Selasa, 13 Desember 2011

 

Untuk Itulah Aku Menulis Puisi

Ada semesta alam ◄────► Aku tak tinggal diam
Jiwaku lesap ke dalam ◄─────► Puisiku punya nyala azam
Hingga ini malam ◄─────►kata-kataku masih belum mau tenggelam

Ketika ada yang terpendam
seperti air yang terlalu lama tidur di dalam kolam,
aku menulis puisi.
Jangan kau tanya ketakutanku
misalnya bila puisi yang kugubah
lumrah saja atau tak menimbulkan gairah.

Aku menulis puisi
diatur maksud tersendiri
bisa jadi hanya mengalirkan
berkubik endapan perasaan.

Apa? Puisi itu mesti berfilosofi?
Puisiku tak mau tersangkut di lengkung langit.
Makanya sering berontak dari kungkung
Formalist Rusia yang kerap berdebat sengit.
Namaku Muhammad Ichsan ─ si pengeluh aturan yang suka menulis puisi
Aku bukan Roman Jakobson, juga tak berkepala botak khas Vladimir Mayakovsky

Melalui puisiku, urutan di depan berada di belakang.
Yang penting aku masih menulis puisi
─ sekedar merayakan absurditas yang meriah
ketika apa pun tak punya gairah
karena terlalu lama mengendap dalam luka bernanah!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar