan yang benar-benar tanpa pamrih? Adakah ”radical evil” dalam pengertian Hannah Arndt, yang ”menumbangkan semua ukuran yang kita kenal”?

Jawabannya tak gampang. Ukuran kita bergantung kepada siapa kita. Memang ada kekejian dalam kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz dan Dachau, atau dalam ”kepulauan gulag” yang dibangun Stalin, atau yang dilakukan sejumlah Maois fanatik semasa Revolusi Kebudayaan di Cina, atau pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukan terhadap orang-orang kiri oleh Orde Baru di Indonesia.

Kekejaman itu belum tentu keji menurut ukuran yang universal, tapi mungkin yang dimaksud dengan radical evil ditentukan oleh intensitas perasaan para korban di suatu masa, di suatu tempat. Sebagai konsekuensinya, pengampunan yang ikhlas terhadap perbuatan itu hanya bisa ditentukan oleh mereka yang jadi korban di suatu masa, di suatu tempat.

Tapi, tidakkah, seperti tersirat dalam ungkapan Derrida sendiri, pengampunan murni itu mustahil?

Memang mustahil, dan bisa malah melanggar apa yang dikehendaki hidup yang adil. Tapi mungkin kita dapat menerimanya sebagai imbauan ke dalam diri—untuk menggugat sejauh manakah kita mengubah diri kita sendiri waktu memaafkan.

Tak jarang aku, sang korban, merasa lebih agung ketimbang yang bukan korban, apalagi ketimbang sang pelaku kejahatan. Kadang-kadang pula kita lupa, dalam memaafkan ada godaan keangkuhan, sebagaimana si kaya yang memberi derma untuk menunjukkan kekayaannya.

Sebab itu pengampunan yang murni jangan-jangan tak dimaksudkan sebagai pengampunan. Tindakan Uskup Myriel mengharukan karena ia bukan mengampuni, tapi membebaskan seseorang dari siksaan—dan membebaskannya pula dari kepastian nasib yang ditentukan masa lalu. Valjean, seorang bromocorah yang ke mana-mana harus membawa paspor kuning, tak seterusnya harus nista.

Kala Pelita Diri Berakhir

Iqbal berkata, "Kala pelita diri berakhir, apalah gunanya meneliti langit dalam imajinasi."

Hasrat yang terlampau besar; ia pangkal sebab yang memadamkannya.

Dalam tradisi, kita mewujud. Dalam kebiasaan, kita berwatak. Untuk memberi sifat dan arti dari tiap laku. Karenanya kita kerapkali menemukan tentang perbuatan yang tanpa makna adalah akibat tradisi dan kebiasaan tanpa nilai maknawi.

Mereduplah dan padamlah cahaya kedirian. Apalah gunanya semua ucap dan laku jadinya.

Maka dari itu, berdamai dengan diri sendiri adalah jawabannya. Ketika muncul tanya,

"Mengapa apa pun yang kulakukan tiada arti?"

"Sedangkan malam yang dingin menjatuhkan butiran embun yang dinanti kelopak bunga dan dedaunan."

Jika ingin meraih makna, ada baiknya berbenah.Jika ingin dirundung sia-sia, tetaplah menjadi anak dari kebiasaan dan tradisi tanpa makna.

Dan, malam kini telah menyampaikan tiap keluh kesah yang terdengar hingga ke 'Arsyi. Tentu bila ada upaya pada yang berjarak, berubah menjadi sangat dekat.

Tidakkah kedekatan mampu meluluskan semua permintaan?

Kabar dari Angin

Ketika malam makin mengental
seolah semua keheningan dan warna hitam berpadu hingga menebal
Angin membawa kabar dari bumi.
Ia bercerita tentang kesenangan
para penduduk bumi yang meluap dalam rahmat-Nya.

"Mereka menari dan bernyanyi riang.
Seakan tak ada apa pun lagi yang patut ditimbang!"

Gemuruh angin berkata dengan lantang.

Aduhai, mari berlupa dan biarkan keringat mengalir
sampai tiap milimeter tubuh kita kuyup dalam suka.

Para penduduk bumi larut dalam euforia!

Bulan yang tampak serupa lubang di dinding malam
heran mendengar, karena takjub ia hanya berdiam.
Namun ada beberapa kerut terlukis juga;
ia tak mampu menyembunyikan resah.

Bintang-bintang seperti jerawat batu pada pipi pualam gadis belia
mereka terpukau mendengar kisah yang dibawakan angin tadi.
Tetapi, ada beberapa kerlipnya yang menjadi pertanda
mereka ingin melempar tanya.

Angin melanjutkan kepingan ceritanya lagi.

"Wahai bulan dan bintang-gemintang, ketahuilah
Aku tahu kalian semua ingin penjelasanku.
Demikian itu watak biasa manusia.
Mereka sering lupa saat kesenangan mengurungnya."

Lalu, angin mengambil jeda sejenaknya.

"Manusia, para penduduk bumi suka berpesta
ketika kelapangan rahmat Tuhannya menerpa.
Bahkan sering juga berkata:

"Kami patut bergembira atas segala jerih payah
yang telah sekian lama kami upayakan!"

Tetapi, bila mereka disempitkan-Nya,
manusia akan sesunggukkan bersedih
mereka tumpahkan semua pedih
suara isaknya begitu lirih.

Manusia, para penduduk bumi itu,
memohon-mohon penuh sesalan.
Tiap kata-katanya, kalimatnya adalah do'a:

"Yaa, Tuhan kami..
Pedihnya kemiskinan, kesempitan ini.
Jangan dera kami dengan derita.
Lalai telah kukuh merantai.
Tiada ingat betapa besar karunia-Mu"

Tiba-tiba tiap permukaan bumi
dilapisi sajadah-sajadah basah.

Keteladanan Ahlak Rasulullah SAW

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,

“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA isteri Rasulullah SAW. Beliau bertanya kepada anaknya itu,

“Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”

Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”

“Apakah Itu?” tanya Abubakar RA.

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana,” terang Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?” Abubakar RA menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).”

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu.

“Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut. Setelah itu, ia berikan padaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya. Ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia....”

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

Wisewords

Hargai orang lain, siapapun dia, dan jangan pernah menaruh dendam kepada siapapun.

Isi setiap harimu dengan kebaikan.

Setiap orang punya tujuan dalam hidup. Kemana pun tujuan hidupmu, yang penting adalah bersama siapa kamu menuju kesana.

Jika harus memilih antara perasaanmu dan apa yang orang lain pikir benar, pilihlah yang buat KAMU bahagia, bukan semua orang.

Ingatlah, apapun yang menjadi perkataan dan tindakanmu, kamu harus bertanggung jawab atas resiko dari perkataan dan tindakanmu itu.

Perubahan itu perlu dan harus, karena waktu akan terus berjalan tanpa mau menunggu kita yang hanya diam dan tak berubah.

Hidup tak hanya tentang orang-orang yang mampu membuatmu tersenyum, namun tentang mereka yang mampu membuatmu bahagia.

Dia yang mengeluh adalah dia yang tak pernah bisa bersyukur, padahal tanpa ia sadari, karunia dari Tuhan telah ia nikmati setiap hari.

Bermimpi tapi tidak bertindak sama seperti berkhayal. Untuk itu, bertindaklah! Karena keberhasilan bukan berada di alam khayalan.

Doaku hari ini: Tuhan, terima kasih atas semua yang telah Kau berikan, maaf jika perkataan dan perbuatan ku belum baik.

Masa lalu adalah tempat yang bagus untuk disinggahi, tapi bukan tempat yang tepat intuk ditempati. Tak baik untuk terus dikenang.

Jujurlah, terkadang bukan yang kamu ucapkan yang berarti, namun apa yang tak terucapkan. Kadang diam bukanlah pilihan bijak.

Jangan pernah menginginkan menjadi orang lain. Berbahagialah dengan menjadi dirimu sendiri. Bersyukurlah atas apa yang kamu miliki.

Kehidupan tak akan bisa dijalani sendiri. Pribadi yang bijak melengkapi kehidupannya dengan banyak persahabatan.

Abaikan apa yang tak bisa kamu kendalikan, namun kendalikan apa yang tak bisa kamu abaikan.

Hanya karena seseorang rela melakukan apapun untukmu, bukan berarti kamu berharap segalanya darinya. Jadilah pribadi yang mandiri.

Untuk menjadi pemenang tidak hanya dibutuhkan kerja keras, tetapi juga kedisiplinan dan ketepatan waktu.

Jangan menunggu hingga kamu sadar betapa berartinya seseorang bagimu, karena saat kamu sadar mungkin ia telah bersama orang lain.

Miliki impian apapun, lalu ubah impian menjadi keinginan; keinginan menjadi cita-cita; dan upayakan cita-cita menjadi kenyataan.

Kita bisa menjadi pemenang tanpa harus ada pihak yang dikorbankan.

Jangan berburuk sangka atas kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Bersyukur dan berterima kasihlah karena ia telah melakukan kebaikan.

Landasi apapun dengan kejujuran, maka setelah itu kepercayaan akan terbentuk dengan sendirinya.

Ketika permasalahan datang, jangan mencari alasan atau menyalahkan. Tindakan yang terbaik adalah tetap berupaya dan mencari solusi.

Ketika persahabatan dilengkapi dengan ketulusan, kepercayaan dan saling pengertian, maka akan terbentuk persahabatan yang sejati.

Tak semua kenangan buruk itu menyakitkan, terkadang kenangan indah juga mampu lebih menyakitkan.

Jangan salah memilih teman, karena sebagian hidupmu ditentukan mereka. Jika kamu bersamanya tak menjadi pribadi yang lebih baik, tinggalkan.

Jangan mengeluh atas cobaan yang datang. Terkadang apa yang terlihat sebagai cobaan yang berat adalah berkat terselubung dari Tuhan.

Setiap orang pasti berubah, sikapi dengan bijak. Jangan biarkan perubahan membuatmu mengabaikan orang sekitarmu.

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan seseorang yang tak berarti bagimu. Jika dia orang yang tepat, teruslah berjuang.

Bastiat : Esei dari Goenawan Mohamad

Bastiat
Oleh : Goenawan Mohamad
Senin, 04 Juli 2011

Seorang "neo-liberal" adalah orang yang jengkel kepada "Negara". Tapi ada seorang pendahulunya yang tak jengkel, malah kocak: Frédéric Bastiat, orang Prancis di abad ke-19. Ia mempersamakan Negara dengan tokoh Figaro yang harus mendengarkan tuntutan dari delapan penjuru angin:

"Aturlah buruh dan pekerjaan mereka!"

"Habisi egoisme!"

"Lawan kekurangajaran dan tirani modal!"

"Bikin eksperimen dengan tahi sapi dan telur!"

"Bentangkan jalan kereta api di pedusunan!"

"Tanam pohon di pegunungan!"

"Jadikan Aljazair koloni kita!"

"Setarakan laba usaha industri!"

"Pinjamkan uang tanpa bunga kepada yang perlu!"

"Perbaiki keturunan kuda tunggangan!"

"Hidupkan seni, latih musisi dan penari!"

"Temukan kebenaran dan ketok kepala kami agar berpikir!"

Kutipan saya tak lengkap, tapi cukup banyak, dan Sang Negara akan mendengarkan semuanya dengan agak gelagapan. Ia pun akan mengimbau: "Sabar, tuan, sabar! Akan saya penuhi permintaan tuan semua, tapi saya perlu dana, dong. Saya perlu memungut pajak, dan tentu saja, seperti tuan kehendaki, tak akan membebani."

Tapi seketika itu juga akan terdengar teriakan menyahut: "Ah, kok gampangan! Apa tak malu! Siapa saja dapat melakukan apa saja dengan dana. Kalau cuma begitu, kamu tak layak disebut ’Negara’! Ayo, jangan bikin pajak baru! Malah hapuskan pajak lama!"

Harus diakui, ada nada simpati terhadap Negara dalam esai Bastiat itu—dan mungkin itu yang membedakannya dengan mereka yang disebut "neo-liberal" atau siapa saja yang dianggap penganut pemikiran ekonomi Milton Friedman. Bastiat melihat kontradiksi dalam tuntutan delapan-penjuru-angin yang saya kutip di atas. Jika ia pun datang dengan rumusannya tentang "Negara" ia tak serta-merta menafikannya.

Negara, tulis Bastiat, adalah "sosok yang misterius, dan yang pasti sosok yang paling banyak menerima permintaan, yang paling tersiksa, paling sibuk, paling dinasihati, paling disalahkan, paling dituntut, dan paling diprovokasi di seluruh dunia".

Tapi Bastiat tak berhenti di sana. Ia melihat lebih jauh untuk memahami kenapa "Negara" diperlukan. Manusia, menurut Bastiat, adalah makhluk yang menampik kepedihan dan penderitaan. Tapi manusia juga dihukum akan menderita kekurangan jika ia tak bekerja buat hidup. Maka ia menemukan cara: menikmati hasil kerja orang lain.

Perbudakan bermula dari sifat itu. Tapi juga perang, perampasan, penipuan, dan hal-hal lain yang mengerikan tapi cocok dengan akal manusia untuk mengatasi dilemanya. Dengan kata lain: tak aneh. "Kita harus membenci dan melawan penindas," tulis Bastiat, "tapi kita tak bisa mengatakan mereka absurd, edan, dan tak masuk akal."

Apalagi dalam perkembangannya, si penindas tak lagi berhubungan langsung dengan si tertindas. Dewasa ini antara penindas dan korbannya ada "perantara", yaitu Negara. Dari sini Bastiat memberikan definisinya yang orisinal: "Negara adalah satu entitas imajiner yang dipakai tiap orang untuk hidup dengan ongkos (dépens) orang lain."

Definisi ini menohok tajam. Umumnya orang tak ingin mengakui secara terbuka bahwa, seperti kata Bastiat, ia hidup dengan memanfaatkan kerja orang lain. Orang lebih suka menunjuk ke Negara dan menyuruh, "Hai kamu, yang bisa mengambil dengan adil dan terhormat, ambillah dari masyarakat dan bagikan kepada kami!"

Mengaitkan Negara dengan hubungan eksploitatif—yang tak selamanya tampak—adalah juga yang tersirat dalam pikiran Marx. Saya tak yakin bapak sosialisme modern itu terilhami oleh Bastiat (1801-1850), yang meninggal hampir dua dasawarsa sebelum terbit Das Kapital. Tapi Marx juga melihat Negara bukan sebagai sebuah bangunan suci, melainkan sebagai instrumen represi dari satu kelas terhadap kelas lain.

Hanya Bastiat sedikit lebih jeli: ia tak melihat Negara sebagai "sistem" atau "instrumen" semata-mata. Negara, dalam prakteknya, terdiri atas "para menteri kabinet, birokrat, orang-orang yang, pendek kata, seperti umumnya orang, menyimpan dalam hati mereka hasrat untuk memperbesar kekayaan dan pengaruh, dan dengan bersemangat menangkap kesempatan untuk itu".

Yang menarik tentulah pandangan yang sejajar tentang Negara itu: di satu sisi Marx, di sisi lain Bastiat yang punya gema dalam pemikiran kubu sebelah "kanan": Hayek dan Friedman. Tak mengherankan: baik Marx maupun Bastiat bertolak dari pengalaman dalam ruang dan waktu. Marx menampik Hegel yang memandang Negara sebagai penubuhan dari ide; ia merumuskan Negara dari apa yang berlangsung dalam sejarah. Bastiat demikian pula: ia seorang pencatat, bukan teoretikus, bukan filosof. Schumpeter menganggapnya "wartawan ekonomi yang paling cemerlang yang pernah hidup".

Maka ia menemui fakta dan mencemooh "ilusi ganjil" tentang Negara. Di atas saya kutip ia menyebut Negara sebagai "entitas imajiner". Saya kira Bastiat melihat Negara sebagai proses politik, bukan satu bangunan yang mandek di atas pergulatan politik di mana ia berdiri. Sebab itu ia punya keterbatasannya sendiri: Negara tak terbentuk untuk bisa memuaskan semua orang di semua sudut sekaligus. Tiap politik punya utopia dan punya kalkulasi—dan di antara itulah hadir Negara.

Bastiat memang seorang "liberal" dalam pengertian politik Eropa—dan ia berbicara dengan nada yang ringan. Ia masih mengakui Negara sebagai "kekuatan polisi bersama" dengan cukup optimisme: baginya, kekuatan itu bisa dipakai bukan untuk merampok dan menindas, melainkan untuk "menjamin tiap orang haknya sendiri dan membuat keadilan dan keamanan menang".

Memang hanya seorang yang dogmatis yang bisa melihat Negara tanpa ambiguitas.

Goenawan Mohamad
Sumber dari SINI

Racau Subuh

1. "....ternyata bintang-bintang diciptakan punya fungsi. bintang-bintang adalah anak-anak panah yang teramat panas, sengaja diposisikan agar para pencuri berita langit tak dapat mewujudkan niatnya."

2. "....lantas ketika seorang peramal mengatakan: "tahun depan bintangmu akan bersinar lebih terang, lebih baik tanyakan kembali padanya bagaimana dia bisa membawa ketetapan yang dibuat nun jauh di atas langit padahal dia sendiri tidak bisa terbang. apakah maksudnya agar diri orang diramal merasakan betapa panas gairah sugesti anak panah bintang-gemintang melesat pada jiwa yang kosong?"

3. satu lagi tentang hoki / peruntungan. kalau hoki adalah "nasib baik" yang bergerak tiba-tiba di luar hukum sebab-akibat, apakah matahari itu juga iseng tiba-tiba memancar ke bumi?

atau ketika hoki mengarah pada pengertian tentang perubahan total diluar usaha maksimal hanya dengan melihat sekilas tanda-tanda tertentu yang mengilhami "gagasan fantastik / hoki" itu sendiri, apakah bulan yang bersinar telah mampu menjadi "gas yang berpijar" dengan susunan unsur utama sama dengan matahari, sehingga sama sekali lupa bahwa bulan sebenarnya memantulkan cahaya matahari?

ada kecenderungan dalam diri tiap orang untuk tiba pada pola pikir rasional, namun tak dapat dipungkiri ketika ingin melarikan diri dari trauma pengalaman pahit sebelumnya, orang akan berfantasi dengan memilih jenis lamunan tertentu sebagai katarsis.


4 . Tentang Membual

"Mengapa tiap orang betah mendengar bualan?" batinku bertanya. Lama kucari-cari penyebabnya.

Dan, akhirnya kutemukan jawabannya:

1. Melalui bualan, orang-orang menertawakan keseriusan yang membuat diri tegang.

2. Melalui bualan, orang-orang mengembangkan kemampuan imajinasinya hingga dirinya seperti terbebas dari jepitan batas-batas ruang dan waktu.

3. Melalui bualan, orang-orang mencoba menghibur diri.